RSS

Monthly Archives: June 2010

13 Colours of Love : My Lost Girl

Sebagian besar orang beranggapan 13 adalah angka sial. Entah sejak kapan mitos itu berehembus, yang jelas hari ini sudah mengurat akar di kehidupan masyarakat. Tapi mitos itu tidak berlaku bagi kami. 13 merupakan angka keberuntungan kami. Kami mendapatkan kesuksesan dengan angka ini. Kami dapat membanggakan orang-orang yang kami sayangi dengan angka ini. Kami dapat menggapai impian kami dengan angka ini.

Lalu bagaimana dengan cinta?

Kami punya 13 warna untuk ini…

*

Perkenalkan namaku Park Jung Soo, tapi orang-orang lebih mengenalku dengan nama Leeteuk. Aku leader dari grup super besar, Super Junior. Grup yang orang-orang bilang tidak lebihdari grup buangan di awal kemunculan kami. Tapi perlahan kami bisa menunjukkan eksistensi kami. Hari ini aku tidak akan bercerita tentang bagaimana kami mendapatkan itu semua, karena aku yakin kalian semua sudah hapal diluar kepala tentang bagaimana perjuangan kami. Hari ini aku akan bercerita awal pertemuanku dengan dia…

*

“Hyung, jangan terlalu fokus memikirkan kepentingan grup. Sekali-sekali Hyung juga pikirkan kepentingan Hyung sendiri.”ucap Hyuk Jae suatu hari. Malam itu kami baru menutup siaran kami di radio.

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Kau tahu berapa umurmu tahun ini?” tanyanya.

“28. Ada apa dengan itu?” tanyaku lagi. Aku masih tidak mengerti kemana arah pertanyaannya.

“Yah, Hyung seharusnya sudah memikirkan masa depan. Sebentar lagi Hyung akan masuk wamil, apa Hyung tidak ingin memiliki seseorang yang akan menyambutmu saat Hyung selesai wamil nanti?” tanyanya. Ah…. aku mulai mengerti kemana arah pertanyaannya.

“Hm..keluargaku akan menyambutku nanti.” jawabku cuek, aku fokus pada ponselku.

“Ayolah Hyung… Aku ingin segera menggendong keponakanku…” ucapnya.

“Yah! Minta saja pada kakakmu!” ucapku seraya menjitak kepalanya. Bocah ini benar-benar jail!

“Auw! Hyung, aku serius! Cobalah pikirkan untuk mencari pasangan!” ucapnyasambil mengusap-usap kepalanya.

Hm…benar juga, sudah berapa lama aku single? 1 tahun? 2 tahun? Ah, aku lupa. Dan pria seumuranku memang seharusnya sudah bekeluarga kan? Tapi yah… semuanya aku serahkan pada yang diatas.

*

Beberapa hari ke depan kami mendapatkan jatah libur. Wah…jarang-jarang sekali manajemen memperjatikan kami seperti ini. Aku segera meluncur menuju rumah orang tuaku. Aku sudah sangat-sangat rindu pada mereka. Ya, aku selalu menelpon mereka setiap hari, tapi rasanya pasti berbeda jika aku bertemu langsung dengan mereka. Wuah… masakan omma pasti terasa sangat lezat. Aku benar-benar rindu pada masakannya.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyebrang jaln. Secara otomatis aku menginjak rem dalam-dalam.

“Ya Tuhan!” aku segera keluar dari mobilku dan melihat keadaanya. Ternyata seorang gadis. Gadis itu berjongkok sambil memejamkan matanya rapat-rapat dan menutup kedua telinganya dengan tangan. Tubuhnya gemetar, sepertinya dia masih shock dengan kejadian tadi.

“Gwencana?” tanyaku, gadis itu menatapku tapi tidak mengatakan apapun. Aku lalu membantunya berdiri.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku lagi. tapi dia tetap tidak menjawab. Apa dia bisu?

“Siapa namamu?” tanyaku lagi. Aku benar-benar tidak ingin membuatnya takut, tapi gadis itu masih gemetar.

Untunglah disekitar situ aku melihat ada sebuah warung kecil, aku memapahnya menuju warung itu.

“ajumma, minta secangkir teh hangat untuknya.” ucapku. aku lalu berlari untuk memarkirkan mobilku karena sudah lumayan menimbulkan kemacetan.

Gadis itu sedang menyeruput tehnya ketika aku kembali. Dan dia sudah tidak gemetaran lagi.

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu.” ucapku ketika sudah berada di hadapannya. Lagi-lagi dia tidak menjawabku.  Dia kelihatan bingung. Apa dia gila? Kalau benar…

Aish… tidak mungkin! Bajunya masih bagus dan rapi, jadi tidak mungkin jika dia gila. Rambutnya yang ikal masih tersisir rapi. Jika memang dugaanku benar, bukankah seharusnya rambutnya berantakan?

“Hei… siapa namamu?” tanyaku lagi.

“ya?”

“Siapa namamu?” tanyaku lagi. Apa dia tidak mendengar?

“So..sorry, I’m not understand. What do you say?” ucapnya. Ok, sekarang dia bicara. Tapi aku malah tidak mengerti apa yang dia katakan. Apa tadi bahasa Inggris? Apa dia orang asing?

Aku lalu memperhatikan ciri-cirinya. Ya, ya, dia memang tidak seperti gadis Korea pada umumnya. Rambutnya memang hitam, tapi kulitnya agak kecokelatan dan matanya bulat. Tidak seperti kami.

Ok,Ok ayo yeukie..berpikirlah apa yang bisa kau katakan padanya…

“mmh.. what is your name?”tanyaku akhirnya.

“ah… Dwi..” jawabnya. Dia kembali menyeruput tehnya.

“mmh..you..you.. not from Korea?” tanyaku lagi. Ya Tuha… semoga apa yang kukatakan ini benar.

“yes, I’m from Indonesia.” jawabnya. Dia lalu meletakkan cangkir tehnya. Ah, sekarang aku baru mengerti kenapa dia diam saja ketika kutanya tadi.

“er…where is your house?” tanyaku lagi.

“Indonesia.” jawabnya singkat.

“no,no, here…” ucapku lagi. Dia menggeleng. Aish…apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa disaat seperti ini tidak ada Kibum disampingku?

Kibum? benar juga, kibum! Dia yang kubutuhkan sekarang! Aku Segera memijit nomor yang sudah kukenal di ponselku dan menghubunginya.

“Kibum-ah.. apa kau sibuk?” tanyaku ketika dia sudah menjawab.

“Tidak Hyung, ada apa?” tanyanya dari sebrang.

“Begini, tadi aku hampir menabrak seseorang. Dia orang asing dan hanya bisa bahasa Inggris. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Bisakah kau membantuku?” tanyaku.

“ne…aku akan coba bicara dengannya.” ucap Kibum. Aku lalu memberikan ponselku pada gadis itu.

“this my friend… and…mmh…he say…” ucapku seraya memamerkan gigiku. Aku yakin gadis itu tidak begitu mengerti apa yang kukatakan, tapi dia akhirnya mengembil ponselku juga.

Dia beberapa saat dengan Kibum, aku hanya memperhatikannya dan memesan secangkir kopi pada ajumma penjaga warung. Saat kopiku tiba dia memberikan ponselku.

“Hyung, ternyata dia sedang berlibur bersama teman-temannya disini. Dia sedang panik karena terpisah dari rombongannya saat hyung hampir menabraknya barusan.  Menurutku rombongannya tidak akan begitu jauh dari tempat kalian sekarang. Tadi aku sudah menyuruhnya untuk menelpon teman serombongannya untuk menjemputnya disitu.Bisakah Hyung menemaninya?” tanya Kibum.

“Ah… baiklah.” jawabku lega. Hanya menunggu sampai rombongannya menjemputnya kan? Tidak masalah bagiku.

Kejadian ini membuatku terlambat beberapa saat untuk bertemu omma ku. Tapi tak apalah, toh sebentar lagi dia akan bertemu dengan teman-temannya. Tapi setelah kami menunggu satu jam lebih, belum ada tanda-tanda kemunculan rombongannya itu.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dan berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Aku hanya mendengar kata “apa?” yang berarti “mwo?” dalan hangul. dan setelah itu air mukanya kelihatn berubah. Dia kelihatan mulai panik dan bahkan sepertinya mau menangis.

“My friends on a journey to Jeju Island now. And the guide won’t allow they to pick me up in here…” ucapnya.

hm… apa yang barusan dia katakan? Aigo… harusnya aku lebih sering berkomunikasi dengan ELF internasional agar bahasa Inggris ku semakin baik.

“mmh…mmh… they don’t come?” tanyaku. Gadis itu mengangguk. OK, jadi itu inti dari kalimat panjang tadi! Kasihan sekali dia, tersesat sendirian di sebuah negeri yang bahkan bahasanyapun tidak dia mengerti. Benar-benar mengerikan! Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian disini.

“I…I…go to…house…my parent…” ucapku terbata-bata.

“you…mmh…can..can..go with me..” lanjutku.

Gadis itu kelihatan berpikir. Tapi akhirnya dia mengangguk juga. Dan dalam hitungan menit kami sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku.

*

Akhirnya kami sampai di rumah orang tuaku.Orang tuaku kaget, mereka tidak menyangka jika hari ini aku akan membawa calon menantu mereka kemari. Tentu saja aku membantahnya dan menjelaskan bagaimana aku bertemu dengannya siang tadi.

“Hei, are you ok?” tanyaku. Aku melihatnya sedang melamun di dalam kamar. Pintu kamarnya terbuka, dan aku datang untuk memberinya pakaian ganti.

“Yeah… I’m just little bit worried. How if my friends can’t find me and I can’t come back to Indonesia?” ucapnya. Ok, aku tidak sepernuhnya mengerti apa yang dia katakan. Tapi kalimat favorit hyukie tiba-tiba saja terngiang di kepalaku.

“Everything is gonna be ok.” ucapku. Dia lalu tersenyum lalu berkata

“Thanks…”

Entah kenapa saat itu aku merasa ada yang aneh di dadaku.

*

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Aku berjanji akan mangantarnya menemui teman-temannya. Aku berjalan menuju ruang makan dan mulai sarapan.

“omma, apa dia sudah bangun?” tanyaku.

“Sudah. Tadi Omma sudah mengantarkan padanya. Habis omma tidak mengerti harus bicara apa.” ucap ommaku. Aku hanya tersenyum.

Selesai sarapan aku segera ke kamarnya. Aku mengetuk pintunya. Tak lama dia membukanya dan mempersilakan ku untuk masuk.

“Apa temanmu sudah menelpon lagi?” tanyaku.

“Sorry?” aish… aku lupa. aduh… bagaimana mengatakan itu dengan bahasa Inggris?

“Mmh..your friend…er…er..call?” tanyaku.

“Yeah, a minute ago. she said she at Jeju Island now. She ask me to wait in Seoul. Tomorrow they will go to Seoul.” jawabnya.

“Wait a minute…can you..” aku memutar-mutar tanganku, berharap dia mengerti bahwa yang kumaksud adalah tolong ulang apa yang kau ucap barusan. Dan sepertinya dia mengerti. Dia mengulang lagi kalimatnya, dan kali ini lebih pelan sampai akhirnya aku mengerti.

“Hoo…Ok, tomorrow I… I go to Seoul. Mmh.. You go.. with me..” ucapku terbata-bata.

“Thank you very much!” ucapnya, dia meloncat ke arahku lalu memelukku. Tapi segera dia lepaskan kembali.

“Ah, sorry..” ucapnya, dia terlihat sangat malu. Wajahnya terlihat seperti kepiting rebus sekarang.

“no problem, sudah biasa.” jawabku.

“mmh…how about walking?” tanyaku, aku memutar-mutarkan tanganku ke sekeliling tubuhku. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan di sekitar sini.

“I will show you my homeland!” ucapku menirukan sebuah acara televisi. Dia mengangguk setuju. Tentu saja aku harus mengganti liburannya yang terpotong bukan?

Aku mengeluarkan sepeda tuaku. Kampung halamanku tidak begitu besar, aku rasa terlali berlebihan jika harus menggunakan mobilku.

“Kaja!” ajakku. dia lalu duduk di belakangku. Aku mulai mengayuh sepedaku. Diperjalanan beberapa tetangga menyapaku, aku membalas sapaan mereka.

“You are really nice..” ucapnya. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, jadi aku hanya memerkan gigiku saja. Itu senjata andalanku.

Aku terus mengayuh sepedaku, aku akan mengajaknya ke danau tempatku dan noona sering bermain sewaktu kami kecil dulu.

Aku memberhentikan sepedaku. Kami sudah berada di tepi danau. Cahaya matahari membuatnya tampak berkilauan.

“Wow! Beautifull!!” ucapnya girang. Ia segera berlari menuju danau itu. Di tepi danau tumbuh beberapa bunga liar, dia lalu memetiknya. Kemudian dia menyerahkan kamrenya padaku.

“Can you…?” sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya aku sudah mengangguk. Pengalamanku menjadi seorang idol beberapa tahun ini membautku tahu bagaimana caranya agar hasil foto kita terlihat bagus.

Kami bergantian mengambil gambar. Dia cukup luwes juga dalam bergaya. Tanpa banyak kuarahkan dia sudah bisa sendiri. Foto yang kuambil tidak ada yang terlihat jelek, dia tersenyum puas saat melihat hasil kerjaku.

“Ini untuk kenang-kenangan…” ucapku, seraya mengangkat kamera dengan sebelah tangan ke arah kami. aku lalu merangkulnya.

“Say cheese…”

*

Kami bermain sampai matahari condong ke barat. Dan tanpa kata, hanya ekspresi wajah dan tubuh yang menjadi alat komunikasi kami.

“Let’s go home!” ajakku. Dia menurut, dia berlari menuju sepedaku. Di pinggir danau banyak sekali tanaman liar, jika tidak hati-hati bisa terjatuh.

BRUKK!

“Auw!”  seperti yang kubilang, jika tidak hati-hati kau bisa terjatuh. Aku segera berlari ke arahnya dan membantunya berdiri.

“Gwencana?”tanyaku. Kulihat kedua lututnya terluka.

“ayo kita obati dirumah.” ucapku. Aku membantunya berjalan menuju sepeda dan kami segera pulang.

“Aigo…kenapa dia?” tanya ibuku saat kami sampai di rumah.

“Dia terjatuh saat kami pulang tadi.”jawabku.

“Aigo… ayo,ayo segera obati lukanya.” ucap omma. Aku membantunya berjalan sampai ke kamarnya. aku lalu mendudukannya di tepi ranjang. Ibuku lalu membawakan kotak obat.

“Jung soo, kau bisa mengobatinya kan? Omma sedang memasak makan malam.”

“ne…” aku membuka kotak obat dan berjongkok di hadapannya. Aku mengambil kapas dan menuangkan sedikit alkohol. Aku lalu membersihkan lukanya dengan alkohol itu. Dia mendesis.

“Apa sakit?” tanyaku. babo! Dia tidak mengerti! Tapi anehnya dia mengangguk.

“Tenanglah, aku akan pelan-pelan.” ucapku. Aku melanjutkan pekerjaanku. Setelah membersihkan lukanya aku memberinya obat dan menutup lukanya dengan plester.

“Ok, sudah selesai!” ucapku. Dia memperhatikan lukanya lalu tersenyum.

“thank you…”

Lagi-lagi aku merasa ada yang aneh di dadaku. Aku segera membereskan kotak obat dan berlari keluar dari kamarnya.

*

“Are you ready?” tanyaku. hahaha…Untunglah beberapa lirik lagu kami ada yang berbahasa Inggris…

Hari ini kami akan ke Seoul. Sesuai janjiku aku akan mengantarnya bertemu dengannya.

“Yes.” jawabnya. Setelah pamit pada orang tuaku, kami segera berangkat menuju Seoul.

“Mmh…what’s your name?” tanyanya tiba-tiba.

“Jung soo, Park Jung Soo. But you can call me Leeteuk.” jawabku.

“Ah.. Leeteuk, thanks for everything. You are sonice.” ucapnya. Bagian yang kumengerti hanya thanks .

Kami sudah memasuki kawasan sibuk Seoul. Aku segera mengarahkan mobilku menuju hotel tempat dia akan menginap. Aku memarkirkan mobilku, kami terdiam. Kenapa perjalanan ini begitu singkat??

“Mmh…Leeteuk.. Thank you very much.”

“Gwencana…If I visit Indonesia, can we meet again?” tanyaku. Dia hanya tersenyum lalu bergegas keluar dari mobil.

“Bye…”ucapnya. Dia segera berlari menuju teman-temannya yang sedari tadi sepertinya sudah menunggunya.

“Haha, bahkan pertanyaan terakhirku pun tidak dia jawab!” aku melirik bangku penumpang yang kini kosong. tapi ternyata dia meninggalkan kameranya, dan ada secarik kertas yang terselip.

Give this camera to me when you visit Indonesia

Begitulah isi kertas itu. Dan ada sebuah alamat e-mail disana.

“Tuhan…apakah ini jawaban dari-Mu?”tanyaku dalam hati. aku menyalakan mesin mobil dan segera menuju asrama.

“Eunhyukie…aku akan segera memberi mu keponakan yang kau inginkan!!”

***

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Saengil Chukae Hyung!!

Leeteuk membuang rokoknya. Dia sadar rokoknya tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Beban yang dia pikul terlalu berat. kadang dia ingin menyerah, tapi ketika melihat senyum dari adik-adiknya semangat nya kembali muncul. Leeteuk lalu masuk ke ruang tamu apartemennya. Adik-adiknya sudah terlelap dilantai setelah mereka berpesta untuk merayakan tim sepakbola Korea yang memenangkan pertandingan kali ini. Leeteuk mulai menghitung, hanya ada 9 orang disana. Dia merindukan 3 orang lainnya. Terutama Hankyung.

Melihat mereka terlelap seperti itu benar-benar tidak terlihat bagaimana nakalnya mereka jika bangun. Leeteuk tersenyum simpul mengingat tingkah mereka sehari-hari. Wajah mereka terlihat sangat damai saat tidur.

“Heechulie, terimakasih karena kau telah membuka hatimu dan memutuskan untuk bertahan bersama kami.

Yesung-ah, teruslah bernyanyi. Biarkan suara malaikatmu menenangkan dunia.

Shindong-ah, tetap jadi dirimu sendiri. Kau satu-satunya yang menjembatani antara kami dan dunia luar.” Leeteuk terkekeh, dia mengingat kehebohan yang ditimbulkan Shindong saat album ke -4 mereka rilis.

“Sungmin-ah, mianhae… Hyung banyak bersalah padamu. Bakatmu begitu besar. Teruslah bersinar.

Eunhyukie, gomawoyo… karena kau selalu menemaniku. Hyung berutang banyak padamu.

Dongha-ah… Hyung berjanji akan menepati janjiku pada ayahmu. Hyung akan terus menjagamu.

Siwon-ah, kau akan jadi aktor yang hebat. Hyung percaya itu.

Wookie, ciptakanlah banyak lagu indah. Hyung ingin mendengarkan lagi lagu ciptaanmu.

Kyuhyun-ah… adik bungsuku, kau telah melengkapi formasi kami. Kami sempurna setelah kedatanganmu. gomawo…” lanjutnya. Tanpa terasa air matanya meleleh. Kadang-kadang ia benci pada dirinya sendiri yang terlalu cengeng seperti ini. Tapi ia tidak tahu cara lain untuk melegakan dadanya selain menangis.

Jarum jam menunjuk angka 12 tepat. Leeteuk kembali berjalan menuju balkon, mungkin angin malam bisa menghilangkan rasa gundahnya. Ia hanya ingin menikmati malam ini sendirian…

“saengil chukae hamnida…saengil chukae hamnida… saranghaneun teukie hyung… saengil chukae hamnida…” tiba-tiba nyanyian itu terdengar dari balik punggungnya. Leeteuk membalikkan badannya, semua adiknya telah bangun. Ryeowook memainkan piano sementara Sungmin memainkan gitarnya. Eunhyuk dan Shindog menunjukkan kepiawaian mereka dalam rapping. Sementara Kyuhyun, Yesung, dan Donghae mengelluarkan suara emas mereka. Heechul membawakannya sebuah kue tart dan Siwon memegang hadiah yang sangat besar. Sebuah kolaborasi yang indah tercipta untuk hyung yang sangat mereka sayangi.

Leeteuk tersenyum, tapi pipinya sudah basah oleh air mata sekarang. Ia meniup lilin ulangtahunnya dan mulai memeluk dan mencium pipi mereka satu persatu.

“Yah, jangan pernah menanggung semuanya sendirian lagi!” ucap Heechul. Leeteuk tersenyum.

“Gamsa…” ucapnya. Eunhyuk dan Donghae menghapus air mata hyungnya itu.

Leeteuk akhirnya tahu, dia tidak akan pernah sendirian. Masaih ada ke-9 dongsaengnya disini. Bahkan ketika mereka semua meninggalkannya, masih ada ELF yang akan selalu membawanya terbang tinggi. Benar kan?

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2010 in fanfiction

 

Tags:

The Answer part. 1

“Donghae awas….!!!!”

BRAKKKK….!!!”

“A…bagaimana ini? Sepertinya aku menabraknya…”

“Ayo kita lihat!” ucapku, aku membuka pintu mobil dan berlari beberapa meter ke belakang. Sehingga kalaupun benar kami menabrak seseorang, tubuhnya pasti sudah terpental ke belakang.

Seorang gadis tergeletak di tengah aspal. Kepalanya penuh dengan darah akibat tabrakan tadi.

“Donghae, bantu aku menggotongnya. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit!” ucapku.

“ba…baiklah..” jawabnya. Donghae lalu membantuku membawanya ke kursi belakang. Dia kelihatan sangat panik.

“Lepas kaosmu, ikat kepalanya untuk menghentikan pendarahan.”perintahku.

“kau duduk dibelakang. biar aku yang menyetir.” lanjutku cepat. Aku tahu sahabatku itu sedang panik. Aku harus bertindak cepat, jika tidak nyawa gadis ini tidak akan selamat.

Aku segera menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah sakit terdekat yang kutahu.

“Hyukie, bagaimana ini? pendarahannya tidak mau berhenti.” ucap donghae dari belakang.

“Coba kau tekan dengan tanganmu.” jawabku. Aku semakin dalam menginjak pedal gas.

Akhirnya kami sampai di rumah sakit, dokter dan suster jaga segera membawanya ke ruang UGD. Baju kami basah karena keringat. Donghae hanya memakai jaket yang kuberikan saja. Jika dia terus bertelanjang dada seperti itu, suster2 disini akan ribut dan mengerubuti kami.

Kulihat Donghae masih pucat.

“Hae, tenanglah. Semuanya akan baik2 saja.” ucapku berusaha menenangkannya.

“Tapi bagaimana jika ini diketahui media?” tanyanya.

“Tenanglah, yang penting kita sudah bertanggung jawab dengan membawanya kesini kan?” ucapku.

“Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu.” lanjutku. Sedikit senyum tersuging di wajahnya. Dia lalu memelukku seperti yang biasa kami lakukan jika salah satu diantara kami membutuhkan ketenangan.

Sepertinya sudah lama sekali kami menunggu di lorong rumah sakit. Kami mulai lelah. Bahkan Donghae sudah tertidur di bahuku. Ini sudah sangat larut, seharusnya kami sudah pulang ke asrama, tapi dokter belum selesai juga. Di sisi lain aku sedikit bersyukur, karena dengan begini tidak akan terlalu banyak orang yang mengenali kami.

Pintu UGD akhirnya terbuka. Dokter keluar dari sana.

“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanyaku. Donghae terbagun karena aku tiba-tiba berdiri.

“Dia mengalami benturan keras di kepalanya. Tapi kami sudah tangani dia, dia akan baik-baik saja.” jawab dokter itu.

“ah, syukurlah…”

“Apa kalian berdua temannya?” tanya dokter itu.

“Bwe?” tanyaku.

“Dia dari Indonesia. Aku menemukan copyan passportnya di dalam tas yang dia bawa”ucapnya.

Aish…bagaimana ini? kasihan sekali jika dia harus kutinggalkan sendiri dengan keadaan seperti ini.

“ne… biar aku yang mengurusnya.” jawabku.

“baiklah, permisi.” ucap dokter itu. dia lalu pergi meninggalkan kami.

“hyukie, aku merasa sngat bersalah padanya.”  ucap Donghae. Aku hanya tersenyum.

“sudahlah, aku akan menyelesaikan administrasinya kau jaga dia saja.” ucapku. Donghae mengangguk pelan tanda setuju. Aku berjalan menuju bagian administrasi untuk membereskan biaya rumah sakit. Rumh sakit sudah sangat sepi. Beberapa suster tersenyum padaku, akupun membalas senyuman mereka.

“dia siapamu?” tanya suster yang melayaniku.

“temanku.” jawabku singkat seraya tersenyum padanya. setelah membereskan semuanya aku segera kembali menemani Donghae.

“bagaimana dia?” tanyaku donghae duduk di samping tempat tidur menunggui gadis itu yang masih terbaring.

“kata suster dia hanya tidur karena obat. Besok dia akan siuman.” jawabnya.

“sebaiknya kau pulang sekarang, biar aku yang menjaganya.” ucpku. Donghe menggeleng.

“aku ingin disini bersamamu.” ucapnya.

“baiklah, kita akan menjaganya berdu.” aku mengambil kursi di pojok ruagan dan menariknya dekat ranjang. Kasihan sekali dia, mengalami kecelakaan seperti ini disaat jauh dari keluarganya. Ya Tuhah, semoga besok pagi dia sudah siuman dan baik-baik saja. Amin…

to be continued…

 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Welcome to Black and White 2204 Land!!

Menulis, menulis, dan menulis. Mau di rumah, kosan, bis, kampus, dimanapun pasti nulis. Asal ada handphone, mau nyuruh nunggu berapa lamapun pasti bakalan bilang iya. Alhasil, selama menunggu itu akan tercipta beberapa cerita. Ada yang jelas, ada juga yang enggak. Ada yang sekali selesai, ada juga yang masih setengah.

Setelah dipikir-pikir, hanya dari sebuah handphone sebuah cerita tercipta, siapa yang akan menikmati selain si pemilik handphone? Sampai memori handphone penuh pun tetap hanya si pemilik handphone yang akan menikmati.

Selain untuk memenuhi hasrat,  saya juga ingin berbagi cerita.^^

Welcome to Black and White 2204 land!!

Selamat berpetualang dan selamat menikmati….^^v

 
1 Comment

Posted by on June 25, 2010 in Uncategorized