RSS

That Guy

Sekuel dari “My Strory”

Enjoy…^^

DUK! DUK!

Aku mendengar suara bola basket yang dilemparkan dari dalam aula olahraga.

“Masih ada yang berlatih jam segini?” tanyaku dalam hati. Aku memberanikan diri untuk melihat. Haha, sebenarnya aku tidak takut pada apapun.

Ternyata seorang bocah yang sedang mencoba melakukan dunk. Haha, bodoh. Padahal dia laki-laki, tapi terlihat sangat tidak berdaya.

“Bukan begitu caranya.” Ujarku. Dia menoleh, kaget bercampur malu tergambar di wajahnya.

“Tapi begini!” aku segera merebut bola darinya dan melakukan teknik itu. Dia ternganga ketika aku mendarat dan bertepuk tangan pelan saking terpesonanya. Aku merapikan seragamku yang agak berantakan gara-gara melompat tadi dan berjalan pergi.

“TUNGGU!” teriaknya. Aku berbalik pelan.

“Si…siapa namamu?” lanjutnya.

“Jung Hami.” Jawabku datar dan kembali meninggalkannya.

“A..aku Lee Hyukjae! Sampai bertemu besok di sekolah ya…!!!” teriaknya. Aku bisa melihatnya melambaikan tangan penuh semangat dari ekor mataku.

“Anak yang lucu.”

*

Aku sedang tidur nyenyak ketika badanku diguncang-guncang Min young.

“Hami-ah.. ada yang mencarimu dari kelas sebelah. Bangunlah..” aku membuka mataku pelan. Hh, siapa sih yang menganggu waktu tidurku? Tidak dapat dimaafkan!

“Mana?”

“Itu. Dia menunggu di pintu.” Aku menyipitkan mataku agar penglihatanku lebih jelas. Ternyata anak yang kemarin. Siapa namanya? Aku lupa.

Aku bangun dan segera menghampirinya.

“Ada apa?” tanyaku langsung, aku memang paling tidak suka berbasa-basi.

“Ehm, aku… aku ingin minta bantuanmu..” ucapnya gugup.

“Bantuan?”

“I..iya… a.. ajari aku main basket!” ujarnya. Dia menangkupkan kedua tangannya dihadapan wajahku.

“Boleh saja, tapi ini tidak gratis.” Jawabku asal. Tapi sepertinya dia menganggapku serius. Karena dia terus menerus mengucapkan terimakasih. Dan akhirnya kami berjanji bertemu di di gerbang sekolah nanti sore.

“Siapa dia?” Tanya Min young.

“Siapa?”

“Cowok tadi…”

“Ah, aku tidak tahu.” Jawabku cuek. Aku lalu bersiap lagi untuk kembali tidur. Waktu istirahat masih ada 10 menit lagi, cukup bagiku untuk tidur.

“Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya..?” ucap Min young lagi. Tapi aku tidak peduli karena mataku mulai menutup.

*
Aku berjalan santai menuju gerbang, sesampainya di apartemen aku ingin segera berbaring. Hh, hari ini rasanya lelah sekali. Aku menguap lebar ketika ada seseorang menghalangi jalanku.

“Hami ssi, aku sudah menunggumu.” Ucap lelaki itu. Aish, aku sama sekali lupa dengannya.

“Ah, kau..” ucapku, Nampak sekali tidak tertarik dengan kehadirannya.

“Hari ini kita jadi latihan kan?” tanyanya bersemangat. Aku melihat sinar-sinar dimatanya. Dan mau tak mau akupun mengangguk. Aku sudah terlanjur berjanji.

“Kita latihan dimana?” tanyaku. Dia menyeringai lebar, terlihat sangat bersinar.

“Tempat rahasiaku!” ucapnya bersemangat. Dia berjalan lebih dulu, membawaku ke sebuah lapangan basket yang tidak jauh dari sekolah kami. Lapangan itu telah sepi. Lelaki itu mengeluarkan bola basketnya dan menyerahkan padaku.

“Ayo lakukan dunk sekali lagi! Aku ingin melihatmua terbang!” pintanya. Aku tersenyum sekilas, benar-benar lucu melihat dia begitu bersemangat melihat teknikku. Jadi aku melakukannya, lagi dan lagi. Dan dia selalu bertepuk tangan gembira. Haha, dia mengingatkanku pada adikku yang telah meninggal 2 tahun lalu.
Kami bermain sampai larut. Agak sulit untuk mengajarinya. Tapi dia pantang menyerah. Padahal berkali-kali jatuh, tapi dia bangkit dan mencoba lagi. Aku salut pada kegigihannya ini. Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat sebentar di sisi lapangan. Dia memberiku selembar handuk kecil dan sebotol air mineral, persiapannya untuk ini pantas diberi acungan jempol.

“Kenapa kau bersemangat sekali untuk menguasainya?” tanyaku. Dia mengelap mulutnya.

“Karena aku tidak ingin kalah dari saudara kembarku.”

“Kembaranmu? Kau memiliki kembaran?” dia mengangguk cepat. Matanya masih bersinar, persis seperti adikku.

“Kau pasti mengenalnya. Dia Lee Donghae.” Jawabnya.

“Mwo? Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin? Dia benar-benar kembaranku.” Ucapnya lagi. Aku memperhatikannya dengan seksama. Yah, memang ada beberapa kemiripan diantara mereka. Tapi aku masih sangsi jika mereka kembar.

“Kalian benar-benar berbeda.” Aku kembali minum. Tapi lama sekali dia menjawab. Aku meliriknya, kepalanya tertunduk lesu. Aigo, kenapa lagi bocah ini?

“Itu yang selalu mereka bilang.” Ucapnya lirih. Haish, apa dia menangis? Apa yang harus kulakukan? Aku melihat ke sekeliling. Untung saja di seberang sana ada minimarket. Aku segera berlari untuk membeli sesuatu. Aku berhenti dihadapan sebuah kulkas besar yang berisi berbagai macam minuman. Dan aku mengambil satu susu stroberi, minuman kesukaan adikku. Semoga diapun menyukainya.
Setelah selesai membayar aku segera kembali menuju lapangan. Dia masih tertunduk lesu. Aku menghampirinya dan memberikan susu yang kubeli itu. Dia mendongak, pelan tapi pasti dia tersenyum.

“Bagaimana kau tahu ini minuman kesukaanku?” tanyanya, manis sekali. Aku mengacak rambutnya. Sepertinya dia memang adik yang dikirimkan Tuhan untuk kujaga.

*

Nama adik baruku itu Lee Hyukjae. Dia satu-satunya teman dekatku, setelah Min young. Min young sendiri heran karena aku bisa menerimanya. Tapi dia benar-benar mirip adikku. Biarpun dia seusiaku, dia masih sangat polos. Kau bisa lihat itu dari matanya yang jernih. Berbeda sekali dengan saudara kembarnya yang terkenal playboy.

Sore itu, aku melihatnya di tampar untuk kesekian kalinya. Aku baru saja kembali dari toilet saat drama itu terjadi.

“Hyukie, sudah berapa banyak korban dari saudaramu itu?” tanyaku. Aku melihat kotak yang tadi dilemparkan gadis itu. Wuah, banyak sekali barang yang Donghae berikan padanya.

“Molla…” jawabnya sambil mengelus pipinya. Pipinya benar-benar merah sekarang.

“Mau sampai kapan kau terus dimanfaatkan cewek-cewek itu?” tanyaku lagi. Aku kembali ingat ceritanya mengenai pacar-pacar Donghae yang akan mencarinya ketika mereka marah pada Donghae. Entah apa yang Donghae lakukan, tapi saat gadis-gadis itu marah, dia pasti akan berubah menjadi kasat mata. Tidak dapat dilihat oleh siapapun.

“Aku sudah biasa.” Jawabnya lemah. Aku hanya menghela nafas. Dia memang sepert anak kecil. Dasar bodoh!

“Yasudah, ayo pulang!” ajakku. Hyukie membawa kotak itu dan membuangnya di tong sampah. Biasanya dia akan mampir di apartemenku sebentar, baru pulang.

Aku tinggal sendirian di Seoul. Orang tuaku masih bertahan di Busan. Setelah kematian adikku, aku tidak tahan untuk tetap bertahan di rumah. Sehingga aku memutuskan untuk pindah ke Seoul sendirian.

Aku membuka kunci pintu begitu sampai di apartemen. Melepaskan sepatu dan menggantinya dengan slipper. Hyukie mengikutiku, dia mengenakan slipper berwarna biru yang kusiapkan khusus untuknya. Dia segera duduk dan bersandar di sofa. Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas lalu mengambil susu stroberi dari sana.

“Ini, kompres dulu pipimu agar tidak membengkak.”

“Gomawo..” ucapnya sambil menyeringai lebar. Tapi aku tidak pernah menunjukan reaksi yang berlebihan padanya.

Aku duduk disampingnya dan menghidupkan tv, acara yang diputar tidak ada yang menarik.

“Hami-ah, itu foto siapa?” Tanya Hyukie. Dia menunjuk fotoku bersama adikku saat kami liburan ke pantai beberapa bulan sebelum dia meninggal. Itu liburan terakhir kami bersama. Dalam foto itu kami terlihat sangat gembira. Dengan senyuman lebar di wajah kami berdua, dan aku memeluknya erat. Tuhan, aku rindu padanya.

“Dia adikku.” Jawabku. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjatuhkan air mataku dihadapannya.

“Kau terlihat cantik tersenyum seperti itu. Lalu, dimana adikmu sekarang.” Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selalu kuhindari. Rasanya masih terasa sakit saat mengingatnya.

“Dia meninggal, 2 tahun yang lalu.” Jawabku tanpa memandangnya.

“Ah, aku minta maaf.” Ucap Hyukie tulus. Dia lalu melirik jam.

“Aku harus pulang sekarang. Terimakasih susunya.” Ucapnya. Dia menaruh susu stroberi itu di meja dan beranjak pergi.

Setelah dia pergi, aku mengambil kotak susu itu dan menempelkannya di pipi.

“Hangat.” Tanpa bisa kucegah, air mataku kembali mengalir.

*

Hubunganku dan Hyukie bisa dibilang sangat aneh. Dia bilang, aku adalah sahabatnya, tapi dia sama sekali tidak pernah bisa benar-benar terbuka kepadaku. Aku harus mencari tahu sendiri masalah apa yang sedang menimpanya. Dan begitu juga sebaliknya. Biasanya jika kami memang benar-benar tidak puny aide tentang masalah yang sedang dihadapi, kami akan saling menghibur. Untuknya, ini bukan sesuatu yang luar biasa. Dengan melihat wajahnya saja akan membuatku sangat tertawa. Ok, aku memang tidak pernah tertawa lepas dihadapannya. Tapi mukanya memang sangat lucu! Sementara aku, hanya bisa membelikannya susu stroberi atau makanan manis, maka dia akan kembali tersenyum.

Karena itulah aku benar-benar terkejut saat dia bercerita padaku dia telah memiliki yeoja chingu.

“Wah, selamat ya! Akhirnya kau bisa punya pacar juga!” ucapku.

“Hehehe..” dia hanya menyeringai lebar seperti biasa. Memperlihatkan gigi dan gusinya.

“Dasar kau!” aku mengacak-acak rambutnya. Dia selalu senang kuperlakukan seperti itu. Jadi dia tertawa lebih keras lagi.

“Oppa…” tiba-tiba kami mendengar seseorang memanggil. Aku menoleh kea rah pintu aula olahraga, seorang gadis manis berambut lurus terurai berdiri dengan gugup disana. Aku melirik Hyukie, wajahnya tersipu-sipu. Itu pasti pacarnya.

“Tuh, pacarmu manggil. Aku duluan.” Ucapku. Segera membereskan dan pergi secepat yang kubisa.
Aku baru saja berjalan beberapa langkah dari aula ketika aku mengingat jaket kesayanganku tertinggal. Jadi aku kembali kesana. Tapi pemandangan yang kulihat membuat dadaku terasa perih. Aku melihat Hyukie mencium gadis itu.

Aku segera berbalik dan berlari pulang. Tidak kupedulikan lagi jaket itu. Aku juga tidak peduli kakiku yang meronta hebat saat kupaksa berlari menuju apartemen. Setibanya, aku segera berlari menuju kamar, menguncinya dan menangis. Dadaku naik turun. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa seperti ini. Tapi rasanya jelas sangat sakit.

Aku mendengar ketukan di pintu depan. Aku segera menghapus air mataku. Malas-malasan aku membukakan pintu. Ternyata Hyukie.

“Hami, kau melupakan jaketmu! Ini jaket kesayanganmu kan?” tanyanya. Aku mengangangguk seraya mengambil jaket itu.

Hyukie mengernyit.

“Kau sakit?” tanyanya,

“Wae?”

“Matamu bengkak.”

“Tidak. Aku hanya sedang tidur ketika kau dating. Sudah sana pulang! Aku ingin melanjutkan tidurku.” Hyukie hanya mengangkat bahunya dan menurut.

“Sampai besok…” ucapnya sebelum pergi. Aku menutup pintu dan kembali menangis.

*

“Aku pikir Hyukie pacarmu. Tapi ternyata sekarang dia jalan dengan gadis lain.” Ucap Min young. Gossip segera beredar dengan cepat.

“Apa kau tidak cemburu?” tanyanya. Tapi aku enggan menjawab dan memilih untuk tidur.

Min young sudah terbiasa dengan sikapku yang seperti ini, sehingga dia membiarkanku. Karena percuma saja, seberapa keraspun dia bertanya, aku tidak akan menjawabnya.

Hubungan Hyukie dan gadisnya berjalan baik-baik saja. Sesekali dia masih datang dan latihan basket bersamaku. Tapi kami tidak pernah bisa mengobrol panjang lebar seperti dulu, karena gadisnya akan dating dan aku tidak suka berlama-lama dekat dengannya.

Sebenarnya Hyukie selalu mengajakku saat mereka akan pergi bersama. Dia selalu bilang saudara kembarnya akan ikut, sehingga aku tidak akan merasa kesepian. Tapi aku selalu berbohong dengan bilang hari itu orang tuaku akan datang, atau aku ikut kelas tambahan, atau pergi bersama Min young, atau apapun. Sehingga aku tidak usah pergi dengannya. Dia terlihat kecewa, kalian tahu, dia tidak berubah, masih saja polos seperti anak kecil.

Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa sebentar lagi aku akan menjadi murid kelas 2. Hubunganku dengan Hyukie masih baik-baik saja. Maksudku, kami masih berteman baik meski aku selalu berusaha menghindar darinya. Tapi dia selalu percaya padaku. Dasar bodoh!

Entah mengapa perasaanku malam itu sangat kacau. Padahal tidak ada yang terjadi. Aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan keluar sebentar. Dan entah mengapa kakiku menuju lapangan basket tempat pertama kalinya aku mengajari Hyukie dunk. Dan aku melihatnya disana, sedang berusaha, dengan sekuat tenaga memasukan bola ke dalam ring. Tapi tidak pernah berhasil.

Aku berjalan menuju minimarket dan membelikannya sekotak susu. Aku tahu, dia sedang ditimpa masalah. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Dan aku berharap susu ini dapat membuatnya lebih tenang.
Dia sedang duduk di tepi lapangan ketika aku dating. Nafasnya masih memburu. Entah karena marah atau karena bermain terlalu keras tadi.

“Kau tidak akan bisa memasukan bolanya dengan kekuatan seperti itu.” Ucapku. Dia mendongak.

“Kau?” tanyanya.

“Wae? Siapa yang kau harapkan?” dia mengambil kotak susu dari tanganku dan meminumnya perlahan.

“Bagaimana kau tahu aku ada disini?” tanyanya lagi.

“Mmh, sepertinya dulu ada seseorang yang mengajakku bermain disini.” Jawabku cuek.

“Ah, mianhae.. aku lupa.” Ucapnya sambil terkekeh. Syukurlah.

“Tadinya aku khawatir kau tidak bisa tertawa lagi. Tapi sepertinya kau baik-baik saja.” Ucapku kemudian. Aku bangkit berdiri dan hamper saja berjalan pergi ketika dia menarik tanganku dan memintaku untuk duduk kembali. Aku menurut.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia mulai bercerita tentang gadis itu. Bagaimana dia bisa menyukainya, bagaimana kisah mereka, bagaimana gadis itu menghindarinya belakangan ini, dan hari inilah puncaknya. Gadis itu tidak tahan lagi dengan perasaannya. Dia merasa telah mengkhianati Hyukie dan merasa bukan gadis yang baik baginya. Hyukie merasa terpukul, sangat terpukul, karena gadis itu berpaling pada Donghae.

Dia merasa sangat bodoh, terkhianati, dan hancur. Dia sudah mencurahkan perasaannya pada gadis itu. Dan entah bagaimana caranya, Donghae mencuri hal itu darinya. Aku ikut hancur melihatnya seperti ini. Bahkan terasa lebih sakit saat melihatnya mencium gadis itu. Setidaknya saat itu akku masih bisa melihatnya tertawa lebar. Tapi tidak kali ini.

Kepalanya kembali tertunduk. Dia menangis. Untuk hal seperti ini sepertinya susu stroberi tidak bisa membantu banyak. Aku mengelus punggungnya perlahan, namun tidak keluar sepatah katapun dari bibirku. Aku terlalu hancur untuk dapat menghiburnya. Aku segera memeluknya dari belakang.

“Menangislah Hyukie, jika memang itu yang kau inginkan.” Ucapku akhirnya. Dia berbalik memelukku dan menangis sangat keras. Lebih keras dari biasanya.

*

Hyukie menangis lama sekali, ketika air matanya sudah kering, malam telah larut. Matanya yang sudah sipit, semakin terlihat sipit karena sembap.

“Gomawo…” ucapnya. Aku hanya tersenyum.

“Ayo kita pulang.” Ajakku. Tapi dia menggeleng.

“Aku tidak mau bertemu dia.” Ucapnya. Dia kembali cemberut. Hampir kembali menangis.

“Hyukie-ah…” bujukku. Dia kembali menggeleng, merajuk.

“Aku akan selalu bersamamu.” Ucapku mantap dan menggenggam tangannya.

“Ayo.” Bujukku. Dia akhirnya mau menurut.

Aku mengantarnya sampai depan rumah. Aku memastikannya pulang dengan selamat. Sepanjang jalan aku terus menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Kadang-kadang dia berhenti tapi aku terus berjalan. Dia harus bisa menghadapi ini semua.

“Hami-ah, aku benar-benar tidak ingin masuk.” Ucapnya.

“Buktikan jika kau lelaki hebat!” ucapku. Aku mendorongnya masuk dan terus berada disana sampai setengah jam kemudian. Aku mendengar sedikit keributan dari dalam rumah tapi setidaknya Hyukie tidak pergi keluar. Sepertinya tugasku sudah selesai malam ini. Jadi aku merapatkan jaketku dan berjalan pulang.

Esoknya aku menghampiri Hyukie di kelasnya dan mengajaknya makan siang bersama. Aku membelikannya susu stroberi, permen loli, dan es krim agar dapat melihatnya bercahaya kembali. Tapi usahaku tidak berjalan semudah itu. Selama berminggu-minggu dia hanya tertunduk lesu. Tidak bersemangat. Dan menghindari latihan basket.

Hal yang sama terjadi pada gadis itu dan saudara kembarnya. Malah beberapa kali aku melihat dia menangis sendiri. Tapi setelahnya Donghae akan datang dan menenangkannya. Masalah ini cukup rumit.

*

“Kau masih memusuhi saudaramu itu?” tanyaku. Hari itu seharian dia berada di apartemenku. Kami main seharian.

“Iya, sofa masih menjadi tempat tidurku.” Jawabnya. Aku tahu dia hanya berpura-pura terlihat tegar.

“Kau tidak pantas menjadi sahabatku jika bersikap pengecut seperti itu.” Dia terdiam. Tidak melanjutkan permainan.

“Hami-ah…” rajuknya.

“Hyukie, dengarkan aku. Mestinya kau bersikap lebih dewasa.” Lagi-lagi dia menundukan kepalanya. Mencoba menghindari tatapanku.

“Ternyata kau benar-benar pengecut.” Lanjutku santai seraya menyeruput sodaku.

“Aku…”

“Kau pasti bisa memaafkan mereka.”

Sepertinya kata-kataku cukup ampuh. Hari ini aku sudah dapat melihat kembali sinar di matanya. Dan hari ini dia kembali datang latihan

“Yah, aku senang kau bisa kembali tertawa seperti ini.” Ucapku di pinggir lapangan.

“Dan sepertinya kau tidak pernah ditampar lagi.” Ucapku seraya tertawa. Dia menggaruk belakang kepalanya sambil tersipu.

“Yah, kupikir Donghae sudah insyaf sekarang. Dia benar-benar setia pada Hyujin.” Jawabnya.

“Jinca? Bagus sekali!”

“Yah, begitulah. Jika sudah bertemu yang pas. Kau tidak akan melepasnya.” Ucapnya. Aku lalu meminum air mineralku.

“Hami-ah, terima kasih telah menjagaku selama ini.” Aku mengernyit.

“Mwo? Tumben sekali kau berterimakasih padaku.”

“Mulai sekarang, biarkan aku yang menjagamu sekarang.” Hei, ada apa dengannya?
Aku menjitak kepalanya. Dia mengaduh pelan.

“Yah! Jangan bercanda! Bagaimana bisa tanganmu yang kurus itu menjagaku?” ucapku. Aku kembali meminum air mineralku. Berbicara dengannya menghabiskan energiku.

“Tentu saja bisa, karena aku laki-laki.” Dia mengambil botol minumanku dan mendekatkan wajahnya padaku. Sebelum aku sempat berbicara lagi dia segera menempelkan bibirnya pada bibirku.

Dia melumatnya lembut. Ini bukan Hyukie yang kukenal. Aku berusaha untuk melepaskan diri darinya.
“Apa maksudmu?” semburku. Dia tidak menjawab, hanya mentapku lembut.

“Sarangheyo…” bisiknya. Dan aku menamparnya sangat keras.

“Kau pikir aku siapa?!”

“Mianhae, Hami-ah…”

“Aku tidak ingin jadi pelampiasanmu!” aku segera memberekan tasku dan melangkah pergi. Sialan! Itu ciuman pertamaku!

“Hami-ah, aku minta maaf atas ciuman tadi. Tapi kenapa kau semarah ini?” tanyanya. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. Aku melemparkan handukku kesal.

“Ya! Apa kau tidak tahu sudah berapa lama aku menyukaimu?! Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku saat kau bercerita soal Hyujin?! Apa kau tidak tahu hatiku lebih sakit lagi saat melihatmu hancur gara-gara gadis itu?!” ucapku marah.

Semua yang telah kutahan selama ini akhirnya keluar juga. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan air mataku.

“Dan sekarang kau menciumku hanya karena Hyujin sudah bersama Donghae…” isakku.
Dia berjalan mendekat dan memelukku.

“Menangislah jika itu yang kau mau.” Ucapnya.

“Kau benar Hami-ah. Aku memang bodoh.”

*

Setelah kejadian itu otomatis aku menghindar darinya. Aku selalu meminta Mi young bilang padanya bahwa aku tidak ada ketika dia mencariku. Aku tidak pernah membukakan pintu untuknya ketika dia datang. aku bahkan tidak mengangkat teleponnya.

Aku selalu bersembunyi darinya. Aku pun tidak datang ke klub. Duniaku menjadi sempit setiap hari. Aku tidak mengerti pada perasaanku sendiri. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk berpikir.

“Dia sakit.” Ucap Donghae tiba-tiba saat aku makan siang di kantin. Aku meletakan sendokku.

“Siapa?”

“Hyukie. Sakit. Itu semua karenamu.” Ucapnya lalu beranjak pergi.

Aku tidak bisa melanjutkan makan siangku. Tiba-tiba saja aku merasakan sesak dalam dadaku. Ada apa?

Rasa sesak itu tidak berhenti juga sampai aku tiba di apartemen. Aku membilas seluruh badanku lalu menatap wajahku di cermin. Aku tersenyum, ternyata aku cukup manis jika rambutku digerai seperti ini. Aku lalu mengambil jepit rambut biru muda yang kubeli kemarin. Cocok.

Aku mengenakan rok dan t-shirt, lalu melapisnya dengan jaket kesayanganku. Aku lalu mengambil tas dan tidak lupa menyelipkankan sekotak susu stroberi kesukaannya.

Ibunya menyuruhku agar masuk saja langsung ke dalam kamarnya. Dia sedang berbaring saat aku datang.

“Donghae-ah, tolong tutup pintunya. Aku ingin tidur..” pintanya. Rupanya ia mengira Donghae yang datang.

Aku lalu meraba keningnya, demamnya cukup tinggi. Tiba-tiba dia berbalik dan membuka matanya.

“Hami?”

“Memangnya siapa yang kau harapkan?” jawabku ketus. Aku segera menarik tanganku. Dia menatapku heran.

“Darimana saja kau selama ini?” tanyanya.

“Aku? Tentu saja aku ada.”

“Aku tidak pernah bisa menemukanmu.” Ucapnya.

“Itu karena kau tidak serius mencariku.”

“Tentu saja aku serius!” ujarnya tidak mau kalah.

“Setiap hari aku mencarimu di kelasm ke perpustakaan, kantin, bahkan sampai atap. Tapi kau tidak ada. Bahkan kau pun tidak datang ke klub! Apa kau tidak tahu ba…” dia sangat cerewet, kututup saja mulutnya dengan bibirku.

“Sudah selesai?” tanyaku tepat dihadapannya. Mukanya bersemu merah. Dia masih saja polos.

“Itu balasan untuk waktu itu.” Lanjutku. Aku lalu menarik tubuhku dan beranjak pergi. Aku lalu mengeluarkan susu stroberi dan meletakannya diatas meja.

“Lekas sembuh.” Ucapku. Tapi sebelum aku sempat mencapai pintu, dia menarikku ke dalam pelukannya. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Entahlah, tapi aku menutup mataku. Aku pasrah pada apa yang akan dia lakukan padaku. Tapi dia malah menjitak kepalaku.

“Itu balasan karena membuatku sakit.” Ucapnya sambil menyeringai lebar.

“Awas kau!” aku segera mencubitinya.

“Ya! Ya! Aku masih sakit!” pintanya memohon. Tapi aku tidak berbelas kasihan padanya kali ini.

“Ara, ara…” ucapnya. Dia berhasil menggenggam tanganku, bagaimanapun aku mencoba melepasnya cengkramannya lebih kuat.

“Jadi apa kau mau menjadi pacarku sekarang?” tanyanya lagi.

“Siapa yang bilang?” dia terlihat gelisah. Aku jadi ingin semakin menggodanya.

“Siapa yang bilang aku tidak mau?” lanjutku. Dia tersenyum lebar. Dan memelukku erat. Ketika aku berharap ada adegan romantis lagi, dia malah pingsan. Demamnya sangat tinggi. Dasar bodoh!

*

Kami menghadapi masa sulit bersama. Dia selalu setia mendampingiku. Tidak pernah sekalipun berpaling. Bahkan ketika aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jepang. Dia lelaki hebat! Aku beruntung mendapatkannya.

Malam ini dia datang ke apartemenku. Dia bilang, dia akan memasak khusus untukku. Jadi kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dapurku, sementara aku berkutat dengan pekerjaan yang masih menumpuk.
Dia memanggilku ketika makanan telah siap. Kulihat meja telah dia tata sedemikian rupa, lilin bertebaran dimana-mana. Sejak kapan si bodoh ini menjadi sangat romantis?

Dan saat itulah dia mengungkapkan keinginannya padaku. Dengan gugup dan terbata-bata dia memintaku untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka. Dan aku menyanggupinya. Dia memelukku erat.
“Dan jangan panggil aku bodoh lagi.” Bisiknya. Aku tersenyum. Adik yang Tuhan kirim padaku untuk selalu kujaga, kini akan terus menjagaku. Terimakasih Tuhan. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik. Aku berjanji…

 

 
4 Comments

Posted by on May 30, 2011 in fanfiction

 

Tags: ,

Prince and The Thief

Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri nun jauh disana, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita. Sayangnya sang putri selalu merasa kesepian. Di kamarnya, salah satu kamar terbesar di istana, di temani kucing kesayangannya, dia termenung di sisi jendela.

“Mochi, apa kita tidak bisa menikmati dunia luar ya?” tanyanya. Si kucing hanya mengeong sebagai tanda dia memperhatikan majikannya itu.

Pintu kamar diketuk perlahan.

“Masuklah…” jawabnya malas-malasan.  Seorang gadis yang lebih muda darinya masuk. Dia mengenakan pakaian seragam khas pelayan dengan blus hitam dan celemek putih.

“Putri Janice belum bersiap-siap?” tanyanya heran melihat sang putri yang masih berpakaian “biasa”.

“Aku malas pergi, Kate. “ ujarnya seraya menyibakan rambut coklatnya yang berkilau.

“Ayolah Tuan Putri, jangan membuat saya kesulitan. Tuan Putri tahu kan saya sudah sering ditegur gara-gara ini.” Ucapnya. Dengan segera dia membuka lemari pakaian dan memilihkan gaun terbaik yang dapat dipakai putrinya malam ini. Sebuah gaun berwarna biru langit, warna kesukaan sang putri menjadi pilhannya.

“Hh… jika saja buka kamu yang meminta, jangan harap aku akan pergi dari tempat ini.” Putri Janice berdiri yang membuat Mochi mengeong keras karena kaget. Dia mengambil gaun yang sudah disiapkan Kate dan membawanya menuju sekat yang ada di pojok ruangan.

“Kate, tolong bantu aku.” Pintanya. Dengan cekatan, Kate menyeletingkan gaunnya. Sang putri  duduk dengan anggunnya di hadapan meja rias. Kate segera mengambil sisir. Jari-jarinya begitu cekatan menata rambut sang putri.

“Siapa lagi yang datang sampai aku harus ikut makan malam?” tanyanya.

“Aku dengar dari kepala pelayan, malam ini akan ada delegasi dari Timur. Sepertinya memang sesuatu yang penting.” Jawabnya seraya mengepang rambut sang putri.

“Yak, selesai! Tuan Putri terlihat sangat cantik!” pujinya.

“Kau terlalu memuji…”

“Ah! Tiaranya, tiaranya!” sahut Kate. Dia membuka lemari yang lain dan mengeluarkan sebuah kotak dengan hiasan safir biru diatasnya. Dia membukanya perlahan dan mengeluarkan sebuah tiara yang ditaburi permata. Kate membawanya dengan sangat hati-hati dan meletakannya diatas kepala sang putri.

“Sempurna!” ucapnya girang. Janice hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pelayan pribadinya itu.

“Ayo Putri, saatnya untuk berangkat!” Janice mengangguk, ia lalu berjalan dengan anggunnya. Kate mengekor di belakangnya.

Ruang makan kerajaan berada di sisi lain istana, mereka melewati banyak sekali penjaga yang segera berdiri dalam keadaan siap begitu mereka lewat. Kadang Janice dan Kate bergosip tentang mereka. Tentu saja jika hanya ada mereka berdua. Karena, keduanya akan terkena omelan bila ketahuan.

“Putri Janice tiba!” seorang pengawal berteriak saat mereka tiba di ruang makan untuk memberitahukan kedatangannya. Kate menarik kursi untuk Janice setelahnya ia berdiri di sisi ruangan bersama pelayan lainnya.

Ruang makan sudah dipenuhi dengan keluarga kerajaan, Yang Mulia Raja, permaisuri, kedua pangeran, juga beberapa utusan dari negeri di Timur. Seorang pelayan dari bagian dapur kerajaan mulai menyajikan makanan pembuka. Janice menyendok supnya dengan perlahan.

“Putri Anda benar-benar cantik, Yang Mulia.” Ucap utusan itu. Janice mendongak, seorang pria setengah baya, lebih tua dari ayahnya, dengan rambut dan jenggot yang mulai memutih tersenyum kepadanya. Pakaiannya yang terbuat dari sutra dan benang emas, menandakan dia memang bukan orang sembarangan di negerinya.

Janice melihat ke sekelilingnya. Ibunya, sang Ratu membalas pujian itu dengan senyuman. Joshua sang putra mahkota juga terlihat tersenyum sopan, sementara Bryan terlihat tidak peduli. Janice meneruskan makannya kembali.

Tak lama makanan utama masuk. Beberapa pelayan maju untuk melayani mereka.

“Jadi, kapan pangeran Spencer akan datang?” Tanya Raja Andrew. Pelayan meletakan sepotong ikan salmon di piring Janice. Janice menatap piringnya dengan sedikit bernafsu. Ikan salmon selalu menggugah seleranya. Koki yang memasak hari ini pantas di beri penghargaan.

“Ehm, beberapa hari lagi.” Ucap utusan itu.

“Masih ada beberapa hal lagi yang harus pangeran lakukan di negeri kami. Karena itulah Hamba diutus terlebih dahulu untuk menyampaikan pesan ini.” Lanjutnya.

“Kami sangat tersanjung dengan pinangan pangeran.” Ucap Raja. Janice hampir saja tersedak.

“Pinangan?” tanyanya dalam hati. Janice menatap Kate yang terlihat sama bingungnya. Kate lalu mengangkat bahunya, menandakan diapun tidak mengetahui apa-apa mengenai hal itu.

Tidak ada yang dapat Janice lakukan selain diam sampai acara makan malam itu selesai.

*

Raja dan permaisuri melanjutkan pertemuan dengan utusan dari negeri di Timur di ruang kerjanya. Janice segera menghampiri kedua kakaknya yang memutuskan untuk minum teh di kamar sang putra mahkota.

“Kakak, apa maksud ayah tadi?” Tanya Janice langsung pada Joshua. Kate segera menutup pintu agar tidak ada yang mengganggu. Kedua pangeran membiarkan Kate tetap di dalam, karena mereka sudah menganggap Kate sebagai bagian dari keluarga.

“Maksud ayah yang mana?” Tanya Joshua. Sementara Kate segera menggantikan Bryan untuk menuangkan teh di cangkir.

“Tentang pinangan!” ucap Janice tidak sabar. Bryan menghampiri adiknya dan menuntunnya menuju kursi.

“Tenang dulu adikku yang manis, kami akan menjawab asalkan kamu duduk tenang.” Ucapnya sambil tersenyum. Kate ikut tersenyum, dia selalu suka dengan senyuman itu.

Janice mendengus, ia menyilangkan tangannya tidak sabar. Kate menyodorkan secangkir teh padanya.

“Minumlah Tuan Putri.” Pintanya.

“Terimakasih.” Janice meneguk tehnya pelan-pelan, sambil menunggu jawaban dari kakak-kakaknya itu.

“Hm, sebenarnya ayah pasti akan memberitahumu nanti. Tapi karena kau memaksa…” akhirnya Joshua  buka suara. Dia tersenyum seraya melirik Bryan yang duduk di lengan kursinya.

“Ya, utusan itu datang untuk menyampaikan pesan dari kerajaan di Timur. Sang Raja ingin meminangmu agar hubungan kedua kerajaan semakin erat.” Jawabnya tenang. Joshua menyesap tehnya.

“Apa?”

“Hei, kenapa reaksimu seperti itu? Tenang sajalah, aku dengar pangeran itu cukup tampan.” Ucap Joshua lagi. Janice melotot mendengar penjelasan dari kakaknya itu.

“Kak… ah! Menyebalkan!” ucap Janice. Senyuman kedua pangeran itu malah semakin lebar melihat kelakuan adik mereka. Bryan berpindah tempat duduk dan merangkul bahu adiknya.

“Kecantikanmu bisa hilang jika mukamu ditekuk seperti itu.” Ucap Bryan. Katepun ikut tersenyum melihat tingkah kakak beradik ini.

“Kakak… bujuk ayah untuk menolak pinangan itu…” rajuknya. Tapi Bryan menggeleng.

“Sebaiknya kamu istirahat saja, ada yang masih harus kami bicarakan.” Bujuk Bryan.

“Kate, bawa dia ke kamarnya ya. Dan jaga dia jangan sampai kabur.” Perintah Joshua. Kate tersenyum, mengingat tingkah sang putri yang pernah kabur karena permintaannya tidak dituruti.

“Baik Yang Mulia.” Jawabnya.

“Mari Putri.” Bujuk Kate. Janice hanya mendengus karena tidak bisa menolak perintah kedua pangeran yang sayangnya adalah kakaknya tersebut.

“Hidupku sangat tidak beruntung.” Keluhnya sesampainya di dalam kamar. Kate segera membantunya berganti pakaian dengan pakaian tidur.

“Siapa tahu pangeran itu benar-benar tampan?” goda Kate. Janice semakin cemberut. Karena setahunya, tidak ada pria yang lebih tampan dari ayah dan kedua kakaknya. Jadi akan setampan apa pangerannya itu?

“Kate…” rajuknya. Janice menyibakan rambutnya, Kate segera mengambil sisir dan merapikan rambut sang putri yang terurai.

“Bagaimana jika Tuan Putri mencoba untuk mengenalnya lebih dulu? Dan kita lihat sisi positifnya, Tuan Putri bisa pergi keluar dengan bebas kan?” ucap Kate. Janice lagi-lagi menghela nafas panjang.

“Sebaiknya Tuan Putri tidur sekarang.” Bujuk Kate lagi. Janice mengangguk. Terjaga lebih lama malah akan semakin menyiksanya. Dengan terlelap, setidaknya dia bisa berharap esok hari akan sesuai dengan keinginannya.

*

“Kau cari disana! Kalian kesebelah sana!”

Janice terbangun karena suara derap langkah kaki para pengawal diluar.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kalian menemukannya?”

“Tidak Kapten!”

“Cepat cari lagi!” suara ribut-ribut sepertinya telah membangunkan seluruh istana. Janice kini mendengar suara derap kaki bukan hanya diluar, tapi juga dalam istana.

Perlahan dia membuka selimutnya dan menghampiri jendela. Sinar bulan menerangi taman malam itu. Tapi dia tetap tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Apa ada penyusup?”

Janice akan berbalik ketika dia melihat sesosok bayangan bersembunyi di balik tirainya. Dia akan berteriak seandainya sosok itu tidak membekap mulutnya dan menyudutkannya di dinding. Janice bisa merasakan desahan nafasnya yang berhambur ke wajahnya.

“Ssstt….” Dia menaruh telunjuknya di ujung bibirnya. Janice mengangguk, menandakan dia akan tetap tenang. Sosok itu lalu melepaskan tangannya.

“Si..Siapa kamu?” Tanya Janice. Dia tidak bisa melihat wajah sosok dihadapannya dengan jelas. Sinar bulan tidak cukup terang untuk melihatnya. Terlebih lagi sosok itu menutupi sebagian wajahnya.

“Haha, anggap saja aku pencuri.” Jawabnya. Seulas senyum tipis tersuging disana.

“Pencuri? Apa yang ingin kau curi?”

“Aku mendengar ada harta yang tidak ternilai harganya di istana ini.”

“A..apa?”

“Anda Yang Mulia.” Janice tertegun. Pipinya merona. Sudah banyak yang mengatakan hal itu padanya, tapi entah mengapa kali ini terasa begitu berbeda.

“Kamu boleh mengambilnya, jika kau bisa. Sayangnya harta itu terkurung dalam kotak emas yang terkunci.” Balas Janice. Lagi-lagi senyuman tipis tersuging.

“Anda menantangku Yang Mulia?”  Janice mengangguk. Matanya berkilauan, dia tidak takut lagi.

“Aku akan datang lagi besok. Dan aku berjanji, kedatanganku nanti tidak akan menimbulkan keributan seperti ini lagi.” Ucapnya. Sosok itu membelai rambut Janice dan mencium ujungnya sebelum melompat dari balkon dan menghilang di kegelapan malam.

Janice berusaha mencarinya, tapi sosok itu telah menghilang. Tiba-tiba pintu terbuka. Kate masuk dengan gaun tidurnya.

“Anda tidak baik-baik saja Yang Mulia?” tanyanya khawatir saat mendapati Janice berdiri di tepi balkon. Ada desas-desus seorang pencuri telah masuk. Dia khawatir akan keselamatan putrinya.

“Ya, aku tidak apa-apa Kate.” Jawabnya.

“Tapi wajah Anda memerah Yang Mulia.”

“Aku… aku…sepertinya sudah jatuh cinta, Kate.”

*

“Kate… Kate..” panggil Janice. Dengan tergopoh-gopoh Kate menghampiri majikannya itu dikamarnya.

“Ada apa?” tanyanya. Ia heran karena Janice membutuhkannya selarut ini.

“Bantu aku. Aku ingin terlihat cantik malam ini.” Ucap Janice. Kate mengerutkan dahinya. Permintaan yang aneh tentu saja. Karena kecantikan Janice begitu sempurna. Dengan rambut ikal coklat yang berkilau, bibir merah yang terbentuk sempurna, kulit putih yang bersinar, mata yang memancarkan kelembutan. Apa lagi yang kurang?

“Anda akan pergi kemana?” Tanya Kate. Janice menatapnya tajam. Kate merasa bersalah karena telah bersikap lancang.

“Maafkan saya Tuan Putri.”

“Sudahlah, bantu saja aku.” Ucap Janice. Kate mengangguk dan menghampiri Janice. Tapi Kate malah semakin bingung karena Janice sedang memilih pakaian tidurnya.

“Mana yang paling bagus?” tanyanya. Ada banyak sekali yang terhampar disana. Semuanya terbuat dari satin kualitas terbaik. Kate terlihat menimbang-nimbang lalu menjatuhkan satu pilihan yang berwarna putih gading.

“Pilihan yang bagus. Terimakasih.” Ucapnya tulus.

“Bantu aku berganti pakaian.” Pinta Janice lagi. Dengan cekatan Kate segera melepaskan gaun yang menempel di tubuh langsing sang putri dan menggantinya dengan pakaian tidur. Dia lalu menyisiri rambut Janice dan mengepang sedikit ujungnya. Beberapa anak rambut yang terlepas dia biarkan membingkai wajah sang putri.

“Terimakasih Kate. Sekarang kamu boleh istirahat.” Ucapnya.

“Terimakasih Yang Mulia.” Kate segera pamit. Setelah sendirian di dalam kamarnya, Janice segera memadamkan lampu dan beringsut ke tempat tidurnya. Dia menarik selimutnya sampai ke batas dada. Hatinya gelisah, apakah pencuri itu akan datang lagi malam ini? Sampai akhirnya ia terlelap.

Janice terbangun karena ia merasa wajahnya disentuh seseorang. Dia membuka matanya dan terkejut, seseorang telah duduk di sampingnya. Hampir saja ia berteriak jika tidak mengenali siapa sosok itu.

“Bagaimana caranya kamu masuk?” Tanya Janice.

“Anda lupa mengunci jendela, Yang Mulia.” Janice tersenyum.

“Lalu apa yang mau kamu curi lagi kali ini?” tanyanya.

“Bagaimana jika aku mencuri Anda?” ucap si pencuri. Janice bisa melihat senyuman terulas di bibirnya lagi.

“Tidak bisa. Kamu berjanji tidak akan menimbulkan keributan.”

“Bagaimana jika aku hanya meminjam?” lagi-lagi senyuman itu terulas disana.

Dan Janice mengangguk. Pencuri itu lalu menggenggam tangan Janice dan membawanya ke balkon.

“Apa Anda siap?” Janice mengangguk. Si pencuri lalu membopong Janice. Dan entah bagaimana caranya mereka bisa selamat sampai di tanah setelah melompat dari lantai 2. Tanpa bersuara si pencuri berlari melintasi halaman istana dan berhenti di satu sisi tembok yang dipenuhi tanaman rambat. Dia lalu menyibakan tanaman-tanaman itu dan terlihat sebuah lubang yang cukup besar yang dapat mereka lewati.

Dibalik tembok istana, telah menunggu seekor kuda hitam yang terlihat sangat gagah. Si pencuri naik lebih dulu lalu membantu Janice naik. Ini bukan pertama kalinya Janice menunggang kuda, bisa dibilang dia seorang yang mahir. Tapi ini pertama kalinya dia menunggang kuda bersama seorang pria selain kakak dan ayahnya.

Si pencuri mengajak Janice menuju sebuah danau. Dulu Janice sering bermain disini bersama kedua kakaknya. Danau ini memang sangat indah. Janice tersenyum bahagia. Dia begitu merasa bebas setelah sekian lama dikurung di dalam istana dan direpotkan dengan berbagai pelajaran tata karma.

Janice berlari menuju tepian danau dan menyentuh airnya. Dia menggigil. Dingin. Janice memukul kepalanya perlahan, suatu perbuatan yang sangat bodoh hanya memakai pakaian tidur tipis, tanpa alas kaki dia pergi keluar istana di udara malam yang dingin. Si pencuri mendekatinya perlahan lalu melepaskan mantel hitamnya.

“Terimakasih.” Ucap Janice. Namun dia terpana melihat wajah pencuri itu. Kulit putih halus yang begitu menawan. Tatapan mata yang tajam. Rambut hitam yang berkilau. Serta tubuh yang tegap.

“Mengapa kamu menutupi semua ini?” Tanya Janice heran.

“Anda sangat lucu Yang Mulia. Jika aku tidak menutupi wajahku, para pengawal Anda akan cepat menemukanku dan menghukumku.” Jawabnya tepat dihadapan Janice. Janice menunduk malu. Baru kali ini ia ditatap seperti itu.

Janice lalu duduk diatas rerumputan. Dia merapatkan mantelnya.

“Apa menjadi dirimu menyenangkan?” tanyanya.

“Kadang tidak. Kamu tidak bisa menunjukan dirimu yang sebenarnya. Apa itu menyenangkan?”

“Tapi kamu bebas.”

“Selalu dikejar-kejar, apa itu bebas?”

Janice tidak berkata apa-apa lagi. Dia memandang pantulan sinar bulan di permukaan danau. Si pencuri duduk di sampingnya. Sebenarnya mantel itu tidak terlalu berfungsi. Yang membuat tubuhnya hangat adalah kehadiran si pencuri disana.

*

Beberapa hari ini Kate melihat keanehan pada diri Janice. Dia lebih sering melamun, kadang-kadang tersenyum sendiri. Bahkan kehadiran dirinya dan Mochi tidak dia gubris. Dan sang putripun selalu menanti datangnya malam. Kate ingin bertanya, namun ia merasa tindakan itu terlalu lancang baginya.

“Kenapa kamu sendirian disini?”  Tanya Bryan, membuyarkan lamunan Kate.

“Ah, Yang Mulia.” Ucap Kate. Ia segera berdiri dan menundukan pandangannya.

“Tidak usah bersikap seperti itu padaku. Kita tumbuh bersama.” Ucap sang pangeran. Tapi Kate tidak mengubah posisinya. Hal itu hanya akan menambah masalahnya.

“Pertanyaanku belum kamu jawab, ada apa?” Tanya Bryan lagi.

“Ehm… tidak, saya hanya mengkhawatirkan keadaan Tuan Putri Yang Mulia.”

“Janice? Ada apa dengan dia?”

“Beberapa hari ini saya melihat Tuan Putri sering melamun. Saya khawatir, rencana pernikahan itu sangat mengguncang dirinya.” Ucap Kate.

“Ah… jadi itu yang kamu khawatirkan. Sebenarnya rencana itu masih akan ditunda sampai Pangeran Spencer tiba.”

“Sebagai kakak, apa tidak sebaiknya Yang Mulia menjenguknya sesekali?” saran Kate. Bryan menatap Kate tajam.

“Maaf saya lancang, Yang Mulia.” Tapi Bryan malah tersenyum.

“Terimakasih telah mengingatkanku. Aku akan ke kamarnya sekarang.” Bryan beranjak meninggalkan Kate sendirian di halaman belakang. Kate menatap sosoknya yang gagah sampai hilang di belokan. Sosok yang selalu dia kagumi di setiap helaan nafasnya. Kate tersenyum seraya memegang dada kirinya yang berdetak sangat cepat.

*

“Hh…” untuk kesekian kalinya Janice menghela nafas. Dia rindu pada si pencuri itu, pencuri yang telah berhasil mengambil hatinya tanpa izin sang pemilik. Sudah beberapa kali si pencuri itu mendatangi Janice. Dan dia tidak pernah berhasil melihat bagaimana caranya pria itu masuk ke dalam kamarnya. Janice selalu tertidur lebih dulu.

“Hei, melamun.” Janice terlonjak. Kakaknya Bryan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Kakak…”

“Kakak dengar adikku yang manis ini sering melamun.” Goda Bryan. Janice segera saja menjadi gugup.

“Me…malamun? Aki tidak…”

“Jangan bohong… aku tahu seperti apa adikku ini. Ayo, ceritakan padaku ada apa?”

“Aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Atau jangan-jangan…” Bryan bergaya ala detektif yang sedang menganalisis dan melirik Janice tajam.

“Siapa dia? Apa Marcus anak perdana menteri? Atau… Jordan anak Jenderal? Atau …”

“Ah, kakak… apa maksudnya?” Janice mulai merajuk lagi, dia berharap kegugupannya tertutupi dengan bertingkah seperti ini.

“Hei, hei, jangan berbohong lagi padaku. Atau aku harus menyebutkan semua pria di negeri ini sampai kamu mengaku?” tanyanya.

“Ugh, kakak menyebalkan!” Janice lalu menyerang kakaknya itu dengan jurus kelitikannya yang sangat mematikan.

“Ahahahahaha…. Sudah, sudah, hentikan! Aku menyerah! Aku menyerah!”

“Janji tidak akan menggodaku lagi?”

“Janji! Ampun Yang Mulia… Ahahahaha….”

Pintu tiba-tiba terbuka. Mereka mematung, ternyata Kate.

“Maaf Yang Mulia, tapi Yang Mulia Raja memanggil Anda berdua.” Ucapnya sambil membungkuk sopan.

Janice dan Bryan segera berdiri dan merapikan pakaian mereka. Lalu berjalan menuju ruang kerja sang raja. Mereka berjalan beriringan dengan Bryan dan Janice di depan dan Kate mengekor di belakangnya.

Kakak mereka, Joshua, sudah berada di sana bersama Raja dan juga permaisuri. Tidak ada satupun menteri atau penasihat yang hadir. Raja lalu meminta Kate untuk menutup pintu dan berjaga diluar. Pertemuan ini khusus hanya untuk keluarga kerajaan.

“Ada apa Ayah?” Tanya Bryan. Joshua terlihat sangat serius. Sepertinya sang Raja telah memberitahukan hal tersebut padanya sebelumnya.

“Duduklah dulu…” ucap permaisuri. Bryan dan Janice mengangguk.

“Ini mengenai kedatangan utusan dari negeri Timur.” Ucap sang raja. Segera saja Janice merasa bulu kuduknya berdiri mendengar kata-kata itu.

“Pangeran Spencer akan datang sebentar lagi, dan pernikahan akan segera dilaksanakan.” Ucap Raja. Dia menatap Janice penuh kasih. Sebenarnya ada rasa tidak rela bila dia harus kehilangan putri kesayangannya itu secepat ini. Namun sebagai raja, dia harus mengenyampingkan perasaan pribadinya. Pernikahan ini akan sangat menguntungkan bagi kerajaannya.

“Tap… tapi ayah…” Janice ingin sekali menolak. Namun permaisuri menahannya.

“Janice, biarkan ayahmu menyelesaikan kalimatnya dulu.” Ucap permaisuri bijak.

Raja tersenyum, berterimakasih atas bantuan istrinya.

“Janice, kamu harus mengerti. Ini tugasmu sebagai putri negeri ini.” Ucap Raja. Janice hanya diam. Wajahnya tertunduk. Dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.

“Kita akan mengadakan pesta topeng seminggu lagi untuk menyambut Pangeran Spencer. Persiapkanlah dirimu sebaik mungkin.”

“Baik, Yang Mulia.” Ucap Janice. Dia lalu pamit, karena menurutnya tidak ada lagi yang mesti didengar. Dia tidak tahu jika empat pasang mata itu mengkhawatirkannya.

*

Janice berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Dia terlihat sangat emosi. Kate dengan susah payah mengikutinya dari belakang. Dia khawatir sang putri akan melakukan tindakan-tindakan diluar dugaan. Janice membantingkan dirinya diatas ranjang membuat Mochi segera melompat karena kaget. Dia menangis keras.

Kate datang dengan tergopoh-gopoh. Ketika dia menemukan Janice menangis, Kate segera berlari untuk menenangkan Janice. Dia membelai punggungnya perlahan. Janice bangkit, dia mengusap air matanya.

“Aku ingin pergi…” ucapnya pada Janice. Kate sangat terkejut dengan kalimat yang terlontar dari bibir Janice barusan.

“Kenapa berkata seperti itu?” tanyanya.

“Pinangan itu… Pernikahan akan dilaksanakan… Pangeran itu akan datang seminggu lagi…” isaknya. Kate hanya diam. Dia menggenggam erat tangan Janice mencoba memberinya kekuatan.

“Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu menjaga Yang Mulia.” Janji Kate. Perlahan senyuman terulas di bibir Janice. Dan Janice memeluknya dengan sangat erat.

*

Malam itu Janice melamum di atas balkonnya. Dia tidak bisa tidur memikirkan pertemuan dengan ayahnya tadi siang. Pikirannya menerka-nerka seperti apa pangeran Spencer itu. Apa seperti Aiden, pangeran dari negeri seberang yang berhati lembut namun gemar tebar pesona. Atau Vincent, anak dari sepupu ayahnya yang menguasai berbagai keahlian tapi sangat pemalu. Atau jangan-jangan malah seperti Casey, putra bangsawan yang gemar bersolek dan congkak. Janice bergidik membayangkan suaminya kelak seperti Casey.

“Kenapa Anda diluar, Yang Mulia?” Janice terkejut. Lagi-lagi pria itu sudah muncul tanpa sepengetahuannya.

“Kau datang.” Ucapnya. Tapi Janice sedang tidak bersemangat hari ini. Si pencuri membelai rambutnya lembut membuat Janice merasakan sensasi menggelitik di perutnya.

“Sepertinya Anda sedang tidak bersemangat hari ini?” Tanya si Pencuri lembut di telinganya. Janci dapat mencium harum tubuhnya yang selalu ia rindukan.

“Apa kamu bisa membawaku pergi keduniamu?” Tanya Janice. Awalnya si pencuri terkejut, namun perlahan senyum kembali mengulas wajahnya.

“Keduniaku?” ucapnya balik bertanya.

“Iya, aku mohon bawa aku! Aku tidak mau dinikahkan dengan seseorang yang tidak aku kenali! Aku tidak ingin!” ucap Janice akhirnya. Perlahan air matanya kembali terjatuh.

“Hei, tenanglah Tuan Putri. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Tidak, tidak akan baik tanpa kamu disampingku!” ucap Janice. Ia segera memeluk tubuh bidang itu. Si pencuri mengecup puncak kepala Janice dan menghirup harum rambutnya.

Dia lalu melepaskan pelukan Janice dan berkata tepat dihadapan wajahnya.

“Kapan dia akan datang?” tanyanya. Bola matanya yang hitam menatap Janice tepat di matanya.

“Satu minggu lagi, dia akan datang. Akan diadakan pesta topeng untuk menyambut kedatangannya.” Jawab Janice. Lagi-lagi si pencuri hanya tersenyum.

“Bersikaplah Anda menerima pinangan itu. Saat itu, aku akan menjemputmu. Kita bertemu di pesta topeng satu minggu lagi.” Ucap Si pencuri.  Janice menatap pria dihadapannya tak percaya. Impiannya untuk segera bebas dari sangkar emas ini akan segera terwujud.

“Aku harus segera pergi.” Ucap Si pencuri lagi. Tapi tidak seperti biasanya, dia merengkuh pinggang Janice dan memeluknya erat. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Janice memejamkan matanya. Ciuman pertamanya terasa asin karena air mata.

*

            Seminggu ini Janice menunggu dengan gelisah. Dia cemas apa si pencuri itu akan benar-benar datang menjemputnya. Tapi kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum pergi menguatkan keyakinannya.

            Kau hanya milikku

Kata-kata it terus terngiang didalam pikirannya. Namun dia tidak boleh membuat keluarganya curiga. Dia menurut dengan semua perintah dari ayah, ibu, serta kedua kakaknya. Dalam hati ia selalu meminta maaf karena tidak bisa berbakti kepada mereka semua. Setiap malam ia selalu menangis karena merasa bersalah. Namun keinginannya untuk pergi bersama kekasihnya tidak bisa dibendung lagi.

Akhirnya hari yang dinantikanpun tiba, Kate membantu Janice untuk bersiap-siap. Malam itu ia mengenakan gaun berwarna peach dengan detail yang sangat indah. Kate menggulung rambut Janice ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dia lalu memakaikan tiara kebanggaan Janice diatas gulungan itu. Janice tampak sangat cantik.

“Putri, tersenyumlah.” Ucap Kate. Janice segera menarik kedua sudut bibirnya, Kate ikut tersenyum.

Tiba-tiba Janice memeluk Kate dengan sangat erat.

“Kate, terimakasih banyak karena selalu membantuku selama ini.” Ucapnya tulus. Kate hanya mengangguk. Memang sudah tugasnyalah untuk melayani sang putri.

“Ayo Yang Mulia, pesta sudah akan dimulai.” Ucap Kate menghentikan adegan melankolis itu. Janice mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju aula istana, tempat pesta dilangsungkan.

Sudah banyak yang hadir disana. Dan semuanya mengenakan topeng. Janice segera memasang topengnya begitu masuk aula. Dia mencari kedua kakaknya, namun ternyata itu adalah hal yang sia-sia. Dia tidak mengenal siapapun.

Tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya. Seorang pria dengan rambut hitam yang sangat Janice kenali berdiri dihadapannya.

“Maukah Anda berdansa dengan saya Yang Mulia?” ucap pria itu seraya membungkuk beberapa derajat. Janice masih bingung dengan penampilan si pencuri hari ini. Dia terlihat berbeda dengan baju itu. Namun Janice masih dapat mengenali suara dan wangi tubuhnya.

“Kenapa kau disini?” bisik Janice. Mereka tidak berhenti bertatapan sambil terus berdansa.

“Sudah kubilang aku akan menjemputmu.”

“Tapi ini terlalu berbahaya.” Desis Janice lagi. Si pencuri hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.

Janice cemas sekaligus merasa sangat bahagia. Pesta topeng ini memberi mereka ruang untuk bertemu. Tapi Janice takut tertangkap basah kakak atau ayahnya.

Musik berhenti mengalun. Si pencuri melepaskan Janice dan membungkuk hormat. Janice membalas penghormatannya dengan membungkuk juga. Dia lalu berjalan menghampiri ayahnya yang berada di tempat khusus.

Seluruh hadirin terpusat pada keluarga kerajaan yang berdiri di mimbar sekarang. Sang Raja dengan penuh wibawa memulai pidatonya.

“Terimakasih atas kehadiran Anda sekalian. Malam ini saya ingin menyampaikan kabar bahagia. Beberapa waktu yang lalu, utusan dari negeri di Timur datang. Beliau menyampaikan bahwa ingin mempererat hubungan kedua kerajaan dengan meminang putri kami. Dan hari ini Pangeran Spencer telah tiba untuk menjemput putri kami.” Seluruh hadirin bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada keluarga kerajaan.

“Pangeran Spencer, silakan naik.” Undang sang raja. Janice merasa perasaannya campur aduk saat ini. Dan dia lebih kaget lagi ketika si pencuri malah dengan terang-terangan naik ke atas mimbar lalu mengecup tangannya.

Janice menatap ayah dan kedua kakaknya lalu menatap si Pencuri. Mereka tidak akan selamat jika sampai ketahuan.

“Saya percaya hadirin sekalian ingin melihat wajah Anda, Pangeran.” Pinta raja. Si pencuri tersenyum. Perlahan ia melepas topengnya. Janice harus menahan nafas ketika adegan ini berlangsung. Tapi tidak ada yang terjadi. Semuanya terlihat bahagia dan tersenyum.

“Akulah Spencer, pangeran yang akan menjemput Anda Yang Mulia.” Bisik si pencuri di telinga Janice. Janice masih bingung. Namun tidak ada keraguan dalam mata itu.

“Kau, si pencuri?” Tanya Janice. Pria muda itu mengangguk.

“Dan kau Spencer?” dia kembali mengangguk.

“Ceritanya panjang.” Ucapnya mengetahui kebingungan Janice. Dan dengan bakatnya sebagai seorang pangeran, dia segera melambai kepada seluruh hadirin.

Cerita pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya terjadi pada Janice. Pangeran yang dia takuti ternyata malah berhasil mencuri hatinya. Pernikahan yang paling dia takuti, malah menjadi kunci kebebasannya. Kini Janice mendampingi pria yang dicintainya memimpin negeri di Timur.

Dan Janice hanya berharap, sahabatnya, Kate, dapat bahagia seperti dirinya. Karena itulah, meski ia sangat sayang pada Kate dan tidak ingin berpisah, dia tidak membawa Kate bersamanya. Karena dia tahu, tempat Kate adalah di sisi kakaknya.

Lalu bagaimana nasib Kate?

Tunggu cerita selanjutnya “The Gorgeus Smile”

 
4 Comments

Posted by on May 30, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Chan Chan

“Mengapa semua gelap?” itu yang pertama kali keluar dari mulutnya saat dia sadar. Aku melihat wajah Hami onnie memucat. Dia segera berlari keluar dari kamar entah untuk apa. Tapi beberapa saat kemudian aku tahu, dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan pria itu.

“Keadaannya sudah Stabil.” ucap dokter itu.

“Bagaimana kau bisa mengatakan kondisiku stabil? Aku tidak bisa melihat!” ujar pria itu. Hami onnie lalu mengajak dokter untuk berbicara diluar. Meninggalakan aku dan pria itu lagi.

Aku tidak bicara apapun, toh dia tidak dapat melihatku. Pria itu kelihatan sangat marah, atau lebih tepatnya frustasi. Dia memukul-mukul kepalanya. Apa menurutnya berbuat seperti itu akan membuat penglihatannya pulih?

Tak lama Hami onnie kembali, dia terlihat seperti habis menangis. Tapi dia tersenyum ketika masuk.

“Oppa, gwenchana?” tanya Hami onnie.

“Ya! Pertanyaan macam apa itu? Kau pikir aku baik-baik saja tanpa penglihatanku?” ujarnya. Apa dia suka sekali berteriak-teriak seperti itu? Jika tidak ada Hami onnie, sudah kupukul dia!

Tapi Hami onnie hanya tersenyum. Dia membelai rambut pria itu lembut.

“Tenanglah, penglihatanmu akan segera kembali.” ucapnya. Tapi pria itu malah menepis tangam Hami onnie. Hami onnie menggenggam tangannya. Sepertinya itu sakit.

“Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi! Haha, aku lupa, bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat!” ujarnya. Pria itu menangis. Cih, seperti anak kecil saja!

Tapi Hami onniepun ikut menangis. Dia memeluk pria itu, awalnya dia berontak. Namun Hami onnie tidak melepasnya. Mereka menangis bersama. Sampai akhirnya pria itu tertidur. Mungkin lelah. Dengan lembut, Hami onnie membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya. Dia memang calon istri yang baik. Tapi tidak akan kubiarkan pria jahat itu yang menjadi suaminya!

Dia lalu menghampiriku, duduk dan memelukku.

“Berikan aku kekuatan chan ya…” ucapnya. Sebelum akhirnya tertidur sambil memelukku.

Hami onnie terlihat lebih segar hari ini. Dia sedang menyuapi pria itu. Dengan susah payah dia membujuk agar pria itu membuka mulutnya. Tapi dasar keras kepala, dia malah menepis tangan Hami onnie dan membuat sendoknya terlempar ke lantai.

“Oppa… Kau harus makan. Bagaimana caranya kau sembuh jika terus menerus seperti ini?” ucapnya. Sepertinya Hami onnie sudah mulai kesal karena kelakuan kekasihnya itu. Cih, bahkan mulutku terasa gatal menyebutnya seperti itu.

“Lebih baik aku mati!” teriak pria itu.

“Keurae. Mati saja kau! Dengan begitu akupun akan bebas mengakhiri hidupku!” teriak Hami onnie histeris.

Aku terbelalak, Hami onnie yang biasanya tenang, bisa histeris seperti ini. Aku menghampirnya lalu membelainya. Dia memelukku dan menangis di pundakku.

“Hami ya? Kau… Kau menangis?” tanya pria itu. Bodoh! Tentu saja dia menangis karena kau! Aish, aku ingin sekali menggigit dan mencabik-cabiknya. Tapi Hami onnie memelukku dengan erat.

“Hami ya…” panggilnya. Tapi Hami onnie tetap memelukku. Dia tidak bergeming.

“Hami ya, uljima…” ucap pria itu lirih, hampir berbisik. Dia menggapai-gapai udara dihadapannya. Dan bangkit dari ranjang. Dia berjalan perlahan.

“Hami ya…” panggilnya lagi. Tapi Hami onnie tetap sesengukan di pundakku. Dan karena dia belum terbiasa tanpa penglihatan, akhirnya dia tersandung kaki tempat tidurnya dan jatuh terjerembab.

“Oppa!” teriak Hami onnie kaget. Dia melepaskanku dan berlari menuju kekasihnya itu.

“Oppa gwenchana? Mianhae, mianhae…” ucap Hami onnie. Sambil menangis dia memapah pria itu kembali menuju tempat tidurnya.

Hami onnie terlalu baik. Padahal berkali-kali dia disakiti pria itu. Tapi dia selalu memaafkannya. Aku sudah menasehatinya, tapi Hami onnie selalu bilang bahwa saat ini pria itu tidak sedang menjadi dirinya. Dulu dia sangat baik. Dan Hami onnie yakin, jika dia bersabar sedikit lagi saja dia akan mendapatkan pria itu kembali.

“Kajima~” ucap pria itu. Hami onnie mengangguk.

“Aku akan selalu disini.”

Hami onnie terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini. Matanya terlihat bersinar-sinar. Aku suka mata itu, terlebih sekarang dia nampak seperti bintang yang berkilauan.

“Chan ya, jaga rumah ya. Aku akan ke rumah sakit menemani Hyukjae oppa. Makanmu sudah ku siapkan.” ucap Hami onnie. Aku mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum seraya mengacak rambutku pelan.

“Anak pintar…” ucapnya. Dia lalu pergi. Tapi hei, mengapa aku merasa aneh? Aku seperti tidak akan melihatnya lagi.

Sepanjang hari aku gelisah. Memikirkan apa yang sedang dilakukan Hami onnie bersama pria itu sekarang. Aku terus menerus memikirkan hal yang baik. Tapi hatiku tetap saja tidak tenang.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan diluar. Mungkin aku hanya bosan saja.

Aku berjalan dengan santai di tengah kota. Orang-orang sibuk berlalu lalang disekitarku. “Chan…!” uhm? Aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan ternyata Hami onnie sedang melambai padaku dari seberang jalan. Aku segera berlari menghampirinya.

Tapi seketika ekspresinya berubah panik. Aku tidak mengerti apa yang terjadi karena tiba-tiba dia sudah mendorongku, menyelamatkanku dari truk yang melintas.

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Hami onnie mengeluarkan banyak sekali darah. Dan orang-orang berbaju putih itu membawanya memasuki sebuah ruangan. Seorang perawat memintaku untuk menunggu saja diluar. Aku menurut.

Entah sudah berapa lama aku menunggu disana, yang jelas saat aku terbangun keluarga Hami onnie telah datang. Begitu melihatku bangun, ibu Hami onnie segera memelukku erat.

“Kita kehilangan dia Chan…” ucapnya sambil menangis di pundakku. Ayah Hami onnie mengelus pundak istrinya itu perlahan. Mencoba menenangkannya. Adik laki-laki Hami onnie hanya bisa diam di kursi. Mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar, dan beberapa perawat membawa pria itu keluar dari sana.

“Operasinya berhasil.” ucapnya.

“Syukurlah, Hami pasti bahagia di alam sana, terima kasih dokter.” ucap ayah Hami.

Aku kembali melihat pria itu. Matanya di perban. Sepertinya dia sudah mendapatkan donor mata yang tepat. Ayah dan ibu Hami onnie mengajakku untuk menjenguknya. Mereka bilang hari ini perban pria itu akan dibuka. Dan mereka harus memberitahukan yang sebenarnya padanya.

Dokter mulai menggunting perban pria itu dan menggulungnya perlahan. Dia lalu melepaskan kapas yang tertempel di mata pria itu satu persatu.

“Buka matamu perlahan.” ucap dokter. Pria itu menurut. Dia membuka matanya secara perlahan. Aku dapat menangkap ketegangan di ruangan ini saat menunggu jawaban darinya.

Pria itu mengerutkan alisnya. Memperhatikan kami satu persatu. Dan berhenti saat melihatku.

“Hami ya?” tanyanya. Tapi perlahan penglihatannya mulai jelas dan malah kaget saat melihatku.

“Dimana Hami, ajuma? Dan mengapa anjing ini ada disini?” tanyanya. Cih, dia belum berubah juga! Dia masih belum juga menyukaiku!

Ibu Hami onnie terlihat menimbang-nimbang. Kata apa yang tepat untuk menjelaskan padanya.

Aku berbicara padanya, tapi dia tetap tidak mengerti.

“Hyukjae ya, Hami berpesan agar kau menjaga mata itu dengan baik.” ucap Ibu Hami onnie.

“Tapi dimana dia?”

“Dia sudah tiada nak, dia meninggal saat kau dioperasi. Dia mendonorkan korneanya kepadamu.” ucap ibu Hami onnie. Bahunya kembali berguncang. Dia menangis lagi. Suaminya segera merangkulnya.

Pria itupun terlihat terguncang. Dia menatapku dalam. Dia lalu membelaiku.

“Chan ya, berikan aku kekuatan…” ucapnya.

Pria itu berubah menjadi sangat baik sekarang. Mungkin karena ada bagian dari Hami onnie didalam tubuhnya. Entahlah, yang jelas saat ini dia sangat menyukaiku!

Sore ini sangat cerah, dia mengajakku berjalan-jalan ke taman. Dia lalu duduk di bangku taman dan membiarkanku untuk duduk disampingnya.

Kami hanya diam, menikmati pemandangan di taman sampai akhirnya, aku melihatnya! Aku melihat Hami onnie berdiri di tepi danau. Dia memakai dress selutut berwarna putih. Rambutnya yang lurus sebahu dia biarkan tergerai begitu saja.

Dan sepertinya Hyukjae oppa juga melihat hal yang sama denganku. Tanpa pikir panjang lgi kami berlari melintasi taman dan mendekat kepadanya.

“Hami ya?” panggil Hyukjae oppa. Hami onnie berbalik.

“Maaf, sepertinya anda salah.” ternyata dia bukan Hami onnie. Tapi mereka sangat mirip.

“Ah, maaf.” ucap Hyukjae oppa. Aku melihat wajahnya mulai memerah.

“Ini anjingmu?” tanya gadis itu. Hyukjae oppa mengangguk.

“Aigoo, neomu kyopta! Siapa namanya?” ujarnya. Dia lalu mengangkat dan memelukku. Rasanya seperti dipeluk Hami onnie.

“Chan chan.” jawab oppa.

“Ah, Lee Eunmi imnida.” ucap gadis itu seraya membungkukan sedikit badannya.

“Lee hyukjae imnida.” jawab oppa.

Aigoo, sepertinya kisah ini akan terus berlanjut. Tapi akhirnya aku senang oppa sudah dapat tersenyum seperti dulu, seperti dalam foto yang Hami onnie tunjukan padaku.

Dan sepertinya aku tahu bahwa gadis ini adalah hadiah terakhir dari Hami onnie untuk Hyukjae oppa selain matanya tentu saja. Dan sekarang, aku bisa menikmati mata itu. Tidak hanya 1, tapi 2 pasang sekaligus!^~^

 

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2011 in fanfiction

 

Endless Moment

Diiringi lagumu aku mulai mengguratkan penaku diatas kertas ini. Kenangan saat bersamamu kembali memenuhi pikiranku. Senyummu yang begitu manis, canda tawamu, kecerdasanmu dalam merangkai kata, tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Semuanya begitu menyejukan jiwa. Bahkan saat aku sangat marah, entah mantra apa yang kau ucapkan, hanya dengan menatap matamu, amarah itu akan menguap begitu saja.

Aku ingat, kau selalu mengajakku bermain basket di lapangan kampus setiap sore. Kau bilang agar aku sedikit kurus dengan berolahraga. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin bersamaku lebih lama. Karena akupun merasakan hal yang sama. Makanya aku selalu menuruti permintaanmu itu walaupun aku sangat lelah. Tapi kau tidak pernah memaksaku bermain. Kau bilang aku harus melihat permainan seorang pro dulu jika ingin bermain dengan bagus pula. Padahal aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin memberiku waktu untuk beristirahat.

Aku juga ingat, kau selalu merengek minta dibelikan susu strawberry kesukaanmu. Kau bilang uangmu sudah habis. Padahal aku tahu, saat itu kau sedang sedih dan hanya susu strawberry lah yang bisa menghiburmu. Sama sepertiku yang akan memakan banyak sekali coklat saat perasaanku sedang tidak menentu.

Aku juga ingat, kau akan bertingkah sangat konyol dihadapan orang-orang saat melihat alisku mulai bertaut dan bibirku mengerucut. Kau melakukan itu hanya untuk membuatku tersenyum kembali. Tapi nyatanya aku malah marah dan meninggalkanmu. Padahal sebenernya aku senang kau melakukan itu untukku.

Kau selalu bilang arti dari namaku adalah cahaya. Cahaya yang menyinari duniamu, mataharimu. Karena aku ada, maka orang-orang dapat melihatmu. Ya, kau mengartikan nama yang telah diberikan orang tuaku dengan seenaknya. Aku selalu tidak suka jika ada yang mengganti-ganti namaku. Tapi untukmu, itu sebuah pengecualian.

Kau tahu, jika aku adalah cahayamu maka kau adalah perhiasan untukku. Perhiasan yang akan membuatku tampil kian mempesona. Perhiasan yang akan membuatku makin cantik. Tanpamu aku hanyalah gadis biasa.

Kau selalu memujiku atas semua prestasiku. Kau selalu bilang aku gadis yang sangat hebat. Bahkan kau merasa tidak pantas untuk selalu berada di samping gadis luar biasa seperti ku. Padahal sebenarnya semua yang kuraih hari ini adalah hasil kerja kerasmu. Semua tingkah lakumu. Semua kata-katamu. Semua semangat dan energimu. Dan senyummu adalah sumber kekuatanku.

Kau selalu bilang kau takut kehilanganku dan memintaku untuk selalu berada disisimu. Aku menyanggupinya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Sebenarnya akulah yang terlalu takut untuk kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup bertahan tanpa kau disampingku. Aku sangat takut.

Endless Moment, lagu yang kau ciptakan khusus untukku, sudah berulang kali kuputar. Maaf aku baru mengerti betapa indahnya lagu itu hari ini. Ternyata aku tidak cukup pintar ya?

Aku tahu, waktu tidak akan bisa berputar kembali. Tapi seandainya saja bisa, aku ingin mengatakan semua ini langsung padamu.

Ah, lagunya sudah hampir habis. Dan sepertinya waktuku pun sudah hampir tiba. Aku tidak akan meminta apapun darimu. Karena semua yang telah kau berikan kepadaku sudah terlalu banyak.

With love

Your shining moment

*

Ditemani lagu ku yang sangat kau suka, aku menuliskan semua perasaanku di atas kertas ini. Semua kenangan tentangmu mengalir seperti air dalam pikiranku. Perhatianmu, sikapmu yang penuh keanggunan, wajahmu yang jarang berekspresi. Bahkan aku tidak bisa tahu kapan sebenarnya kau marah padaku.

Aku ingat, kau selalu saja bersikap dingin padaku. Kau jarang sekali bicara, apakah kau sadar jika kau sangat pendiam? Tapi dibalik itu aku tahu betapa perhatiannya kau padaku. Begitu aku murung, akan ada sekotak susu strawberry di hadapanku. Jika aku mengeluh kedinginan kau akan segera menutup jendela kamarku atau meminjamkan jaketmu.

Aku juga ingat, kau akan marah jika aku bertingkah konyol di hadapan teman-temanmu. Mereka akan tertawa melihat tingkahku. Sedangkan kau, kau akan pergi menjauh dariku. Padahal aku tahu, tersuging sebuah senyuman saat kau pergi. Karena itu aku melakukannya lagi dan lagi agar terus melihat senyuman yang kau sembunyikan itu.

Aku juga masih ingat bagaimana ekspresimu ketika teman-temanku menyanyikan lagu yang kuciptakan khusus untukmu. Kau bilang aku pengecut karena tidak cukup berani untuk menyanyikannya dihadapanmu. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin mendengar suaraku lagi dan lagi.

Kau matahariku, kau cahaya yang menyinari duniaku. Tanpamu dunia tidak dapat melihatku. Tanpamu duniaku sangat dingin dan gelap. Dan kau bilang aku perhiasanmu? Aku yang membuatmu menjadi semakin mempesona?. Tapi aku tidak begitu berharga dibanding cahaya, sayangku.

Kau tidak pernah meminta apapun dariku. Kau bilang apa yang telah kuberikan sudah terlalu banyak untukmu. Kau salah, apa yang kuberikan padamu tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah kau berikan padaku.

Terimakasih cahayaku, karena kau tidak pernah meninggalkan ku sendiri. Kau memberikanku cahaya yang lain, yang dapat menggantikanmu untuk menyinari duniaku. Aku akan selalu menjaga cahaya ini, tidak akan kubiarkan dia meredup walau sedetikpun.

With love

Your endless moment

*

“Ayah sedang apa?” Tanya seorang gadis kecil dari balik pintu. Dia berlari kecil menghampiri ayahnya yang sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ayahnya lalu menariknya agar duduk diatas pangkuannya.

“Ayah sedang menulis surat untuk ibu.” Jawabnya. Mata gadis kecil itu membulat.

“Bolehkah aku menulis juga?” tanyanya polos. Ayahnya tersenyum.

“Tentu saja….” Dia lalu mengambil kertas di laci mejanya dan memindahkannya ke atas meja.

“Tapi ayah tuliskan untukku ya…” pinta gadis kecil itu. Lagi-lagi ayahnya tersenyum.

“Baiklah cahaya kecilku. Apa yang ingin kau tulis?” Tanya ayahnya. Gadis kecil itu berpikir. Dia memainkan rambutnya yang ikal persis seperti ibunya.

“Mm… ibu tersayang…” ucapnya. Matanya berputar-putar, mencari inspirasi. Ayahnya segera mencatat apa yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu.

“Apa kabar? Aku harap ibu baik-baik saja di surga. Aku dan ayah baik-baik saja disini. Ibu… aku baru saja masuk sekolah. Banyak sekali mainan di sekolahku. Setiap hari aku bisa bermain, bernyanyi, menari, bahkan menggambar  bersama teman-teman, rasanya sangat menyenangkan!” ucapnya, gadis kecil itu tersenyum girang.

“Ibu tau? Ayah selalu jadi yang paling tampan di sekolah saat waktu pulang sekolah tiba. Karena tidak ada ayah yang lain disana! Hanya ada ayah. Tapi aku yakin, jika ibu yang menjemputku, pasti ibulah yang paling cantik! Karena ayah bilang ibu adalah wanita tercantik.” Lanjutnya. Gadis kecil itu terdiam sebentar.

“Ayah bilang dulu ibu adalah cahayanya dan sekarang akulah pengganti ibu. Aku cahaya ayah. Ibu disurga tenang saja, tugas ibu untuk selalu bersinar dihadapan ayah akan kugantikan dengan baik. Karena aku anak ibu.” Lanjutnya penuh percaya diri. Gadis kecil itu melihat jam di dinding ruang kerja ayahnya. Dia lalu teringat sesuatu.

“Ibu, sebentar lagi kartun kesukaan ku akan mulai. Sampai disini dulu ya suratku… akan kusambung lagi jika kartunku sudah selesai. Dadah ibu…” ucapnya. Dia lalu mengecup pipi ayahnya dan berlari menuju ruang tv.

*

Kompleks pemakaman sepi seperti biasa. Hanya terdengar bisik-bisik angin di sela-sela dedaunan. Seorang pria berdiri dihadapan sebuah nisan. Dia membawa sebuket mawar putih dan sepucuk surat yang diletakannya di depan nisan tersebut. Pria itu tersenyum seraya mengelus nisan dihadapannya lembut.

“Halo, cahayaku… Aku bawakan sebuket mawar putih kesayanganmu. Aku harap aku tidak salah lagi kali ini.” Ucapnya.

“Sepuluh tahun yang lalu kita bertemu, aku selalu menunggu saat itu tiba. Saat aku bertemu dengan mu. Bahkan hanya dengan melihat senyuman kecilmu saja aku sudah bahagia. Saat itu aku berjanji ini bukanlah sebuah mimpi. Banyak waktu yang akan terlewati, dan aku akan tetap menjadi milikmu. My shining moment, forever…”

***

 

 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2011 in Uncategorized

 

Hanya Dia

“kau butuh teman?” itu yang pertama kali dia ucapkan padaku. Dia tidak menuntut apa-apa saat itu. Hanya duduk diam disampingku hingga air mataku berhenti mengalir.

“gomawo~” ucapku lirih. Dia memiringkan kepalanya.

“untuk apa?”

“untuk menemaniku.” jawabku tulus. Dia hanya tersenyum.

“aku hanya tidak tahan melihat seorang gadis menangis.” lalu pergi meninggalkanku.

“kenapa setiap kali aku bertemu denganmu kau selalu menangis?” tanyanya. Tapi setelahnya dia malah duduk disampingku dan tidak berkata apa-apa lagi.

“gomawo.” ucapku. Entah sudah berapa lama kami duduk disana. Dia hanya diam, menunggu tangisanku mereda tanpa ingin tahu apapun.

Lagi-lagi dia memeringkan kepalanya dan bertanya.

“untuk apa?”

“karena tidak menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan.” jawabku tulus. Tapi dia malah mengacak rambutku pelan.

“tersenyumlah.” ucapnya lalu pergi. Aku menghapus air mataku lalu mengerjarnya.

“hei, tunggu! Siapa namamu?” tanyaku.dia berbalik lalu menjulurkan tangannya padaku.

“kim jong woon.” jawabnya.

“park rara.”

“lagi-lagi kau menangis.” ucapnya frustasi. aku segera mengusap air mataku yang terlanjur jatuh.

“mianhae~”

“untuk apa?”

“karena setiap kali kita bertemu aku selalu seperti ini.” jawabku. Tapi dia tidak menjawab. Dia malah menggores-gores tanah dengan ranting yang dia ambil entah dari mana.

“ibuku meninggal ketika kau menemukanku menangis pertama kali disini.” ucapku. Aku menatap sungai yang mengalir tenang di hadapanku. Dia menolehkan wajahnya kepadaku, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“setelah itu ayahku menikah lagi tanpa persetujuanku.”

“biar kutebak, itu saat aku menemukanmu menangis lagi disini?” tanyanya. Aku mengangguk.

“dan hari ini…” aku berhenti. Air mataku kembali mengalir.

“hari ini, kakak ku kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ayah.” dia menggeser duduknya lalu mengelus punggungku.

Aku membenamkan wajahku ke dalam kedua lututku. Mencoba menyembunyikan air mata yang turun kian deras. Walaupun kurasa percuma karena dia sudah tahu.

Lagi-lagi dia hanya diam, menunggu air mataku mengering.

“gomawo~” ucapku akhirnya.

“untuk apa?”

“karena sudah mendengarkanku.” ucapku tulus. Dia hanya tersenyum dan pergi lagi.

“tunggu!” pintaku. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik.

“come on!” ajaknya. Aku lalu menghapus air mataku dan berlari mengejarnya.

Ya, tidak apa-apa. Asal ada dia. Aku tidak akan apa-apa.

Kim jong woon…

Nama itu sudah terukir dalam hatiku sekarang. Dia memberiku harapan. Dia memberiku ketenangan. karena dia, aku dapat melihat sisi indah dari kehidupanku. Aku menjadi kuat karenanya.

Dia sumber kekuatanku. Dia sumber inpirasiku. Dia, cintaku. Ya, dia segalanya untukku.

“oppa, lihat! Lukisanku masuk majalah!” ujarku girang. Dengan tenang dia mengambil majalah itu dariku.

“wah, kau semakin hebat saja!” pujinya. Dia lalu mengelus kepalaku lembut. Aku tersenyum.

“kalau begitu traktir aku!” pintaku manja.

“mwo? Kan kamu yang sudah terkenal park rara. Seharusnya kamu yang mentraktirku makan.” ucapnya. Dia mencubit pipiku.

“tapi kan oppa lebih tua. Seharusnya oppa yang mentraktir dongsaengnya.” aku menggembungkan kedua pipiku. Biasanya cara ini selalu berhasil.

“iya,iya. Hh… Dongsaengku yang satu ini memang sangat manja!” lagi-lagi dia mencubit pipiku.

“kyaaa~ sakit oppa!” aku lalu memukul-mukul lengannya. Dia tertawa. Tawa yang selalu kurindukan di hari-hariku.

Kim jong woon. Walaupun dia hanya menganggapku sebagai adiknya, tidak apa-apa. Yang penting saat ini adalah aku bisa selalu menikmati tawanya.

Dia menghilang! Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya! Di tempat biasa kami bertemupun dia tidak kutemukan.

bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? harus kucari kemana lagi dia? Aku tidak tahu dimana dia tinggal. Diapun tidak pernah memberitahuku tentang keluarganya.

Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Selama ini yang kupikirkan hanya diriku saja! Aku tidak pernah tau siapa dirinya!

Kim jong woon. Woonie oppa.. Dimana kau sebenarnya?

Aku terus berusaha hidup seperti saat aku bersamanya. Aku harus hidup, karena kuyakin aku pasti bisa bertemu dengannya lagi. Tapi dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia memikirkanku seperti aku memikirkannya?

Aku melempar-lemparkan kerikil ke dalam sungai. Hari ini tepat 1 tahun sejak dia pergi. Mengapa dia tidak pernah menghubungiku? Apa dia tidak rindu padaku?

Ponselku berdering. Tanpa memperhatikan aku merogohnya dari saku dan menekan tombol menjawab.

“yoboseyo?” sapaku malas. Siapa pula yang menghubungiku disaat seperti ini?

“rara ya…” sahut suara dari seberang. Suara itu! Suara yang telah lama kunanti.

“oppa…?” tanyaku tak percaya.

“ne, ini aku.” jawabnya. Aku tidak bisa lagi membendung perasaanku. Tangisanku pecah seketika.

“op..oppa kemana saja? Me..mengapa meninggalkanku sendirian?” tanyaku dalam tangisan.

“uljima. Kau terlihat sangat cantik dengan dress putih itu. Jangan merusaknya.” ucapnya. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling. Oppa ada disekitar sini dan sedang memperhatikanku.

“kau tidak usah mencariku rara ya.” ucapnya. Benar dugaanku. Dia memang disekitar sini. Tapi dimana?

“oppa… Kumohon jangan pergi lagi…” ucapku. Aku mulai berjalan untuk mencarinya.

“kau bisa hidup dengan baik tanpa diriku.” jawabnya. Aku menemukannya! Sosok itu bersembunyi diantara pepohonan dan sedang memunggungiku.

Aku berjalan lebih cepat untuk meraihnya.

“oppa…” dia menoleh. aku segera memeluknya.

“jangan menghilang lagi.” ucapku.

“mianhae rara ya…” hanya itu yang dia ucapkan.

Sekarang aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Kim jong woon yang begitu kuat, kini terbaring tak berdaya di hadapanku. Dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk bernafaspun dia harus dibantu oleh alat. Selang infus tidak pernah lepas dari tubuhnya. Berbagai suntikan dia terima setiap harinya.

Penyakitnya telah menggerogoti tubuhnya.Pipinya, yang dulu sering sekali kucubiti, kini tirus. Oppaku telah berubah.

Aku belum sempat berbagi kebahagiaan dengannya. Akupun belum sempat mengukir senyum diwajahnya. Haruskah aku kehilangan untuk kesekian kali? Ya Tuhan kumohon jangan lakukan itu!

Sebab aku menyayanginya, sebab aku mengasihinya. Sebab aku tak rela jika tak selalu bersamanya. Aku rapuh tanpanya, seperti kehilangan harapan.

Lagi-lagi aku menangis. Aku memang gadis cengeng! Melihatnya seperti ini membuatku tidak tega.

“rara ya…” bisiknya lirih. Aku memandangnya. Dia menjulurkan tangannya padaku.

Aku segera menghapus air mataku dan menyambut ulurannya.

“tersenyumlah.” ucapnya. Dan dia tersenyum.

“tersenyumlah untuk ku.” lanjutnya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menarik kedua sudut bibirku.

“dongsaeng terbaik oppa…” ucapnya, hampir tanpa suara. Aku berusaha sebisa mungkin agar air mataku tidak jatuh.

“oppa juga oppa terbaik!” balasku. Dia kembali tersenyum.

“tidak, oppa telah membuatmu menangis. Oppa jahat.” ucapnya lagi. Aku menggeleng.

“lihat! Aku tidak menangis! Aku tersenyum kan?” ucapku. Ya, aku berbohong. Kebohonganku yang pertama padanya.

dia menggenggam erat tanganku.

“hiduplah dengan sangat baik.” ucapnya.

“ne… Oppa juga.” balasku.

“jadilah pelukis yang paling hebat se Korea!” ucapnya.

“ne, pasti oppa…” dia lagi-lagi tersenyum. Kedua matanya lalu tertutup secara perlahan. Dia kembali tertidur.

Jika memang harus kualami duka. Kuatkan hati ini menerimanya ya Tuhan.

“anda begitu muda, tapi sudah bisa membuat pameran seperti ini. Bagaimana anda bisa melakukannya?” tanya seorang wartawan.

Aku duduk menghadap puluhan wartawan di hadapanku. Blitz kamera tidak henti-hentinya menyala. Ya, aku sedang melakukan konferensi pers untuk pameran pertamaku.

“tentu saja aku tidak melakukannya sendirian. Begitu banyak orang-orang yang mendukungku. Tanpa mereka semua aku bukanlah apa-apa.” jawabku.

“siapa saja mereka?” tanya wartawan lagi.

“keluargaku, ayah, ibu, dan oppa. Serta seseorang yang selalu menjadi inspirasi bagiku. Pameran ini kupersembahkan untuknya.” jawabku lagi.

“wah, dia sangat beruntung. Sebenarnya siapa dia? Apakah dia begitu berarti untuk Anda?”

“dia suamiku. Jong woon oppa, saranghae…” jawabku. Ruangan konferensi riuh seketika. Dan aku bisa melihatnya tersenyum diatas kursi rodanya. Ya, asal dia disampingku, semuanya akan baik-baik saja.

 

The end

 

 

 
2 Comments

Posted by on February 15, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Perak & Laut

Nuri meletakan pensilnya. Dia tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada 2 pria itu. Tidak bisakah mereka beristirahat dari pikirannya untuk sekejap saja? Saat ini nuri benar-benar butuh konsentrasi. Deadline untuk perlombaan desain yang dia ikuti hanya tinggal menghitung hari. Dan sampai hari ini dia belum menyelesaikan 1 desainpun! Padahal perlombaan ini adalah hidup matinya sebagai seorang desainer perhiasan.

Nuri mengacak acak rambutnya. Dia menelungkupkan wajahnya diatas meja.

“ini untukmu! Agar kau selalu mengingatku saat melihat gelang perak ini! Jika kau mengingatku, pasti hatimu akan menjadi tenang dan inspirasi akan datang dari mana saja!” sebuah suara dari dalam pikirannya membuatnya terbangun. Dia menatap gelang perak yang sudah berada di pergelangan tangan kirinya sejak 2 bulan yang lalu itu.

Suara pria itu terus bergema di kepalanya. Pria yang bersinar seperti perak. Tidak seperti emas yang mahal, perak lebih mudah dijangkau. Muda, itulah trademark perak. Dia sangat atraktif dan menyenangkan. Berada bersamanya akan membuatmu merasa beberapa tahun lebih muda. Tapi disaat bersamaan dia akan menghiburmu, seberapa lelahpun dia. Senyumnya yang ceria akan membuatmu merasa gembira.

“saat kau gundah, lihat saja foto ini. Kau pasti akan merasa lebih tenang.” ada suara lain yang bergaung di kepalanya. Kali ini nuri mengalihkan pandangannya menuju sebuah foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto laut. Kampung halaman dari pria itu. Pria yang tenang seperti lautan. Yang menyimpan banyak kekayaan di dalamnya. Sinar matanya sangat hangat, seperti mentari. Senyum yang begitu tenang, bahkan bisa menghanyutkanmu. Suaranya yang merdu, seperti deburan ombak di pantai.

Dan kemarin keduanya meminta nuri untuk menjadi tempat mereka bersandar. Perak yang bersinar, dan laut yang tenang. Manakah yang harus dia pilih? Mengapa dia harus memilih?

“apakah perak dan laut tidak bisa bersatu?” nuri membatin. Dia kembali menelungkupkan wajahnya diatas meja kerjanya. Tiba-tiba nuri terbangun. Dia mengambil pensil dan buku sketsanya. semalam suntuk dia sibuk mengguratkan goresan-goresan diatas kertas. Begitu matahari terbit, selesai jugalah sketsa tersebut.

“yah, mereka bisa bersatu jika aku yang membuatnya.” ucap nuri. Dia lalu memasukan hasil rancangannya ke dalam amplop coklat dan mengirimkannya.

Cincin perak dengan permata biru dan grafir ombak di sekelilingnya menjadi asesoris yang paling digandrungi anak muda saat ini. Yah, sketsa yang nuri buat malam itu berhasil mengambil perhatian para juri.

Dan hari ini, Nuri tersenyum pada kedua pria yang ada di hadapannya. Dia lalu menyerahkan sebuah kotak kepada mereka. Mereka membukanya bersama. Sebuah gelang rantai perak. Ada sebuah garis biru di setiap mata rantainya. Nuri membuatnya khusus untuk mereka berdua.

Mereka tersenyum saat tahu nuri sudah lebih dulu mengenakannya. dan merekapun segera memakainya.

Tidak ada yang lebih istimewa, semuanya istimewa di mata nuri. Nuri tidak bisa bernafas tanpa melihat senyuman perak yang begitu menyilaukan. Dia juga tidak bisa tidur nyenyak jika tidak melihat sinar mata laut yang begitu menenangkan. Untuk saat ini, biarkanlah ia memiliki keduanya. Sampai suatu hari nanti, ketika dia bisa mendesain cintanya sendiri.

 

TAMAT

 

 
7 Comments

Posted by on February 5, 2011 in Uncategorized

 

Tags: ,

Just My Little brother?! end

Pintu kamarku diketuk, aku membuka mataku perlahan. Ah, rupanya aku tertidur. Menangis seharian ternyata sangat melelahkan ya? Akupun belum makan sejak tadi. Pantas saja perutku keroncongan.

Aku lalu bangun dari tempat tidurku untuk membukakan pintu. Rupanya si pengetuk ini tidak ingin mengganggu privasiku.

“Jonghyun?” Jonghyun memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Annyeong…” ucapnya, ditambah dengan seulas senyuman manis di bibirnya.

“Kenapa kau…ah…” aku terhuyung. Pandanganku tiba-tiba saja menjadi buram. Jonghyun menarikku sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Noona! Gwenchana?” tanyanya khawatir. Dia lalu memapahku kembali ke tempat tidurku.

“Noona masih sakit?” tanyanya lagi. Dia membaringkanku dan menyelimutiku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.

“Ani, aku hanya belum makan dari pagi.” Ucapku hampir tanpa suara. Mungkin tenagaku sudah habis.

“Aigoo~ sudah jam berapa ini Noona? Bagaimana bisa kau tidak makan?” ucapnya. Wajahnya Nampak khawatir.

Aku tersenyum. Belum pernah aku diperhatikan seperti ini oleh pria. Bahkan oleh Eunhyuk oppa sekalipun. Eunhyuk oppa?

“Noona? Noona menangis?” Tanya Jonghyun. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku cepat-cepat membalikan badanku. Aku tidak ingin Jonghyun melihatku menangis lagi.

“Noona? Apa kau tidak mau bercerita padaku?” tanyanya. Aku hanya diam.

“Hh, baiklah… kalau begitu aku pulang saja ya?” ucapnya. Dia bangkit berdiri.

“Jonghyun ya, bisakah mintakan bubur pada omma? Aku sangat lapar…”

“Tunggu sebentar.” Hanya itu yang kudengar sampai Jonghyun menghilang di balik pintu.

*

“Noona…” Jonghyun membelai tanganku lembut. Aku tertidur lagi rupanya.

“Ini buburmu.” Ucapnya.

“Ne, gomawo…” ucapku seraya bangkit.

“Kusuapi ya?” aku hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Aku sangat lapar. Mangkok itu akan kosong dalam 5 menit!” ucapku sambil merebut mangkok itu dari tangannya.

“Ceritakan apa kegiatanmu hari ini.” Ucapku seraya membuat sendokan pertama pada buburku.

“Apa ya….” Jonghyun sibuk menceritakan semua kelakuan teman-temannya hari ini. Sesekali dia menirukan gerakan atau ekpresi teman-temannya itu danhal itu berhasil membuatku tertawa. Dia juga bercerita bahwa hari ini dia berhasil memasukan gol ke gawang lawan dan Minho memintanya untuk bermain pada pertandingan nanti. Sambil mendengarkan ceritanya tanpa kusadari bubur di mangkokku telah ludes.

“Jadi besok Noona akan kembali sekolah kan?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Sekolah? Apa yang harus kulakukan sekarang disana? Dulu aku bersemangat karena setiap hari aku bisa melihat senyuman dari Eunhyuk oppa. Sonbae yang sangat kusukai. Hanya karena melihat tatapan matanya yang tulus saja sudah membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan bertahan sampai dia pulang. Tapi sekarang? Apa yang harus kutunggu?

“Noona? Noona melamun lagi.” Ucapannya menyadarkanku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. Terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin air mataku terjatuh lagi.

“Aku mengerti. Kalau begit aku pulang ya, Noona.” Ucapnya. Dia lalu mengambil tasnya dan melangkah ke pintu.

“Jonghyun-ah…” sahutku sebelum dia melewati pintu kamar. Dia menolehkan sedikit kepalanya.

“Besok jemput aku ya…”

“Ne, Noona! Aku pamit dulu! Annyeong…” ucapnya riang. Senyum tetap menghiasi wajahnya sampai dia menghilang di balik pintu.

*

Jika saja aku tidak ingat akan janjiku pada Jonghyun, aku tidak akan berangkat ke sekolah hari ini. Kakiku benar-benar terasa berat untuk kulangkahkan. Seandainya tidak ada Jonghyun di sisiku, entah bagaimana keadaanku sekarang.

“Kemarin kenapa kau tidak masuk?” Tanya Hee Gi yang sudah berada dihadapanku.

“Sakit.” Jawabku singkat.

“Kudengar Jonghyun menjengukmu.” Tanyanya lagi. Hee gi memulai penyelidikannya lagi. Padahal aku sedang tidak ingin bercerita saat ini.

“Iya.”

“Sepertinya saat ini Jonghyun lebih berarti untukmu daripada aku.” Ucapnya dingin. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak suka Jonghyun kan? Bagaimana jika aku bercerita tentang kejadian kemarin padanya. Bisa-bisa dia mendamprat Jonghyun dan menuduhnya sebagai perusak hubungan kami. Tidak. Kasihan dia. Lebih baik seperti in saja. Urusanku dengan Hee Gi, biar aku yang selesaikan sendiri nanti ketika hatiku sudah siap untuk menceritakannya tanpa menangis.

*

Besok natal. Hiasan natal sudah dipasang sejak awal bulan di berbagai sudut kota. Aku melihat salju yang turun perlahan di balik jendela kamarku. Tahun lalu aku merayakannya bersama Eunhyuk oppa. Besok? Aku tidak tahu. Akupun tidak berharap banyak.

Ponselku bordering. Dengan malas-malasan aku bergerak dari tempatku berdiri tadi. Merutuki siapa yang sudah mengganggu waktu melankolis-ku. Jonghyun

“Yoboseyo?”

“Noona!”

“Wae?” tanyaku. Semenjak hari itu Jonghyun tidak pernah memaksaku untuk menceritakan tentang masalah itu lagi padanya. Perlahan sikapku berubah. Aku tidak lagi bersikap manja padanya. Malah lebih sering cuek, bahkan lebih seperti hyung daripada noona untuknya. Dia menyadari sikapku tentu saja. Tapi dia selalu tersenyum untukku.

“Apa kau melihat salju?” tanyanya antusias.

“Ne, waeyo? Sebelum kau menelpon aku sedang menikmatinya.”

“Jadi aku mengganggumu?” tanyanya.

“Ne…” jawabku malas-malasan. Keterlaluan? Kurasa tidak, karena dia selalu tertawa dengan tingkahku yang seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya terus menerus khawatir padaku.

“Hahaha… khas jawabanmu Hyung!” ucapnya.

“Ya! Jika kau menelponku hanya untuk berkata seperti itu, kupukul kau nanti!” tentu saja aku tidak bersungguh-sungguh.

“Jika Noona memang berani, pukul saja aku!” ucapnya lalu menutup telepon. Apa maksudnya?

Aku lalu kembali berdiri di sisi jendela. Jalanan sudah ditutupi oleh salju. Begitu juga dengan halamanku. Semuanya putih.

Tapi siapa itu? Seseorang sedang mengerjakan sesuatu di halamanku. Tepat dibawah jendelaku. Omma, appa, dan kibum sedang keluar. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan?

Dering ponsel membuatku terlonjak.

“Sial! Kenapa ada yang menelpon disaat seperti ini?!” umpatku dalam hati.

“Yoboseyo!” sapaku kasar.

“Noona…”

“Jonghyun ya.. ada apa lagi?” tanyaku mulai tidak sabar.

“Lihat kehalaman!” ucapnya lalu menutup teleponnya kembali. Aku menurutinya. Lagi, aku berdiri di sisi jendela tempatku berdiri tadi.

Aku melihatnya, dibawah jendelaku, sedang mengarahkan kedua tangannya ke atas. Ke arahku. Seolah mengharapkanku jatuh ke pelukannya. Dia membuat sebuah hati yang sangat besar dari menyingkirkan salju yang menutupi halamanku.

Aku membuka jendelaku. Udara dingin segera saja menerpa wajahku.

“Jonghyun-ah, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Noona..!! Besok natal! Aku harus meminta hadiahku pada Santa malam ini!!” teriaknya.

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti!”

“Noona… aku ingin kau membantuku! Bisakah kau berdoa pada Santa agar kau menjadi hadiah natalku?” aku mengerjapkan mataku tiga kali. Aku rasa aku sedang berhalusinasi. Dia adik kecilku.

“Apa?!”

“Noona, mau kan kau membantuku?” teriaknya lagi.

“Noona! Sekali saja! Sebagai dongsaeng yang baik aku selalu menuruti kemauanmu! Sekarang sebagai noona yang baik, maukah kau membantuku?” teriaknya lagi. Suaranya agak bergetar. Dia kedinginan.

Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera turun dan menariknya masuk. Aku membuatkannya segelas teh hangat yang kuharap bisa menghangatkan badannya kembali.

Aku menjatuhkan diri ke sofa, tepat disampingnya. Dia menyesap tehnya perlahan tanpa berani menatapku. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya. Aku lalu menutup mataku. Rasanya sangat nyaman.

“Jonghyun-ah…” panggilku. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit, mungkin ia menoleh padaku.

“Ne…” jawabnya lembut.

“Aku sudah meminta pada Santa tadi.”

“Benarkah? Lalu Santa bilang apa?” tanyanya antusias.

“Dia tidak mengabulkannya, karena aku anak yang nakal.” Sahutku. Dia menghela nafas. Sepertinya dia kecewa.

“Tapi karena kau dongsaeng yang baik, mintalah pada Santa hadiahmu sendiri. Mungkin Santa akan mengabulkannya.” Lanjutku. Jonghyun memegang kedua pundakku dan memposisikan agar tubuhku berada tepat dihadapannya.

“Noona.” Dia menatapku,lurus. Tangannya sedikit bergetar dibahuku.

“Apa kau mau menjadi hadiah natalku?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Ani.” Jawabku, dia melepaskan tangannya.

“Kaulah hadiah untukku.” Lanjutku lagi. Perlahan-lahan, senyuman terkembang di bibirnya. Segera saja dia mendekapku.

“Noona, jadilah noona yang terbaik untukku. Hanya untukku. Araesso?” ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya.

Hanya adik? Cih, tidak mungkin! Sejak awal orang-orang sudah menyadari hubunganku dan dia lebih dari hubungan adik dan kakak saja. Hanya saja aku terlalu ragu untuk mengakuinya. Hari ini, semua keraguanku itu sudah lenyap. Tidak ada lagi rasa bersalah saat aku menunjukan kasih sayangku padanya.

Hee gi? Oops, aku lupa! Aku harus menelponnya setelah ini. Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat hatiku sudah siap kan? Dan aku rasa, sekarang aku sudah siap. Ini semua karena Jonghyun, dongsaeng kesayanganku!

“Dongsaeng-ah, saranghae…”

“Nado saranghae, Noona.”

***

 

 
3 Comments

Posted by on January 22, 2011 in fanfiction

 

Tags: