RSS

Mianhae part.5

27 Oct

‘benarkah itu oppa?’ tanya hyo hee tak percaya. Dia, hyuk jae dan kibum masih mengobrol di studio.

‘tentu saja.’

‘wahahaha…! Oppa memang hebat! Kita berhasil!’

‘syukurlah hami noona sudah bisa tersenyum kembali.’ ucap kibum.

‘ne, akupun tidak menduga dia bisa menerimaku! pesonaku memang tidak bisa dilawan!’ ucap hyuk jae seraya tertawa.

‘jadi… Ini semua sudah diatur?’ serentak mereka menoleh ke sumber suara. Hami berdiri di ambang pintu. Matanya merah menahan air mata yang mulai menggenang.

‘cha…chagi?’

‘stop! Jangan panggil aku seperti itu lagi hyuk jae ssi.’ ucap hami dingin. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia tidak menyangka orang-orang yang dia sayangi tega menipunya. Apa yang di katakan hyuk jae hari itu, apa yang dia lakukan selama ini, ternyata hanya rekayasa. Semuanya dilakukan karena mereka kasihan. Hami tidak suka dikasihani seperti itu.

‘aku berjanji, air mata ini tidak akan terjatuh lagi!’ ucap hami. Dia lalu berlari meninggalkan mereka yang masih shock.

‘o…ottohkae…?’ gumam hyo hee pelan.

‘hyung, sebaiknya tunggu noona tenang dulu.’ ucap kibum mencoba memulihkan keadaan.

‘biarkan kami yang bicara padanya nanti.’ lanjutnya. Hyuk jae mengangguk.

Sebenarnya dia ingin sekali berlari dan memeluk kekasihnya itu. Tapi kibum benar, dia harus menunggu.

‘kibuma, aku pinjam kameramu ya!’ ucap hyuk jae.

‘kamera? Untuk apa hyung?’ tanya kibum heran. Karena dia tahu, kakaknya ini lebih suka merekam gambar daripada harus memotret.

‘ah… Sudahlah, mana sini.’ ucapnya. Kibum lalu menyerahkan kameranya pada hyungnya itu. Hyuk jae nyengir kuda. Dia lalu berlari menuju kamarnya.

Kamar yang biasanya selalu dia jaga kerapihannya kini sangat berantakan. Puzzle nya belum dia selesaikan dan berserakan diatas meja begitu saja. Kertas-kertas yang akan dia buat pesawat juga belum dia selesaikan. Hyuk jae melihat kado yang tersimpan rapi diatas meja nya. Dia tersenyum.

Hyuk jae mengambil topinya dan pergi.

Kibum hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan hyungnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar hyuk jae. Dia hanya melihat tanpa berani menyentuhnya.

‘hyung,hyung…Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.’ gumam kibum.

‘jatuh cinta? Mungkinkah?’

sudah satu jam ini hyuk jae keliling kota. Dia memotret semua objek yang menurutnya cocok. Dia pergi ke taman, ke pusat perbelanjaan, ke taman bermain, kemanapun yang dia pikir banyak orang yang sedang jatuh cinta.

Hyukjae mulai merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk duduk sebentar dan melihat-lihat hasil jepretannya.

Ada beberapa pasangan yang dia potret, juga balon hati. Lalu kartu ucapan, bunga mawar, tulisan-tulisan love, stiker berbentuk hati, dan masih banyak lagi. Hyuk jae tertawa karena imajinasinya.

‘kuharap kau suka.’ ucapnya.

Hami membuka bungkusan kotak yang diberikan hyo hee padanya.

‘kaset video?’ tanyanya bingung. Dia mengeluarkan kaset itu dari kotaknya lalu memasukannya ke dalam video player.

Dilihatnya hyuk jae sedang menari dengan sangat indah. Dia mengenakan kemeja hitam, semua kancingnya dia buka dan memamerkan otot-otot di perutnya.

‘aish… Tukang pamer!’ rutuk hami. Tapi dia tetap melanjutkan menonton.

Tiba-tiba tariannya berhenti. Hyuk jae menatapnya.

‘Kau tahu? Meskipun aku malu mengatakan ini, tapi kau membakarku seperti matahari. Kumohon pahamilah hatiku. Meskipun banyak gadis lain yang lebih memikat, tapi hanya kau yang kulihat. Ya, aku gila, aku gila karenamu.

Mendengarmu mengatakan ‘I love you’ membuatku merasa aku telah memiliki semuanya di dunia ini. Kau dan aku, kau yang terbaik. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.

Saranghae, kumohon mengertilah. Bagiku hanya ada kau.’ ucapnya dalam video. Hami mematikan video itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pesan masuk dari hyuk jae.

Datanglah ke studio malam ini.

Hanya itu yang tertulis.

Hami kembali melihat pesan dari hyuk jae. Dia tidak mengerti apa yang mereka rencanakan lagi. Dia masih belum percaya. Walaupun hyo hee berkali-kali minta maaf dan mengatakan bahwa yang dia dengar tidak seperti yang dia pikirkan, tetap saja hami tidak percaya.

Ditatapnya sekali lagi layar ponselnya.

‘hh… Apa yang harus kulakukan?’ ucapnya.

Hyuk jae menunggu dengan resah. Ini sudah setengah jam dia menunggu.

“Apa dia tidak akan datang?” pikirnya. Tapi segera dienyahkannya pikiran itu.

“Dia pasti datang!” sahut hyuk jae yakin.

Dia mengambil nafas panjang-panjang, mencoba menenangkan diri. Belum pernah dia merasa seperti ini sebelumnya. Untung saja Kibum dan Hyohee menunggu diluar. Harga dirinya bisa jatuh jika mereka melihatnya tegang seperti ini.

Ponselnya berdering, dari kibum.

“Yoboseyo?”

“Hyung, noona sudah datang. bersiaplah.”

Akhirnya Hami memutuskan untuk pergi juga. Diraihnya jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya. Ia segera mengenakan sepatunya dan berlari pergi. Tanpa pernah berpikir untuk berhenti sama sekali.

Nafasnya mulai memburu, Hami sudah tidak kuat lagi. Tapi ternyata gedung studio itu sudah berada dihadapannya. Hami tersenyum puas. Didorongnya pintu kaca itu. Loby depan gelap. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat dalam kegelapan.

Tiba-tiba Hami melihat ada bayangan yang mendekat ke arahnya. Hami menahan nafasnya.

“Onnie…” sahut bayangan itu. Hami menghembuskan nafas lega. ternyata itu Hyo hee.

“Ini.” lanjut Hyo hee. dia menyerahkan sebuah kartu berwarna biru muda juga setangkai mawar padanya.

Hami membuka kartu itu, tapi dia tidak bisa membacanya dengan penerangan yang sangat terbatas itu. Akhirnya dia memutuskan untuk membawanya saja dan membacanya nanti. Dia kembali melangkahkan kakinya semakin ke dalam gedung itu.

Lagi-lagi ada sekelebat bayangan yang menghadangnya.

“Ini aku noona.” ucap sebuah suara yang sudah dia kenal. Kibum.

Kibum lalu menyerahkan sebuah puzzle, dengan gambar hari sangat besar. hami tersenyum. Butuh waktu untuk menyelesaikan puzzle itu. Sedikit membuktikan bahwa orang yang menyusunnya cukup sabar.

“Hyung sudah menunggumu Noona.” ucap Kibum. Dia lalu mempersilakan Hami untuk melanjutkan perjalanannya. Kibum membawanya sampai ke ruangan studio.

Sama seperti ruangan lainnya dalam gedung itu, ruangan studio itu gelap. Kibum mendorongnya masuk dan menutup pintunya. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi cahaya temaram. Hami bisa melihatnya disana. Dia berdiri di tengah ruangan. Wajahnya tertutupi oleh balon-balon yang dipegangnya. Dia membelakangi sebuah gambar. Mirip dengan puzzle yang didapati Hami tadi, hanya saja lebih besar.

Laki-laki itu hanya diam mematung. Selangkah demi selangkah Hami mendekatinya.

“Hyukjae ssi…” panggilnya. Balon itu tidak bergerak sedikit pun. Hami berniat menyingkapnya.

“Jangan…” ucap Hyukjae. Hami berhenti. Dia menarik tangannya kembali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hami.

“Kau tahu pasti apa yang ku lakukan.” jawabnya. Hami terdiam. Semuanya memang sudah cukup jelas baginya.

“Maukah kau memaafkanku?” tanya Hyukjae.

“Tidak.” Hyukjae terhenyak. Ia tidak menyangka jawaban seperti inilah yang akan dia dapatkan.

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf.” lanjut Hami. Hyukjae tersenyum lega. Dia mulai menggerakan balonnya.

“Hami ssi… Aku…Aku ingin bicara serius denganmu.”

“Baiklah…”

“Saranghaeyo…” ucapnya sembari menyorongkan sebuah cincin yang dia ikatkan pada tali balon-balon itu.

“Ma…maukah kau menerimaku kembali?” ucapnya terbata-bata. tangannya masih lurus menyodorkan cincin itu pada hami. Hami menyodorkan tangannya untuk mengambil cincin itu. Tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh ujung jari Hyukjae.

Hyukjae kaget, tanpa dia sadari dia melepaskan pegangannya pada balon-balon itu. Sehingga membuat cincinnya ikut melayang. Balon-balon itu berhenti di bawah langit-langit. Tapi setinggi apapun mereka melompat hasilnya nihil.

Dengan terengah-engah mereka terduduk di tengah ruangan. Tepat dibawah cincin itu.

“Jadi…?”

“I do…”

2 tahun berlalu, Hami masih tertawa jika mengingat peristiwa itu. Tapi dia kini bahagia, bisa mendapatkan seseorang yang selalu ada untuknya.

Seperti biasa hami mengecek e-mailnya. Hami meminum tehnya sambil menunggu e-mailnya terbuka. Ada banyak sekali pesan yang masuk. Rata2 dari pelanggannya, hami segera membalas semua pesan itu. Dan akhirnya dia menemukan satu pesan. Pesan itu dikirim semalam. Hami ragu untuk membuka pesan itu setelah dia melihat nama pengirimnya.

‘kenapa kau tidak membuka e-mail itu chagi?’ tanya hyuk jae yang sudah berada di belakangnya. Dia memeluk hami dari belakang.

‘bukalah, aku akan menemanimu. Aku tidak akan membacanya.’ ucap hyuk jae. Dia lalu menutup matanya, dan menundukkan kepalanya.

Hami mengklik pesan itu. Hami membacanya perlahan, seakan tidak ingin melewatkan satupun kata2 yang ditulis disana.

Hyuk jae merasakan ada air yang jatuh ke atas tangannya. Dia tahu, itu air mata belahan jiwanya. Dia ingin sekali menghapusnya segera. Tapi dia sudah berjanji akan tetap dalam posisi seperti itu sampai hami membalas pesan itu.

Terdengar suara keyboard ditekan. Hami sedang mengetik sesuatu. Hyuk jae tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang dia ketik.

‘oppa…’ panggil hami.

‘sudah selesaikah?’ tanyanya.

‘ne…’ jawab hami. Hyuk jae melepaskan pelukannya. Di berdiri tegak menatap layar komputer sekarang. Layar komputer masih dipenuhi oleh pesan itu juga balasannya.

Hyuk jae ingin segera pergi dari situ, dia tidak sanggup membacanya. Tapi hami menahannya agar dia tetap berdiri disitu.

 

Sonbaenim…

Setahun ini sudah cukup bagiku untuk memaafkanmu. Aku sudah melupakan semua perlakuanmu padaku dulu. Tapi Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini padaku?

Aku benar2 rindu padamu. Aku masih menyayangimu sungguh. Rasa sayang itulah yang membuatku memaafkanmu dengan mudah.

Saranghaneun sonbaenim…

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Aku tidak bisa kembali lagi. Kini sudah ada cinta lain yang menungguku. Cinta yang tidak bisa kuabaikan walaupun aku ingin. Cinta yang terus menyinariku walaupun aku bersembunyi dalam kegelapan. Cinta yang terus menemaniku walaupun kusendiri.

Aku tidak bisa berpaling darinya lagi sonbae.

Mianhae…

 

‘chagiya… Benarkah apa yang kau tulis?’ tanya hyuk jae.

Hami mengangguk seraya menatap pria yang telah menyelamatkannya dari kegelapan itu. Hyuk jae mengecup kening istrinya.

‘saranghae…’ ucapnya.

‘nado saranghae..’ jawab hami. Jauh dilubuk hatinya hami menangis. Ditatapnya layar komputer.

‘mianhae sonbaenim… Jeongmal mianhae…’

Advertisements
 
Comments Off on Mianhae part.5

Posted by on October 27, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: