RSS

Monthly Archives: October 2010

Just My Little Brother?? part. 1

“oppa, bisakah kau menjemputku? Tidak bisa? Ne… Araesso.” aku menutup flip ponselku. Huh, lagi-lagi eunhyuk oppa tidak bisa datang menjemput. Pasti gara-gara kerjaannya lagi. Susah ya ternyata punya seorang namja chingu yang berbeda dunia dengan kita. Eunhyuk oppa seorang mahasiswa dan part time sebagai penyiar radio. Sedangkan aku, hanya seorang siswi SMA. Waktunya untuk ku sedikit sekali.

“ Aish~ benar-benar kesal!” batinku. Aku lalu menendang batu kerikil yang berserakan di jalan.

“auch!” seseorang berteriak. Aku mendongak. Di hadapanku berdiri seorang laki2 yang sedang mengusap-usap kepalanya. seragamnya sama denganku. Berarti dia satu sekolah denganku. Tapi aku tidak pernah melihatnya. Siapa dia?

“kenapa hanya diam?” tanyanya menyadarkanku.

“ah, mianhae. Gwenchana?” tanyaku.

“ne, tapi lain kali jangan menendang batu jika sedang kesal.” ucapnya. Dia masih mengusap-usap kepalanya. Sepertinya sakit sekali.

“ah, iya. Aku benar-benar minta maaf.” ucapku. Aku membungkukkan badan sedalam-dalamnya.

“sudah, sudah. Tidak usah berlebihan seperti itu.” ucapnya. Aku menegakkan badanku kembali.

“kim jonghyun imnida.” ucapnya. Seraya tersenyum.

“shin rara imnida.” jawabku.

“kau satu sekolah denganku kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“dimana kelasmu? Aku baru pindah hari ini.” tanyanya. Ah, pantas saja aku tidak pernah melihatnya.

“aku kelas 2-E.” dia terlihat agak terkejut mendengar jawabanku. Lalu menggaruk belakang kepalanya.

“ah, ternyata aku harus memanggilmu noona. Aku baru kelas 1.” jawabnya malu-malu.

“ahahaha, gwenchana. Aku tidak pernah memilih-milih teman.”  Jawabku sekenanya. Sebenarnya saat aku sedang kesal aku paling tidak suka sendirian. Mungkin dengan mengobrol dengannya bisa mengalihkan perhatianku dari rasa kesalku itu.

“Noona mau pulang?” tanyanya.

“Ne.” Jawabku seraya menganggukan kepalaku.

“Kau mau pulang juga?”

“Iya, tapi aku belum hapal jalan.” Ucapnya seraya memamerkan deretan giginya.

“Mau kuantar?” tawarku. Lagi-lagi dia tersenyum, saat dia melakukan itu seperti ada sinar dari matanya.

“Jika Noona tidak keberatan…” jawabnya malu. Aku tersenyum lalu menyeretnya menuju halte bis. Dan ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Hanya beda beberapa blok saja.

Kami akhirnya pulang bersama. Dia lalu mengantarku sampai depan rumah. Menurutnya dia tidak akan tersesat karena tinggal beberapa blok saja.

“Yakin kau tidak akan tersesat?”  ucapku menggodanya. Dia menggelengkan kepalanya dengan yakin.

“Tidak akan.” Jawabnya kemudian.

“Nah, noona, sampai besok ya. Jangan lupa, besok tunjukan seluruh sekolah padaku!” lanjutnya.

“ne, annyeong…” seruku seraya melambaikan tangan pada sosoknya yang semakin menjauh.

“aku berangkat!” ucapku. Pagi ini cerah, aku menutup mataku menikmati sinar mentari pagi dan menghirup udara sebanyak yang ku bisa. Haah…akan sangat  menyenangkan jika aku bisa pergi ke sekolah bersama eunhyuk oppa seperti saat aku duduk dikelas 1 dulu.

“noona~”

aku membuka mata, ternyata jonghyun. Dia melambaikan tangan dari luar pagar dengan senyuman lebar. Aku segera menghampirinya.

“annyeong.” sapaku.

“tidak apa-apakan jika kita berangkat bersama?” tanyanya.

“haha, tentu saja. Memangnya kenapa?”

“aku hanya tidak ingin setibanya di sekolah nanti aku dihajar oleh sonbae-sonbae karena berangkat sekolah bersamamu.” jawabnya.

“tenang saja, aku tidak seterkenal itu disekolah.”

“jinca?”

“ne, memangnya apa yang bisa kubanggakan dariku?”

“senyum mu sangat manis.” jawabnya langsung. Aku hanya tertawa mendengar pujiannya.

“noona.” aku menolehkan kepalaku dari buku biologi yang sedang berusaha kubaca. Ternyata Jonghyun sudah berada di ambang pintu kelas. Aku segera menghampirinya. Beberapa pasang mata melirik ku tajam saat aku menghampirinya, tapi aku tidak peduli.

“ne, ada apa jonghyun-ah?” tanyaku.

“setelah pulang sekolah, apa bisa menemaniku?”

“mh? Kemana?”

“aku hanya ingin berjalan-jalan keliling kota.”

“ah… Eksplorasi kota ini?”

“ne, mau ya noona?” pintanya.

“mian, aku tidak bisa pulang terlalu malam. Bagaimana jika hari minggu saja?” tawarku. Dia kelihatan berpikir.

“hm, baiklah! Aku akan menjemput noona hari minggu!” ujarnya riang.

“ne.” dia berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangannya padaku. Aigo~ lucunya.

“noona, jangan lupa hari ini antar aku keliling sekolah sebelum pulang…!” teriaknya. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Dia mengacungkan kedua jempolnya lalu berbalik pergi.

Bel baru saja berbunyi, aku sedang membereskan buku-bukuku ketika

“noona~” aku mendongak, jonghyun sudah menungguku dengan tasnya.

“pelajaranmu sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk.

“baiklah, kaja. Akan kutunjukan seluruh sekolah ini padamu! bagian mana yang ingin kau ketahui lebih dulu?” tanyaku.

“mmh… Dimana ruang musik?” tanyanya.

“ruang musik? Baiklah, ikuti aku.” jawabku. Kami lalu berjalan berdua. sekolah belum sepi, karena biasanya setelah sekolah usai akan ada latihan dari beberapa klub.

sepanjang jalan aku sibuk menjelaskan ini itu padanya. Dia tidak banyak berkomentar, hanya mengiyakan dan mengangguk.

“nah, ini dia ruang musik kami!” ujarku. Kami masuk ke dalam. Di dalam ada sebuah piano yang biasa digunakan untuk mengiringi anak-anak paduan suara latihan.

“wah…piano..!!” ujarnya riang. Dia segera duduk dan memainkan jari-jarinya diatas tuts piano.

You are so beatifull to me…

You are so beatifull to me…

Wah, ternyata suaranya lumayan juga. Kekeke~

Dia terus saja bernyanyi, aku hanya berdiri di samping piano menikmati nyanyiannya.

“Noona, kau bisa main piano?” tanyanya.

“Hm… sedikit.”

“Iringi aku bernyanyi ya.” Pintanya.

“Hm… baiklah…” jawabku. Aku mulai berlagak meregangkan jari dan tubuhku.

Aku mulai menekan tuts-tuts piano dan memainkan lagu A Thousand Miles milik Vanessa Carlton.

“Vaneesa Carlton?”

“Kau bisa?”

“Tentu saja.” Jawabnya. Akhirnya kami bernyanyi bersama. Lagu ini merupakan lagu favoritku. Dentingan pianonya sangat enak bukan?

Making my way downtown
Walking fast
Faces passed
And I’m home bound

Staring blankly ahead
Just making my way
Making my way
Through the crowd

And I need you
And I miss you
And now I wonder….

If I could fall
Into the sky
Do you think time
Would pass me by
‘Cause you know I’d walk
A thousand miles
If I could
Just see you
Tonight

Kami bertepuk tangan dengan gembira. Ternyata kami cocok juga.

“Noona, suaramu indah juga ya? Permainan piano mu juga lumayan. Kenapa kau masih suka merendahkan diri?” tanyanya polos. Aku hanya tersenyum.

“Hah, kau mau kutunjukan apa lagi?” tanyaku. Dia mencoba berpikir sejenak.

“Kantin, aku sudah tahu. Lapangan bola juga. Ah, bisakah kau tunjukan padaku ruangan klub sepak bola? Aku ingin sekali bergabung dengan mereka!” ucapnya kemudian.

“Tentu saja, kebetulan manajer klub itu adalah sahabatku. Ayo!” aku lalu berjalan keluar lebih dulu dari ruang musik, dia mengikutiku setelah menutup pintunya.

“Noona, chakammanyo…”

“Palliwa..” dia berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkahku.

“Kenapa sih noona terburu-buru seperti ini?” tanyanya heran.

“Klub sepak bola hari ini sedang ada latihan. Kau bisa melihat mereka sekalian.” Jawabku.

“Ah, arraesso.” Dia lalu mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkahku. Tak lama kemudian kamipun sampai di lapangan. Benar saja, anak-anak klub sepak bola memang sedang berlatih. Aku melihat Hee Gi sedang berdiri di pinggir lapangan, mencatat semua perkembangan dari latihan hari ini.

“Hee gi ya…” panggilku. Si empunya nama langsung menoleh dan melambaikan tangannya. Setengah berlari aku menghampirinya diikuti oleh Jonghyun di belakangku. Dia seperti anak bebek yang sedang mengikuti induknya! Hihihi…

“Hee Gi ya, aku membawakanmu anggota baru!” ujarku bersemangat.

“Nugu?” tanyanya. Aku lalu menarik lengan Jonghyun agar Hee Gi bisa melihatnya.

“Dia murid baru disekolah ini. Jonghyun, anak kelas 1.”

“Annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.”

“Choi Hee Gi imnida. Kau ingin masuk tim?” tanya Hee Gi.

“Ne. Aku sangat suka sepak bola.” Jawab Jonghyun dengan mata berbinar.

“Ehm, tunggulah sebentar.” Ucap Hee Gi. Dia lalu menghampiri Minho, sang kapten. Mereka bercakap-cakap sebentar. Sesekali aku melihat Minho melirik pada kami. Tak lama kemudian dia lalu menghampiri kami.

“Annyeong.” Sapanya dingin. Cih, kapan ya Choi Minho tidak berlagak seperti ini? Tapi ku akui jika memang dia punya aura kepemimpinan yang besar.

“Ah, annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.” Jawab Jonghyun.

“Ehm, Minho Imnida. Jadi kau ingin bergabung dengan tim kami?” tanya Minho langsung.

“Ne, Sonbaenim.”

“Baik, besok kau boleh langsung ikut latihan. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Latihan disini sangat berat. Dan jangan bermanja-manja pada noona mu ini.” Ucapnya seraya melirik ku dan tertatawa mengejek. Dia lalu kembali latihan bersama timnya.

“Kok kau bisa tahan sekali dengannya sih Hee Gi?” tanyaku sebal.

“Yah, aku kan sudah memilih untuk menjadi manajer klub, mau tidak mau aku memang harus bertahan.” Jawabnya diplomatis. Aku hanya mendengus sebal.

“Baiklah Jonghyun, besok jangan terlambat ya. Karena kapten kita sangat tidak suka anggota yang tidak disiplin.”

“Ne, araesso sonbaenim!” jawab Jonghyun. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya.” Pamitku.

“Kalian pulang bersama?” tanya Hee Gi keheranan.

“Ne, rumah kami tidak jauh. Hee Gi ya, annyeong…” aku lalu menarik lengan Jonghyun lagi dan segera pulang. Aku sangat yakin, dibelakang sana banyak mata yang menatap kami.

-tbc-

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on October 28, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Mianhae part.5

‘benarkah itu oppa?’ tanya hyo hee tak percaya. Dia, hyuk jae dan kibum masih mengobrol di studio.

‘tentu saja.’

‘wahahaha…! Oppa memang hebat! Kita berhasil!’

‘syukurlah hami noona sudah bisa tersenyum kembali.’ ucap kibum.

‘ne, akupun tidak menduga dia bisa menerimaku! pesonaku memang tidak bisa dilawan!’ ucap hyuk jae seraya tertawa.

‘jadi… Ini semua sudah diatur?’ serentak mereka menoleh ke sumber suara. Hami berdiri di ambang pintu. Matanya merah menahan air mata yang mulai menggenang.

‘cha…chagi?’

‘stop! Jangan panggil aku seperti itu lagi hyuk jae ssi.’ ucap hami dingin. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia tidak menyangka orang-orang yang dia sayangi tega menipunya. Apa yang di katakan hyuk jae hari itu, apa yang dia lakukan selama ini, ternyata hanya rekayasa. Semuanya dilakukan karena mereka kasihan. Hami tidak suka dikasihani seperti itu.

‘aku berjanji, air mata ini tidak akan terjatuh lagi!’ ucap hami. Dia lalu berlari meninggalkan mereka yang masih shock.

‘o…ottohkae…?’ gumam hyo hee pelan.

‘hyung, sebaiknya tunggu noona tenang dulu.’ ucap kibum mencoba memulihkan keadaan.

‘biarkan kami yang bicara padanya nanti.’ lanjutnya. Hyuk jae mengangguk.

Sebenarnya dia ingin sekali berlari dan memeluk kekasihnya itu. Tapi kibum benar, dia harus menunggu.

‘kibuma, aku pinjam kameramu ya!’ ucap hyuk jae.

‘kamera? Untuk apa hyung?’ tanya kibum heran. Karena dia tahu, kakaknya ini lebih suka merekam gambar daripada harus memotret.

‘ah… Sudahlah, mana sini.’ ucapnya. Kibum lalu menyerahkan kameranya pada hyungnya itu. Hyuk jae nyengir kuda. Dia lalu berlari menuju kamarnya.

Kamar yang biasanya selalu dia jaga kerapihannya kini sangat berantakan. Puzzle nya belum dia selesaikan dan berserakan diatas meja begitu saja. Kertas-kertas yang akan dia buat pesawat juga belum dia selesaikan. Hyuk jae melihat kado yang tersimpan rapi diatas meja nya. Dia tersenyum.

Hyuk jae mengambil topinya dan pergi.

Kibum hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan hyungnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar hyuk jae. Dia hanya melihat tanpa berani menyentuhnya.

‘hyung,hyung…Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.’ gumam kibum.

‘jatuh cinta? Mungkinkah?’

sudah satu jam ini hyuk jae keliling kota. Dia memotret semua objek yang menurutnya cocok. Dia pergi ke taman, ke pusat perbelanjaan, ke taman bermain, kemanapun yang dia pikir banyak orang yang sedang jatuh cinta.

Hyukjae mulai merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk duduk sebentar dan melihat-lihat hasil jepretannya.

Ada beberapa pasangan yang dia potret, juga balon hati. Lalu kartu ucapan, bunga mawar, tulisan-tulisan love, stiker berbentuk hati, dan masih banyak lagi. Hyuk jae tertawa karena imajinasinya.

‘kuharap kau suka.’ ucapnya.

Hami membuka bungkusan kotak yang diberikan hyo hee padanya.

‘kaset video?’ tanyanya bingung. Dia mengeluarkan kaset itu dari kotaknya lalu memasukannya ke dalam video player.

Dilihatnya hyuk jae sedang menari dengan sangat indah. Dia mengenakan kemeja hitam, semua kancingnya dia buka dan memamerkan otot-otot di perutnya.

‘aish… Tukang pamer!’ rutuk hami. Tapi dia tetap melanjutkan menonton.

Tiba-tiba tariannya berhenti. Hyuk jae menatapnya.

‘Kau tahu? Meskipun aku malu mengatakan ini, tapi kau membakarku seperti matahari. Kumohon pahamilah hatiku. Meskipun banyak gadis lain yang lebih memikat, tapi hanya kau yang kulihat. Ya, aku gila, aku gila karenamu.

Mendengarmu mengatakan ‘I love you’ membuatku merasa aku telah memiliki semuanya di dunia ini. Kau dan aku, kau yang terbaik. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.

Saranghae, kumohon mengertilah. Bagiku hanya ada kau.’ ucapnya dalam video. Hami mematikan video itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pesan masuk dari hyuk jae.

Datanglah ke studio malam ini.

Hanya itu yang tertulis.

Hami kembali melihat pesan dari hyuk jae. Dia tidak mengerti apa yang mereka rencanakan lagi. Dia masih belum percaya. Walaupun hyo hee berkali-kali minta maaf dan mengatakan bahwa yang dia dengar tidak seperti yang dia pikirkan, tetap saja hami tidak percaya.

Ditatapnya sekali lagi layar ponselnya.

‘hh… Apa yang harus kulakukan?’ ucapnya.

Hyuk jae menunggu dengan resah. Ini sudah setengah jam dia menunggu.

“Apa dia tidak akan datang?” pikirnya. Tapi segera dienyahkannya pikiran itu.

“Dia pasti datang!” sahut hyuk jae yakin.

Dia mengambil nafas panjang-panjang, mencoba menenangkan diri. Belum pernah dia merasa seperti ini sebelumnya. Untung saja Kibum dan Hyohee menunggu diluar. Harga dirinya bisa jatuh jika mereka melihatnya tegang seperti ini.

Ponselnya berdering, dari kibum.

“Yoboseyo?”

“Hyung, noona sudah datang. bersiaplah.”

Akhirnya Hami memutuskan untuk pergi juga. Diraihnya jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya. Ia segera mengenakan sepatunya dan berlari pergi. Tanpa pernah berpikir untuk berhenti sama sekali.

Nafasnya mulai memburu, Hami sudah tidak kuat lagi. Tapi ternyata gedung studio itu sudah berada dihadapannya. Hami tersenyum puas. Didorongnya pintu kaca itu. Loby depan gelap. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat dalam kegelapan.

Tiba-tiba Hami melihat ada bayangan yang mendekat ke arahnya. Hami menahan nafasnya.

“Onnie…” sahut bayangan itu. Hami menghembuskan nafas lega. ternyata itu Hyo hee.

“Ini.” lanjut Hyo hee. dia menyerahkan sebuah kartu berwarna biru muda juga setangkai mawar padanya.

Hami membuka kartu itu, tapi dia tidak bisa membacanya dengan penerangan yang sangat terbatas itu. Akhirnya dia memutuskan untuk membawanya saja dan membacanya nanti. Dia kembali melangkahkan kakinya semakin ke dalam gedung itu.

Lagi-lagi ada sekelebat bayangan yang menghadangnya.

“Ini aku noona.” ucap sebuah suara yang sudah dia kenal. Kibum.

Kibum lalu menyerahkan sebuah puzzle, dengan gambar hari sangat besar. hami tersenyum. Butuh waktu untuk menyelesaikan puzzle itu. Sedikit membuktikan bahwa orang yang menyusunnya cukup sabar.

“Hyung sudah menunggumu Noona.” ucap Kibum. Dia lalu mempersilakan Hami untuk melanjutkan perjalanannya. Kibum membawanya sampai ke ruangan studio.

Sama seperti ruangan lainnya dalam gedung itu, ruangan studio itu gelap. Kibum mendorongnya masuk dan menutup pintunya. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi cahaya temaram. Hami bisa melihatnya disana. Dia berdiri di tengah ruangan. Wajahnya tertutupi oleh balon-balon yang dipegangnya. Dia membelakangi sebuah gambar. Mirip dengan puzzle yang didapati Hami tadi, hanya saja lebih besar.

Laki-laki itu hanya diam mematung. Selangkah demi selangkah Hami mendekatinya.

“Hyukjae ssi…” panggilnya. Balon itu tidak bergerak sedikit pun. Hami berniat menyingkapnya.

“Jangan…” ucap Hyukjae. Hami berhenti. Dia menarik tangannya kembali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hami.

“Kau tahu pasti apa yang ku lakukan.” jawabnya. Hami terdiam. Semuanya memang sudah cukup jelas baginya.

“Maukah kau memaafkanku?” tanya Hyukjae.

“Tidak.” Hyukjae terhenyak. Ia tidak menyangka jawaban seperti inilah yang akan dia dapatkan.

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf.” lanjut Hami. Hyukjae tersenyum lega. Dia mulai menggerakan balonnya.

“Hami ssi… Aku…Aku ingin bicara serius denganmu.”

“Baiklah…”

“Saranghaeyo…” ucapnya sembari menyorongkan sebuah cincin yang dia ikatkan pada tali balon-balon itu.

“Ma…maukah kau menerimaku kembali?” ucapnya terbata-bata. tangannya masih lurus menyodorkan cincin itu pada hami. Hami menyodorkan tangannya untuk mengambil cincin itu. Tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh ujung jari Hyukjae.

Hyukjae kaget, tanpa dia sadari dia melepaskan pegangannya pada balon-balon itu. Sehingga membuat cincinnya ikut melayang. Balon-balon itu berhenti di bawah langit-langit. Tapi setinggi apapun mereka melompat hasilnya nihil.

Dengan terengah-engah mereka terduduk di tengah ruangan. Tepat dibawah cincin itu.

“Jadi…?”

“I do…”

2 tahun berlalu, Hami masih tertawa jika mengingat peristiwa itu. Tapi dia kini bahagia, bisa mendapatkan seseorang yang selalu ada untuknya.

Seperti biasa hami mengecek e-mailnya. Hami meminum tehnya sambil menunggu e-mailnya terbuka. Ada banyak sekali pesan yang masuk. Rata2 dari pelanggannya, hami segera membalas semua pesan itu. Dan akhirnya dia menemukan satu pesan. Pesan itu dikirim semalam. Hami ragu untuk membuka pesan itu setelah dia melihat nama pengirimnya.

‘kenapa kau tidak membuka e-mail itu chagi?’ tanya hyuk jae yang sudah berada di belakangnya. Dia memeluk hami dari belakang.

‘bukalah, aku akan menemanimu. Aku tidak akan membacanya.’ ucap hyuk jae. Dia lalu menutup matanya, dan menundukkan kepalanya.

Hami mengklik pesan itu. Hami membacanya perlahan, seakan tidak ingin melewatkan satupun kata2 yang ditulis disana.

Hyuk jae merasakan ada air yang jatuh ke atas tangannya. Dia tahu, itu air mata belahan jiwanya. Dia ingin sekali menghapusnya segera. Tapi dia sudah berjanji akan tetap dalam posisi seperti itu sampai hami membalas pesan itu.

Terdengar suara keyboard ditekan. Hami sedang mengetik sesuatu. Hyuk jae tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang dia ketik.

‘oppa…’ panggil hami.

‘sudah selesaikah?’ tanyanya.

‘ne…’ jawab hami. Hyuk jae melepaskan pelukannya. Di berdiri tegak menatap layar komputer sekarang. Layar komputer masih dipenuhi oleh pesan itu juga balasannya.

Hyuk jae ingin segera pergi dari situ, dia tidak sanggup membacanya. Tapi hami menahannya agar dia tetap berdiri disitu.

 

Sonbaenim…

Setahun ini sudah cukup bagiku untuk memaafkanmu. Aku sudah melupakan semua perlakuanmu padaku dulu. Tapi Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini padaku?

Aku benar2 rindu padamu. Aku masih menyayangimu sungguh. Rasa sayang itulah yang membuatku memaafkanmu dengan mudah.

Saranghaneun sonbaenim…

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Aku tidak bisa kembali lagi. Kini sudah ada cinta lain yang menungguku. Cinta yang tidak bisa kuabaikan walaupun aku ingin. Cinta yang terus menyinariku walaupun aku bersembunyi dalam kegelapan. Cinta yang terus menemaniku walaupun kusendiri.

Aku tidak bisa berpaling darinya lagi sonbae.

Mianhae…

 

‘chagiya… Benarkah apa yang kau tulis?’ tanya hyuk jae.

Hami mengangguk seraya menatap pria yang telah menyelamatkannya dari kegelapan itu. Hyuk jae mengecup kening istrinya.

‘saranghae…’ ucapnya.

‘nado saranghae..’ jawab hami. Jauh dilubuk hatinya hami menangis. Ditatapnya layar komputer.

‘mianhae sonbaenim… Jeongmal mianhae…’

 
Comments Off on Mianhae part.5

Posted by on October 27, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

My Shinee Life part. 3

Aku menatap bangku hyo hee, kosong. Dia memutuskan untuk tidak masuk lagi hari ini. Sepertinya dia akan menemani jonghyun seharian. Haah… Entahlah.

“key… Jinki sonbae mencarimu…” teriak rae bin dari depan kelas. Aku melihat sekilas ke arah pintu dan jinki sonbae memang sedang berdiri disana.

Seharusnya dia mencari hyo hee, kenapa jadi mencariku?

“ada apa hyung?”

“bisa kita bicara sebentar?” tanyanya. Sebagai hoobae yang baik, aku menurutinya. Aku mengikutinya sampai ke atap sekolah. Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan.

“kibuma, aku tahu kau sahabat lama hyo hee. Kalian sangat akrab, saling mengerti satu sama lain.” ucapnya memulai pembicaraan. Aku mengangguk, tidak mengerti pembicaraan ini akan mengarah kemana.

“aku tahu, kemarin kau berbohong padaku. Aku tahu itu hanya untuk melindungi hyo hee juga perasaanku.” lanjutnya.

“aku tidak mengerti hyung.”

“kemarin malam, aku melihat kalian semua. Kau, minho, taemin, juga hyo hee di restoran. Tapi ada seseorang yang tidak kukenal yang selalu berada disamping hyo hee.” syarafku menegang menunggu kalimat yang akan meluncur selanjutnya.

“apa itu alasan hyo hee tidak mengangkat telpon ku kemarin? Apa itu alasan dia tidak masuk sekolah hari ini?” tanyanya tepat sesuai dugaanku. Jika yang ditanya minho, dia pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan. Tapi ini aku…

Aish, apa yang harus kulakukan??

“ceritakan saja. Aku hanya ingin tahu.” ucapnya. Aku sama sekali tidak melihat sinar kemarahan dari matanya. Bahkan dia terlalu tenang, atau sedih?

“dia… Jonghyun, teman sepermainan kami dulu.” ucapku memulai cerita.

“hanya teman?” aku menggeleng.

“dia cinta pertama hyo hee.” jinki hyung tidak membalas. Sepertinya dia sedang mencerna kalimatku barusan.

“dan… Dia tidak dapat melupakannya?”

“tentu saja dia melupakannya, jika saja dia tidak kembali.” jawabku.

“dia kembali…?”

“ya, dan jika saja kami tidak tahu apa yang membuatnya pergi dulu. Mungkin kami akan membencinya seumur hidup.”

jinki hyung hanya mengangguk.

“hyung, dia tidak bermaksud seperti ini padamu.”

“kibuma, aku mengerti. Tolong beritahu padanya, aku akan melanjutkan study ku di jepang.”

“hyung, mungkin permintaan ku ini egois. Tapi tolong mengertilah dia. Jangan tinggalkan dia.” ucapku.

“aku mengerti. Aku tidak apa2. Sejak dulu tokyo university adalah impianku. Ini tidak ada hubungannya.”

“aku mengerti.”

Aku sedang mengaduk2 sup ku ketika minho dan taemin datang. Mereka selalu masuk seenaknya jika tahu orang tuaku sedang tidak ada dirumah.

“sedang masak apa hyung? Baunya enak!” ucap taemin. Matanya berkilat senang. Aigo~

“sup ayam ala chef key.” ucapku. Minho hanya mendengus. Cih, dia masih saja tidak mau mengakui kehebatan sahabatnya ini.

“mana hyo hee?” tanyaku.

“ah, noona sedang bersama jonghyun hyung.” jawab taemin.

“dia sudah melupakan jinki hyung rupanya?” aku kembali mengingat percakapanku dengan jinki hyung tadi siang. Jika aku berada di posisinya, pasti rasanya akan sakit sekali.

“maksudmu?” tanya minho.

aku lalu menceritakan semuanya pada mereka sambil terus mengaduk sup.

“benar juga, aku lupa soal jinki hyung.” ucap minho. Aku meletakan supku diatas meja. Dengan tidak sabar taemin melahapnya.

“hati2 taemin ah, supnya masih panas…” ucapku, tamin memuntahkan kembali sup dari mulutnya karena tidak tahan dengan panasnya.

“aigo~ kau seperti anak kecil saja taemin ah..” aku menyodorkan segelas air dan serbet untuk mengelap mulutnya.

“mianhae hyung. Gomawo…” ucapnya dia lalu membersihkan bekas sup tadi.

“lalu bagaimana sekarang? Sampai kapan dia akan menemani jonghyun?” tanyaku

“kau masih belum bisa memaafkannya?” “sepertinya begitu. Kau kan tahu sejak dulu aku sulit memaafkan orang?”

“tapi kau kan sudah dewasa kibuma.”

“baiklah, baiklah. tidak usah membahas soal ini, sekarang bagaimana dengan jinki hyung?”

“aku tidak ingin ikut campur. Ini urusan hyo hee.”

“ya! Mana bisa seperti itu?”

“aku tahu kekhawatiranmu, tapi biarkan hyo hee yang memutuskan.” ucapnya.

“taemin ah” panggil minho. Taemin yang sejak tadi hanya mendengarkan menatapnya.

“ne?”

“tolong beritahu noona mu soal yang baru saja kami bicarakan.”

“tapi hyung.”

“hyung percaya kau bisa melakukannya dengan caramu.” ucap minho, dia menepuk2 pundak taemin.

” Ya, setidaknya dia tidak akan terlalu marah padamu.” tambahnya.

“lalu, bagaimana keadaan jonghyun sekarang?”

“rupanya kau mengkhawatirkannya juga?” aku mendengus.

“dia semakin membaik.”

“atau sebenarnya ini hanya caranya saja untuk mendapatkan hyo hee kembali?”

“huh, berhentilah bersikap sinis padanya. Pantau saja mereka, jika kau memang tidak percaya.” jawab minho. Dia menyendok sup dan memasukannya dalam mangkok lalu melahapnya.

“sup mu enak!” ucapnya. Hh, jika dia sudah begini berarti dia tidak ingin melanjutkan percakapan.

Jadi stalker untuk mereka? Hh, apa aku memang harus melakukannya?

1 bulan sudah berlalu tanpa melakukan apapun. Jinki hyung sepertinya sudah merelakan keputusan hyo hee, walaupun mereka tidak pernah membicarakannya. Dia semakin giat belajar, keputusannya sepertinya sudah tidak bisa dipatahkan lagi.

Dan hyo hee mengundurkan diri dari klub, sehingga akulah yang menjadi ketua sementara sampai dipilihnya ketua baru. di depanku dia hanya menceritakan kegelisahannya tentang jonghyun. Setiap dia pulang dan istirahat, dia selalu takut jonghyun tidak membuka matanya lagi. Aku sendiri sangat jarang bertemu dengannya. Tapi menurut minho, jonghyun terlihat bahagia. Taemin pun mengatakan hal yang sama. Sepertinya aku harus mengunjunginya sesekali.

Aku sudah menelpon jonghyun dan minho, aku akan mampir ke rumahnya pagi ini. Selama dia disini, minho dengan senang hati memberinya tempat tinggal. Dia anak tunggal, sepertinya dia senang bila punya hyung.

Aku menekan bel, pintu terbuka.

“annyeong haesseyo, ajumma.” ucapku sopan pada ibu minho. Dia tersenyum ramah.

“minho dan jonghyun masih di kamar.” ucapnya.

“aku langsung kesana ya.”

“ne.”

aku melesat menuju kamar minho di lantai atas. Pintunya tidak dikunci. Mereka masih tidur.

“ya! Bangun!” aku menarik selimut mereka. Minho yang lebih dulu bangun.

“aigo~ ternyata kau benar2 datang ya. Aku kira kau hanya bercanada kemarin.” ucapnya seraya menguap lebar dan mengucek2 matanya.

“tutup mulutmu saat kau menguap!” ucapku. Aku melemparkan selimut yang kupegang padanyanya. Dia hanya meniup rambutnya. Hahaha, minho terlihat sangat lucu! Harusnya aku memotretnya dan menyebarkannya di sekolah agar dia tidak dikejar2 gadis2 bodoh itu lagi.

“mmh~” jonghyun akhirnya terbangun gara2 keributan yang kami buat. Sepertinya dia kaget saat melihatku sudah berdiri disini.

“ah, ternyata itu kau. Aku pikir malaikat maut yang datang menjemputku.”

“ya! Kau ini bicara apa?!” sahutku dan minho bersamaan. Tentu saja karena aku tidak ingin disamakan dengan malaikat maut? Aku kan tidak seseram itu?! Sedangkan minho?

“hahaha, aku hanya bercanda. Mianhae…” ucapnya sambil nyegir kuda.

“baiklah, mau pergi kemana kita sekarang?” ucapnya.

“pergi?” tanyaku tak yakin.

“tentu saja! Kita kan sudah lama tidak pergi bersama. Minho mengangguk setuju.

“baiklah~”

“kalau begitu ayo!” ajaknya. Dia segera menyeretku dan minho.

“ya! Kau tidak cuci muka dulu? Tidak mengajak yang lain?” jonghyun nyengir kuda. Dia lalu berlari ke kamar mandi.

“sebaiknya tidak usah beritahu hyo hee dan taemin. Kau sudah lama tidak bicara dengannya kan? Dia rindu padamu.” ucap minho bijak. Aku hanya mengangguk.

Merindukanku?

Seharian ini sangat menyenangkan! Jonghyun ternyata tidak berubah. Dia masih saja jail dan bersemangat. Aku sama sekali tidak melihat jika dia memiliki penyakit.

“kibuma~” panggilnya. Minho sedang membelikan kami minum. Sedangkan kami duduk2 di taman. Aku menolehkan wajahku padanya.

“ne?”

“jaga hyo hee untuk ku ya.” ucapnya seraya tersenyum.

“kenapa tidak kau lakukan saja sendiri.”

“aigo~ kau masih saja sinis seperti biasa.” aku hanya merengut.

“jika saja aku bisa, pasti kulakukan.” ucapnya sok dramatis.

“memang separah apa sih penyakitmu itu? Memangnya kau sudah merasa kalau malaikat maut berdiri dibelakangmu?” aish, aku sungguh tak suka melihatnya seperti ini. Ini bukan jonghyun yang kukenal!

Dia hanya tersenyum miris. Lagi2 senyuman itu. Aku tidak suka!

“mau kah kau berjanji?” tanyanya lagi. Dia mengacungkan jari kelingkingnya. Cih, seperti anak kecil saja!

“ara, ara! Tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaganya!” ucapku seraya mengaitkan jari kelingki ku padanya.

“gomawo…” entah kenapa saat itu aku seperti melihat wajahnya begitu damai dan bercahaya. Aku mengerjap2kan mataku.

“minho ya~” panggilnya, aku berbalik. Rupanya minho sudah datang seraya membawa beberapa botol minuman ringan. Dia tersenyum sambil mengacungkan kantong belanjaannya. Dengan penuh semangat jonghyun menghampirinya. Dan seperti gerakan lambat dalam film2, tiba-tiba dia terjatuh. Minho melempar bawaannya. Dia mengguncang2kan tubuh jonghyun. Matanya tertutup rapat. Sedangkan aku hanya diam mematung.

“kenapa kau mengiyakan ajakannya? Kenapa?!” hyo hee menjerit histeris. Dia marah padaku. Saat tahu jonghyun koma.

Ya, dia koma sekarang. Banyak sekali selang yang tertempel di tubuhnya. Aku tidak mengerti apa penyakitnya. Yang jelas menurut dokter sulit sekali penyakitnya ini disembuhkan. Dan pertahanan tubuhnya sudah mencapai limit. Mungkin hanya keajaiban saja yang dapat membuatnya bangun kembali.

“noona, tenanglah. Tadi kan noona sudah mendengar penjelasan dari dokter. Mungkin memang sudah waktunya. Ini bukan salah hyung.” ucap taemin mencoba menenangkan noonanya. Dia menangis dalam pelukan taemin.

Minho pun terlihat gusar dan merasa bersalah. Sejak tadi dia menyendiri di ujung lorong rumah sakit. Tapi anehnya aku tidak merasakan apapun. Apa hatiku mulai mati rasa pada jonghyun?

Aku menatap tubuhnya lewat jendela besar itu. Dia terlihat sangat pucat dan kurus. Aish, salahku tidak mempercayainya sejak awal. Tiba2 aku melihat sebuah cahaya keluar dari tubuhnya. Aku mengerjap2kan mataku. Cahaya itu malah membentuk tubuh jonghyun. Dia tersenyum dan mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Aku mengangguk pasti. Dan cahaya itu menghilang bersamaan dengan berubahnya detektor jantung menjadi sebuah garis lurus.

Aku mendengar teriakan dari kanan kiriku. Dia tiada?

Sudah hampir 1 tahun dia meninggalkan kami. Jinki hyung tetap pergi ke Jepang untuk melanjutkan studinya. Dan sejak saat itu hyo hee menjauhi aku dan minho. Sepertinya dia masih marah pada kami. Dia tidak pernah mengomel lagi. Dia jauh lebih pendiam sekarang. Tapi amanat jonghyun tetap kupegang. Aku selalu menjaganya dari jauh.

sebentar lagi kami akan lulus. Taemin akan segera masuk SMA. anak2 tumbuh dengan cepat.

“jadi kau sudah menandatangani kontrak itu?” tanyaku. Minho mengangguk mantap. Dia akan menjadi pemain basket pro di Korea.

“kau sendiri, apa rencanamu?”

“aku akan sekolah di Perancis, aku ingin menjadi koki profesional.”

“jinca? Bukankah kau ingin menjadi aktor?” aku menggeleng.

“melihat wajah kalian saat memakan masakan ku aku merasa sangat senang. Aku ingin semua orang berwajah seperti itu saat memakan masakanku.” minho mengacak2 rambutku.

“kau sudah tumbuh jauh lebih dewasa kibuma~”

“ya! kau tidak usah menyindirku.”

“tidak, dia benar.” kami menoleh. Hyo hee sudah berdiri di belakang kami. Dia menggenggam erat ijazah kelulusannya. Matanya berkaca2 menatap kami.

“mi…mianhae…” ucapnya. Kepalanya tertunduk.

aku melirik minho, dia tersenyum. Serempak kami memeluk nya.

“huuuuaaaaa…. Aku merindukan kalian…..”

“ehm? Jadi kalian semua akan meninggalkanku?” tanya taemin. Kami sedang merayakan kelulusan kami dengan makan sangyupsal di tempat biasa.

“aku kan tidak kemana2 taemin ah.” ucap minho. Taemin malah menggembungkan pipinya.

“tapi hyung pasti akan sangat sibuk. Aku tidak ada teman di rumah…”

“lho? Bukankah ada noonamu?” tanyaku.

“ani, dia akan menyusul jinki hyung.” jawab taemin. Tiba2 muka hyo hee memerah.

“jadi kau dan jinki hyung?”

“entahlah. Aku belum tahu. Tapi dia selalu menghubungiku.” ucapnya malu2.

“cie…” wajah hyo hee  semakin memerah.

Seperti sudah kubilang dari awal, ini bukan ceritaku. Tokoh utama cerita ini adalah Park Hyo Hee. Temanku yang paling cerewet, galak, dan sering mengomel tapi begitu lemah jika sudah menyangkut 2 orang pria. Lee Jinki dan Jonghyun. Entah bagaimana caranya, akhirnya dia bisa memiliki keduanya. Dan dia juga memiliki 3 orang pria lain yang akan selalu menyokongnya dari belakang. Yaitu Park Taemin, choi minho dan aku, kim kibum.

TAMAT

 
5 Comments

Posted by on October 18, 2010 in fanfiction

 

Tags:

My Shinee Life part 2

“ya! Kenapa kau tidak pernah bilang padaku? Apa kau sudah tidak menganggapku sahabatmu lagi?” ucapku berapi2. ya, aku marah pada park hyo hee yang sedang menatapku bingung ini. Selama ini dia selalu berkeluh kesah kepadaku, tapi ketika sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia malah melupakanku. Keterlaluan kan?

“apa maksudmu?”

“aku tau kau sering jalan berdua dengan jinki sonbae.” aku merendahkan suaraku agar anak2 yang lain tidak bisa mendengar. Hyo hee menaikan alisnya.

“darimana kau tau?”

“itu tidak penting. Cepat ceritakan sudah sejauh mana hubungan mu dengannya!” hyo hee membulatkan matanya. Dia lalu menarikku untuk duduk disampingnya.

“belum sampai mana2. Selama ini memang kami sering pergi berdua dan aku senang. Tapi dia sama sekali belum mengatakan apapun padaku.”

“aish, jinki sonbae itu lambat sekali!” rutukku.

“ya! Kenapa kau menjelek2an dia?”

“hyo hee ah, itu bukan menjelekkan. Aku hanya bicara kenyataan. Dia memang lambat!” hyo hee memajukan bibirnya.

“ara, ara, aku minta maaf karena mengatakan fakta tentang idola mu itu.”

“kibuma…..” hyo hee mencubit pipiku gemas. Aish, rasanya sakit sekali sampai aku tidak bisa berteriak.

Aku mengusap2 pipiku. Pasti merah. Karena rasanya panas sekali.

“hh, kau itu…” ucapnya lagi.

“lalu… Apa kau sudah melupakannya?” tanyaku ragu. Aku takut membuka lukanya lagi.

“aku tidak tahu.” dia diam.

“sepertinya, aku belum bisa melupakannya.” lanjutnya. Aku mengangguk.

“tentu saja, kita sudah lama bersama. Tidak mungkin akan dilupakan begitu saja. Sebaiknya kau nikmati saja yang ada di hadapanmu.” hei, sejak kapan akau bijak seperti ini? seharusnya ini bagian minho.

Aku melihat sesuging senyuman di bibir hyo hee.

“gomawo kibuma…” dan dia menghambur ke dalam pelukan ku.

“hm, tapi kau harus janji menceritakan semuanya padaku. Araesso?”

“ne, yaksoke!” aku mengacak2 rambutnya. Haah… semoga saja orang itu benar2 tidak muncul lagi dihadapan kami. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya jika itu terjadi.

akhirnya tiba juga hari ini! Hari ini seluruh dunia akan melihat kilauanku. Hahaha, panggung broadway tunggulah diriku disana!!

“kibuma, hwaiting!” ucap hyo hee. Dia menghampiriku dibelakang panggung, bersama jinki sonbae tentunya. semalam akhirnya jinki sonbae menyatakan perasaannya pada hyo hee. Semalam suntuk dia menceritakannya padaku. Ah, aku hanya bercanda. Dia hanya menelpon untuk berteriak2 selama 10 menit, dan tiba2 teringat bahwa aku adalah aktor utama dalam pementasan kali ini. Sehingga dia menutup telponnya setelah membuat telingaku pengang dengan teriakannya itu.

Tapi yasudahlah, toh dia berjanji akan mentraktirku setelah ini. Taemin dan minho pun diajak sepertinya.

“taemin akan datang?” tanyaku.

“tentu saja. Dia kan menyayangimu lebih dari noona nya sendiri.”

“itu sih salahmu karena tidak bisa mengurusnya.” jinki hyung tersenyum melihat tingkah kami, dia lalu mengelus kepala hyo hee lembut. Hyo hee menunduk malu.

Tiba2 minho dan taemin datang menghampiri kami.

“hyung, semangat ya!” dia mengepalkan tangannya di depan. Aku paling suka caranya memberikan semangat.

“yo, kibuma, jangan permalukan kami. Jika kau melakukan kesalahan, kami khususnya aku tidak akan menganggapmu teman lagi.” ucap minho. Aku hanya mendengus.

“aku tidak peduli, yang penting taemin masih menganggapku. Iya kan?” aku mencubit2 pipinya, dia tersenyum lalu mengangguk cepat. Aku memeletkan lidahku pada minho.

Lagi2 jinki sonbae tertawa. Rupanya dia begitu terhibur dengan kelakuan kami.

“baiklah, sebentar lagi saatnya kau tampil. Semoga sukses!” akhirnya si ketua osis ini memberikanku semangat juga.

“ya, ayo semua berkumpul!” ucap hyo hee. Anggota klub drama yang lain segera menghampirinya. Kami membentuk lingkaran yang besar.

“sebelum dimulainya acara ini, mari kita berdoa. Semoga semua berjalan dengan lancar dan latihan kita tidak sia2.” ucapnya. Semua menunduk. Berdoa.

“ya! Dalam hitungan ketiga, fighting!” dia mengulurkan sebelah tangannya. Diikuti oleh kami semua.

“hana, dul, set, hwaiting!” kami pun bertepuk tangan. Menularkan semangat pada yang lainnya.

Tirai dibuka, dan drama pun dimulai.

Kami membungkukkan badan dalam. Semua pemain, juga hyo hee sang sutradara, tersenyum puas. Aku melihat hami noona duduk dibarisan paling depan, dia pun turut ber-standing aplause untuk kami.

aku melihat lautan penonton itu, semuanya, semuanya menatapku kagum!

Tapi, kenapa dia ada disana? Aku melihat jonghyun, dia duduk bersama penonton yang lain di barisan paling belakang. Aku melirik hyo hee. Tapi sepertinya dia terlalu senang sehingga tidak memperhatikannya. aku melihatnya masih berada disana, dia tidak lepas menatap hyo hee. Apa maksudnya ini?

Setelah kami turun dari panggung, aku bergegas mencarinya. Aku segera menarik minho dan meminta taemin untuk menemani hyo hee.

“ada apa?” tanya minho.

“kau benar, dia kembali.”

“jonghyun?” aku mengangguk.

“cih!” kami lalu mencarinya ke seluruh sekolah. Dan akhirnya kami menemukannya di depan gerbang. Dia belum berubah, semuanya masih sama seperti sebelum dia pergi 2 tahun yang lalu. Bahkan tingginyapun sama, dia masih saja pendek.

“jonghyun ah.” panggil minho. Dia menoleh. Cih, kenapa dia masih saja bersikap sok tampan?

“minho ya, lama tak berjumpa.” ucapnya. Minho segera memeluknya. Aku tahu, dia merasakan luka yang sama saat jonghyun pergi, karena diantara kami hanya jonghyun yang bisa mengimbanginya.

Tapi tidak dengan ku!

“apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dingin.

“kibuma, tenanglah. Lebih baik kita pergi dari sini sebelum hyo hee datang.”

aku masih belum bisa terima, tapi anehnya aku malah menurut. Minho mengajak kami pergi meninggalkan sekolah. Kami berjalan dalam diam. Sama sekali tidak ada yang berniat membuka percakapan. Kami lalu berhenti di sebuah lapangan basket yang kosong.

“kemana saja kau selama ini?” tanya minho. Aku tidak mengerti tatapan macam apa yang minho berikan pada orang itu, tapi itu cukup untuk membuatku merinding.

“mianhae.” ucapnya.

“cih, untuk apa kau minta maaf sekarang? Kau pikir minta maaf bisa mengubah semuanya? Kau pikir dengan kata maaf mu itu air mata hyo hee yang jatuh karena mu bisa kembali lagi hah?!” aku marah! Aku benar2 marah padanya! Dia pergi begitu saja setelah mempermainkan hyo hee. Apa2an itu?!

jonghyun menjatuhkan dirinya di rerumputan di pinggir lapangan. Dia menengadahkan kepalanya.

“apa yang kau pikirkan?” tanya minho. Kenapa sih dia masih bisa mentolerir orang itu?

“aku pergi karena suatu alasan.”

“yeah, karena kau bosan dengan hyo hee.” minho menatapku tajam. Aku mendengus sebal.

“apapun alasanmu, seharusnya kau ceritakan pada kami.” ucap minho.

“ne, aku tahu. Seharusnya itu memang kulakukan.” dia sekarang menenggelamkan wajahnya dalam lututnya.

“bagaimana kabarnya?” tanya jonghyun.

“dia, baik.” jonghyun tersenyum.

“syukurlah.” katanya. Aku masih tidak mengerti ada apa dengan anak ini.

2 tahun yang lalu, ketika akhirnya dia dan hyo hee menyadari bahwa perasaan sayang diantara mereka lebih dari seorang sahabat, jonghyun tiba2 saja menghilang. tanpa meninggalkan pesan pada kami. Hyo hee panik luar biasa. Dia seperti orang gila mencarinya. Dengan susah payah aku dan minho berusaha menyadarkannya. Setiap hari dia selalu melamun di sekolah. Dan aku selalu merasa khawatir ketika aku menemukannya sedang menangis di atap sekolah.

Butuh waktu lama sampai akhirnya dia dapat tersenyum kembali.

“selama ini kau dimana?” tanya minho membuyarkan lamunanku.

“Jerman.”jawabnya singkat.

“jerman?” jonghyun tersenyum. mungkin ini yang diceritakan taemin kemarin.

Tiba2 ponselku berbunyi. dari hyo hee.

“ya! Kalian ini dimana sih?! Bukannya membantuku memberekan perlengkapan, kau malah pergi menikmati festival dengan minho!” ucap suara dari seberang. Aku menjauhkan ponselku dari telinga. Suaranya masih terdengar kencang biarpun kujauhkan seperti ini.

“cepat kembali! kita kan sudah janji akan makan bersama!” lanjutnya.

“ne…” aku menutup flip ponselku.

“minho ya, mereka sudah menunggu kita.” ucapku. Minho terdiam. Terlihat menimbang2 apakah tetap ikut makan bersama kami atau menemaninya.

“aku akan disini.” ucapnya. Hh… Kapan dia akan berhenti bersikap baik padanya.

“baiklah. Terserah.” ucap ku ketus. Minho tidak membalas, jadi aku segera kembali ke sekolah.

Hyo hee sudah menungguku. Wajahnya terlihat gusar.

“kemana saja kau! Lihat baju pentas pun masih kau pakai! Apa kau tidak tahu jika kami sangat sibuk?” omelnya. Tapi aku tidak peduli. Bertemu dengan jonghyun membuat pikiran ku tersita.

Aku mengganti baju pentasku dengan seragam dan membereskannya.

“ya! Kibuma!?”

“ayo kita pergi.” ucapku. Hyo hee menatapku bingung.

“taemin ah, kaja.” ajak ku. aku segera merangkul nya dan membawanya pergi.

“kau sudah bertemu dengannya hyung?” bisik taemin. Aku mengangguk.

“aish…. Aku tidak tahu apa jadinya jika jonghyun bertemu dengan noona mu..!!” ucapku frustasi. Aku mengacak2 rambutku.

“siapa yang bertemu denganku?” tanya hyo hee dari belakang.

“aa…ti..”

“tadi kau bilang jonghyun? Dia kembali?”

Hyo hee berlari sangat kencang. Aish, dapat kekuatan dari mana dia? Aku dan taemin bahkan tidak bisa mengejarnya.

saat kami sampai, minho sedang berusaha menenangkan hyo hee. Sepertinya anak itu mengamuk. Aish… Ini salahku!

“hyo hee ah, tenanglah!” bentak minho. Baru kali ini aku melihatnya marah seperti itu.

Hyo hee terdiam, begitupun kami.

Aku melihat jonghyun terduduk di rerumputan sambil memegangi pipinya. Sepertinya hyo hee sudah menamparnya. Bagus!

“dengarkan dia dulu park hyo hee!” ucap minho lagi. Jonghyun lalu berdiri. Aku dan taemin masih terengah2 menyaksikan mereka.

“lebih baik begini.” ucap jonghyun. Dia tersenyum. Senyum yang sama yang diperlihatkannya padaku tadi. Jonghyun melangkah pergi. Diikuti minho tak lama kemudian setelah menyatakan kekecewaannya pada hyo hee.

Hyo hee terduduk lemas, dia menangis.

“wae? Kenapa dia baru datang?” tanyanya lirih. Aku dan taemin saling pandang. Mempertanyakan hal yang sama.

Kami lalu memeluknya.

“noona, uljima.” ucap taemin. Tapi air mata hyo hee malah semakin deras terjatuh.

“kemana saja dia? Kenapa tidak memberiku kabar? Apa yang dia lakukan?” ucapnya.

“kenapa, kenapa baru saat ini dia datang. Bahkan tidak memberitahuku. Aku benci padanya! Benci!”

Hyo hee masih sesengukan. Padahal aku sudah membuatkan bimbimbap kesukaannya.

“kau masih menyukainya?” tanyaku langsung. Hyo hee menatapku tajam.

“aku tidak tahu. Lagi pula aku sudah punya jinki oppa sekarang.” ucapnya. Tapi aku tahu dia sedih. Jika tidak sejak tadi dia akan mengangkat ponselnya yang terus berdering. Aku sempat melirik nama yang tertera di layar. Jinki hyung.

“lalu kenapa sekarang kau seperti ini? Kau belum bisa melupakannya kan?” tebak ku langsung.

Hyo hee menyeruput teh panasnya. nampak enggan menjawab pertanyaan ku.

Baik, baik. Aku sudah tahu jawabannya. Dia memang belum melupakan jonghyun. Hh… Sepuluh tahun bersahabat membuat kami bisa saling membaca pikiran. Tapi anehnya, kami tetap tidak bisa membaca pikiran jonghyun. mungkin karena dia terlalu tertutup?

Jonghyun tidak secool minho, juga tidak sepolos taemin. Dia sangat ceria, tapi tidak pernah sekalipun mendengar cerita darinya. Termasuk perasaannya pada hyo hee. Saat itupun aku, minho, dan taemin hanya menebak. Melihat perlakuannya yang berbeda pada hyo hee.

Oh yeah, kami semua memang sayang pada hyo hee dan ingin melindunginya, tapi kau bisa melihatnya sendiri. Perlakuannya berbeda.

“kenapa dia baru datang sekarang?” ucap hyo hee tiba2. Matanya mulai berkaca2 lagi.

“kenapa dia baru datang sekarang kibuma? Wae?”

“sendainya, seandainya saja dia datang lebih cepat…” dan tangisnya kembali meledak.

Hyo hee tidak masuk hari ini. Taemin bilang, setelah kuantar pulang kemarin dia terus mengurung diri di kamar. Di panggil untuk makan pun dia tidak mau.

Aku melihat jinki hyung di ambang pintu kelas. Kepalanya celingukan mencari hyo hee. mengingat kejadian kemarin, aku jadi kasihan padanya.

“annyeong, hyung.” sapaku. Dia tersenyum ramah.

“annyeong.”

“mencari hyo hee? Dia tidak masuk hari ini.”

“apa dia marah padaku?”

“marah?”

“sejak kemarin telepon dariku tidak diangkat olehnya.”

“ah, tidak, tidak. Dia merasa tidak enak badan sejak kemarin. Mungkin terlalu lelah.”

“kalau begitu sepulang sekolah nanti aku akan menjenguknya.”

“jangan!”

“wae?”

“dia selalu tidak suka jika dijenguk. Bahkan oleh kami sekalipun.” ucapku asal.

“begitukah?”

“ne. dia bilang, dia tidak ingin terlihat jelek.”

“begitu ya?”

“nanti aku akan titipkan salam dari hyung lewat taemin.”

“baiklah, gomawo kibuma.” ucapnya, lalu pergi. Fiuh, untung saja keahlianku bersilat lidah selalu kuasah.

Aku melihat minho masuk ke kelasnya. Wajahnya benar2 kusut. Seperti bukan dirinya saja. Dia tidak pernah sekalipun tidak terlihat tampan. Aku lalu menghampirinya.

“minho ya.”

“kau? Bagaimana keadaan hyo hee?” tanyanya.

“kacau. Bahkan hari ini dia tidak masuk.”

“aku harus bicara pada kalian semua. Hari ini, sepulang sekolah, kita ke rumahnya.” ucap minho. Dan dia tidak meneruskan percakapan. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan tidak bisa kutembus.

Kami berjalan dalam diam. Minho jalan lebih dulu dari ku. Kenapa dia terlihat sangat kelelahan?

Seperti biasa, taemin menyambut kami dengan penuh senyuman. Tapi ekspresi minho tidak berubah sama sekali. Dia malah langsung melangkahkan kakinya menuju kamar hyo hee.

Taemin menatapku bingung, sepertinya dia shock karena minho terlalu cuek padanya. Aku hanya mengedikan bahu dan menyuruhnya untuk ikut dengan kami. Taemin menurut.

Hyo hee menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. minho duduk menghadapnya. Kami lalu mengambil posisi yang cukup nyaman.

“mmh, selama ini kita sudah salah paham padanya.” minho memulai percakapan.

“dia…sakit.” lanjutnya. minho menangis? Ok, dia terlalu berlebihan sekarang. Dia tidak pernah sekalipun menangis dihadapan kami. Memangnya kenapa kalau jonghyun sakit? Dia juga manusia kan? Waktu aku terserang tipes, dia tidak menangis seperti ini.

“dia pergi karena sakit. 2 tahun ini, dia menjalani pengobatan di Jerman.” lanjutnya.

“dan sekarang karena dia sudah sembuh dia kembali?” tanyaku. Tapi minho malah menggeleng.

“pengobatannya tidak berhasil. Penyakitnya semakin menggerogoti tubuhnya. Dia, kembali, untuk meminta maaf.”

hyo hee membuka selimutnya. Dia bangun dan menghadap minho.

“maksudmu?”

“hidupnya tak lama lagi.”

“kenapa dia tidak bilang pada kita?” tanyaku emosi. Cih, memang siapa dia? Datang dan pergi seenaknya.

“apa kau bisa membuat orang yang kau sayangi selalu khawatir terhadapmu? Jonghyun tidak bisa melakukan itu! Dia tidak ingin membuat kita khawatir!” sahut minho tak kalah emosi.

“ya, dan dia berhasil mengecoh kita. Bukannya khawatir, kita malah membecinya.” balasku. Minho terdiam. Dia kembali duduk di kursinya.

“karena itu dia datang untuk meminta maaf.”

“lalu kenapa dia baru datang sekarang?” akhirnya hyo hee buka suara.

“sebenarnya, dia sudah datang sebulan yang lalu. Dia terus mengawasi kita dari jauh. Tapi hanya taemin yang bisa dia dekati.”

“taemin ah, kenapa kau tidak bilang pada noona?”

“mi, mianhae… A,aku…”

“kami yang salah, kami yang melarangnya cerita padamu.” jawabku.

“wae?”

“kami tidak ingin kau menangis lagi park hyo hee!” kami semua terdiam. Berusaha mengatur emosi masing2. Taemin terlihat ketakutan. Belum pernah kami bertengkar seperti ini sebelumnya.

“dimana dia?” tanya hyo hee memecah keheningan.

“di rumahku.” jawab minho.

Aish, lagi2 hyo hee seperti ini. Dia berlari seperti orang kesurupan. Bahkan dia tidak memakai sepatu dan jaketnya. Minho mengejarnya lebih dulu. Sedangkan aku dan taemin membawakan sepatu dan jaketnya.

Tidak usah diberitahupun kami sudah tahu. Kemana dia akan pergi. Rumah minho.

Sepertinya tidak terjadi keributan, Karena rumahnya terlihat sangat tenang.

Pintu dibiarkan terbuka begitu saja. Kami masuk. Tidak ada siapapun di ruang depan. Sepertinya mereka di kamar minho. Kami lalu naik ke lantai atas.

minho mematung di ambang pintu. Kami mengintip dari balik punggungnya.

Heh? Aku tidak salah lihat kan? Apa ini? Hyo hee memeluk jonghyun sangat erat.

“jangan tinggalkan aku lagi…” ah, kenapa hatiku terasa sangat sakit mendengar rintihannya itu? Hyo hee menangis meraung2 dalam pelukan jonghyun. Aku tahu jonghyun pun ikut menangis bersamanya.

Tiba2 taemin menyeruak diantara kami lalu memeluk mereka. Dia ikut menangis. Entah karena terharu, atau ikut sedih. Entahlah.        Terdengar suara sesengukan dari sebelahku. Aku melihat minho membekap mulutnya, berusaha menyembunyikan tangisannya. Aku menepuk pundaknya. Dia membalikan badan dan menghapus air matanya.

Aneh, kenapa hanya aku yang tidak terpengaruh dengan keadaan ini?

“ya! Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kita rayakan kepulangan jonghyun!” ucapku. mereka semua seperti tersadar dan saling melepas pelukan lalu menghapus air mata masing2.

“ne, mari kita pergi! Biar aku yang traktir kalian semua!” ucap minho.

“kaja!”

kami memesan sangyupsal untuk merayakan ini semua. Seandainya saja kami sudah cukup umur, mungkin kami akan memesan soju.

Hyo hee duduk di samping jonghyun, dan terus bergelayutan padanya seolah tidak ingin kehilangannya.

Yah, aku tahu dia agak berlebihan. Tapi bagaimana perasaanmu jika tahu orang yang kau sayang akan pergi meninggalkanmu lagi? Aku mengerti perasaannya.

Sesekali jonghyun mengelus kepala hyo hee lembut. hm… Mereka ternyata masih menyimpan perasaan yang sama. Kisah cinta yang tragis.

Malam itu kami (berusaha) melewati malam dengan riang.

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2010 in fanfiction

 

Tags:

My Shinee Life part. 1

Matahari bersinar cerah, apa kau dengar suara burung berkicau di luar sana? Ah, begitu merdu bukan?
aku adalah tokoh utama dalam kisah ini, tapi kenapa ini bukan tentangku? Kenapaaa….????
“kim kibum! Kenapa kau mengacaukan teksnya? Kau kan tau, hami onnie sudah susah payah membuatkannya untuk kita! Ini suatu penghargaan besar untuk klub drama kita! Aish… Kau ini!” hyo hee mulai ngomel-ngomel lagi.
“ara, ara! Tidak usah berteriak-teriak seperti itu padaku!”
“ya! Biarpun aku sahabatmu, posisiku adalah ketua klub! Aku bertanggung jawab agar pentas drama ini sukses!”
“aish park hyo hee, kau ini galak sekali. Pantas saja jinki sonbae tidak tertarik padamu…” ucapku pelan, hyo hee melotot. Akupun mulai serius kembali melakukan latihan drama seperti keinginannya. Skenario nya dibuat oleh hami noona. Alumnus dari sekolah kami yang sudah menjadi penulis besar. Dulu dia juga memimpin klub drama ini. dengan penuh susah payah, hyo hee memohon pada hami noona untuk membuatkan naskah drama kali ini.
Ha, dan kalian tau? Ini adalah cerita tentang dia. Ya, tentangnya. Tentang seorang park hyo hee yang galak, senang sekali mengomel, tidak tahu perasaan orang lain, tapi begitu lemah dihadapan lee jinki, sonbae kami. walaupun aku tokoh utama dalam drama itu, aku cuma narator di cerita ini. Cih…
Aku melihatnya tersenyum melihat aktingku. Ha! Aku memang superstar! Panggung ini adalah milikku! Pencari bakat, segeralah temukan aku…!!!
“hyo hee…” aku menoleh. Datang 1 orang pengacau lagi. Dia choi minho, kapten tim basket sekaligus cowok paling populer, setelah jinki sonbae, disekolah. Sebenarnya hanya cewek2 bodoh yang tidak punya selera yang bisa suka padanya. Dan sayangnya aku dan hyo hee adalah sahabatnya.
“masih lama?” hyo hee mengangguk.
“kau tunggu saja disini. Sekalian melihat akting kibum.” aku mendengar hyo hee menyebut namaku.
“ya! Park hyo hee! Sudah berapa kali aku bilang, panggil aku key! Key…! K E Y! Key! Bukan kibum!”
“aish… Kau ini cerewet sekali! Aku sudah 10 tahun memanggilmu seperti itu, bagaimana bisa aku tiba2 mengubah panggilanmu?” protesnya. Aku hanya memajukan beberapa senti bibirku.
“aigo… Kau lucu sekali kibuma…” minho mencubit kedua pipiku.
“ya!” dia malah tertawa. Aku segera mengambil cerminku.
“ya! Lihat, pipi mulusku jadi merah karena ulahmu! Bagaimana jika bekasnya tidak hilang?”
“kau itu jangan berlebihan. Besok juga pipi mulusmu itu akan seperti sediakala.” ucap minho. Dia kembali terkekeh.
“hh… Kalian ini. Yasudahlah, sebaiknya latihan sampai sini saja. Terimakasih atas kerja kerasnya kali ini ya! Sampai besok!” akhirnya hyohee menutup latihan hari ini. Akupun segera memasukan kembali barang2 ku kedalam tas. Terdengar bisik-bisik dari hoobae-hoobae perempuanku di pojok ruangan, sesekali mereka melirik minho dan hyo hee. Aku mendengus. Mereka sudah sering sekali digosipkan pacaran oleh seantero sekolah. Mereka bilang begitu karena minho dan hyo hee selalu terlihat berdua. Padahal selama ini aku selalu berada disamping mereka berdua. Apa yang lain tidak dapat melihatku?
Lagipula tidak mungkin sekali hyo hee akan melirik minho. Selama sepuluh tahun ini kami bersahabat, hanya ada 2 orang yang pernah hinggap dihatinya. jinki sonbae, si ketua osis, dan… Aish, tidak usah kusebutkan.
“kau sudah selesai? Ayo pulang.” ajak hyo hee. Aku menganggukan kepalaku. Hyo hee tersenyum. Dia menggandengku di tangan kirinya dan minho ditangan kanannya. Ya, bila tidak sedang menyandang status sebagai ketua klub, sebenarnya hyo hee baik juga.

“kibuma…” hyo hee segera menggandeng tanganku. Dia tersenyum manja. Hampir saja makanan ku jatuh.
“ne… Kenapa lagi kau? Tunggu2, biar kutebak, bertemu jinki sonbae?” tanyaku. Hyo hee menganggukan kepalanya. Aku lalu memilih meja di dekat tengah ruangan. Karena hanya itu yang kosong.
“bukan cuma bertemu. Kami mengobrol.” dia menekankan pada kata mengobrol, seolah takut aku tidak akan mengerti.
Aku menatapnya sebentar dan melanjutkan makan siangku. Dia sepertinya tidak peduli. Hyo hee duduk dihadapanku dan terus bercerita.
“tadi aku disuruh oleh lee sonsaengnim untuk membawa tugas anak2, kau tau kan itu banyak sekali. Aku kepayahan membawa nya. Lalu ditengah jalan aku bertemu dengan sonbae, dan dia membantuku. Kyaaa~” dia tertawa senang. Aku hanya tersenyum dan kembali mengunyah udah gorengku.
“dia memberikanku semangat untuk drama kali ini! Dan dia akan menonton nya juga!” lanjutnya lagi. Aku hanya mengiyakan tanpa memberinya jawaban.
“kibuma, aku tahu kau itu calon bintang besar. Sejak kecil aku sudah melihat itu darimu. Mari kita sukseskan drama kita! Demi nama baik klub! Demi nama sekolah! Demi…”
“Jinki sonbae.” selaku. Hyo hee tersenyum malu. Hh… Sebenarnya aku agak malas jika harus mendengarkan dia bercerita tentangnya. Bagaimana tidak? Dia sudah suka dengan sonbae sejak kelas satu. Itu karena waktu itu dia pernah ditolong olehnya. Dan tidak bisa dipungkiri, kharisma jinki sonbae memang terlalu kuat untuk ditolak. Bahkan oleh seorang park hyo hee yang saat itu sedang patah hati. Tapi, selama 1,5 tahun ini, dia sama sekali tidak berani untuk melakukan pendekatan. Padahal dia bisa saja cari2 alasan untuk dekat dengannya. Dan selama 1,5 tahun ini dia selalu menceritakan tentangnya padaku.
“baiklah hyung, aku akan melakukan yang terbaik.” ucap seseorang di belakangku. Aku melihat mata hyo hee membulat. Aku menoleh, ternyata minho dan dia bersama jinki sonbae! Bagus!
“minho-ya, kau sudah makan?” tanyaku. Mereka menoleh.
“ah, sonbae, annyeong. Kau mau makan bersama kami?” jinki sonbae tersenyum.
“ah, terimakasih. Tapi aku harus kembali ke ruang guru.”
“ah… Araesso.. Sibuk untuk festival ya?” ucapku lagi.
“begitulah.” jawabnya, dia tersenyum lagi. Aku menyenggol kaki hyo hee. Dia terkesiap.
“hwaiting!” ucapnya tiba2. Sonbae hanya tersenyum lalu pamit pergi.
“minho ya, katakan padaku kenapa kau bisa datang ke kantin dengannya?” tanya hyo hee berapi-api ketika jinki sonbae sudah pergi.
“mmh… tidak, dia hanya memintaku untuk membantunya saat festival nanti.”
“lalu kenapa tadi kau memanggilnya hyung?”
“memangnya aku belum bercerita pada kalian?” kami menggeleng.
“aku dan jinki hyung adalah kerabat jauh.” ucapnya.
“MWO?! Minho ya, kenapa kau tidak pernah memberitahuku!?” hyo hee ngomel lagi.
“aku lupa.” ucapnya cuek, dia lalu mengambil udang gorengku dan melahapnya.
“Ya!”
“sudahlah kibuma… relakan saja, nanti aku akan menggantinya.” dia menepuk pundakku. Cih, sifatnya yang seenaknya ini tidak pernah berubah dari dulu. Minho melirik jam tangannya sebentar.
“baiklah, aku harus pergi dulu. Sampai ketemu nanti malam.” ucapnya lalu beranjak pergi. Cih sial, dia masih sempat2 nya mencuri udang gorengku lagi!
“pintumu sudah terbuka lebar.” ucapku singkat dan melanjutkan makan siangku. Hyo hee hanya termenung. Aish… Sepertinya dia masih terbawa pesona jinki sonbae barusan. Hh… Dasar cewek!

Aku menekan bel rumah hyo hee. Terdengar suara langkah kaki dari dalam.
“ah hyung.” ternyata taemin yang membukakan.
“noona masih dikamar. Dari pulang sekolah tadi dia terus berada disana.” ucapnya. Taemin adalah adik hyo hee. Dia beda 3 tahun dari kami. Dari kecil badannya kurus sekali, makanya aku, minho, dan… Tidak usah kusebutkan, sering melindunginya dengan cara kami. Minho dan… (aish, kenapa sih aku harus selalu hampir menyebutnya!?) karena badan mereka besar, mereka akan segera membalas ketika taemin diganggu. Sedangkan aku hanya berdiri di belakang mereka dan terus memprovokasi. Hahaha! Tugas bos memang dibelakang! Tapi sekarang taemin sudah besar. Dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri.
Hiks! Padahal aku masih ingat ketika dulu aku mengganti popok dan menyuapinya. Anak2 memang tumbuh dengan cepat.
“hyung? gwenchana?” aku tersadar dari perjalanan ku ke masa lalu. Taemin terlihat sedang melambai2kan tangannya di depan wajahku.
Aku hanya tersenyum dan mengacak2 rambutnya. Dia malah tersenyum. Haaah… Taemin memang manis sekali. Aku lalu mencubit pipinya. Dia malah makin menggembungkan pipinya. Aigo…
dia lalu membawaku ke kamarnya.
“hyung, lihatlah, aku baru saja menciptakan koreo baru!” ucapnya. Dia segera menyalakan tape nya dan mulai ber-dance ria. Yah, taemin memang sangat suka menari. dia memang berbakat! Suatu hari nanti dia pasti akan menjadi superstar sepertiku! Gyahahaha~
“kau sudah datang kibuma?” tiba2 saja hyo hee sudah muncul di ambang pintu.
“memang kau tidak melihatku sedang melihat dongasaengmu ini menari?” tanyaku ketus.
“aigo… Aku kan hanya basa-basi saja. Kenapa kau ketus sekali?”
“minho belum datang?” tanyaku. Hyo hee menggeleng.
“padahal aku ingin bertanya banyak padanya.”
“soal jinki sonbae?” hyo hee mengangguk.
“jinki sonbae? Apa lee jinki ketua osis sekolahmu noona?” tanya taemin tiba2.
“iyalah, siapa lagi?” jawabku cuek.
“kau mengenalnya?” tanyaku. Taemin mengangguk.
“dia juga ikut kursus piano bersamaku.” jawab taemin polos. Hyo hee segera melompat dan memeluk adiknya itu.
“mulai hari ini aku akan menjemputmu setiap kau les piano!” ucapnya bersemangat. Taemin hanya tersenyum. Dia selalu seeprti itu. Aish, bahkan taemin lebih manis dari noonanya. Seandainya taemin itu perempuan.
tanpa sadar aku malah ikut memeluknya juga dan mengelus2 kepalanya.
“sedang reuni keluarga ya?” tiba2 saja minho sudah muncul. Dia lalu ikut2an memeluk taemin seperti kami.
“ehehm… Hyung… Noona… Aku tidak bisa bernafas…” ucap taemin. dengan segera kami melepaskan pelukan kami.
“ah, mianhae taemin ah. Gwenchana?” tanya hyo hee. Lagi2 taemin hanya tersenyum.
“baiklah, karena sekarang kita semua sudah berkumpul apa yang akan kita lakukan?” tanya Minho.
Hari ini adalah hari peringatan persahabatan kami. Setiap akhir minggu kedua pada pertengahan musim gugur kami akan meluangkan waktu di malam hari dan melakukan sesuatu bersama2. Biasanya aku dan minho akan menginap. Biarpun rumah kami berdekatan, rasanya tetap tidak enak saja jika harus pulang lewat tengah malam. “kita ke caramel cafe yang diujung blok itu saja bagaimana! Minho ya, aku akan mentraktirmu!” ucap hyo hee. Minho memandangnya tak yakin. Dia lalu menatapku, bertanya ada apa dengan hyo hee tanpa mengeluarkan suara. Hanya isyarat dari matanya saja. Aku balik menatapnya, dan bilang bahwa dia sedang merencanakan sesuatu tentang jinki sonbae.
Minho menganggukan kepalanya. Dia terlihat paham, tapi entahlah.
“hyo hee ah, jika ini tentang jinki hyung, tanpa perlu sogokan pun aku akan menceritakan semuanya padamu.” ucap Minho. Aku tersenyum penuh kemenangan. Ternyata kami bisa telepati!
“ada apa sih? Sepertinya dari tadi kalian terus menerus menyebut nama jinki hyung?” tanya taemin polos. Minho tersenyum kecil. Dia lalu menepuk-nepuk pundak taemin.
“taemin ah, noona mu ini sedang suka padanya. Ani, bahkan mungkin sudah jatuh cinta.” jawab Minho. Aku melihat muka hyo hee berubah kemerahan.
“jinca? Tapi bukankah hyo hee noona masih suka pada jonghyun hyung?” tanya taemin lagi. Kepolosan anak itu benar2 kelewatan. Pertanyaan polosnya itu berhasil membuat hyo hee merubah ekspresinya. Aish, seharusnya aku menceritakannya pada taemin!
“noona? gwenchana?” tanya taemin. Sepertinya dia sadar dengan perubahan suasana ini. Aku menatap minho, dia mengedikan bahunya tanda tidak tahu apa yang harus dilakukan. Taemin lalu mendekati hyo hee dan menggenggam tangannya.
“noona, aku salah ya? Mianhae.” ucap taemin. Hyo hee menggelengkan kepalanya. dia terus menunduk. Tiba-tiba aku melihat setetes air jatuh dari wajahnya.
ok, akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan. Tanpa harus diperintah aku dan minho segera memeluknya, tangisnyapun pecah.

“oh… Jadi begitu…” ucap taemin. Dia mengangguk2an kepalanya tanda mengerti.
“sekarang kau mengerti kan mengapa kami selalu menghindari membahas tentang dia belakangan ini?” ucap minho. Taemin menganggukkan kepalanya lagi.
Hyo hee sudah kutenangkan dikamarnya. Dan sepertinya minho sudah selesai menjelaskan pada taemin saat aku masuk kedalam kamarnya.
“untunglah aku belum sempat bercerita kalau aku bertemu dengan jonghyun hyung siang tadi.”
“mwo?! Apa tadi kau bilang? Kau bertemu dengannya?” tanyaku tak sabar. Aku mengguncang2kan bahu taemin.
“tenanglah kibuma.” ucap minho. Aku lalu medudukan diriku di atas kasur.
“baiklah, coba jelaskan apa yang baru kau katakan tadi.” pinta minho pada taemin. Aku benar2 heran bagaimana bisa dia tetap bersikap tenang seperti itu?
“mmh… Jadi tadi siang aku sedang buru2 karena hampir terlambat untuk kursus pianoku. Lalu secara tak sengaja aku berpapasan dengannya di jalan. Tapi aku hanya sempat menyapanya saja.” jawab taemin.
“jadi begitu…” ucap minho. Dia menaruh tangannya dibawah dagu. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“apa yang kau pikirkan?” tanyaku.
“hm… Kibuma, apa ada kemungkinan dia kembali?” tanyanya. Taemin hanya menatap kami. Sepertinya dia masih belum terlalu mengerti.
“taemin ah, berjanjilah pada hyung kau tidak akan memberitahu noonamu tentang ini dan jika kau bertemu dengannya lagi, araesso?” ucapku. Taemin mengangguk.
Haaah…. Acara hari ini jadi kacau hanya gara-gara dia! Aku tidak akan pernah memaafkannya untuk ini!
Sudah beberapa sejak hari itu, hyo hee tidak pernah membahasnya lagi. Dia kembali disibukan dengan hobinya, mengomel. Ditambah lagi dengan kegiatan barunya, menjemput taemin dari tempat kursus! Dia semakin sibuk saja dan sepertinya tidak sempat untuk mengingat tentang itu.
Festival hanya tinggal menghitung hari saja. Minho juga semakin sibuk karena janjinya untuk membantu jinki sonbae. Aku dan hyo hee pun semakin giat berlatih drama. Kami tidak ingin mengecewakan penonton. tanpa dia ketahui misiku sebenarnya adalah agar dunia mengetahui bakatku dan aku bisa menjadi superstar sesungguhnya!
“sampai nanti…” aku melihat hyo hee menutup flip ponselnya. Dia lalu senyum2 sendiri. Hm… Ada yang tidak beres dengannya.
“telepon dari siapa?” tanyaku curiga. Hyo hee hanya mengedipkan sebelah matanya dan melanjutkan memimpin latihan. Hmph, dia berutang cerita padaku!
Kami melanjutkan latihan. Hyo hee sepertinya bersemangat sekali memimpin latihan kali ini. Aku jadi tambah curiga. Aku akan cari tahu!
“ya, sepertinya kau berhutang cerita padaku.” ucapku saat latihan sudah selesai.
“mmh? Cerita apa?” tanyanya tak mengerti, tapi aku yakin dia hanya pura-pura.
“kau tidak bisa membohongiku. Ada apa? Cepat ceritakan!” tapi lagi2 dia hanya tersenyum.
“nanti saja ya. Kibuma, aku buru2 sekarang. Sampai jumpa!” ucapnya. Dia lalu berlari meninggalkan ruangan klub. Cih, kenapa akhir-akhir ini dia selalu meninggalkan ku saat pulang. Minho juga sibuk sekali. Dia sepertinya sering pulang malam akhir-akhir ini. Entah tugas apa yang diberikan jinki sonbae padanya. Aku jadi harus pulang sendiri. Sebenarnya aku juga tidak terlalu berharap pulang bersama minho. Tapi sendirian seperti ini membuatku merasa sangat tidak nyaman!
“aku pulang…” aku memberi salam saat tiba dirumah. Aku mengitari rumah, kenapa sepi sekali?
Ekor mataku menangkap sebuah memo di tempelkan di tv.
“kibuma, omma dan appa pergi ke busan. Nenek sakit. Kau jaga rumah baik2 ya. Besok appa akan pulang”
cih, lagi2 aku harus sendirian. Aku sangat tidak suka keadaan ini!
Aku lalu mengambil ponselku dan menekan sebuah nomor.
“taemin ah, kau dimana? Ne, hyung sendirian di rumah. Orang tuaku pergi ke busan, nenek ku sakit. Bisakah kau menemaniku disini? hyung akan memasak untukmu. tentu saja. Ok, kutunggu.” haha, taemin memang dongsaengku yang paling baik! Dia sangat mengerti aku.
Aku segera mengganti seragam sekolah dan mulai memasak untuk makan malam. tak lama terdengar bel berbunyi, itu pasti taemin! Setengah berlari aku menuju pintu dan membukanya.
“annyeong.”
“ayo masuk, masakanku hampir matang.” ucapku. Taemin lalu mengikutiku ke dapur. Dia mencomot kimchi yang baru saja kupotong.
“noona mu sudah pulang?” tanyaku tanpa melepas pandangan dari cumi yang sedang kugoreng.
“belum.” jawabnya. Dia mencomot kimchi lagi.
“hah? Sepertinya tadi dia pulang lebih dulu.”
“lho, memangnya hyung tidak tahu? Dia kan sedang kencan dengan jinki hyung.” aku tersedak sup yang sedang kucoba.
“mwo?!”
“tapi noona sih bilang kalau jinki sonbae belum bilang suka padanya. Hanya saja akhir2 ini mereka memang terlihat sering pergi berdua saja. Mereka jadi dekat setelah noona selalu menjemputku.”
“tapi mereka tidak pernah terlihat bersama saat disekolah.” ucapku, masih tidak percaya dengan yang dikatakan oleh taemin.
“mmh, itu juga yang dikeluhkan noona. Jinki hyung terlalu sibuk dengan festival ini.” aku mengangguk2 paham.
haa… Jadi karena itu! Awas kau hyo hee! Habis kau besok!
“memangnya noona tidak cerita padamu hyung?”
“anieyo.”
“hm… Mungkin karena noona sendiri belum yakin jika jinki hyung juga menaruh perasaan padanya.”
“ne, mungkin saja. Nah, makanan siap!” ucapku riang. Aku segera menata semua masakanku di meja makan. Taemin menatap makanan2 itu kagum.
“ayo kita makan!” aku melepas celemek ku dan segera duduk dihadapannya. Kami segera melahap makanan2 itu tanpa ampun!
“ah, enak sekali!” puji taemin. Aku tersenyum puas! aku memang multitalenta! Hahaha!
“oia hyung, aku bertemu dengan jonghyun hyung lagi.” ucap taemin.
“kapan?”
“hm, waktu aku pulang sekolah tadi.”
“lalu?”
“ya, aku sempat mengobrol dengannya dan dia menanyakan kabar kalian.”
“lalu kau jawab apa?”
“aku bilang kalian sedang sibuk mempersiapkan festival.”
“apa reaksinya?” tanyaku penasaran.
“dia tidak bilang apa-apa. Waktu aku bertanya tentang dirinya, dia hanya tersnyum miris. Hyung, apa sebenarnya dia masih…”
“tidak mungkin.” potongku.
“jika begitu, dia tidak akan membiarkan hyo hee menangis.” taemin hanya mengedikan bahunya.
Cih, aku masih tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Apa perkiraan minho itu benar?

 
1 Comment

Posted by on October 18, 2010 in fanfiction

 

Tags: