RSS

Monthly Archives: July 2010

Mianhae part.4

“Jadi Oppa sudah berhasil mengajak onnie kencan?” tanya Hyo Hee tak percaya.Sudah satu bulan sejak pertama kalinya mereka dipertemukan dan akhirnya kabar gembira ini muncul juga.

“Siapa dulu…” ucap Hyuk Jae bangga.

“Kalian akan pergi kemana?’ tanya HyoHee antusias.

“Hm… Aku akan mengajaknya ke taman bermain.” jawab Hyuk Jae.

“Hah? Apa itu tidak terlalu kekanak-kanakan Hyung?” tanya Kibum ragu.

“Hami itu butuh suasana baru.” ucap Hyuk Jae yakin.

“Baiklah, kami menyerahkan semuanya padamu Oppa!” sahut Hyo Hee. Dia sangat gembira mendengar pernyataan dari guru dancenya itu.

“Tapi bagaimana caranya Hyung bisa mengajaknya? Bukankah kalian jarang bertemu?” tanya Kibum lagi.

“Aigo Kibuma… Kita ini tinggal 1 rumah, masa kau tidak tahu apa yang hyungmu ini lakukan?” tanya Hyuk Jae. Kibum hanya menggeleng.

“Memang kau pikir siapa yang selalu kuhubungi setiap hari belakangan ini?”

“Jadi ituHami noona?” tanya Kibum tak percaya. Hyuk Jae mengangguk bangga.

“Oh… Jadi itu sebabnya Hami onnie akhir-akhir ini selalu tersenyum…” ucap Hyo Hee, lebih pada dirinya sendiri.

“Jinca?” tanya Hyuk Jae tak percaya.

“Ne… Oppa, aku minta bantuanmu sangat ya… Aku mohon…” ucap Hyo Hee, dia mengatupka kedua tangannya di depan wajahnya. Hyuk Jae tertawa lalu mengacak-acak rambutnya.

“Sebaiknya kau doakan onnie mu itu agar dia selalu berbahagia.” ucapnya.

Hari yang dinantikan tiba. Hami sudah bersiap dari pagi. Hyo Hee yang memutuskan untuk pura-pura tidak tahu iseng bertanya pada kakak sepupunya itu.

“Woah… Onnie cantik sekali… Mau kemana?” tanyanya. Ia menyeruput susunya. Sebenarnya Hami hanya mengenakan celana jins abu-abunya, tank top hitam yang ia tumpuk dengan denim tanpa lengan. Rambutnya ia biarkan begitu saja.

“Aku akan pergi bersama Hyuk Jae ssi.” ucapnya singkat, tanpa ekspresi. Sebenarnya itu adalah cara Hami untuk menutupi perasaanya, dia tidak ingin terlihat terlalu gembira. Dia masih takut.

“Oh… apa nanti oppa akan menjemput?” tanya Hyo Hee lagi. Hami hanya mengangguk. Hyo Hee memperhatikan penampilan kakaknya. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam lemarinya.

“Lebih bagus jika Onnie tambahkan ini.” ucapnya. Dia mengikatkan slayer merah ke leher Hami.

“Nah kan, Onnie terlihat lebih cantik dengan ini.” ucapnya. Hami tersenyum.

Tiba-tiba bel pintu berbunyi.

“Itu pasti Oppa, biar kubukakan.” ucap Hyo Hee, dia lalu berlari menuju pintu. Hami melihat penampilannya sekali lagi di depan cermin.

“Tidak terlalu wah kan?” batinnya. Dia lalu melepas kacamata berbingkainya dan menyimpannya di atas meja riasnya lalu keluar kamar.

Dilihatnya Hyo Hee dan Hyuk Jae masih berdiri di pintu. Hami lalu menghampiri mereka.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” ucap Hami. Hyuk jae tidak menjawab, dia kaget dengan penampilan Hami yang begitu… Santai.

“Apa ada yang aneh?” tanya Hami. Hyuk jae menggeleng.

“A…ani. Ah, ayo kita berangkat.’ ucapnya.

“Hyo Hee-ah, kami pergi ya..” ucap Hami.

“Ne… Selamat bersenang-senang Onnie…!!’ucapnya seraya melambaikan tangan.

Hyukjae membukakan pintu mobil untuknya. Yang ditanggapi dengan anggukan oleh Hami. Setelah menutup pintunya Hyuk Jae segera berlari menuju kursinya dan melajukan mobil kesayangannya.

“Kita mau kemana?” tanya Hami. Hyuk jae tersenyum.

“Lihat saja..” ucapnya penuh misteri. Hami menatap pria di sebelahnya. Sebulan terakhir ini entah mengapa ada perasaan hangat yang mengalir dalam hatinya.

Hampir setiap hari Hyuk jae menelponnya. Ada saja yang dia bicarakan. Tentu saja Hami menanggapinya. Hami tidak pernah menolak untuk mendengarkan. Dan Hyuk jae pun selalu berusaha untuk membuatnya bicara walaupun selalu ia tanggapi dengan dingin.

“Apa kau akhirnya menyadari bahwa namja disebelahmu ini tampan?” ucap Hyuk Jae tiba-tiba. Hami yang kaget segera mengalihkan pandangannya. Wajahnya terasa panas. Hyuk jae hanya tertawa melihat tingkahnya.

“Di depanku, jangan pakai topengmu.” ucapnya lagi. Hami tidak menjawab, yang ia tangkap sebagai persetujuan.

“Ayo masuk!” ucap Hyuk Jae. Mereka sudah sampai di Everland. Taman bermain terbesar disana. Hami hanya memandang takjub pada tempat dihadapannya. Umurnya kini sudah 23 tahun, apa dia masih pantas bermain di tempat seperti ini?

“Hyuk Jae ssi, sebenarnya berapa umurmu sekarang?” tanya Hami tiba-tiba.

“26. Memang kenapa?” Hyuk Jae balik bertanya. Dia heran kenapa hami tiba-tiba bertanya seperti itu.

“Ani…” ucap Hami.

“Oia, panggil aku oppa saja.” ucapnya lagi lalu menarik Hami untuk menikmati semua wahana yang ada disana. mereka bersenang-senang dan untuk pertama kalinya Hyuk Jae mendengar Hami berteriak.

“Hah…hah… Menegangkan sekali tadi.” ucap Hami. Ia menjatuhkan dirinya di bangku yang ada di sekitar situ.

“Wae?” tanya Hami saat menyadari pria itu hanya diam dan menatapnya.

“Ani, aku hanya takjub melihatmu hari ini.” Hami mengernyit mendengar jawaban dari pria itu.

“Hami-ah, kau mau es krim?” tanya Hyuk Jae.

“Hm… Boleh…”

“Aku segera kembali.” ucapnya. Hyuk Jae lalu berlari mencari es krim yang Hami minta.

Hami mengeluarkan ipod nya dan memasang earphone. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran bangku, lalu menatap langit diatasnya.

“Silau sekali.” gumamnya. Dia lalu mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya matahari. Cukup lama Hami di posisi itu sampai sinar matahari terhalang oleh sesuatu.

“Apa yang kau lakukan?”

Hami segera membenarkan posisi duduknya dan melepas earphonenya.

“Tidak..” jawab Hami. Hyuk jae menyerahkan satu cone eskrim untuknya.

“Gomawo…” mereka lalu menghabiskan es krim itu dengan lahap.

“Hei, apa kau siap dengan permainan selanjutnya?” tanya Hyuk Jae.

“Ok!” sahut Hami girang. Mereka lalu berlari menuju wahana yang ingin mereka naiki. Tapi tiba-tiba langkah Hami terhenti.

“Kenapa berhenti?” tanya Hyuk Jae. Tapi Hami hanya diam. Pandangannya tertuju pada satu titik. Hyuk jae mengikuti pandangannya. Dia melihat seorang pria yang sedang berkencan dengan pacarnya. Mereka terlihat bahagia. Tapi Hyuk Jae masih bingung mengapa raut muka hami tiba-tiba saja berubah gara-gara itu.

Pasangan itu semakin lama semakin mendekat. Dan tak lama sang pria menyadari keberadaan Hami, lalu menyapanya.

“Oh, Hami ssi. Lama tak berjumpa!” ucapnya.

“Bagaimana kabarmu? Setelah keluar dari sekolah kami tidak pernah mendengar tentangmu lagi.” lanjutnya.

“A…aku baik… Tentu saja.” jawab Hami. Sekuat tenaga dia membuat senyum di bibirnya.

“Oh, ya, kenalkan ini tunanganku.” ucap pria itu lagi. Hami lalu membungkukkan badannya sedikit. Hyuk jae segera mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Lalu dia?” tanya pria itu lagi.

“Dia…”

“Aku Lee Hyuk Jae, kekasihnya.” ucapnya seraya menjabat tangan pria itu kuat-kuat. Hami mendelik, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

“Oh, sepertinya kau sibuk juga. Baiklah kalau begitu kami permisi dulu.” ucap pria itu dan segera meninggalkan mereka berdua disana.

Mood Hami seketika berubah. Dia sudah tidak ingin berada di Everland lagi. Yang dia inginkan hanya pulang dan menangis sekencang-kencangnya.

“Sepertinya dia pernah masuk ke dalam hatimu.” ucap hyuk jae tiba-tiba.

“Bagaimana kau tahu?”

“Lihat saja, mukamu langsung berubah seperti itu.” jawabnya. Tapi Hami hanya diam.

“Haaaah…. Aku jadi malas main sekarang. Lebih baik kita pulang saja. Kaja.” ajaknya. Tapi Hami tetap tidak bergerak. Air mata sudah menggenang di matanya. Hyuk jae lalu melepas topinya dan memakaikannya pada Hami.

“Menangislah. Tapi jangan diam disini sendiri.” Ucapnya. Hyuk jae lalu menggenggam tangan Hami dan menuntunnya menuju pintu keluar. Hami terus menunduk. Dibiarkannya air matanya terus mengalir.

Hami benci, Hami benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan Youngwoon. Sudah ribuan kali air matanya jatuh gara-gara pria itu. Hami ingin sekali bangkit, tapi dia tidak sanggup jika harus melakukannya sendiri.

Ceklek!

Hami mendengar Suara pintu mobil dibuka. Hyuk jae membantunya duduk di kursinya. Hami belum bisa mengangkat wajahnya.

“Apakah kau mau berbagi denganku?” tanya Hyuk Jae yang juga sudah berada di dalam mobil. Tapi Hami terus menangis.

“Yasudahlah.” jawab Hyuk Jae datar. Dia mulai menyalakan mobilnya.

“Dia Youngwoon sonbae, mantan kekasihku…” ucap Hami tiba-tiba membuat Hyuk Jae menghentikan aktifitasnya dan fokus pada gadis disebelahnya. Hami menceritakan semuanya pada Hyuk jae. Entah mengapa dia merasa pria itu bisa membantunya.

Tak lama setelah Hami menyelesaikan ceritanya Hyuk jae tiba-tiba saja keluar dari mobil.

“Apa dia marah?” Tanya Hami dalam hati, rasa bersalah menyelubungi hatinya. Dia segera mengambil tissue dan menghapus air matanya. Dia bercermin di kaca spion. wajahnya terlihat lusuh, dia lalu menepuk-nepuk pipinya agar terlihat lebih segar.

Pintu mobil terbuka, Hyuk jae masuk.

“Untukmu.” ucapnya seraya menyerahkan sebatang coklat padanya. Hami menatapnya tak percaya.

“Kau tidak sedang diet kan?” tanyanya lagi.

“Tentu saja tidak. Ini makanan kesukaanku. Gomawo oppa!” ucap hami, dia tersenyum lebar. Hyuk jae terpana dibuatnya.

“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Hami tak mengerti.

“Ini pertama kalinya kau tertawa lebar seperti ini dihadapanku…” ucap Hyuk jae tanpa mengalihkan pandangannya. Hami merasakan wajahnya panas, debaran-debaran yang dulu pernah ia rasakan kini muncul kembali.

“Apakah ini…?’ batin Hami.

Hami masih menutup hatinya rapat-rapat untuk pria lain. Dia masih belum siap untuk terluka lagi. Tapi dia tidak bisa memungkiri, jika Hyuk jae selangkah demi selangkah mulai membuka pintu hatinya.

Dia sangat bersemangat pagi ini. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan membaca koran. Dia harus mencari kerja. Sudah terlalu lama dirinya menganggur. Keuangannya mulai menipis.

“Onnie sedang apa?” tanya Hyo hee yang baru keluar dari kamar.

“Aku sedang mencari pekerjaan.” ucap Hami. Matanya tidak lepas dari koran yang dibacanya. Dia sibuk menandai lowongan yang kira-kira cocok untuknya.

“Onnie mau cari kerja?!” tanya hyo hee tak percaya.

Hami menghentikan aktifitasnya. Dia menatap Hyo hee tajam.

“Wae?” tanya Hami.

“A…ani… Aku senang Onnie sudah mulai bangkit.” jawabnya. Hami hanya tersenyum dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

“Onnie, hari ini ke studio ya! Bawakan makan siang untuk kami!” ucap Hyo hee tiba-tiba.

“Wae?”

“sudahlah… Ok onnie?” belum sempat hami menjawab Hyo hee sudah masuk ke dalam kamar mandi. Hami hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik sepupunya itu.

Hami membereskan Koran-koran yang sudah selesai ia baca. Ia melihat jam dinding yang tergantung di ruang tengah. Pukul 8, Hami tersenyum. Ia lalu mengambil jaketnya dan berlari menuju supermarket. Dia mengambil beberapa bahan yang dia rasa perlu dan memasukannya ke dalam keranjang belanjaannya. Tak lama kemudian dia sudah berada kembali di dapurnya.

Hami melirik jam dinding. Pukul 11 tepat. Ia segera memasukkan kimbap yang telah ia buat ke dalam kotak makanan lalu membungkusnya. Setengah berlari dia masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian. Tentu saja tidak terlalu special, dia hanya mengenakan celana jins lamanya, t-shirt, dan jumper. Dia lalu memakai sepatunya dan beranjak pergi. Kotak makanan berisi kimbap sudah ada di pelukannya. Ya, ia akan pergi ke studio Lee Hyuk Jae sekarang.

“Annyeong….” Sapanya. Terlihat studio itu sudah sepi. Hanya ada Hyuk jae saja disana.

“Ah, apa kau mau bertemu Hyo hee?” Tanya Hyuk Jae. Hami terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Kotak kimbap nya masih dia peluk.

“Apa itu makanan?” Tanya Hyuk Jae, Hami  hanya mengangguk.

“Apa aku boleh mencicipinya? Aku belum makan.” Pinta Hyuk Jae. Hami mengangguk lagi. Dia lalu menyerahkan kotak kimbap itu padanya. Hyuk Jae menerimanya dan langsung duduk di lantai seraya membukanya.

“Wuah….” Ucapnya takjub. Dia lalu mencomot satu kimbap itu dan melahapnya. Hami hanya tersenyum simpul melihat kelakuan pria dihadapannya itu.

Hyo hee dan Kibum baru saja kembali dari membeli minuman. Tapi langkah mereka terhenti di depan pintu. Hyo hee melirik Kibum, Kibum mengangguk seolah tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Tanpa bersuara mereka meninggalkan studio.

“Ku dengar kau sedang mencari pekerjaan sekarang?” Tanya Hyuk Jae dengan mulut penuh.

“Ne..” jawab Hami singkat.

“Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan?” tanyanya lagi.

“Mungkin seperti pekerjaanku yang dulu. Kemampuanku memang disitu.” Jawab Hami.

“Apa kau tidak pernah terpikir untuk mencoba yang lain? Ku dengar kau suka menggambar? Mengapa tidak kau coba mendesain sesuatu? Lalu kau pasarkan. Siapa tahu kau bisa terkenal dan mendapatkan banyak uang dari situ.” ucap Hyuk Jae lagi, kimbap nya tinggal setengah.

“Ah… tidak usah muluk-muluk. Aku tidak ingin berharap terlalu tinggi. Akan saat jika terjatuh nanti.” Jawabnya. Pikirannya kembali pada Young Woon. Rasa sakit itu dating lagi. Ya, dulu dia berharap terlalu tinggi pada pria. Dan kini, ia merasakan sakit yang teramat sangat.

Hyuk Jae menyimpan sumpitnya. Dibereskannya kotak makan itu.

“Aku sudah selesai. Kaja!” ucapnya. Dia lalu menarik gadis itu agar mengikutinya.

Hyuk jae menggenggam tangan Hami erat. Mereka berlari menyusuri taman bermain itu. Pengunjung yang mulai padat tidak ia pedulikan. Hanya satu tempat yang Hyuk Jae tuju, kincir raksasa.

“Lihat!” ucap Hyuk Jae. Mereka sedang berada di paling atas sekarang.

“Woah….” decak Hami kagum.

“Indah kan?” tanya Hyuk jae. Hami mengangguk pelan. Kota terlihat sangat indah jika dilihat dari atas sini.

“Jika kita tidak naik setinggi ini kita tidak akan melihat keindahan itu.” ucap Hyuk jae. Hami mengerti apa yang pria dihadapannya itu maksudkan.

Mata mereka berpandangan. Hyuk jae mulai mendekatkan wajahnya. tanpa sadar Hamipun menutup matanya. Dia pasrah pada apa yang akan laki-laki itu lakukan padanya.

Tiba-tiba kincir itu bergerak. Hyuk jae kehilangan keseimbangannya. wajahnya segera membentur dinding di hadapannya.

“Hahahaha… Oppa… Gwencana?” tanya Hami. Hyuk jae hanya mengerang kesakitan. Dia lalu duduk di samping Hami.

“Aigo… Tidak apa-apakan?” tanya Hami lagi seraya mengelus kening Hyuk jae. Hyuk jae hanya diam, dia bisa merasakan hembusan nafas Hami di wajahnya. Jantungnya berdebar kencang. Menyadari pria itu memperhatikannya Hami menjauh. Jantungnya berdebar sangat kencang mengingat kejadian tadi. Dia tidak berani menatap Hyuk jae.

Kincir itu kembali bergerak.

“Hami ah…”

“Ne?”

“Saranghae…” ucap Hyuk jae. Hami kaget dengan kalimat yang baru saja di dengarnya. Dia tidak bereaksi sama sekali. Dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia ingin sekali menjawab, tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya.

“Hami-ah? Ah, mianhae…” ucap Hyuk jae. Dia berpikir mungkin ini terlalu cepat untuk gadis itu menerimanya. Mereka belum lama kenal. Wajar jika gadis itu menolaknya. Tapi Hami tetap diam.

“Apa kau marah?” tanya Hyuk jae lagi. Hami tetap tanpa ekspresi. Dia terlalu kaget dan bingung.

“Baiklah, lupakan.” ucap Hyuk jae lagi.

“Na…nado saranghae oppa!” teriak Hami akhirnya. Dia menunduk. Hami berusaha mengendalikan jantungnya yang terasa akan meledak dengan pernyataannya barusan. Dia belum pernah merasa seperti ini, bahkan saat bersama Youngwoon dulu.

Hyuk jae tersenyum. Ditariknya dagu Hami hingga mata mereka bertemu. Hami masih belum bisa menatap mata itu. Tapi Hyuk jae terus menatapnya. Hami menyerah, dia kembali menutup matanya. Desahan nafas pria itu terasa hangat mengenai wajahnya. Tak lama hami merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Hangat dan nyaman.

-tbc-

 
8 Comments

Posted by on July 23, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Happy Birthday!!^^

Hari ini sangat lelah, seharian aku keliling Seoul hanya untuk tahu bagaimana respon masyarakat terhadap produk yang diluncurkan kali ini. Sekalian mencari inspirasi untuk produk selanjutnya.

Padahal sebenarnya aku hanya ingin hari ini cepat berakhir. Ulang tahun pertama ku di negeri orang, tanpa seorangpun yang merayakan bersamaku. Cukup menyedihkan bukan? Sudah tiga bulan aku di Seoul, aku diminta untuk mendesain t-shirt oleh salah satu perusahaan besar disini.

“Happy birthday to me… Happy birthday to me… Happy birthday, happy birthday, happy birthday to me…” aku menyanyi sendiri di kursi taman. Hah… Berjalan seharian ternyata melelahkan juga. Aku menatap langit yang mulai gelap. Pikiranku menerawang pada keluarga dan teman-temanku di Indonesia. Apa kabar mereka disana ya? Apa mereka rindu padaku?

Tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan masuk. Dari Eunhyuk oppa. Yeup, perusahaan itu meminta Super Junior untuk menjadi spoke person dari produk mereka. Dan sudah sebulan terakhir ini aku bekerjasama dengan mereka semua. Bekerja bersama mereka sangat menyenangkan. Umurku yang lebih muda dari mereka semua, membuat mereka segera saja menjadi kakak-kakakku.

“Hani-ah, kau dimana sekarang? Kutunggu kau dilapangan basket sekarang.” tulisnya.

“Ah, baiklah…” aku segera mengiyakan ajakannya. Setidaknya aku punya kegiatan untuk menghabiskan hari ini.

Dari taman tempat aku istirahat tadi ke lapangan basket, jaraknya tidak begitu jauh. Hanya beberapa blok saja. 10 menit menggunakan bis. Aku segera berjalan menuju halte bis. Untunglah tidak lama kemudian bis yang kutunggu tiba.

*

“Oppa, sudah lama?” tanyaku pada Eunhyuk. Dia menggunakan kaos tanpa lengan berwarna merah dan celana olahraga pendek yang senada. Saat aku datang dia sedang duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan sambil sesekali memutar-mutar bola.

“Akhirnya kau datang juga. Taruh tasmu.” pintanya. Ia pun berdiri dan mulai mendrible bola basket yang dipegangnya.

“Ayo kita main!” ucapnya seraya mengoper bola itu padaku.

“Hani-ah, kita taruhan. Siapa yang paling banyak memasukkan bola, dia yang menang. Dan boleh meminta apapun dari yang kalah. Bagaimana?”

“Ok.” jawabku. Aku benar-benar PD dengan kemampuanku yang satu ini. Basket adalah hobiku sejak SD. Walaupun aku tidak pernah masuk club, tapi aku sering bermain bersama teman-temanku di lapangan basket dekat rumah.

“Waktunya 30 menit ya..” ucapnya. Iapun menyetel alarm pada jam tangannya.

Permainan dimulai. Ternyata tidak semudah yang kukira. Eunhyuk lebih tinggi 10 cm dariku. Itu membuatnya mudah untuk merebound. Dan satu hal lagi, dia tidak segan-segan padaku. Sepertinya aku benar-benar dianggap adik laki-laki olehnya.

30 menit berlalu. Eunhyuk menang dariku. Hanya beda 4 angka saja. Cih…

kami kelelahan dan terduduk di sisi lapangan. Untung saja minumanku,sisa dari jalan-jalan tadi, masih ada. Aku meminumnya beberapa teguk, lalu Eunhyuk merebutnya dan menghabiskan sisanya. Ia lalu melemparkan botol kosong itu ke dalam tempat sampah yang beberapa meter darinya.

“Three point shoot!” teriaknya, dan botol itu pun melayang jauh melewati tempat sampah. Eunhyuk berlari mengambilnya, dan memasukannya dengan cara yang biasa.

“Jadi, selama sisa hari ini, kamu harus mengikuti semua perintahku.” ucapnya setelah kembali duduk di sebelahku.

“Hm… Baiklah.”

“Nah, permintaanku yang pertama. Lap keringat ku!”

“Eh??”

“Handuknya ada di dalam tas. Palli,palli…” perintahnya.

Aku menggeledah tasnya. Mengambil handuk yang dia maksud dan mengelap keringatnya yang bercucuran.

“Baiklah… Permintaan kedua, ayo kita makan! Aku sudah lapar!”

“Oppa mau traktir aku, atau kita bayar sendiri-sendiri?” tanyaku.

“Mwo? Tentu saja kamu yang mentraktirku.” jawab Eunhyuk.

“Wae?”

“Karena… Karena kamu kalah, jadi kamu harus mentraktirku!” ucapnya.

“Hh…baiklah. Oppa mau makan dimana?” tanyaku akhirnya.

“Kaja!”

Aku mengikutinya menuju tempat parkir. Dia membawaku ke sebuah restoran siap saji. Aku disuruhnya untuk membeli makanan disana. Tentu saja aku hanya sendiri turun dari mobil. Bisa gawat jika dia ikut turun juga. Aku membeli 2 buah burger dan cola. Juga kentang goreng. Aku memesan untuk dibawa pulang karena Kami akan memakannya di dalam mobil.

“Ah, sudah waktunya ke sukira!” ucap eunhyuk setelah menghabiskan makanannya.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang saja ya?” tanyaku.

“Tentu saja kamu harus ikut denganku.” ucapnya.

“Hah? Kemana?” tanyaku heran.

“Sukira, tentu saja.” jawabnya santai.

“Eh??”

“Ingat, kau harus menuruti semua permintaanku sampai hari ini berakhir.”

“Hh…yaya, baiklah…” jawabku. Aku menurut saja. Dia menyetir mobilnya menuju sukira.

“Oppa, aku lupa. Aku tidak membawa topi. bagaimanapun hari ini aku terlihat seperti seorang perempuan kan?” tanyaku. Beberapa hari kemarin saat aku bekerja dengan mereka aku memang selalu berpakaian ala namja, agar ELF diluar sana tidak curiga dan menyerangku.

Tapi Eunhyuk hanya tersenyum. Dia terus fokus pada jalan di depannya.

“Sudahlah, tidak usah pedulikan itu. Bukankah semua orang sudah tahu kau adalah desainer kami.”

“Gwencana?” tanyaku lagi.

“Gwencana.” jawabnya tegas.

Dia membawa mobilnya agak cepat karena kami sudah akan terlambat. Tak lama kemudian kami sudah sampai di radio itu. Kamipun segera turun dari mobilnya dan naik ke ruang siaran. Aku berjalan beberapa langkah di belakangnya.

“Hei, kenapa jalanmu begitu lambat?” tanyanya. Dia lalu menarik tangannku seperti biasa.

“Kau harus berjalan disampingku.” ucapnya sambil terus berjalan.

“Ne, tapi lepaskan tanganmu.” ucapku, aku khawatir ada orang yang melihat.

“Ah, mianhae…” dia tersenyum jail. Setelah sampai diruang siaran Eunhyuk berkata sesuatu pada produser dan dia membiarkanku masuk. Tentu saja aku tidak ikut siaran hari itu. Tugasku hanya menjadi ”pembantu” Tuan Muda Eunhyuk.

“Hani-ah, tolong ambilkan minum ku…” ucapnya.

“Tapi kan kau tinggal menjulurkan tanganmu saja oppa…” ucapku.

“Eits, ingat, sampai jam 12 malam nanti kau harus menuruti semua permintaanku.” jawabnya.

Haaaah…. Walaupun malas, tapi akhirnya aku menurutinya juga. Aku mengambilkan susu strawberry kesukaannya dan membantunya untuk minum. aku benar-benar dikerjai hari ini.

“Ah,Hani kaja!” ucapnya beberapa saat setelah siaran selesai.

“Mau kemana?” tanyaku.

“Sudah ikut saja. Hyung, aku antar dia dulu ya.” ucapnya pada Eeteuk yang masih bingung apa yang terjadi pada kami. Tapi dia hanya tersenyum dan membiarkan dia membawaku.

“Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju apartemenku.”

“Sabar, nanti kau juga tahu.” jawabnya.

Dia terus membawa mobilnya membelah kota Seoul. Di tengah jalan kami berhenti di supermarket yang buka 24 jam. Dia membeli cukup banyak makanan dan sebuah selimut. Aku tidak mengerti untuk apa, aku hanya menurut saja ketika dia menyuruhku mengambil ini dan itu.

“Ayo.” ucapnya lagi setelah kami selesai berbelanja.

“Haaaah… Jadi masih belum?” tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang sangat lucu. Aku mengalah dan tidak bertanya lagi.

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Eh? Namsan tower? Mau apa Eunhyuk membawaku kesini? Dan sekarang sudah lewat dari tengah malam, bukankah seharusnya sudah tutup?

Tapi aku hanya diam dan terus mengikuti Eunhyuk. Dia bicara pada penjaga menara itu dan kami pun naik. Setelah tiba diatas Eunhyuk menyuruhku untuk menggelar selimut yang kami beli tadi. Aku menurut. Dia lalu membuka snack yang kami beli di supermarket tadi.

“Hani-ah, kau sudah pernah kesini?” tanyanya.

“Belum.” jawabku. Dia hanya tersenyum.

“Kau elf, seharusnya kamu tahu kami pernah syuting disini.”

“Ya, syuting full house saat kalian harus berpisah dengan Anya dan Eva.” jawabku sambil melahap snack yang dipegangnya.

“Ya, kau benar. Itu pertama kalinya aku memiliki sahabat orang asing.” ucapnya.

“Hm…” aku konsentrasi pada makananku.

“Sangat menyenangkan memiliki teman yang berbeda culture.” ucapnya lagi.

“Hm…” masih konsentrasi pada makanan.

“Dan hari ini aku ingin membawa sahabat terbaiku ketempat dimana pertama kalinya aku mendapatkan sahabat yang berbeda denganku.”

“Hm…” aku tidak mendengarkannya.

“Yah, kenapa cuma ‘hm’ saja yang keluar dari mulutmu?” tanyanya kesal. Dia mengambil snacknya dari tanganku.

“Oppa… Aku mengantuk… Seharian ini aku sudah keliling kota Seoul, lalu menemanimu sepanjang hari. Ini sangat melelahkan. Dan kau membawaku kesini cuma untuk mengatakan itu?” tanyaku. Ah, aku sudah sangat lelah dan dia malah mengajakku bertengkar? TERLALU!

“Baiklah, tidur saja disini…” ucapnya, dia menepuk pundaknya. Mempersilakanku untuk menyandarkan kepalaku disana.

“Hahahahahahaha…….” aku tidak dapat menahan tawaku. Aku sangat tidak percaya dia bisa bertindak romantis seperti itu.

“Eh? Kenapa tertawa?” tanyanya bingung.

“Oppa…oppa… Aku tidak menyangka kau bisa berbuat romantis seperti itu.” ucapku seraya berusaha untuk menghentikan tawaku.

“Wae? Kau tidak tau jika aku sebenarnya sangat romantis?” tanyanya lagi.

“Hahahahhahaha…. Mungkin…mungkin… Tapi sepertinya tidak akan berpengaruh banyak untukku. Aku sudah terlalu sering melihat cara-cara playboy untuk merusak wanita.” ucapku lagi.

“Eh? Aku bukan playboy!’ ucapnya, dia menggembungkan pipinya. Aku terus tertawa. Dia terlihat seperti anak kecil sekarang.

“Kau sudah tidak mengantuk kan?” tanyanya. Dia menghadapkan wajahnya kepadaku. Matanya sangat teduh.

“Ne…” jawabku sambil tertawa kecil.

Sepanjang malam kami terus mengobrol. Berbicara tentang pengalaman yang kami punya. Bertukar pikiran. Eunhyuk banyak membocorkan rahasia tentang member yang lain. Terutama Donghae dan Eeteuk.

“Hani-ah… Bangun… Lihatlah…” ucap Eunhyuk, dia membelai tanganku lembut. Aku membuka mataku. Ternyata tanpa sadar aku sudah teridur di bahunya. Di depan ku matahari baru saja terbit. Indah sekali. Persis seperti di mv Seoul Song.

“Saengil chukae hamnida…” ucapnya, ia lalu merogoh sakunya dan memberikanku sebuah kotak kecil.

“Ah?”

“Selamat ulang tahun ya… terimakasih telah hadir didunia ini dan muncul dihadapanku. Semoga kau bisa lebih banyak lagi menebarkan kebahagiaan.” ucapnya.

“Tapi Oppa, ulangtahunku kan kemarin.” jawabku polos.

“Eh???” Eunhyuk menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

“Tapi, gomawoyo….”ucapku seraya mengambil hadiahnya. Dia tersenyum.

“Bukalah.” ucapnya. Aku menurut, aku membuka kotak kecil itu. sebuah gelang perak bertuliskan namanya.

“Eh?? Apa ini?” tanyaku.

“Bukankah kau penggemarku? Harusnya kau senang kuberi hadiah seperti itu.” ucapnya polos.

“Ah… Yayaya. Baiklah akan kupakai sekarang!” dia lalu membantuku memakaikannya ke pergelangan tanganku.

“Baiklah, ayo kita pulang!” ajaknya. Dia mengantarkanku sampai apartemen.

“Oppa, gomawo…” ucapku setelah kami tiba di apartemenku. Dia tersenyum, lalu melajukan mobilnya lagi setelah aku turun.

Aku memandang mobilnya sampai hilang di belokan. Mungkin keluarga dan teman-temanku tidak bisa merayakan ulang tahun bersamaku. Tapi aku yakin, Tuhan akan memberikanku orang-orang yang akan ikut berbahagia bersamaku di hari besarku. Dan mungkin salah satunya adalah si anak Tuhan yang telah memberikanku gelak perak ini 🙂

 
1 Comment

Posted by on July 22, 2010 in fanfiction

 

Tags:

Mianhae part.3

“Oppa, bagaimana menurutmu? Aku tidak tahan melihat onnie terus-terusan seperti ini.” ucap Hyo Hee. Ini sudah satu bulan sejak Hami putus dengan Young Woon. Dia terus-terusan mengurung diri di dalam kamar. Hami pun sudah mengajukan pengunduran diri ke sekolahnya. Praktis kegiatannya hanya di apartemennya saja. Kibum diam, ia berpikir.

“Bagaimana jika kita pergi piknik?” usulnya.

“Kita bertiga? Oppa, bias-bisa onnie malah kembali ingat si brengsek itu!” ucap Hyo Hee emosi. Dia masih belum bisa memaafkan pria itu.

“Tidak, kita pergi berempat.” jawab Kibum tenang.

“Berempat?” tanya Hyo Hee bingung. Kibum melirik Hyuk Jae yang sedang berdiri tidak jauh dari sana.

“Dengannya?” tanya Hyo Hee tak percaya. Yah… Dia mengakui guru dance nya itu memang keren dan dia masih single. Diapun sangat baik dan hangat. Tapi dia terkenal playboy.

“Tenang saja, hyung itu bukan seorang playboy seperti yang kau kira. Dia memang terlalu baik pada semua orang. Makanya banyak yang salah paham padanya.” jawab Kibum seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya itu.

“Mana bisa aku menyerahkan onnie ku pada lelaki pelit macam dia?” ucap Hyo Hee.

“Yah, siapa yang kau maksud Park Hyo Hee?’ tiba-tiba guru dance nya itu sudah berada dibelakangnya.

“Gyaaa… Oppa! Sejak kapan kau berada disitu?” tanya Hyo Hee kaget.

“Sejak kau bilang pelit.” jawabnya.

“Jadi, apa yang kalian rencanakan?” tanya hyuk jae. Hyo Hee melirik Kibum, dia menganggukan kepalanya.

Hyo Hee lalu menceritakan tentang onnienya. Bagaimana onnienya mendapatkan cinta pertamanya dan ternyata dia dilukai sampai begitu dalam oleh cinta pertamanya. Juga bagaimana keadaan onnienya saat ini yang membuat Hyo Hee prihatin.

Hyuk Jae merasa iba pada gadis yang diceritakan muridnya itu.

“Oppa, bisakah kau menjadi cahaya baginya?” tanya Hyo Hee.

“Hyung, cobalah bertemu dia sekali saja, dan berkenalan dengannya. Siapa tahu kalian cocok.” ucap Kibum.

“Hh… Baiklah aku akan mencoba berkenalan dengannya. Tapi aku tidak bisa janjikan kalian apa-apa. Semua tergantung pada onnie mu.” jawabnya.

“Tidak apa-apa Hyung, setidaknya kita mencoba.” ucap Kibum.

“Ke pantai?”

“Ne, Onnie… Onnie mau kan? Mau ya? Aku baru kali ini pergi dengan Kibum oppa, tapi kakaknya pasti ingin ikut. Mereka memang hanya tinggal berdua disini, jadi kakaknya tidak mau lepas dari Kibum oppa. Aku kan tidak enak jika kami cuma jalan bertiga…” ucap Hyo Hee.

“Ajak saja pacar kakaknya itu.” ucap hami. Dia sebenarnya merasa malas harus pergi ke tempat ramai, apalagi bersama orang asing.

“Itu dia. Hyuk Jae oppa belum punya pacar. Makanya dia sering mengganggu kami.” jawab Hyo Hee.

“Mau ya Onnie? Ya? Ya?” bujuk Hyo Hee lagi.

Hami menarik nafas panjang.

“Hm… Baiklah…” jawab Hami akhirnya. Hyo Hee tersenyum girang.

“Yeeee…!! Gomawo Onnie…” ucapnya seraya menghambur ke dalam pelukan Hami.

Pagi-pagi sekali Hami dan Hyo Hee sudah bangun. Mereka sibuk mempersiapkan perbekalan untuk ke pantai.

“Apa kita akan dijemput?” tanya Hami. Dia sedang memotong-motong kimbap sekarang.

“Tidak Onnie, kita akan bertemu mereka di cafe di depan.” jawab Hyo Hee. Dia merasa senang karena Hami mulai antusias dengan acara piknik mereka.

Pukul 9 mereka sudah berada di cafe itu. Hami memesan es jeruk, sementara Hyo Hee memesan es kopi. Tak lama kemudian seorang pria menghampiri mereka. Pria itu mengecat rambutnya menjadi agak pirang. Otot-otot tangannya terlihat di balik t-shirt yang dia kenakan. Pria itu lalu melambai pada mereka. Hyo hee membalas lambaian pria itu seraya tersenyum riang.

“Onnie, kenalkan ini Lee Hyuk Jae ssi. Dia guru dance ku.” ucap Hyo Hee saat Hyuk Jae sudah ada dihadapannya.

“Jung Hami imnida…’ ucap Hami. Hami lalu bangkit dan duduk di samping Hyo Hee. Secara otomatis Hyuk Jae duduk di hadapan mereka.

“Oppa, mana Kibum oppa?’ tanya Hyo Hee.

“Tadi dia kusuruh beli minuman dulu. Sebentar lagi juga datang.” jawabnya. Tapi tak lama kemudian orang yang dibicarakan datang.

“Mianhae. Aku terlambat.” ucap Kibum.

“Oppa, kenalkan, ini onnie ku.” ucap Hyo Hee.

“Kibum imnida.” ucap Kibum seraya membungkukkan sedikit badannya.

“Oh… Jadi ini pacarmu?” Tanya Hami. Hyo Hee menunduk malu.

“Yasudah, karena sudah berkumpul ayo kita berangkat!’ ajak Hyuk Jae.

Mereka segera berdiri. Dan melangkah menuju mobil Hyuk Jae yang diparkir di luar.

“Onnie, Onnie duduk di depan ya.” bisik Hyo Hee seraya mengedipkan sebelah matanya pada Hami.

“Ne…” ucap Hami malas-malasan. Dia pun duduk disamping Hyuk Jae.

“Baiklah, kaja!” ucap Hyuk Jae bersemangat. Dia lalu menstarter mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju pantai.

Sepanjang jalan Hyo Hee, Kibum, dan Hyuk Jae sangat bersemangat. Mereka terus saja bernyanyi. berbeda dengan Hami. Dia hanya diam dan menatap keluar jendela. Terkadang dia tertawa, yang Hyo Hee tangkap hanya topeng dari luka di hatinya.

Dia menyikut Kibum, tapi Kibum hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hyuk Jae hanya tertawa melihat tingkah adik-adiknya dari kaca spion.

“Hami ssi, kudengar kau pernah mengajar.” ucap Hyuk Jae mencoba memancing pembicaraan.

“Ne… Aku sempat mengajar selama 2 tahun.” jawabnya.

“Jinca? Apa yang kau ajarkan?” tanya Hyuk Jae.

“Aku mengajarkan bagaimana cara mendengarkan.” jawab Hami singkat.

“Guru konseling?” tebak Hyuk Jae.

“Ne..” lagi-lagi mereka terdiam. Hyo hee memberikan tanda jangan-bicarakan-itu dari kursi belakang. Hyuk Jae hanya tertawa. Untunglah mereka sudah sampai.

“Huuaaaaa…. Pantainya indah sekali!!” teriak Hyo Hee. Dia dan Kibum segera berlari menuju laut dan bermain air. Hami hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya itu.

“Biar kubantu.” ucapnya pada Hyuk Jae yang sedang mengeluarkan perlengkapan piknik mereka. Hami lalu membawa keranjang makanan dan Hyuk Jae membawa tikar untuk mereka duduk dan cooler box. Mereka mencari tempat yang cukup teduh dan menggelar tikar disana.

Hami segera duduk, lagi-lagi dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Hyuk Jae lalu mengeluarkan minuman dari  cooler box.

“Ini.’ ucapnya seraya menyodorkan sekaleng soft drink pada hami. Hami tersadar dari lamunannya dan menerima soft drink itu.

“Kuperhatikan dari tadi kau jarang sekali bicara.” ucap Hyuk Jae. Dia membuka minumannya dan meneguknya.

“Ayo, kita main bersama mereka.” ajak Hyuk Jae. Dia menaruh kaleng minumannya dan berlari menuju laut. Tapi Hami tidak bergerak dari tempatnya. Hyuk Jae berhenti, dia berbalik dan menarik Hami.

“Ayolah…” ucapnya. Mereka berlari bersama. Hyuk Jae tidak melepaskan genggamannya sampai mereka tiba di bibir pantai.

“Onnie..!!” panggil Hyo Hee, Hami berbalik, dan Hyo Hee menyiramnya dengan air.

“Aish… Awas kau!!” Hami mengejar Hyo Hee untuk membalasnya. Sementara Kibum dan Hyuk Jae tertawa senang karena mereka sudah berhasil membuat Hami tertawa. Setidaknya untuk saat ini.

Hyuk jae melirik spionnya, adik-adiknya sudah tertidur di kursi belakang. Kibum menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, sedangkan Hyo Hee menyandarkan kepalanya pada bahu Kibum. Hyuk Jae lalu melirik wanita disebelahnya, dia masih terjaga.

“Kau tidak mangantuk Hami ssi?” tanyanya.

“Aku tidak bisa tidur jika yang lain tidur. Tidak ada yang menemanimu.” ucapnya. Hyuk Jae tersenyum.

“Tidak apa-apa, tidur saja. Kau pasti lelah.” ucapnya.

“Aku tidak mengantuk.” jawab Hami.

“Apa kau sering tidur malam?” tanya Hyuk Jae.

“Kadang-kadang.”

“Hami ssi, apa kau suka menari?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba. Hami membenarkan posisi duduknya, sekarang ia menghadap pria itu.

“Bagaimana jika lusa kau datang ke studioku?”

“Tidak usah terburu-buru, lihat saja bagaimana sepupumu itu menari.” lanjut Hyuk Jae. Hami terdiam.

“Bagaimana?” tanya Hyuk Jae lagi.

“Baiklah.” jawab Hami singkat. Hyuk Jae tersenyum senang.

Dia melirik pada gadis itu lagi, tapi gadis itu sudah tidak menatapnya. Dia terus menerus menatap keluar jendela.

“Apa ada yang begitu menarik diluar sana sampai-sampai kau tidak menghiraukan namja tampan disampingmu ini?” tanya Hyuk Jae. Hami mengalihkan pandangan padanya lalu tertawa.

“Tidak kusangka, ternyata kau playboy juga.” ucapnya. Hyuk Jae tersenyum.

“Kau lebih terlihat manis jika tertawa seperti itu.” ucapnya. Hami merasa wajahnya panas. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi. Hyuk Jae lalu meminggirkan mobilnya.

“Kenapa berhenti?” tanya Hami.

“Aku lelah. Kita istirahat sebentar disini ya?” ucap Hyuk Jae. Dia lalu keluar dari mobil dan meregangkan badanya. Hami mengikutinya keluar.

“Anginnya kencang, masuklah.” ucap Hyuk Jae. Tapi gadis itu menggeleng.

“Menatap langit malam membuatku tenang.” ucapnya. Dia menatap langit diatasnya, Hyuk Jae mengikutinya.

“Apa kau suka kegelapan?” tanya Hyuk Jae.

“Ya. Mereka membuatku tenang.” jawab Hami tanpa menatapnya.

“Tapi kau membutuhkan cahaya untuk melihat.” ucap Hyuk Jae. Hami tersenyum sinis, baginya tidak ada lagi cahaya sekarang.

“Sepertinya kau juga suka menyendiri.” ucap Hyuk Jae lagi.

“Ne, aku menyukai ketenangan.” jawab Hami.

“Sesekali keluarlah dari kotakmu. Dan kau akan mendapati bagaimana indahnya dunia.” ucap Hyuk Jae.

“Mari masuk, kita pulang.” lanjutnya seraya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan hami dalam kebingungan.

Hyuk Jae menunggu kedatangan gadis itu. Gadis itu begitu dingin kemarin dia tidak yakin gadis itu akan menepati janjinya.

“Oppa, kami semua sudah berkumpul. Apa yang kau tunggu? Ayo mulai latihannya.” bisik Hyo Hee. Hyuk Jae tersadar dari lamunannya.

“Ne.. Ayo semua ambil posisi…” ucap Hyuk Jae. Dia lalu memimpin latihan seperti biasa.

Kibum menunggu Hyo Hee diluar studio seperti biasa. Kuliahnya selesai lebih cepat hari ini, dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya ketika ada orang yang menyapanya.

“Annyeong…” Kibum mengangkat wajahnya.

“Ah, Noona?” ucapnya kaget. Hami hanya tersenyum.

“Noona mau menjemput Hyo Hee?” tanya Kibum setelah dia berhasil mengatasi kekagetannya.

“Tidak, aku hanya ingin melihatnya menari.” jawabnya.

“Ah….” Kibum mengangguk paham. Dia ingat cerita kakaknya semalam.

“Silakan duduk Noona.’ ucap Kibum lagi. Dia lalu berdiri dan mengambilkan Hami kursi di dekatnya.

“Ne, gomawo.’

“Noona ingin melihat kedalam? Masuklah, tidak apa-apa” ucap Kibum.

“Anio… Aku disini saja, aku takut mengganggu mereka.” tolak Hami.

“Bukankah Noona datang kesini untuk melihat tarian Hyo Hee?’ ucap Kibum lagi.

“Ayo masuklah.” ajaknya lagi. Hami mengangguk. Mereka lalu mengintip dari pintu masuk.

Awalnya Hami memang memperhatikan Hyo Hee, tapi entah mengapa matanya tertarik untuk melihat sosok yang menari dengan penuh penjiwaan di barisan paling depan. Gerak tubuhnya sangat indah, seolah-olah tidak ada beban. Gerakannya mengalir begitu saja.

Hami terpesona dengan pemandangan itu. Dia tetap diam ditempatnya, tanpa ia sadari waktu berlalu.

“Onnie…!” tiba-tiba Hyo Hee sudah menghambur ke dalam pelukannya.

“Kenapa Onnie tiba-tiba datang?” tanya Hyo Hee.

“A..a..aku ingin melihatmu menari.” jawab Hami gugup.

Hyuk jae tersenyum lalu mengelap keringatnya dan meneguk minumannya.

“Lalu, apakah menurutmu tarianku bagus?” tanya Hyo Hee lagi. Hami mengangkat kedua jempolnya.

“Gomawo onnie..” jawabnya girang.

“Annyeong…” Hyo Hee berbalik, didapatinya Hyuk Jae dan Kibum sudah berada dihadapannya.

“Annyeong..” jawab Hami sopan.

“Kau datang juga.” ucap Hyuk Jae lagi. Hami hanya tersenyum.

“Bagaimana jika kau mencobanya sesekali?” ajak Hyuk Jae. Tapi lagi-lagi Hami hanya tersenyum.

“Onnie, aku ganti baju dulu ya.” ucap Hyo Hee. Dia lalu memberi tanda pada Kibum untuk pergi juga. Kibum mengangguk, tak lama setelah Hyo Hee beranjak diapun ikut pergi.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba.

“Apanya?” tanyanya

“Tarian Hyo Hee tentu saja.”

“Aku tidak begitu mengerti, tapi kurasa tariannya bagus.” jawabnya.

“Ya, dia memang punya bakat.”

“Bakatnya terasah karenamu juga Hyuk Jae ssi.” ucap Hami tiba-tiba. Hyuk Jae kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat pujian seperti itu darinya.

“Ah… Bisa saja.” ucapnya seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Tarianmu memang bagus.” ucap Hami lagi.

“Jinca?” Hami mengangguk.

Hyuk Jae mengangkat wajahnya. Dia sangat tidak menyangka Hami akan memujinya sampai seperti ini. Tapi Hami masih tetap tanpa ekspresi.

Hyuk Jae merasakan hal yang aneh menyelusup ke dalam hatinya. Cerita Hyo Hee beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya. Dan tiba-tiba saja hatinya memintanya untuk membuat gadis itu sembuh seperti sedia kala.

“Hayoo… Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali?” tanya Hyo Hee yang tiba-tiba saja datang.

Hami hanya tersenyum, Hyuk Jae nyengir kuda.

“Onnie, aku dan Kibum oppa akan makan burger. Onnie mau ikut? Oppa juga ikut saja, biar ramai…” ucap Hyo Hee, dia lalu mengedipkan sebelah matanya pada Hyuk Jae.

“Mmh…lebih baik aku pulang saja. Nanti aku malah mengganggu kalian.” tolak Hami halus.

“Lebih baik kita ikut saja. Apa kau tidak khawatir pada adikmu ini? Pergaulan remaja sekarang kan sangat rentan.” ucap Hyuk Jae. Hyo Hee berusaha keras menahan tawanya saat itu. Dia tidak menyangka guru dancenya yang cuek bisa bicara seperti itu.

“Hm… Baiklah kalau begitu, aku ikut.” ucap Hami akhirnya.

“Ok, kalau begitu aku ganti baju dulu.” ucap Hyuk Jae. Dia lalu berjalan santai menuju ruang ganti. Mata Hami tak lepas dari sosoknya sampai dia berbelok. Hyo Hee menyadari itu, namun dia hanya tersenyum simpul. Dia hanya berharap guru dancenya itu bisa menyembuhkan Hami seperti semula.

Tak lama Hyuk Jae sudah menghampiri mereka kembali.

“Kaja!” ajaknya. Mereka bertiga mengikuti Hyuk jae menuju mobilnya.

“Onnie…” sahut Hyo Hee manja.

“Ne…” jawab Hami seakan sudah mengerti apa yang dipikirkan oleh adik sepupunya itu. Hami lalu duduk di sebelah Hyuk Jae, tanpa dia sadari ketiga orang lainnya tersenyum karena itu.

“Oh, jadi kau penggemar mereka juga?” sahut Hyuk Jae. Mereka sedang asyik makan burger. Masing-masing memegang sebuah burger di tangannya, tapi 2 untuk Hyuk Jae. Perutnya tidak akan kenyang jika hanya diisi oleh satu buah burger.

“Ne…” jawab Hami.

“Mereka memang keren! Tapi aku tak menyangka Hami ssi bisa menyukai aliran musik seperti itu” ucap Hyuk Jae lagi. Dia melahap burgernya. Hyo Hee dan Kibum terpana menyaksikan kelihaian Hyuk Jae dalam membuka pembicaraan. Sekarang Hyo Hee mengerti mengapa julukan cassanova melekat padanya.

“Aku menyukai lirik-lirik yang mereka buat.” jawab Hami lagi.

“Yaya, makna dari lagunya memang sangat dalam.”

“Ah, jika mereka konser disini, bagaimana jika kita pergi bersama?” ajak Hyuk Jae spontan.

“Boleh…” jawab Hami. Dia merasakan ada satu kecocokan dirinya dan Hyuk Jae. Tapi Hami masih belum berpikir sampai sejauh itu. Bayangan Young Woon masih sering menghantuinya.

-will continuing asap-

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Itu Adalah Aku

Aku baru saja menginjakkan kembali kakiku di Indonesia, Tanah Airku. Teman-temanku mengobrol dengan riangnya. Dengan bersemangat mereka menceritakan pengalaman mereka beberapa hari yang lalu padaku. Ya, kami baru kembali dari liburan di Negeri Ginseng, Korea Selatan. Aku hanya mengangguk dan dengan setia mendengarkan cerita mereka.

Kenapa aku tidak ikut bercerita? Yah, hari itu mungkin hari sial ku. Aku terpisah dari rombonganku. Untunglah aku bertemu dengannya. Dia seperti seorang malaikat yang diturunkan Tuhan untuk membantuku. Dia membawaku ke rumahnya dan mengijinkanku untuk menginap disana. Dia juga mengantarkanku sampai aku bisa bertemu teman-temanku lagi. Diapun mengganti liburanku dengan mengajakku ke danau di dekat rumahnya.

Dan kalian tahu? Kami jarang sekali bicara saat itu. Bahasa Inggrisnya sangat buruk! Haha… Dan akupun tidak bisa berbahasa Korea. Jadilah kami hanya menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Aku sedikit menyesal tidak ikut belajar bahasa Korea bersama teman-teman kosanku sebelum berangkat kesana. Yah… Mereka Korean lovers. Jadi sebenarnya aku bisa saja belajar gratis pada mereka, jika saja aku mau.

*

“Kyaaaa….  Ya ampun!! Keren banget sih!!!!” teriak Gista dari kamar sebelah. Aku menutup buku ku. Aku memang tidak terbiasa belajar di tengah keributan seperti itu. Terdengar teriakan dan decakan kagum dari teman-teman kosan yang lain.

“Hh… apa sih yang lagi mereka tonton sampe berisik begini?” batinku. Akupun bangkit dari dudukku dan berjalan ke kamar Gista yang berada tepat di sebelah kamarku.

Ternyata bukan hanya Gista saja yang sedang menonton, tapi ada Nui, Dian, dan Nita yang ikut menonton bersamanya. Kulihat mereka terpaku pada monitor laptop Gista. Mereka tidak bergerak sama sekali. Kadang mereka tertawa, kadang mereka menitikkan air mata, bahkan berteriak-teriak tidak karuan.

“Lagi nonton apa sih?” tanyaku pada mereka. Aku memilih untuk duduk di belakang. Jauh dari laptop. Aku masih tidak tertarik.

“EHB wi! Lucu deh!” ucap Nita yang duduk dekat denganku, sepertinya yang lain tidak mendengar pertanyaanku karena terlalu asyik menonton.

“Apaan tuh?” tanyaku lagi. Nui menoleh.

“Super Junior Wi… Loe kan kemaren baru dari Korea. Masa masih ga tau juga sih?” ucap Nui gemas. Yah… Sampai hari ini aku memang masih tidak peduli. Tidak ada untungnya juga kan menonton dan berteriak-teriak seperti itu?

“Ya…iya sih… Tapi selama gue disana gue ga liat mereka ah!” elakku. Mereka semua berbalik menatapku.

“Itu karena loe nya aja yang ga ngeh! Mereka kan baru aja ngadain konser, ga mungkin lah ga ada di tv atau ada di koran.” Ucap Dian. Dia mengambil bantalnya lalu memeluknya.

“Sini gw tunjukin Wi, kali aja sebenernya loe pernah liat, tapi loe ga tau kalo itu mereka.” Lanjut Dian. Dia lalu menghentikan video yang sedang mereka tonton itu. Dia lalu memutar video yang lainnya. Tapi ini berbeda. Sepertinya ini video klip.

“Sini Wi, gw kenalin loe sama mereka.” Ujar Dian. Dia menyuruhku untuk duduk disampingnya. Secara otomatis teman-teman yang lain menyingkir. Mereka duduk agak ke belakang sekarang.

“Yah, si mami presentasi ni…” ucap Gista. Mereka lalu tertawa, aku tidak mengerti bagian mana yang lucu dari kata-kata Gista tadi.

“Ini single pertama dari album ke-4 mereka, Wi. Masih baru lah, walaupun mereka udah ngeluarin single yang lain.” Ucap Dian lagi.

Video mulai berjalan. Terlihat sesosok laki-laki disana, dia tidak bergerak tapi gambarnya berputar. Lalu berganti menjadi sosok yang lain. Hm… entahlah ada berapa banyak bayangan yang berputar tadi.

Tantarantan tantarantan tanrantan tatatarata

Tantarantan tantarantan tanrantan tatatarata

Hanya itu yang bisa ku dengar jelas dari lagu itu. Tapi tunggu, sepertinya aku mengenal salah satu dari pria itu. Mungkinkah?

“Mam, itu siapa?” tanyaku seraya menunjuk seorang pria yang menunjukkan perut dan dadanya di video klip itu.

“Oh.. itu Leeteuk, dia leader nya.” Sahut Gista cepat.

“Hah?! Jadi dia artis?!” ujarku. Mereka semua menatapku heran. Pantas saja dia begitu “wah” waktu itu. Tapi kacamata hitam tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Loe ketemu sama dia Wi?” Tanya Nui antusias.

“Bukan Cuma ketemu, tapi gw juga sempet nginep di rumahnya.” Jawabku. Mereka membelalakan matanya. Semuanya tiba-tiba saja mengerubungiku.

“Serius Wi?” Tanya Nita. Aku mengangguk lagi. Aku lalu menceritakan pengalamanku pada mereka semua. Mereka mendengarkanku dengan penuh perhatian. Kadang mereka menjerit histeris. Dan ketika ceritaku berakhir…

“Kyaaaa….. Dwi kenapa kau bisa sebodoh itu??!!” ucap Nui.

“Yah, Dwi, kok bisa sih loe ninggalin kamera loe?” Tanya Nita.

“Ah, Dwi mah…” hanya itu reaksi Gista.

“Wi, kesempatan itu ga akan datang 2 kali. Gimana bisa loe tinggalin kamera loe dan ga minta tanda tangannya sama sekali…????!!!!” ucap Dian. Sepertinya mereka sedikit depresi dengan ceritaku itu.

Aku Cuma menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

“Ya… kan gw ga tau…” ucapku seraya memamerkan gigi-gigiku yang rapi.

Mereka menghela nafas, tertulis jelas di wajah mereka kok-bisa-kayak-begitu-sih??

“Hehehe… ya sorry deh… gw kan ga tau kalo itu idola kalian…” ucapku lagi. Tapi sepertinya kata-kataku tidak berpengaruh banyak. Karena sepertinya mereka tidak mempedulikanku lagi, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku.

“Leeteuk… Malaikatku itu ternyata tidak jauh dariku.” Batinku. Aku tertidur sambil tersenyum

*

Sudah berminggu-minggu sejak aku pulang dari Korea. Aku kembali pada kehidupanku seperti biasa. Tugas kuliah banyak sekali, dan harus dikumpulkan ke e-mail dosen malam ini juga. Hh… lelahnya…

Aku membuka notebook ku, untung saja di kosanku sudah pasang jaringan internet. Jadi aku tidak perlu repot-repot keluar jika ada kejadian seperti ini. Aku bukannya takut keluar malam, tapi aku tidak tahan dengan dinginnya angin malam.

Aku mengetik alamat e-mail ku. Wah, di inbox sudah banyak sekali pesan yang masuk. Aku akan melihatnya setelah mengirimkan e-mail ku pada dosen.

Klik, klik, klik…

Hanya terdengar bunyi tombol mouse yang terus kutekan. Setelah e-mailku terkirim, aku segera membuka inbox ku.

“Cuma dari facebook …” ujarku. Aku lalu menghapus semua pesan-pesan yang tidak penting itu. Tapi tiba-tiba mataku menangkap satu pesan dari alamat e-mail yang tidak kukenal. Aku menekan tombol mouse ku untuk membukanya.

Loading…

“lama banget sih?” ujarku kesal. Sepertinya file nya agak berat.

Akhirnya halamannya terbuka. Ada banyak gambar kotak disitu. Sepertinya itu foto. Satu persatu kotak-kotak yang tadinya kosong mulai terisi gambar-gambar.

“Ya ampun! Ini semua kan foto gw!” teriakku. Aku segera berlari dan mengetuk kamar sebelah.

“Gigis…Gigis…!!” ujarku tidak sabar. Akhirnya pintu dibuka, Gista mengucek-ngucek matanya. Aku lupa jika ini sudah jam 11 malam.

“Kenapa Wi?” tanyanya.

“Leeteuk kirim e-mail!!” teriak ku. Gista langsung membuka matanya. Dia berlari ke kamarku.

“Tunggu,tunggu, kasih tau yang lain dulu!” ucapnya. Dia lalu berlari lagi mendatangi kamar Dian, Nui, dan Nita.

Dan akhirnya disinilah kami, di depan notebook ku melihat foto-foto yang dia kirimkan. Dia mengirimkan semuanya, termasuk foto kami berdua.

“Dwi……!!!!!” teriak mereka bersamaan saat melihat foto yang terakhir.

“Bales e-mailnya, Wi!” pinta Nui. Aku menurut. Aku mulai mengetik.

Thank you…J

Hanya itu yang kutulis, diikuti suara kekecewaan dari teman-temanku.

*

Leeteuk, Eeteuk, Teukie, Park Jung Soo, Super Junior’s leader, nama itu terus berada dipikiranku beberapa hari ini. Aku masih terlalu gengsi untuk mengakuinya di hadapan yang lain. Secara diam-diam aku mulai mencari tentang mereka. Seperti hari ini, aku sedang searching berita tentang mereka. Dulu Nui pernah searching disini, semoga saja alamatnya masih ada.

Aku mengetik “SU” dan beberapa alamat yang kira-kira sesuai segera muncul. Aku lalu menekan salah satunya. Dan dengan segera aku terhubung dengan blog yang isinya membahas tentang Super Junior. Ada banyak tags tentang Leeteuk. Aku lalu menekannya. Artikel-artikel yang berhubungan dengan dia segera bermunculan. Aku membukanya satu persatu.

Sesekali aku tertawa membaca apa yang ditulis di blog itu. Sesekali aku mengernyitkan dahiku. Aku tidak percaya jika dia menanggung beban yang begitu berat di pundaknya. Saat itu, aku merasa senyumnya sangat indah dan tanpa beban. Dan akhirnya aku tahu, dia memang malaikat.

Ya, itu julukannya. Malaikat tanpa sayap, itulah dia. Pria yang menolongku saat aku tersesat di negeri yang sangat asing bagiku. Pria yang berusaha untuk menghiburku karena liburanku telah gagal karena kebodohanku sendiri. Pria yang mau repot-repot mengantarkanku kepada teman-temanku. Pria yang bersusah payah menggunakan tubuhnya untuk berkomunikasi dengan ku. Park Jung Soo, malaikatku.

Apakah dia benar-benar serius dengan perkataannya waktu itu? Benarkah dia menginginkan untuk bertemu denganku saat dia ke Indonesia nanti? Benarkah itu?

Setelah membaca artikel-artikel itu, aku tahu jika dia adalah seorang pria yang selalu memegang janjinya. Tapi dengan statusnya ini, aku tidak yakin. Jangankan untuk bertemu denganku, untuk berkunjung ke Indonesia saja aku meragukannya.

*

“Gigis…!!!!” terdengar suara Nui dari dalam kamarnya. Derap kaki segera saja terdengar. Sepertinya mereka berlari. Aku membuka pintu kamarku dan melongok keluar. Kulihat Gista, Nita, dan Dian masuk ke kamar Nui dengan terburu-buru. Aku mengikuti mereka dibelakang. Baru aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar Nui, tiba-tiba saja

“YEAH….!!!!!” Teriak mereka. Mereka segera berpelukan dan kulihat mereka meneteskan air mata.

“Kenapa?” tanyaku masih heran melihat kelakuan mereka.

“Wi…”ucap Nita sambil berurai air mata.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Super Junior mau konser di Indonesia Wi…” ucap Dian.

Aku terdiam. Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan saat ini. Jujur aku senang, tapi ada ketakutan  yang terselip di hatiku.

“Apa dia masih mengingatku?” batinku.

*

Setelah acara tangis-tangisan malam itu Dian, Gista, Nita, dan Nui memaksaku untuk ikut menonton konser mereka. Aku sudah berusaha menolaknya, aku bilang aku tidak mengenal mereka. Tapi mereka terus saja memaksaku. Dan disinilah aku sekarang, di salah satu hotel di Jakarta.

Dari jauh-jauh hari keempat temanku itu sudah memesan kamar disini. Sudah beredar gossip bahwa hotel inilah yang akan menjadi tempat beristirahat para member Super Junior nanti. Kami memutuskan untuk tidak menjemput mereka di bandara. Menunggu di hotel akan memberikan kami lebih banyak kesempatan untuk bertemu dengan mereka.

Pukul 5 sore, kami berada di lobby hotel. Kami menunggu mereka tiba. Aku tidak tahu bagaimana perasaan teman-teman yang lain, tapi saat ini jantungku berdebar sangat kencang. Tapi sepertinya perasaan merekapun tidak berbeda jauh denganku. Kulihat Dian mulai menggigit-gigit kukunya, Gista tidak bisa duduk diam, Nui menggoyang-goyangkan kakinya, sedangkan Nita dia terus melihat jam tangannya.

Tak lama kemudian serombongan orang datang membawa koper dan diikuti orang-orang berseragam di belakang mereka. Aku tidak bisa melihat wajah mereka karena sebagian dari mereka menutup wajahnya dengan topi, masker, atau kacamata hitam.

Nui yang duduk disebelahku menggenggam tanganku erat.

“Wi… itu mereka…” ucapnya perlahan. Dia terpana melihat kesepuluh pria itu berjalan tepat dihadapannya.

“Leeteuk!” teriakku. Dia menoleh ke arahku lalu tersenyum. Senyum yang sama yang dia berikan padaku dulu. Tapi dia terus berjalan menjauhi kami.

“Apa dia lupa sama loe Wi?” Tanya Dian.

Aku hanya menggeleng. Aku kecewa, ternyata dia hanya manusia biasa. Ya, aku baru menyadarinya, dia bukan malaikat.

Kami memutuskan untuk kembali ke kamar. Keempat temanku sibuk bercerita tentang perasaan mereka barusan. Tapi aku sama sekali tidak bernafsu untuk mendengarnya. Aku jadi malas untuk menonton konser mereka nanti malam. Aku merebahkan tubuhku dan tertidur.

*

Nui membangunkanku, ternyata sudah pukul 6 sore. Konser dimulai pukul 7 malam. Tapi karena hotel kami dekat, kami tidak perlu khawatir akan terlambat. Toh, dalam tiket sudah no kursi. Jadi kami tidak perlu khawatir.

“Wi, cepetan! Nanti kita telat!” ucap Gista. Ternyata mereka semua sudah siap. Mereka mengenakan kaos biru safir yang sengaja Nui buat untuk konser mereka ini. Kata mereka, biru safir adalah warna Super Junior. Mau tak mau aku mengikuti mereka. Aku tidak mau aneh sendiri disana.

Kami sudah siap. Kami membawa stick light juga beberapa poster. Mereka terlihat sangat gembira karena akhirnya bisa bertemu dengan idola mereka.

Lautan berwarna biru safir terbentang di hadapan kami. Aku takjub dengan pemandangan itu.

“Inikah orang-orang yang selama ini selalu mengelu-elukan nama mereka? Inikah ELF itu? Benarkah hanya demi mereka semua malaikatku rela untuk tidak tidur?” berbagai macam pertanyaan berada di pikiranku sekarang.

Lampu sudah dimatikan, VCR mereka mulai diputar. Terdengar teriakan yang sangat keras saat satu persatu wajah para member muncul dalam video itu. Sampai video itu habis, dan akhirnya mereka muncul.

Aku tidak tahu lagu apa saja yang mereka bawakan. Tapi melihat penampilan mereka hari ini sekarang aku mengerti mengapa lautan biru ini tercipta. Mereka terlihat sangat menikmati konser ini. Sesekali mereka menyapa fans yang disambut dengan teriakan. Panggung kini sudah banjir dengan hadiah-hadiah. Aku rasa sudah tidak mungkin lagi bagi mereka untuk menari sekarang. Dan aku benar, mereka semua berkumpul dan memberikan penghormatan pada kami. Ternyata lagu tadi adalah lagu mereka yang terakhir.

Tiba-tiba salah satu member, kalau tidak salah namaya Siwon, maju ke depan dan berbicara dalam bahasa Inggris.

“My brother, Teukie Hyung, want to say something to one girl who met with him when she in Seoul for month ago. Yesterday Teukie hyung say to me that he saw her in hotel that we reserved. For Teukie hyung lost girl, if you were in here, please come to us.” Ucap Siwon. Aku mendengar teriakan dari kiri dan kanan ku. Ya, keempat temanku berteriak. Sementara penonton yang lain berbisik-bisik, menebak siapa kira-kira gadis yang dimaksud Siwon tadi.

Aku melihat Leeteuk berjalan menghampiri kami. Dia melihatku. Dia lalu berbisik-bisik pada Siwon.

“Dwi, please come here!” ucapnya. Aku mendongak. Dia menyebutkan namaku! Segera saja koor terdengar dari para ELF. Mereka memintaku untuk segera naik. Nui menggenggam tanganku, dia lalu menarikku untuk naik ke atas stage.

Suasana yang tadinya ribut segera saja menjadi sangat hening saat aku menginjakkan kaki ku diatas panggung itu. Nui meninggalkanku sendirian disana. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, aku tersenyum garing.

Leeteuk menghampiriku, senyum yang kukenali tidak lepas dari wajahnya. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“This is yours…” katanya suaranya bergaung ke seluruh ruangan. Dia memberikan kameraku, dia benar-benar menepati janjinya!

“Gamsahamnida…” ucapku. Sepertinya dia kaget mendengarku bisa berbicara bahasanya. Dia lalu mengeluarkan tawa khasnya yang sering kulihat di video. Dia lalu berbicara sesuatu lagi, tapi aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“I’m sorry, I’m not understand what are you saying.” Ucapku. Dia kelihatan kecewa. Dia lalu berlari lagi ke arah Siwon dan menariknya.

“Hyung said, please turn on your camera and check the picture.” Ucapnya. Aku menurutinya. Kunyalakan kameraku dan mengecek gambarnya. Masih ada foto-fotoku saat di Seoul waktu itu. Tapi ada beberapa foto baru, semua foto-foto itu berobjek hati.

“Apa maksudnya?” batinku.

Aku menatap Siwon, lalu Leetuk.

“So?” tanyaku singkat. Aku memang tidak suka berbasa-basi. Siwon lalu berbicara lagi pada Leeteuk. Dia terlihat malu. Tiba-tiba Siwon memanggil member yang lain, mereka segera menghampiri kami. Siwon lalu berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti.

“Love… oh baby my girl…” salah satu member yang kukenali bernama Eunhyuk tiba-tiba bernyanyi disusul oleh member-member yang lainnya.

“would you marry me…….

……I do….

…….. I do…..

…………. I do….

……… I do……

…… My Love” hanya kata-kata itulah yang terdengar. Leeteuk tertunduk malu di hadapanku. Aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba Nui sudah berada dibelakangku.

“Wi…. Leeteuk ngelamar loe…” bisiknya, suaranya bergetar. Aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

“Dwi ssi…. Would you marry me?” Tanya Leeteuk. Tidak, dia tidak memberiku cincin, atau berlutut di hadapanku. Dia berdiri tegap sambil memegang mic nya erat. Suaranya bergetar.

“I do, I do, I do, I do…” seluruh penonton kompak meneriakan itu. Ah, kepalaku pusing ini terlalu cepat untukku.

“Ehm…” ruangan kembali hening. Semua mata tertuju ke arahku. Semua temanku sduah naik keatas panggung. Mereka menggenggam tanganku erat memberikanku dukungan. Malaikatku berada di hadapanku di sertai adik-adiknya. Ini tidak seperti acara lamaran yang kubayangkan selama ini. Ini benar-benar kacau. Besok wajahku akan terpampang di internet. Membayangkan hal itu aku bergidik ngeri. Malaikatku masih menunggu jawabanku.

“ok.” Jawabku singkat. Tepuk tangan riuh terdengar. Gista, Nui, Dian, dan Nita memelukku erat. Begitu pula dengan malaikatku. Dia mendapat banjir pelukan dari adik-adiknya. Dia tertawa riang. Tawa yang berbeda, bukan yang selalu kulihat di dalam video. Malaikatku mendekatiku dan menggenggam tanganku erat. Lalu kami semua member hormat pada penonton.

*

Aku hanyalah seorang gadis tersesat yang ditolong oleh malaikat tanpa sayap. Dan hari ini aku berada di danau itu, tempat aku dan dia bersenang-senang dulu. Kami kembali untuk menciptakan kenangan baru disini.

***

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Mianhae part.2

“Hahaha… Hami, bagaimana bisa kau jadi kekasihnya?’ ucap Heechul. Hami, Young Woon, dan Heechul sedang makan bersama. Young Woon ingin berbagi kebahagiaan bersama sahabatnya itu. Hami hanya menunduk malu.

“Yah, sudahlah. Aura playboy ku memang tidak bisa ditolak!” ucap Young Woon, tawa khasnya terdengar. Hami mendelik. Young Woon kembali menuangkan soju kedalam gelasnya.

“Sonbae… jangan minum lagi…” ucap Hami. Dia mengambil botol soju yang dipegang Young Woon.

“Yah! Kita kan sedang merayakan kebersamaan kita chagi…” ucap Young Woon. Ia berusaha untuk mengambil kembali botol sojunya.

“Tidak.”  jawab Hami tegas. Dia tidak suka jika melihat Young Woon minum-minum seperti ini. Dia khawatir itu akan merusak tubuhnya kelak.

“Kalian tahu? Kalian itu seperti angel and demond. Benar-benar tidak cocok.” ucap Heechul.

Hami hanya tersenyum. Sifatnya dan Young Woon memang bertolak belakang. Young Woon sangat keras dan kadang-kadang brutal, sementara Hami dia lembut. Young Woon sering bicara seenaknya, sehingga sering membuat orang salah paham. Sementara Hami selalu berpikir dulu baru bicara, dia sangat menjaga perasaan orang lain. Mereka seperti air dan api.

“Karena itulah kami saling melengkapi…” ucap Young Woon seraya mengambil botol soju dari tangan Hami dan menuangkannya pada gelas Heechul. Heechul meneguk soju nya.

“Ckckck… Dasar pengantin baru!” ucapnya. Hami dan Young Woon tertawa melihat tingkahnya.

“Ya ampun!” ucap Hami tiba-tiba. Dia melihat jam tangannya dan panic. Dia melupakan sesuatu hari ini. Diliatnya ponselnya, sudah banyak sekali miscall. Dia lupa untuk mengubah profil ponselnya saat sekolah usai tadi.

“Ada apa?” tanya Young Woon.

“Aku lupa, hari ini adik sepupuku akan datang. Aigo.. Jam berapa ini? aku pulang sekarang ya Sonbae…” ucap Hami. Dia lalu bangkit seraya melangkah pergi, tapi Young Woon menahannya.

“Kuantar.” jawabnya singkat. Hami tersenyum. Young Woon memang keras, tapi dia lembut di dalam.

Hami berlari menuju kamarnya, dilihatnya seorang gadis sedang tertidur di depan pintu. Dia Park Hyo Hee, adik sepupunya. Dia akan tinggal bersamanya mulai hari ini. Dia memutuskan untuk ikut sekolah tari di Seoul.

“Hyo Hee-ah… Bangunlah…” ucap hami pelan. Dia menepuk pundak Hyo Hee lembut. Gadis itu membuka matanya.

“Onnie… Lama sekali… Aku menunggumu dari tadi…” ucapnya manja. Hyo Hee baru 18 tahun, makanya dia senang bermanja-manja pada kakak sepupunya itu.

“Mianhae…yasudahlah, ayo masuk dulu.” ucap Hami dia lalu mengambil kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu. Hyo hee melirik laki-laki yang berdiri di belakang onnie nya itu.

“Onnie, dia siapa?” bisik Hyo Hee. Hami hanya tersenyum.

“Hyo Hee, kenalkan dia Young Woon ssi, wakil kepala sekolah tempat ku mengajar.” jawab Hami.

“Ah, Park Hyo He imnida…” ucap Hyo Hee seraya membungkukkan badannya 90 derajat.

“Kim Young Woon imnida.” ucap Young Woon, dia sedikit membungkukan badannya.

“Chagi, aku pulang dulu.” lanjutnya.

“Ne… Hati-hati Sonbae…” ucap Hami. Young Woon menuruni tangga lalu masuk ke mobilnya. Dengan setia Hami melihatnya sampai mobil itu menghilang di tikungan. Mereka lalu masuk kedalam apartemen.

Hyo Hee terlihat bingung. Ada hubungan apa antara onnie nya dengan pria itu.

“Onnie, dia pacarmu?” tanya Hyo Hee.

“Simpanlah tasmu dulu..” ucap Hami.

“Onnie… Ayo ceritakan padaku…” tapi Hami hanya tersenyum misterius.

Tak terasa 1,5 tahun sudah berlalu. Hyo Hee sangat betah tinggal bersama onnie nya itu. Tapi dia tidak suka jika Young Woon datang. Hyo Hee merasa onnie nya itu tidak pantas untuk Young Woon. Young Woon terlalu keras dan tidak sopan. Terlalu seenaknya.

Tapi Hami terus menerus meyakinkannya jika Young Woon adalah pria baik. Selama onnie nya itu bahagia bersama pria itu, Hyo Hee tidak keberatan.

Hari ini hari ulang tahun Hami, Hyo Hee ingin memberikan surprise party saat Hami pulang nanti. Dia sudah berjanji akan pergi belanja bersama Kibum setelah selesai latihan.

Kibum adalah adik dari guru dancenya. Dia setahun lebih tua dari Hyo Hee. Mereka dekat karena Kibum sering membantu kakaknya di kelas. Dia anak yang pendiam, Hyo Hee lah yang pertama kali menyapanya.

“Hyo Hee-ah, apa kau sudah selesai?” tanya Kibum. Dia baru saja sampai di kelas Hyo Hee.

“Ne..” jawab Hyo Hee. Dia segera memasukkan barang-barangnya kedalam tas.

“Yah, mau pergi kemana kalian?” tanya Hyuk Jae, guru dance Hyo Hee sekaligus kakak Kibum.

“Aku mau mengantarnya berbelanja Hyung. Jadi aku pulang agak telat ya..” ucap Kibum.

“Aish… Kalian ini. Membuatku iri saja.” ucapnya seraya pergi meninggalkan mereka. Hyo Hee dan Kibum hanya tertawa melihat tingkahnya. Hyuk Jae sebenernya bisa dibilang keren, walaupun Hyo Hee tidak pernah mau mengakuinya. Dia pun sangat baik pada gadis-gadis. Bahkan banyak teman Hyo Hee yang ngefans padanya. Tapi anehnya sampai hari ini dia belum juga memiliki pacar.

“Apa malam ini Hami noona akan pulang cepat?” tanya Kibum. Mereka sedang memilih-milih kado untuk Hami. Hyo Hee menggeleng.

“Sepertinya dia akan merayakannya dengan pacarnya dulu.” jawab Hyo Hee.

“Oh… Berarti aku tidak bisa ikut surprise party nya ya?” tanya Kibum. Hyo Hee mengangkat sebelah alisnya, heran.

“Tentu saja. Ini hanya untuk wanita oppa…” ucap Hyo Hee seraya mencubit hidung Kibum.

‘auw…’

“Makanya jangan nakal!” ucap Hyo Hee cuek. Kibum mengelus-elus hidungnya. Hyo Hee hanya tertawa melihat tingkahnya. Kibum yang dulu kelihatan dingin, sekarang mulai menghangat. Mereka lalu melanjutkan berbelanja.

Tak butuh waktu lama tangan mereka sudah membawa banyak barang belanjaan. dari kue tart, kado, sampai balon.

Kibum mengantar Hyo Hee sampai ke apartemennya dan membantunya mempersiapkan surprise party untuk kakaknya itu.

“Ah, sudah malam. Sebaiknya aku pulang sekarang.” ucap Kibum. Dia berjalan menuju pintu dan memakai sepatunya.

“Ne… Hati-hati oppa…’ ucap Hyo hee.

Hyo Hee lalu menunggu kakaknya seraya menonton tv. Diluar hujan turun sangat deras.

“Ah… Semoga Young Woon ssi mengantarkan onnie seperti biasa…” harapnya dalam hati.

Hyo Hee tertidur di depan tv. Dia terbangun gara-gara ada yang mengetuk pintu apartemennya. Dilihatnya jam di dinding, pukul 12 tepat.

“Itu pasti onnie.” Pikirnya. Dia lalu berlari membukanya.

“Onnie?!” Hyo Hee kaget karena Hami basah kuyup.

“Mana Young Woon ssi?” tanyanya. Hyo Hee mencari sosok pria itu, tapi dia tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba hami memeluknya dan menangis.

Hyo Hee kaget, tapi dia membiarkan onnie nya terus memeluknya.

“Onnie… Gwencana?” tanyanya lembut. Tapi Hami terus menangis. Hyo hee mengelus-elus punggung Hami, berharap itu akan menghapus kesedihannya.

Hyo Hee memapah onnie nya itu menuju ruang tengah. Air dari bajunya membasahi lantai. Tapi Hyo Hee tidak peduli. Onnie nya lebih penting.

“Kubuatkan teh ya?” ucap Hyo Hee. Ia berlari ke dapur dan membuatkan teh untuk Hami. Ia lalu mengambil handuk untuk mengeringkan baju Hami.

Hami masih menangis. Dia sama sekali tidak menyentuh tehnya. Hyo Hee kembali menghampirinya.

“Onnie… Ada apa?” tanyanya lagi.

“Young Woon sonbae… Dia… Dia tidak membutuhkanku lagi…” ucapnya terbata-bata. Dia kembali menangis keras. Hyo Hee segera memeluknya.

Semalam Hami sama sekali belum bercerita apapun pada Hyo Hee. Dia benar-benar bingung, apa yang membuat onnie nya itu sampai terpuruk seperti itu?

“Onnie, aku berangkat ya…” ucap Hyo Hee. Tapi tidak ada jawaban.

“Onnie…?” Hyo Hee masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya Hami masih meringkuk dalam selimutnya.

“Onnie tidak mengajar?” tanyanya. Tapi tetap tidak ada jawaban.

“Onnie…?” Hyo Hee menarik selimutnya. Didapatinya Hami sedang menggigil. Hyo Hee meraba keningnya. Badannya sangat panas. Hyo Hee meletakkan tasnya. Dia mencari ponselnya di saku celana dan segera menelpon seseorang.

“Halo, oppa? Ini aku. Ne… Onnie ku sakit. Aku tidak bisa latihan hari ini. Ne… Gamsahamnida…” ucapnya.

Dia lalu mencari ponsel Hami, membuka phonebooknya dan mencari 1 nama. Tidak, bukan Young Woon yang dicarinya. Tapi Park Jung Soo, sang kepala sekolah.

“Annyeong haesseyo… Aku Park Hyo Hee, sepupu Hami onnie. Begini Sonsaengnim, onnie sakit. Dia demam tinggi. Jadi hari ini tidak bisa mengajar. Ne? Ah, gamsahamnida…” ucapnya lalu menutup telepon.

Hyo hee meletakkan ponsel-ponsel itu dan berlari menuju dapur. Dia mengambil baskom dan mengisinya dengan air. Dia kembali kedalam kamar dan menompres hami.

“Onnie… Kenapa bisa seperti ini?” tanyanya.

Hami masih tertidur, demamnya sudah mulai menurun. Hyo Hee memutuskan untuk membuatkan bubur untuknya.

Pintu kamar terbuka.

“Onnie sudah bangun?” tanya Hyo Hee dari dalam dapur. Hami mengangguk pelan. Kepalanya masih sangat berat gara-gara kehujanan semalam. Hami lalu duduk di depan tv.

“Onnie makan ya? Aku sudah menyiapkan bubur untukmu.” ucap Hyo Hee. Dia segera manruh buburnya ke dalam mangkuk. Dia membawanya ke hadapan Hami, tapi Hami tidak terlihat akan menyentuhnya. Akhirnya Hyo Hee menyuapinya.

Hyo Hee sebenarnya sangat ingin bertanya apa yang terjadi semalam. Tapi melihat keadaan onnienya yang masih lemah Hyo Hee tidak tega.

“Habis ini Onnie minum obat lalu tidur ya. Aku sudah memintakan izin pada Jung Soo sonsaengnim.’ ucap Hyo Hee. Dia terus menyuapi Hami.

“Ne… Gomawo…” ucap hami pelan. Tiba-tiba air matanya menetes lagi. Dia ingat Young Woon.

“Onnie, apa ada yang sakit?” tanya Hyo Hee khawatir. Rasa sakit yang Hami rasa bukanlah di raga nya, tapi di hatinya.

Pagi itu Hami merasa sangat gembira. Hari ini dia merayakan ulang tahunnya yang ke 23. Dan yang membuatnya tersenyum adalah dia akan merayakannya bersama kekasih hatinya, Kim Young Woon.

Sonbae… Hari ini tidak sibukkan? Kita makan di tempat biasa ya?

Tulis Hami, dia lalu mengirimkan pesan singkat itu pada Young Woon.

Tak lama sudah ada balasan untuknya.

Sudah kubilang kan aku sibuk.

Sebentar saja apa tidak bisa?

Balas Hami.

Lihat nanti.

Itu balasan terakhir dari Young Woon.

Hari itu Hami sama sekali tidak melihat Young Woon disekolah. Diapun tidak berani bertanya pada Jung Soo, karena ia tahu biasanya Young Woon ada tugas keluar jika tidak ada disekolah.

Sepanjang hari Hami menerima ucapan selamat dari teman-teman dan murid-muridnya. Tapi tidak dari Young Woon.

“Kemana dia?” tanya Hami cemas. Dia melihat ponselnya, berharap ada pesan dari pria itu. Tapi tidak ada. Akhirnya Hami memutuskan untuk mengrimkan pesan padanya.

Sonbae, dimana?

Tak lama poselnya bordering. Pesan dari Young Woon.

Bisakah kau tidak menggangguku saat ini?

Itu balasan yang dia dapat.

Maaf…

Balas hami cepat. Dia tidak ingin memicu pertengkaran lagi. Mereka baru saja baikan 2 hari yang lalu setelah bertengkar hebat. Itupun karena Hami yang mengalah dan meminta maaf lebih dulu.

Sampai sekolah usai Young Woon belum menampakkan batang hidungnya. Hami berusaha untuk berpikir positif.

“Mungkin dia sedang membuat pesta kejutan untukku.” pikirnya. Membayangkan kejutan seperti apa yang akan dia dapat, Hami tersenyum kembali.

Hami berjalan sendiri menuju restoran favorit mereka. Berharap Young Woon akan datang dan memberinya sebuket mawar putih, bunga kesukaanya.

1 jam, 2 jam dia menunggu, tapi pria itu tidak juga muncul. Hami tetap bersabar, sampai restoran itu tutup, Young Woon tidak juga muncul. Akhirnya hami menyerah dan memutuskan untuk pulang.

Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras.

“Aish… Kenapa harus hujan sih?” keluh hami. Dia menutupi kepalanya dengan tas dan berlari menuju pertokoan untuk berteduh.

Hami sedang menunggu hujan berhenti saat matanya menangkap seseorang yang dia kenal dalam toko itu. Mereka sedang berbelanja. Hami masuk ke dalam untuk memastikan penglihatannya.

Dia berjalan tanpa suara sampai ke belakang pasangan itu. Mereka tidak menyadari keberadaan Hami disana. Heechul benar, hami bisa menghilangkan hawa keberadaan dirinya.

“Chagi, apa menurutmu ini bagus?” tanya si wanita. Si pria seperti berpikir.

“Ehm… Sepertinya apapun yang kau pakai pasti bagus.” ucap sang pria. Sang wanita tersenyum senang. Dia lalu mengecup pipi si pria. Si pria tertawa senang dan merangkul wanitanya menuju kasir untuk membayar baju yang sudah dipilih itu.

Hami mematung di tempatnya. Dia tidak bisa bergerak.

“Ini mimpi kan?” ucapnya dalam hati.

“Ini mimpi,ini mimpi.” Hami memejamkan matanya, berharap saat ia membuka matanya semua yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi belaka.

“Hami ssi?” Hami membuka matanya. Young Woon berada di hadapannya. Tangannya masih merangkul perempuan itu.

“Dia siapa chagi?” tanya perempuan disampingnya.

“Ah, dia guru konseling di sekolahku.” jawab Young Woon.

“Apa kau sendirian?” tanyanya lagi. Hami terdiam.

“Kalau begitu kami duluan.” ucapnya. Dia lalu pergi meninggalkan Hami yang masih shock dengan kejadian yang menimpanya.

Sonbae, apa kau masih marah padaku?

Untuk apa aku marah padamu?

Lalu apa maksudnya ini? Berapa kali aku harus minta maaf agar kau memaafkanku?

Tidak perlu repot2. Kau sudah tidak usah meminta maaf lagi dariku. lebih baik kita berpisah. Mereka benar, kita memang tidak cocok.

Baik, jika itu yang kau mau.

Hyo Hee terus memeluk onnienya. Bajunya basah karena air mata Hami. Dia sudah mengira ini akan terjadi cepat atau lambat. Beberapa kali Hyo Hee melihat Young Woon memukul Hami saat mereka bertengkar. Tapi selalu Hami yang meminta maaf.

Berkali-kali pula Hyo Hee melihat Hami menangis atas kelakuan Young Woon yang keterlaluan. Tapi Hami tetap sabar. Hyo Hee akui Young Woon sangat perhatian jika sedang baik. Tapi begitu dia emosi atau stress, dia tidak bisa mengontrol dirinya. Main perempuan adalah hobinya jika sedang stres.

Jujur Hyo Hee senang onnienya itu sudah lepas dari pria itu. Tapi melihat onnienya seperti ini dia tidak tega juga.

-to be continued-

 
Leave a comment

Posted by on July 16, 2010 in fanfiction

 

Mianhae part.1

Hami-ah, annyeong…

Aku ingin mengungkapkan penyesalanku. Aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi diantara kita. Itu semua memang salahku. Saat itu egoku masih tinggi.

Mungkin sulit bagimu untuk memaafkanku.Aku tahu, kamu masih sakit atas semua perlakuanku dulu yang sangat kejam terhadapmu. Aku benar-benar minta maaf.

akhirnya aku sadar, aku bukan apa-apa tanpamu. Aku salah, maafkan aku.

Aku berharap aku bisa menebus semua kesalahanku dan kau bisa kembali ke sisiku.

Hami menatap layar monitor komputernya. Dia membanca e-mail itu berkali-kali. Air matanya terjatuh tanpa dia perintahkan. Kejadian setahun yang lalu kembali muncul dalam ingatannya. Kenangan pahit yang sudah ia kubur dalam-dalam.

Hami merapikan bajunya. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Dia ingin segalanya sempurna. Kesan pertama memang penting bukan?

Hami mematut-matutkan dirinya di depan cermin. Sepatunya sudah mengkilap, blazernya pun sudah sangat rapi. Celana panjang dan rambutnya sangat sempurna. Hami tersenyum, dia mengambil tasnya dan segera pergi.

Sekolah tempat dia bekerja bukanlah sekolah biasa. Sekolah itu merupakan sekolah swasta yang didirikan oleh seorang pengusaha. Muridnya pun hanya sedikit. Hanya ada 4 tingkat di sekolah tersebut. Masing-masing tingkatan hanya terdapat 50 murid yang dibagi menjadi 2 kelas. Sekolah ini mengajarkan murid-muridnya untuk terampil bersosialisasi dengan masyarakat dan siap menghadapi kehidupan.

Hami diterima sebagai guru pengganti, karena guru sebelumnya sedang cuti hamil. Dia akan mengajarkan, lebih tepatnya dia akan menjadi tempat berkeluh kesah para murid. Ya, dia akan menjadi guru konseling di sekolah itu.

Hami melangkahkan kaki menuju ruang kepala sekolah. Jantungnya berdegup kencang. Akhirnya dia sampai didepan pintu kayu yang sangat besar. Dia lalu mengetuk pintu itu.

“Masuklah.” ucap suara dari dalam. Hami membuka pintu itu perlahan. Seorang pria,duduk disebuah kursi di belakang meja besar. Plakat bertuliskan Park Jung Soo tersimpan diatas mejanya. Pria itu mengenakan setelan putih serta dasi kupu-kupu berwarna putih tersemat di lehernya. Hami memprediksi bahwa usia mereka tidak jauh berebeda. Mungkin usianya baru 27 atau 28 tahun.

“Annyeong haesseyo, joneun Jung Hami imnida. Saya guru konseling pengganti.” ucap Hami memperkenalkan diri.

“Ne… Aku sudah dengar tentangmu. Mari kita ke aula. Aku akan memperkenalkanmu pada seluruh murid.” ucap kepala sekolah. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dia mempersilakan Hami untuk keluar lebih dulu, lalu mereka berjalan menuju aula yang terpisah dari gedung utama.

Semua murid sudah berkumpul dan berbaris rapi. Kepala sekolah segera naik keatas panggung diikuti hami.

“Annyeong haesseyo… Hari ini aku mengumpulkan kalian disini untuk memperkenalkan guru yang akan menggantikan Kim Sanghun sonsaengnim untuk sementara. Ku harap kalian bisa bekerjasama.” ucap kepala sekolah. Dia lalu mempersilakan Hami untuk berbicara.

“Annyeong haesseyo…” ucapnya.

“Aku harap kalian tidak sungkan padaku. Ungkapkan apa yang ingin kalian ungkapkan. Semoga kita bisa bekerjasama.” ucapnya lalu membungkuk diikuti tepukan dari seluruh murid dan guru.

Kepala sekolah lalu berjalan meninggalkan aula diikuti oleh guru-guru lainnya. Mereka berjalan menuju ruang rapat. Kepala sekolah akan memperkenalkan guru baru itu kepada senior-senior nya.

“Ya, silakan duduk.” ucap kepala sekolah. Merekapun duduk di tempat masing-masing. Hanya  ada 20 orang guru dan staf disekolah itu. Dan rata-rata umur mereka baru 20an.

“Mungkin tadi kalian sudah tahu kita kedatangan satu anggota keluarga baru. Walaupun hanya sementara tapi kuharap kita semua bisa bekerja sama. Seperti yang telah kalian dengar, nona ini bernama Jung Hami. Dia baru saja menyelesaikan studinya. Jadi aku minta kalian membimbingnya.” ucap kepala sekolah. Hami bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badannya penuh hormat kepada senior-seniornya.

“Jangan terlalu formal pada kami, umur kita tidak berbeda jauh. Disini Jung Soo hyung lah yang paling tua. Dan usianya baru 29. Karena kau magnae disini, kau boleh memanggil kami onnie dan oppa.” ucap laki-laki yang duduk disebelahnya. Pria itu memiliki kulit seputih susu, rambutnya yang hitam membingkai wajahnya. Ia mengenakan kemeja putih yang ia tumpuk dengan vest berwarna abu-abu dan hitam. Yang akhirnya Hami kenali dengan nama Kim Heechul.

“Ne… Sonbaenim.” jawab Hami polos

*

Tidak terasa sudah 6 bulan Hami bekerja disekolah itu. Dia akhirnya diangkat jadi guru tetap disana, karena guru yang lama mengundurkan diri. Hami merasa sangat senang bekerja disana. Senior-seniornya benar-benar baik padanya. Mungkin karena umurnya yang paling muda dia merasa menjadi adik bagi mereka semua. Atau mungkin karena dia selalu mendengarkan keluhan dan cerita senior-seniornya itu. Hami tidak tahu pasti, yang jelas dia sangat sayang pada senior-seniornya juga murid-muridnya.

“Hami ssi, apa kau sudah makan siang?” tanya Kim Young Woon, dia adalah wakil kepala sekolah dan mengajarkan kepemimpinan.

“Belum.” jawab hami.

“Bagaimana jika kita makan bersama?” ajaknya. Hami mengangguk seraya tersenyum. Selama dia bekerja disini, Young Woon lah yang selalu membantunya. Young Woon sangat periang dan selalu membuat Hami tertawa. Dia juga sangat perhatian padanya. Hami merasa dia mempunyai seorang kakak yang selama ini dia dambakan.

“Pesanlah, aku yang bayar.” ucap Young Woon seraya menyodorkan daftar menu pada Hami.

“Jinca? Haha, gomawo…” ucap Hami seraya tersenyum. Dia memang paling senang ditraktir makan seperti ini. Young Woon hanya tertawa melihat gadis di depannya itu kelihatan begitu girang.

Tak lama kemudian pesanan mereka sampai, tanpa ragu Hami segera melahapnya. Di depan Young Woon dia tidak pernah merasa malu. Dia selalu menjadi dirinya sendiri.

saat sedang asyik menyantap makanan terdengar sedikit keributan di meja sebelah. Ternyata sepasang kekasih sedang bertengkar. Si pria terlihat terus membujuk wanitanya agar memesan makanan. Tapi si wanita terus saja menggeleng, dia terlihat kesal. Tanpa sadar Hami dan Young Woon memperhatikan mereka.

“Aish, pria itu tidak tahu bagaimana caranya menaklukan wanita!” ucap Young Woon setengah berbisik.

“Harusnya gimana?” tanya hami polos.

“Harusnya pria itu bilang, pesen aja aku yang bayar.” ucap Young Woon, dia memeragakan bagaimana dia menyodorkan menu pada Hami barusan. Muka hami memerah. Tapi hami segera menyingkirkan pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya. Dia yakin Young Woon hanya menganggapnya adik.

*

“Kami duluan ya…” ucap guru-guru yang lain.

“Ne… Hati-hati sonbaenim…’ jawab Hami. Dia masih sibuk dengan komputernya. Tinggal dirinya dan Young Woon yang berada di ruang guru. Tak lama kemudian Hami mematikan komputernya, lalu membereskan barang-barangnya. Dilihatnya Young Woon masih asyik dengan pekerjaannya.

“Sonbaenim, aku duluan.” ucap Hami. Young Woon menatapnya sebentar seraya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hami melangkah keluar ruangan. Ruang guru berada di lantai 3 gedung itu. Jadi Hami harus menuruni anak tangga yang lumayan banyak untuk pulang. Lampu gedung sekolah sudah dimatikan. Hanya beberapa saja yang masih menyala. Hami berjalan santai, karena dia sudah sering berjalan dalam kegelapan seperti ini.

Satu persatu anak tangga berhasil dia lewati dengan mudah. Namun tiba-tiba saja kakinya terantuk sesuatu dan dia terjatuh.

“A..aahh…” hami mencoba untuk bangkit, tapi tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Sepertinya kakinya keseleo. Hami membuka tasnya dan mencari-cari ponselnya dengan panik. Hanya Young Woon yang ada dalam pikirannya saat ini.

“Sonbaenim… Bisa tolong aku? Aku terjatuh di tangga lantai 2. Aku tidak bisa menggerakkan badanku..” ucapnya seraya menahan sakit. Rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tak lama Young Woon datang. Nafasnya tersengal-sengal, pertanda dia berlari untuk sampai kesana.

“Gwencana?” tanya nya seraya melihat keadaan Hami. Tapi Hami hanya menangis, dia tidak tahan dengan sakitnya.

“Baiklah, kita ke klinik ya? Kau bisa berdiri?” tanya Young Woon lagi. Hami menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja Young Woon membopongnya dan membawanya menuju mobil. Jantung Hami berdegup kencang. Baru kali ini dia diperhatikan oleh seorang pria sampai seperti ini.

“Tidak apa-apa, hanya keseleo.” ucap dokter. Suster lalu membalut kakinya.

“Tapi ini butuh istirahat sampai beberapa hari.” ucap dokter lagi. Dokter itu lalu menuliskan surat ijin untuk diri Hami.

“Ne, gamsahamnida…” ucap hami. Setelah suster selesai membalut kakinya, Young Woon segera membopongnya kembali ke dalam mobil.

“Kalian benar2-benar pasangan yang romantis.” sahut dokter. Muka Hami bersemu merah. Young Woon hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari klinik.

*

“Kau tinggal disini?” tanya Young Woon. Saat sampai di apartemen Hami. Apartemen hami sederhana tapi sangat bersih dan nyaman. Hami tinggal di lantai 2 gedung ini.

“Ne… Baiklah Sonbaenim, sampai disini saja. Gamsa…” ucapnya. Hami membuka pintu mobil dan keluar dengan susah payah. Young Woon mengkutinya. Dia khawatir pada dongsaeng kesayangannya itu.

“Bagaimana caranya kau naik kesana?” tanya Young Woon. Hami nyengir. Dia lalu melompat-lompat.

“Seperti ini.” ucapnya. Young Woon menggelengkan kepalanya.

“Hh… Sudah-sudah, naik ke punggungku!” perintahnya. Di lalu berjongkok di hadapan Hami.

“Sonbae…” ucap Hami ragu.

“Ayo cepat naik!” perintahnya lagi. Dengan ragu Hami menurut perintah seniornya itu. Hami melingkarkan tangannya pada leher Young Woon. Dan selangkah demi selangkah Young Woon membawanya menuju kamarnya.

“Haaah…haah… Kau berat juga Hami-ah…” ucap youngwoon ketika mereka telah sampai di depan pintu apartemennya. Nafasnya tersengal-sengal, dia bertumpu pada lututnya.

“Kan sudah kubilang tidak usah…” ucap “ami. Dia lalu membuka pintu apartemennya.

“Sonbae mau masuk dulu? Kubuatkan minum.” ucap Hami lagi. Dia lalu melompat ke dalam apartemennya.

Apartemen itu tidak terlalu luas. Hanya ada satu kamar di dalam. Dapur, kamar mandi, dan ruang tengah.

Youngwoon melepas sepatunya. Dia lalu duduk di ruang tengah. Hami membuatkan minum untuknya.

“Sonbae… Ini minuman mu…!” ucap Hami dari dapur. Young Woon lalu menghampirinya.

“Mianhae, aku tidak bisa membawanya sambil melompat.” ucap Hami. Young Woon hanya tersenyum. Dia lalu membawa gelas-gelas itu ke ruang tengah. Hami mengikutinya dari belakang sambil melompat.

Tidak ada kursi di rumah itu. Hami agak kesulitan untuk duduk. Young Woon lalu membantunya.

“Aish… Bagaimana caranya kau bisa hidup jika kutinggalkan kau sendiri disini?” tanya Young Woon lebih pada dirinya sendiri. Hami tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri.” ucap Hami. Tapi Young Woon tetap saja merasa khawatir. Dia meminum tehnya dengan lahap sambil berpikir.

“Baiklah, aku panggilkan Ji Eun agar menemanimu disini ya?” ucapnya lagi.

“Tidak usah…” tolak Hami halus. Dia menatap laki-laki dihadapannya lembut. Young Woon mengalah.

“Baiklah. Tapi jika ada apa-apa segera telpon aku, arraesso?” ucapnya. Hami mengangguk seraya tersenyum. Dia tidak mengira jika Young Woon bias khawatir sampai seperti ini.

Setelah membereskan kasur untuk Hami, Young Woon pamit pulang. Hati hami berbunga-bunga. Terselip perasaan lain di hatinya selain hanya menganggapnya kakak. Tapi Hami segera menepis pikiran itu jauh-jauh.

“Sonbae memang baik pada semua orang.” Batinnya.

*

“Hahaha… Aku tidak percaya seorang Jung Hami bisa terjatuh!” ucap heechul. Guru kesenian ini memang sangat dekat dengannya, selain Young Woon tentunya.

“Itukah ucapan pada orang yang terkena musibah?” tanya Hami sinis. Heechul tertawa lagi. Dia membawa sepanci ramyun dari dapur.

“Aku hanya tidak menyangka saja, seorang seperti dirimu yang sangat anggun bisa terjatuh dari tangga.” ucapnya lagi.

“Malam itu gelap Sonbae…” ucapnya lagi. Tapi Heechul tetap tertawa.

“Kalau kau datang kesini hanya untuk menertawakanku lebih baik tidak usah datang.” ucap hami dingin. Wajahnya dia tekuk.

“Aigo… Kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu? Jelek tau!” ucap Heechul lagi. Hami tidak bergeming, dia tetap menekuk wajahnya.

‘”Yasudah, yasudah aku tidak akan tertawa lagi. Ini makanlah.” ucap Heechul. Merekapun menghabiskan ramyun itu dengan gembira.

Hami sangat senang bisa dekat dengan sonbaenya yang satu ini. Dia selalu membuat hami tertawa dengan tingkahnya. Ada saja ulahnya yang kadang-kadang tidak masuk akal. Heechul sebenarnya anak dari keluarga berkecukupan. Tapi dia ingin hidup mandiri dan akhirnya merantau ke Seoul dan tidak pernah meminta bantuan dari orang tuanya sampai hari ini. Pernah sekali waktu, saat akhir bulan dan uangnya benar-bebar habis, dia hanya makan nasi dan air gula. Dan yang Hami tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa dia mencampurkan nasi, air, dan gula lalu memakannya dengan lahap?

“Kau memang pandai membuat ramyun, Sonbae!’ puji Hami. Dia mengacungkan kedua jempolnya pada Heechul. Heechul tersenyum puas. Dia lalu membereskan bekas makan mereka.

“Berapa hari kau ijin?” tanyanya dari dapur.

“Sepertinya satu minggu. Tapi begitu aku sudah bisa berjalan lagi, aku akan segera masuk. Aku rindu anak-anak.” ucap nya. Heechul mengelap tangannya dan kembali duduk dihadapan Hami.

“Benarkah yang kau rindukan anak-anak?” tanya Heechul misterius.

*

“Sonsaengnim… Ha… Aku rindu sekali…” ucap Yoona, salah satu muridnya yang masih di tingkat 1. Dia segera memeluk gurunya itu. Hami tersenyum. Dia merasa senang di sambut seperti ini oleh muridnya setelah selama seminggu harus beristirahat karena kakinya itu.

Gadis itu lalu membantunya berjalan menuju ruang guru. Kakinya memang sudah bisa digunakan berjalan, tapi belum sembuh benar. Dia datang ke sekolah pun tidak menggunakan high heels seperti biasa. Kakinya belum kuat. Jadi selama beberapa hari ke depan dia hanya menggunakan flat shoes sebagai alas kakinya.

“Sonsaeng tahu, kami seperti kehilangan orang tua saat Sonsaeng tidak masuk.” ucap gadis itu lagi. Dia mendudukan Hami di kursinya di ruang guru.

“Bagaimana bisa?” tanya Hami bingung.

“Kami sudah menganggap Sonsaeng sebagai ibu kami dan Young Woon sonsaeng sebagai ayah kami.” ucap gadis itu lagi. Hami tersenyum.

“Waktu Sonsaeng tidak masuk Young Woon sonsaeng malah ikut-ikutan tidak masuk.” lanjut Yoona. Hami semakin bingung.

“Apa Sonsaeng tidak tahu sehari setelah Sonsaeng jatuh dari tangga Young Woon sonsaengpun mengalami kecelakaan?” tanya Yoona. Hami menggeleng, jantungnya berdegup kencang.

“Kecelakaan? Kecelakaan apa?” tanya Hami.

“Dia jatuh dari motor Heechul sonsaeng. Mereka pulang bersama malam itu. Young Woon sonsaeng yang membawa motornya. Lalu mereka terjatuh.”

“Lalu bagaimana keadaan mereka?” tanya Hami khawatir.

“Heechul sonsaeng sih tidak apa-apa. Tapi Young Woon songsaeng lumayan parah. Dia dirawat di rumah sakit sekarang.” ucap Yoona. Tak lama bel masuk terdengar.

“Sonsaeng, aku masuk kelas dulu ya.” pamitnya. Gadis itu lalu berlari meninggalkan Hami yang masih shock dengan apa yang diceritakan oleh gadis itu barusan.

“Yah..yah..” Young Woon menggerak-gerakan tangannya di depan Hami. Gadis itu tersadar dari lamunannya.

“Sonbae? Sonbae tidak apa-apa?’ tanyanya. Dia memeriksa Young Woon dari atas sampai bawah.

“Tentu saja. Aku ini kuat. Cuma segitu sih tidak masalah.” jawab Young Woon.

“Kenapa tidak memberitahuku?” protes hami.

“Untuk apa? Kau juga sedang sakit, tidak ada yang bisa kau lakukan.” ucap Young Woon.

Hami tahu Young Woon benar, jadi dia tidak membalas kata-kata Young Woon tadi. Dia memalingkan mukanya dan segera fokus pada pekerjaannya. Melihat tidak ada yang akan dikatakan gadis itu lagi, Young Woon segera pergi.

*

“Kau kenapa?” tanya Young Woon. Hami menoleh. Dilihatnya laki-laki itu mendekatinya. Tapi dia tidak tertarik untuk bicara.

“Kakimu sepertinya sudah tidak apa-apa.’ ucap Young Woon lagi, karena sekarang Hami  sudah bisa berjalan bahkan naik ke atap tanpa bantuannya. Tapi Hami hanya diam.

“Sepertinya aku membuat kesalahan.” ucap Young Woon lagi. Tapi Hami tetap diam.

“Yah! Apa kau tidak bisa bicara? Kalau kau diam seperti ini terus aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan!” ucapnya lagi. Tapi gadis itu tetap dingin padanya. Beberapa hari ini Young Woon merasakan keanehan pada gadis itu. Dia tidak pernah lagi tersenyum padanya. Saat bicarapun dia tidak pernah menatap matanya.

“Kau ada masalah?” tanyanya lagi. Berusaha meredakan emosinya. Tapi gadis itu tetap diam.

“Aku diminta Jung Soo hyung untuk mengurusmu. Kau tanggung jawabku. Jangan bersikap seperti ini Hami-ah!’ ucapnya gusar. Hami tetap acuh. Dia tidak peduli lagi pada Young Woon. Bukankah Young Woon tidak membutuhkannya?

“Yah, lihat aku!” ucap Young Woon. Dia membalikan badan Hami. Hami menunduk dia tidak ingin melihat Young Woon saat ini.

“Yah, jangan menangis!” Hami mendelik. Tentu saja dia tidak menangis.

“Akhirnya kau menatapku juga.” ucap Young Woon.

“Aku minta maaf jika aku berbuat salah padamu.” lanjutnya.

“Tapi bicaralah, jika kau hanya diam seperti ini masalahnya tidak akan selesai.” ucapnya lagi. Tapi Hami masih diam.

“Ara,ara, jika kau tidak mau bicara aku yang akan bicara.” lanjutnya. Hami tidak merespon. Young Woon menarik nafas panjang.

“Hh… Apakah yang Heechul bilang itu benar? Kalau kau suka padaku?” tanya Young Woon. Hami mendelik lagi. Lama mereka terdiam.

“Apa itu benar? Jawablah Hami-ah… Aku malu..” ucap Young Woon lagi. Dia menunduk. Hami kembali membalikkan badannya.

“Hami-ah… Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanyanya lagi.

“Iya,iya,iya! Apa kau puas sekarang?” ucap hami tanpa menatap laki-laki itu. Dia lalu melangkah pergi. Belum sempat Hami menjauh, Young Woon segera menariknya ke dalam pelukannya.

“Nado saranghae…” bisiknya lembut.

-to be continued-

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

The Answer part.5

Setelah jumpa pers itu keadaan menjadi jauh lebih baik. Di telpon gadis itu bercerita banyak sekali mendapat hadiah dari orang-orang. Bahkan banyak yang menyapanya sekarang. Ketika dia bekerjapun semuanya ramah padanya. Sepertinya dia sangat gembira.

Belakangan ini jadwalku sangat padat. Aku belum sempat menengoknya kembali. Aku ingin bertemu…

Hei! Tidak, tidak, tidak, Lee Hyuk Jae… Jangan berpikiran yang aneh-aneh!

Aku sedang iseng online, mencari berita tentangku. Tiba-tiba aku menemukan foto kami yang sedang memangku gadis ke dalam mobil. Aku hanya tersenyum. ada bukti jika kami memang yang menyelamatkannya. Tapi isi beritanya ternyata lain. ternyata ada yang melihat kami saat tidak sengaja menabrak gadis itu!

“Hyukie, kau sudah membacanya?” tanya Donghae panik.

“Maksudmu ini?” tanyaku seraya menunjuk halaman di ponselku. Donghae mengangguk. Wajahnya memucat sekarang.

“Bagaimana ini?”

“Tenanglah. Everything is gonna be ok. Nia ssi pun tidak akan mengingat siapa yang menabraknya kan?” ucapku. Aku mencoba menenangkannya. Walaupun sebenarnya aku sama paniknya seperti dia.

“Yah! Kalian sudah baca?” tanya Teukie hyung yang tiba-tiba datang.

“Ne…” jawab kami kompak.

“Aish… Bagaimana bisa? Kau bilang tidak ada yang melihat kalian?” ucapnya. Jelas hyung sangat khawatir.

“Hyung… Kupikir ini tidak akan menjadi masalah. Nia ssi belum mengingat semuanya. Masyarakat pun akan berpikir, jika memang benar kita yang menabrak, bukankah kita sudah bertanggungjawab?”

“Ah… Ara,ara… Tapi aku sangat khawatir sekarang.”

Ya, aku berbohong. Aku sama khawatirnya seperti Donghae dan hyung. Tapi aku harus terus berpikir positif.

*

Media kembali heboh dengan kasus itu. ELF tetap membela kami, tapi sebagian yang lain menyayangkan kenapa kami harus berbohong seperti itu? Bahkan ada yang menuduh kami hanya ingin terlihat seperti dewa.

Member yang lain terus memberikan support padaku dan Donghae. Teukie hyung dibuat stress oleh ini. Dia kelihatan semakin kurus.

Ponselku berbunyi, dari Nia ssi.

“Ne? Baiklah aku kesana sekarang.” aku segera menuju mobilku. Gadis itu terjatuh dari tangga. Kepalanya terbentur. Sekarang dia di rumah sakit.

Aku berlari menuju kamarnya. Begitu kubuka pintunya dia masih terbaring, Kepalanya dibalut dan dia menangis.

“Nia ssi… Gwencana?” tanyaku. Aku benar-benar takut sekarang. Apa yang terjadi?

“Kenapa kau harus berbohong?” tanyanya tanpa menatapku, air matanya terus mengalir.

“Aku sudah ingat semuanya. Selama ini aku pikir kalian tulus. Ternyata hanya sebuah rasa tanggung jawab.” lanjutnya. Lututku terasa lemas. Aku terduduk.

“Mianhae.. Jeongmal mianhae…. Seharusnya dari awal aku memberitahu mu. Aku sungguh minta maaf…” aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain maaf padanya. Benar-benar tidak tahu…

*

Gadis itu menghubungi Seunghwan hyung dan meminta bantuannya untuk mengadakan konferensi pers. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Setelah dia mengusirku dari rumah sakit waktu itu, dia tidak pernah menghubungiku lagi.

Aku pun tahu hal ini dari Seunghwan hyung yang menelponku barusan. Hyung menyuruhku segera bersiap karena sebentar lagi jumpa pers akan dimulai.

Aku, Donghae, dan Teukie hyung datang bersama. Gadis itu sudah disana bersama Seunghwan hyung.

Kami masuk ke ruang konferensi. Seperti yang sudah-sudah, blitz kamera langsung menyerbu kami ketika kami masuk.

Seunghwan hyung bicara lebih dulu. Tumben sekali.

“Nia ssi akan menjelaskan kejadian malam itu. Jadi silakan teman pers sekalian menyimak. Dan maaf sekali, tidak ada sesi tanya jawab karena Nia ssi masih memerlukan banyak istirahat.” ucapnya.

“Silakan Nia ssi..’ lanjutnya.

Gadis itu memegang mic, dan dia mulai berbicara.

“Annyeong haesseyo… seperti yang sudah kalian ketahui namaku Nania, aku dari Indonesia. Aku baru tinggal beberapa bulan di Korea ketika kecelakaan itu terjadi. Malam itu aku baru selesai bekerja dan akan pulang ke apartemenku. Kecelakaan itu telah membuatku kehilangan ingatan untuk sementara waktu. Tapi ingatanku telah pulih kemarin.” dia berhenti. Gadis itu berbicara tanpa menatap kami. Tatapannya lurus ke depan, kepada wartawan. Berbeda dengan jumpa pers sebelumnya, dia terlihat sangat tenang dan berani. Tidak, tidak, dia sangat dingin. Apakah ini dirinya yang sebenarnya?

“Malam itu, ketika aku akan menyeberang jalan, datang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrakku. Aku sempat melihat mobil itu sebelum aku kehilangan kesadaran.” kami semua menahan nafas dengan kalimat yang akan dia keluarkan selanjutnya.

“Sebuah mobil besar berwarna hitam.” lanjutnya. Tunggu dulu, dia berbohong. Mobilku sedan berwarna silver. Bagaimana dia..? Apa maksudnya…??

“Kalian semua telah salah. Eunhyuk ssi dan Donghae ssi menemukanku dan membawaku ke rumah sakit. Bukan mereka yang menabrakku. Dalam jumpa pers ini aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku pada mereka yang telah mau menjaga ku selama ini. Juga mengucapkan selamat tinggal, karena aku akan kembali ke Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda semua.’ ucapnya. Dia pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan kami semua dalam kebingungan.

*

Sudah 2 tahun berlalu sejak itu. Eeteuk hyung dan Heechul hyung masuk wajib militer. Suju M kembali aktif di cina. Praktis Super Junior vakum di Korea. Kami masing-masing melakukan proyek solo setahun belakangan ini.

Hari ini aku mendapatkan cuti. Seminggu ke depan aku akan bebas dari pekerjaanku. Aku membawa mobilku menuju pantai. Pantai yang sama yang pernah kudatangi bersama gadis itu.

Aku kembali duduk di pasir itu. Tempat yang sama seperti dulu.

“Sudah kuduga kau ada disini.”

Aku menengok ke sumber suara. Ternyata gadis itu! Apa yang dia lakukan disini?

“Kapan kau datang?” tanyaku masih takjub dengan kedatangannya.

“2 hari yang lalu.” jawabnya santai. Dia duduk disampingku. Seperti waktu itu dia tidak menatapku, dia hanya memandang laut.

Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia kembali kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benakku, tapi aku sulit sekali untuk mengatakannya.

“Bagaimana kau tahu aku disini?” tanyaku lagi. Dia tersenyum.

“Aku menelpon Seunghwan ssi.” jawabnya.

“Kau masih sering berkomunikasi dengan Seunghwan hyung?” tanyaku.

“Ya… Kadang-kadang…” jawabnya dengan senyuman yang misterius. Aish… Aku paling tidak suka misteri!

Kami terdiam lama sekali. Sesekali angin menyapa kami. Apa dia memang sangat dingin seperti ini? Seperti terakhir kali aku bertemu dengannya, saat jumpa pers waktu itu.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” tanyaku.

“Silakan.” jawabnya.

“Kenapa kau melindungi kami waktu itu? Bukankah kau kecewa karena aku telah berbohong?” ucapku akhirnya. Lagi-lagi dia tersenyum. Dia memainkan rambutnya yang lurus.

“Bukankah aku pernah bilang padamu jika aku bertemu dengan pelakunya, aku akan mengucapkan terimakasih padanya? Itu caraku berterimakasih.” jawabnya.

Ah… Akhirnya aku mengerti. Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di benakku selama 2 tahun ini dijawab dengan begitu mudahnya? Aku benar-benar bodoh!

“Kau tidak berubah.” ucapnya.

“Masih saja polos.” lanjutnya. Dia tersenyum seraya menatapku. Aku tersipu malu.

“Nania ssi, setelah ini apakah kau akan tinggal di Seoul lagi?” tanyaku. Aku hanya ingin tahu apa aku punya kesempatan?

Dia menggeleng.

“Aku kesini hanya untuk menenangkan pikiran seseorang dan memastikan perasaanku.” ucapnya. Aku memeras otakku untuk mencerna kata-katanya barusan. Aish…. Apa lagi maksudnya??

“Apa pikiranmu sudah tenang sekarang?” tanyanya tiba-tiba.

“E..eh?? Aku? Jadi yang kau maksud itu aku?” tanyaku bingung. Dan lagi-lagi dia tersenyum,seolah mengejekku. Ok,ok aku benar-benar sedang dibodohi olehnya sekarang.

“Sudah kubilang, Seunghwan ssi dan aku kadang-kadang saling berkirim e-mail.” jawabnya. Ah… Aku mengerti sekarang, dia dan hyung sering berkomunikasi dan menceritakan tentang kami. Lalu sebenarnya sedekat apa hubungan mereka sekarang? Apa yang dia maksud memastikan perasaannya adalah terhadap hyung?

Kenapa banyak sekali misteri pada gadis ini?

“Lalu untuk memastikan perasaanmu?” aku sangat penasaran dengan gadis ini sekarang. “Belakangan ini aku sering bermimpi tentang seseorang. Apa kau tahu, jika berkali-kali memimpikan orang yang sama itu artinya dia juga sedang memikirkanmu?” tanyanya lagi.

“Eh? Benarkah? Apa beberapa hari ini kau memikirkanku? Karena aku terus bermimpi tentangmu.” jawabku spontan. Aish… Tidak seharusnya aku berkata seperti itu! Mukaku terasa sangat panas saat dia menatapku.

“Kau benar-benar polos. Karena itulah aku menyukaimu.” ucapnya. Dia menunduk malu. Mukanya benar-benar merah sekarang. Aku tidak salah dengar kan tadi? Tiba-tiba wajahku kembali terasa panas. Aish…

“Ah… Araesso…” ucapku. Aku merebahkan diri di pasir. Rasanya sangat nyaman. Aku bisa melihat punggungnya sekarang.

“Nania-ah… Mulai saat ini panggil aku yeobo! Karena aku akan ikut denganmu ke Indonesia dan meminta orang tuamu untuk memberikanmu padaku…!!!” ujarku padanya. Dia berbalik dan mencubitiku.

“Auw…auw… Yah! Hentikan!” dia berhenti.

“Jika aku tidak mau?” tanyanya, dia mengerling nakal.

“Aku akan mencium mu!” ucapku.

“Coba saja jika berani!” tantangnya. Dia berlari ke arah laut. Aku mengejarnya. Larinya lamban, aku berhasil menangkapnya. Aku memeluknya sangat erat.

“Nia-ah, saranghae…” ucapku akhirnya. Wajahku semakin dekat padanya. dan kuberikan kecupan hangat di bibirnya. Akhirnya aku mengerti kenapa aku selalu cemburu saat Donghae dan Teukie hyung bersamanya, mengapa aku selalu khawatir jika dia jauh dariku, mengapa aku selalu ingin melindunginya, mengapa aku selalu rindu padanya, mengapa aku selalu memikirkannya. Inilah jawaban semua itu, butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan jawaban ini. Dan aku tidak akan melepaskan jawaban itu sampai kapanpun.

***

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,