RSS

Monthly Archives: January 2011

Just My Little brother?! end

Pintu kamarku diketuk, aku membuka mataku perlahan. Ah, rupanya aku tertidur. Menangis seharian ternyata sangat melelahkan ya? Akupun belum makan sejak tadi. Pantas saja perutku keroncongan.

Aku lalu bangun dari tempat tidurku untuk membukakan pintu. Rupanya si pengetuk ini tidak ingin mengganggu privasiku.

“Jonghyun?” Jonghyun memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Annyeong…” ucapnya, ditambah dengan seulas senyuman manis di bibirnya.

“Kenapa kau…ah…” aku terhuyung. Pandanganku tiba-tiba saja menjadi buram. Jonghyun menarikku sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Noona! Gwenchana?” tanyanya khawatir. Dia lalu memapahku kembali ke tempat tidurku.

“Noona masih sakit?” tanyanya lagi. Dia membaringkanku dan menyelimutiku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.

“Ani, aku hanya belum makan dari pagi.” Ucapku hampir tanpa suara. Mungkin tenagaku sudah habis.

“Aigoo~ sudah jam berapa ini Noona? Bagaimana bisa kau tidak makan?” ucapnya. Wajahnya Nampak khawatir.

Aku tersenyum. Belum pernah aku diperhatikan seperti ini oleh pria. Bahkan oleh Eunhyuk oppa sekalipun. Eunhyuk oppa?

“Noona? Noona menangis?” Tanya Jonghyun. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku cepat-cepat membalikan badanku. Aku tidak ingin Jonghyun melihatku menangis lagi.

“Noona? Apa kau tidak mau bercerita padaku?” tanyanya. Aku hanya diam.

“Hh, baiklah… kalau begitu aku pulang saja ya?” ucapnya. Dia bangkit berdiri.

“Jonghyun ya, bisakah mintakan bubur pada omma? Aku sangat lapar…”

“Tunggu sebentar.” Hanya itu yang kudengar sampai Jonghyun menghilang di balik pintu.

*

“Noona…” Jonghyun membelai tanganku lembut. Aku tertidur lagi rupanya.

“Ini buburmu.” Ucapnya.

“Ne, gomawo…” ucapku seraya bangkit.

“Kusuapi ya?” aku hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Aku sangat lapar. Mangkok itu akan kosong dalam 5 menit!” ucapku sambil merebut mangkok itu dari tangannya.

“Ceritakan apa kegiatanmu hari ini.” Ucapku seraya membuat sendokan pertama pada buburku.

“Apa ya….” Jonghyun sibuk menceritakan semua kelakuan teman-temannya hari ini. Sesekali dia menirukan gerakan atau ekpresi teman-temannya itu danhal itu berhasil membuatku tertawa. Dia juga bercerita bahwa hari ini dia berhasil memasukan gol ke gawang lawan dan Minho memintanya untuk bermain pada pertandingan nanti. Sambil mendengarkan ceritanya tanpa kusadari bubur di mangkokku telah ludes.

“Jadi besok Noona akan kembali sekolah kan?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Sekolah? Apa yang harus kulakukan sekarang disana? Dulu aku bersemangat karena setiap hari aku bisa melihat senyuman dari Eunhyuk oppa. Sonbae yang sangat kusukai. Hanya karena melihat tatapan matanya yang tulus saja sudah membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan bertahan sampai dia pulang. Tapi sekarang? Apa yang harus kutunggu?

“Noona? Noona melamun lagi.” Ucapannya menyadarkanku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. Terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin air mataku terjatuh lagi.

“Aku mengerti. Kalau begit aku pulang ya, Noona.” Ucapnya. Dia lalu mengambil tasnya dan melangkah ke pintu.

“Jonghyun-ah…” sahutku sebelum dia melewati pintu kamar. Dia menolehkan sedikit kepalanya.

“Besok jemput aku ya…”

“Ne, Noona! Aku pamit dulu! Annyeong…” ucapnya riang. Senyum tetap menghiasi wajahnya sampai dia menghilang di balik pintu.

*

Jika saja aku tidak ingat akan janjiku pada Jonghyun, aku tidak akan berangkat ke sekolah hari ini. Kakiku benar-benar terasa berat untuk kulangkahkan. Seandainya tidak ada Jonghyun di sisiku, entah bagaimana keadaanku sekarang.

“Kemarin kenapa kau tidak masuk?” Tanya Hee Gi yang sudah berada dihadapanku.

“Sakit.” Jawabku singkat.

“Kudengar Jonghyun menjengukmu.” Tanyanya lagi. Hee gi memulai penyelidikannya lagi. Padahal aku sedang tidak ingin bercerita saat ini.

“Iya.”

“Sepertinya saat ini Jonghyun lebih berarti untukmu daripada aku.” Ucapnya dingin. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak suka Jonghyun kan? Bagaimana jika aku bercerita tentang kejadian kemarin padanya. Bisa-bisa dia mendamprat Jonghyun dan menuduhnya sebagai perusak hubungan kami. Tidak. Kasihan dia. Lebih baik seperti in saja. Urusanku dengan Hee Gi, biar aku yang selesaikan sendiri nanti ketika hatiku sudah siap untuk menceritakannya tanpa menangis.

*

Besok natal. Hiasan natal sudah dipasang sejak awal bulan di berbagai sudut kota. Aku melihat salju yang turun perlahan di balik jendela kamarku. Tahun lalu aku merayakannya bersama Eunhyuk oppa. Besok? Aku tidak tahu. Akupun tidak berharap banyak.

Ponselku bordering. Dengan malas-malasan aku bergerak dari tempatku berdiri tadi. Merutuki siapa yang sudah mengganggu waktu melankolis-ku. Jonghyun

“Yoboseyo?”

“Noona!”

“Wae?” tanyaku. Semenjak hari itu Jonghyun tidak pernah memaksaku untuk menceritakan tentang masalah itu lagi padanya. Perlahan sikapku berubah. Aku tidak lagi bersikap manja padanya. Malah lebih sering cuek, bahkan lebih seperti hyung daripada noona untuknya. Dia menyadari sikapku tentu saja. Tapi dia selalu tersenyum untukku.

“Apa kau melihat salju?” tanyanya antusias.

“Ne, waeyo? Sebelum kau menelpon aku sedang menikmatinya.”

“Jadi aku mengganggumu?” tanyanya.

“Ne…” jawabku malas-malasan. Keterlaluan? Kurasa tidak, karena dia selalu tertawa dengan tingkahku yang seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya terus menerus khawatir padaku.

“Hahaha… khas jawabanmu Hyung!” ucapnya.

“Ya! Jika kau menelponku hanya untuk berkata seperti itu, kupukul kau nanti!” tentu saja aku tidak bersungguh-sungguh.

“Jika Noona memang berani, pukul saja aku!” ucapnya lalu menutup telepon. Apa maksudnya?

Aku lalu kembali berdiri di sisi jendela. Jalanan sudah ditutupi oleh salju. Begitu juga dengan halamanku. Semuanya putih.

Tapi siapa itu? Seseorang sedang mengerjakan sesuatu di halamanku. Tepat dibawah jendelaku. Omma, appa, dan kibum sedang keluar. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan?

Dering ponsel membuatku terlonjak.

“Sial! Kenapa ada yang menelpon disaat seperti ini?!” umpatku dalam hati.

“Yoboseyo!” sapaku kasar.

“Noona…”

“Jonghyun ya.. ada apa lagi?” tanyaku mulai tidak sabar.

“Lihat kehalaman!” ucapnya lalu menutup teleponnya kembali. Aku menurutinya. Lagi, aku berdiri di sisi jendela tempatku berdiri tadi.

Aku melihatnya, dibawah jendelaku, sedang mengarahkan kedua tangannya ke atas. Ke arahku. Seolah mengharapkanku jatuh ke pelukannya. Dia membuat sebuah hati yang sangat besar dari menyingkirkan salju yang menutupi halamanku.

Aku membuka jendelaku. Udara dingin segera saja menerpa wajahku.

“Jonghyun-ah, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Noona..!! Besok natal! Aku harus meminta hadiahku pada Santa malam ini!!” teriaknya.

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti!”

“Noona… aku ingin kau membantuku! Bisakah kau berdoa pada Santa agar kau menjadi hadiah natalku?” aku mengerjapkan mataku tiga kali. Aku rasa aku sedang berhalusinasi. Dia adik kecilku.

“Apa?!”

“Noona, mau kan kau membantuku?” teriaknya lagi.

“Noona! Sekali saja! Sebagai dongsaeng yang baik aku selalu menuruti kemauanmu! Sekarang sebagai noona yang baik, maukah kau membantuku?” teriaknya lagi. Suaranya agak bergetar. Dia kedinginan.

Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera turun dan menariknya masuk. Aku membuatkannya segelas teh hangat yang kuharap bisa menghangatkan badannya kembali.

Aku menjatuhkan diri ke sofa, tepat disampingnya. Dia menyesap tehnya perlahan tanpa berani menatapku. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya. Aku lalu menutup mataku. Rasanya sangat nyaman.

“Jonghyun-ah…” panggilku. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit, mungkin ia menoleh padaku.

“Ne…” jawabnya lembut.

“Aku sudah meminta pada Santa tadi.”

“Benarkah? Lalu Santa bilang apa?” tanyanya antusias.

“Dia tidak mengabulkannya, karena aku anak yang nakal.” Sahutku. Dia menghela nafas. Sepertinya dia kecewa.

“Tapi karena kau dongsaeng yang baik, mintalah pada Santa hadiahmu sendiri. Mungkin Santa akan mengabulkannya.” Lanjutku. Jonghyun memegang kedua pundakku dan memposisikan agar tubuhku berada tepat dihadapannya.

“Noona.” Dia menatapku,lurus. Tangannya sedikit bergetar dibahuku.

“Apa kau mau menjadi hadiah natalku?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Ani.” Jawabku, dia melepaskan tangannya.

“Kaulah hadiah untukku.” Lanjutku lagi. Perlahan-lahan, senyuman terkembang di bibirnya. Segera saja dia mendekapku.

“Noona, jadilah noona yang terbaik untukku. Hanya untukku. Araesso?” ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya.

Hanya adik? Cih, tidak mungkin! Sejak awal orang-orang sudah menyadari hubunganku dan dia lebih dari hubungan adik dan kakak saja. Hanya saja aku terlalu ragu untuk mengakuinya. Hari ini, semua keraguanku itu sudah lenyap. Tidak ada lagi rasa bersalah saat aku menunjukan kasih sayangku padanya.

Hee gi? Oops, aku lupa! Aku harus menelponnya setelah ini. Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat hatiku sudah siap kan? Dan aku rasa, sekarang aku sudah siap. Ini semua karena Jonghyun, dongsaeng kesayanganku!

“Dongsaeng-ah, saranghae…”

“Nado saranghae, Noona.”

***

 

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on January 22, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Just My little Brother?! part. 3

Baru saja kami melangkah…

“Rara?”

“Oppa…” aku merasa tubuhku tidak bertulang…

“Apa yang kau lakukan? Siapa dia?” tanyanya datar. Oppa sangat marah!

“Dia…dia…”

“Jonghyun imnida!” jawab Jonghyun, dia membungkukan sedikit badannya. Kenapa dia malah menjawab disaat seperti ini.

“Oppa, aku sudah selesai. Ayo!” tiba-tiba saja seorang gadis menarik lengan Eunhyuk oppa tanpa mempedulikan kami. Eunhyuk oppa terlihat kaget, tapi dia tidak berbuat apa-apa dan menuruti gadis itu. Dia terus menatapku walaupun badannya ditarik gadis itu.

Siapa dia? Apa itu alasan Eunhyuk oppa tidak pernah mempedulikanku akhir-akhir ini?

Tanpa kusadari air mataku menetes setitik demi setitik. Kenapa?

Kurasakan tangan Jonghyun menyentuh pipiku, lalu menghapus air mataku.

“Noona, gwenchana?” tanyanya. Aku lalu memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.

*

“Jadi itu pacarmu noona?” Tanya Jonghyun. Dia membawaku ke taman dan membelikanku es krim untuk menenangkanku.

Aku mengangguk pelan.

“Hh…kenapa Noona tidak bilang padaku?” ucapnya.

“Mianhae. Kau marah?” tanyaku. Jonghyun malah menggaruk belakang kepalanya.

“Bukan begitu Noona, sekarang pacarmu itu pasti salah paham pada kita.” Jawabnya.

“Aku tidak peduli, dia juga sudah tidak peduli lagi padaku.”

“Haha, Noona benar-benar lucu! Jika memang Noona sudah tidak peduli, untuk apa Noona menangisinya?” ucapnya lagi. Perkataannya benar-benar menancap dihatiku. Aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.

“Ayo,kuantar pulang.” Ajaknya. Dia mengulurkan tangannya padaku, lalu menggenggamnya lagi seperti tadi pagi. Aku benar-benar merasa nyaman bersamanya.

“Jonghyun-ah… Mianhae, kita tidak sempat makan malam. Akan kutraktir lain kali.” Ucapku tulus.

“Gwenchana, kita masih punya banyak waktu Noona.” Jawabnya. Dia tidak menolehkan wajahnya padaku, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Tapi entah kenapa, aku berpikir ini sangat romantis.

Setelah itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Seharusnya saat ini aku memikirkan Eunhyuk oppa bukan? Tapi anehnya, memikirkan apa yang jonghyun pikirkan lebih menarik untuk ku saat ini. Apa ini artinya…?

“Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanyaku. Aku merasakan tangan Jonghyun menegang. Dia lalu menoleh padaku.

“Noona, sebaiknya aku pulang sekarang. Annyeong…” ucapnya. Dia lalu segera pergi dari hadapnku tanpa berkata apa-apa lagi.

“rupanya dia tidak cukup jantan menghadapiku huh?” tiba-tiba saja Eunhyuk oppa sudah ada dibelakangku. Aku berbalik, rupanya karena ini jonghyun pergi.

“apa maksud oppa?” tanyaku.

“Harusnya aku yang bertanya begitu padamu Shin Rara? Apa yang kau lakukan dengan anak itu?!” bentaknya. Aku belum pernah melihat oppa semarah ini padaku.

“lalu oppa sendiri?! Apa yang oppa lakukan bersama gadis itu? 3 bulan oppa tidak pernah memberiku kabar! Oppa sibuk dengan gadis itu hah?!” jawabku tak mau kalah. Dada ku kembang kempis menahan emosi yang begitu meledak-ledak. Mataku mulai panas lagi. Oh tidak, jangan menangis sekarang Shin Rara!

“Aku…aku…” Eunhyuk oppa tidak bisa menjawab, aku lalu mendorongnya dan berlari masuk ke dalam rumah. Kubanting pintu depan dan segera berlari menuju kamarku. Akupun tidak mempedulikan teriakan omma dan Kibum yang merasa terganggu dengan tingkahku barusan. Yang kuinginkan sekarang hanya menangis sepuasnya.

*

Aku tertidur dalam tangisanku. Mataku sembab dan wajahku terlihat sangat lusuh. Aku tidak ingin pergi ke sekolah dengan keadaan seperti ini.

“Rara ya, apa kau tidak pergi sekolah?” Tanya omma setelah mengetuk pintuku beberapa kali. Aku lalu membuka pintu dan melongokan sebagian wajahku keluar.

“Omma, kepalaku pusing sekali. Apa omma bisa memintakan izin untukku?” pintaku.

“Aigoo… wajahmu benar-benar pucat. Apa kau demam nak?” Tanya omma khawatir. Aku menggelengkan kepalaku.

“Ani, aku hanya pusing. Seharian ini aku ingin istirahat saja dikamar, Omma.” Ucapku.

“Baiklah, Omma akan menelpon sekolahmu. Istirahatlah. Omma akan buatkan bubur.”

“Ne…” setelah Omma pergi aku kembali menutup pintuku. Aku juga menonaktifkan ponselku. Aku hanya ingin sendirian hari ini.

Aku kembali naik keatas ranjang dan menarik selimut sampai ke kepala. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi setiap kali aku menutup mataku bayangan kejadian kemarin selalu berputar dikepalaku.

“Sial!” umpatku kesal.

Aku mendengar suara pintu yang dibuka.

“Taruh saja buburnya disitu Omma, nanti akan kumakan.” Ucapku.

“Ini aku…” ucap seseorang yang suaranya sudah sangat familiar di telingku.

“Ada apa oppa kemari?” tanyaku ketus. Aku tidak membuka selimutku. Aku tidak ingin dia melihat keadaanku yang berantakan seperti ini.

“Aku ingin minta maaf soal kemarin. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti itu.” Ucapnya. Aku tidak menjawab.

“Gadis itu… dia teman kerjaku di radio.” Lanjutnya.

“Tidak mungkin dia hanya temankan?” balasku. Emosiku kembali terpancing.

“Dia…dia…”

Aku lalu membuka selimutku dan menatap matanya. Matanya tidak pernah bisa berbohong padaku.

“kau suka padanya kan oppa?” tanyaku lagi. Eunhyuk oppa hanya diam. Dia juga tidak berani menatapku.

“Dan jika aku boleh menduga, dia sudah menjadi yeoja chingumu sejak 3 bulan yang lalu kan?” tanyaku lagi semakin memojokkannya.

“Oppa, tatap aku dan jawab pertanyaanku!” pintaku keras. Perlahan-lahan Eunhyuk oppa memberanikan diri menatap mataku. Aku sudah bisa mendapat jawabannya.

“Mianhae…” ucapnya.

“Huh, maaf? Untuk apa? Tidak ada gunanya…” jawabku, lagi-lagi air mataku mengalir. Selamat Shin rara, kau terlihat sangat lemah dihadapannya sekarang!

“Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud berbuat seperti itu padamu.” Ucapnya. Dia membelai pipiku dan menghapus air mataku.

“Oppa, sebaiknya kita akhiri saja.” Ucapku. Eunhyuk oppa terlihat sangat terkejut dengan perkataanku. Tapi kemudian

“Jika menurutmu itu yang terbaik.” Ucapnya.

Dia lalu pergi meninggalkanku dalam genangan air mata.

*

 

 

 
2 Comments

Posted by on January 17, 2011 in fanfiction

 

Senyum Malaikatku

Entah sejak kapan dia mulai berubah. Dihadapanku dia selalu bersikap biasa saja. Seolah segalanya berjalan dengan sempurna.

Dimulai ketika aku membelikannya sebuah mobil.

“chagi, lihatlah apa yang kubelikan untukmu..” panggilku. Aku meminta malaikatku itu untuk keluar dari istana kami dan melihat kejutan apa yang telah kupersiapkan untuknya.

Dia keluar dengan perlahan. Aku terlalu gembira sampai aku tidak menyadari ada setitik air disudut matanya.

“oppa, apa ini?” tanyanya. Dia masih berusaha untuk menyenangkanku dengan berpura-pura terkejut.

“ini untukmu. Aku tidak enak jika harus membiarkanmu kesana kemari menggunakan bis. Apa kata orang jika mereka tahu aku membiarkan istri tercintaku kedinginan dan kepanasan?” godaku. Malaikatku tersenyum.

“tapi ini terlalu mahal oppa.” sahutnya. Istriku ini memang seorang ibu rumah tangga yang baik. Dia sangat cermat untuk membelanjakan uang kami.

“tidak apa-apa. Karena ini untuk istriku tercinta.” jawabku. Aku lalu merangkulnya seraya memandangi vw beattle yang baru saja kuberikan. Dia lalu memeluk ku.

“gomawo oppa…”

aku tersenyum puas karena telah bisa membuat istriku bahagia.

*

Aku baru saja selesai syuting dan beranjak pulang. Di tengah jalan aku melihat sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Si gadis memegang sebuket mawar dan kotak coklat. Saat itu aku berpikir mungkin aku bisa melihat senyuman malaikatku malam ini. Jadi kuputuskan untuk membeli sebuket besar mawar putih dan sekotak coklat kesukaannya.

Sepanjang perjalanan aku tersenyum melihat mawar dan coklat itu berada dalam mobilku. Aku membayangkan betapa girangnya malaikatku ini saat mendapatkan hadiah kesukaannya.

Aku mengetuk pintu depan dan menutupi wajahku dengan buket bunga itu. Tak lama kemudian aku mendengar pintu itu dibuka.

“maaf, anda mencari siapa?” tanya malaikatku.

“apa nyonya lee ada?” tanyaku dengan suara yang dibuat2.

“ya, saya sendiri.” jawabnya dengan suara bergetar. Sepertinya dia ketakutan.

“ada kiriman untuk anda nyonya.” ucapku lagi masih dengan suara dibuat2.

“oppa!” teriaknya saat dia mengambil bunga dari tanganku.

“aku pikir siapa tadi.” ucapnya, kelihatan sekali dia sangat lega.

“hahaha, aku juga punya ini untukmu!” ucapku sambil memberikan coklat yang kusembunyikan dibelakang punggungku tadi.

“ah… Gomawo…” ucapnya, dia lalu mengecup pipiku sekilas.

“ayo oppa, aku sudah memasak untukmu.” ucapnya. Dia lalu menaruh kedua hadiahku di meja bordes dan menarikku menuju ruang makan.

Aku tidak terlalu mengindahkannya saat itu. Aku sudah puas dengan senyumannya.

meja makan sudah dia tata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik di mataku. Makanan sudah terhidang diatas meja. Sepertinya hari ini malaikatku sudah bekerja sangat keras.

“ayo oppa, cobalah…” ucapnya. aku lalu mengambil sumpit dan mulai melahap masakannya.

Masakannya sangat enak tapi dia tahu aku tidak suka. Kenapa dia memasak ini untukku?

“chagi…”

“kenapa oppa? Apa masakanku tidak enak?” tanyanya.

“apa kau lupa aku tidak suka seafood?” ucapku. Dia terlihat terkejut saat itu.

“mi…mianhae oppa…” ucapnya lalu setitik demi setitik air jatuh dari pelupuk matanya.

“gwe, gwenchana… ini sangat enak! Aku akan menghabiskannya!” ucapku. Aku lalu memenuhi mulutku dengan semua makanan itu. Dia lalu menghapus air matanya dan tersenyum.

Tidak apa2, asalkan malaikatku bisa tersenyum kembali.

*

setiap malam kami selalu tidur saling berpelukan. Tapi ditengah malam, aku selalu mendapatinya sedang menangis di balkon kamar kami sambil menatap langit malam. Aku tidak pernah mengganggunya. Aku hanya menunggu. Menunggunya untuk bercerita.

Tapi dia tidak pernah bercerita. Sampai akhirnya aku tidak bisa menunggu lagi. Saat kami sarapan aku bertanya padanya.

“chagi, apa kau ada masalah?” tanyaku. Aku melihat dia hampir saja menjatuhkan gelasnya saat itu, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya kembali.

“masalah? Tidak ada oppa. Wae?”

“benarkah?” tanyaku penuh selidik. Dia lalu tersenyum dan mengangguk. dia memang tahu kelemahanku. Aku paling tidak tahan jika sudah melihat senyumannya.

“baiklah… Karena hari ini jadwalku kosong, bagaimana jika kita jalan2?” usulku untuk mengalihkan perhatiannya.

“sudah lama kan kita tidak jalan2 berdua?” lanjutku lagi. Dia tersenyum dan mengangguk.

Lalu, disinilah kami. Bergandengan tangan di sepanjang myeongdong. Sekali2 aku ingin berjalan dengannya sebagai orang biasa. Aku pikir kami bergembira sampai aku melihat matanya yang kosong dari bayangan di etalase toko.

setelah makan siang, tanpa dia ketahui aku membawanya menuju namsan tower. Aku ingin mengaitkan gembok kami berdua. orang bilang jika kita mengaitkan gembok yang bertuliskan nama kita dan nama pasangan, maka cinta kami berdua akan abadi. Aku ingin membuktikannya.

“oppa, apa kita akan keatas sana?” tanya malaikatku saat kami telah tiba.

“ne chagiya… Aku ingin mengaitkan gembok atas nama kita berdua.” jawabku. Dia terlihat menggigil. Aku lalu membuka jaketku dan memakaikan padanya.

“oppa, aku lelah. Apa kita bisa pulang saja?” pintanya. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi melihat wajahnya yang begitu pucat akhirnya aku menurut.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya. Dia memang selalu tersenyum padaku, tapi sinar matanya bukan untukku. Dia memang selalu tidur dipelukanku, tapi hatinya bukanlah untukku. Dia memang selalu menggenggam tanganku, tapi kehangatannya bukanlah untukku.

*

Sekarang aku berdiri di hadapan 2 buah nisan yang terlihat sangat serasi. Matahari mulai turun, membuat semburat jingga di langit kota. Tapi aku belum juga mau beranjak dari sana. Aku masih rindu malaikatku.

Beberapa hari yang lalu akhirnya aku tahu apa yang terjadi padanya. Ketika aku membelikan mobil untuknya, saat itulah dia kehilangan belahan jiwanya. Dia selalu senang menggunakan bis karena dia merasa seolah2 belahan jiwanya sedang disana juga bersamanya.

Dia begitu terkejut saat menerima mawar dan coklat dariku karena begitulah cara belahan jiwanya memberinya kejutan. Dia memasakan ku seafood yang tidak kusuka, karena itu adalah makanan kesukaan belahan jiwanya.

Dia begitu kosong saat kubawa berjalan2 di myeongdong, karena kesanalah mereka berdua sering menghabiskan sore bersama. Dan dia tidak mau kuajak mengaitkan gembok atas nama kami karena gembok atas namanya sudah terkait erat dengan gembok milik belahan jiwanya diatas sana.

Aku begitu bodoh karena tidak menyadarinya lebih cepat. Aku begitu terbuai dengan kesempurnaan dirinya. Sampai aku melupakan jika dia hanyalah seorang gadis biasa yang mempunyai masa lalu dan pernah terluka.

Hari ini, malaikatku pergi menyusul belahan jiwanya. Untuk pertama dan terakhir kalinya dia meminta sesuatu padaku. Dia ingin memenuhi janjinya, selalu berada disamping belahan jiwanya sampai ujung waktu.

Aku akan merindukan senyuman malaikatku. Tapi aku tahu, saat ini malaikatku sedang tersenyum pada dunia

***

 
9 Comments

Posted by on January 13, 2011 in Uncategorized

 

Surat Bertinta Ungu

Aku merindukanmu. Maaf, aku tahu kamu pasti merasa aneh. Tapi aku benar-benar merindukanmu.

Eunhyuk memandang surat itu berkali-kali. Tidak ada kalimat lain disana. Dia tahu, surat itu adalah surat dari fansnya. Karena ia dapatkan dari tumpukan surat yang diberikan oleh manajernya tadi siang. Tapi isi surat itu berbeda. Biasanya surat-surat itu akan menuliskan hal yang sama ‘oppa saranghae, semangat, jaga kesehatan’ kalimat-kalimat seperti itu. Tidak ada yang bilang merindukannya. Sangat aneh bukan jika kau merindukan orang yang dengan mudahnya bisa kau temukan di televisi, radio, dan internet?

Eunhyuk melipat surat bertinta ungu itu dan menyimpannya di sebuah kotak bersama surat-surat dari penggemarnya yang lain.

 

Aku ingin mendengar suaramu, aku ingin melihat wajahmu. Oh, aku benar-benar rindu padamu.

Ini surat kedua yang Eunhyuk dapat. Masih orang yang sama, tulisan yang sama, dan tinta yang sama. Tidak ada nama pengirim tentu saja.

seperti biasa dia melipat surat itu dan memasukannya ke dalam kotak.

 

*

 

Membaca surat bertinta ungu itu sekarang menjadi hobi barunya. Eunhyuk menjadi sangat penasaran siapakah si penulis surat itu. Kenapa selalu tersirat kerinduan di dalam surat-suratnya? Dia kan tidak pernah cuti.

Eunhyuk membuka surat bertinta ungu itu. Hanya satu kalimat, tapi dapat membuat wajahnya panas seketika.

 

Maaf, aku telah mengotorimu.

Pikirannya segera berimajinasi dengan liar. Seseksi itukah dia sampai seorang gadis memimpikannya menjadi teman tidurnya?

 

Ini sudah 1 bulan surat bertinta ungu itu tidak pernah mampir lagi di kotak suratnya.

“aku merindukanmu juga.” ucapnya tanpa sadar sambil memandang surat-surat itu di kotaknya yang berwana ungu juga. Eunhyuk sengaja memilih kotak yang berbeda untuk menyimpan surat itu.

Dia menolak jika menyatakan si pengirimnya adalah orang yang spesial baginya. Tapi tidak bisa dipungkiri, hatinya tergelitik untuk mengetahui siapa si penulis surat itu.

 

Eunhyuk kembali menatap surat bertinta ungu yang ada dalam genggamannya. Surat itu berada bersama surat-surat lainnya yang diberikan manajer tadi siang. Hanya ada 2 kalimat.

 

Temui aku di han gang besok malam. Aku akan memakai syal ungu.

 

Hanya itu. Eunhyuk tersenyum, gadis ini benar-benar penuh percaya diri. Bagaimana bisa dia begitu yakin bahwa dirinya akan memenuhi permintaannya itu? Tapi Eunhyuk memang tidak ingin menolaknya.

 

Malam itu Eunhyuk siap dengan hoodie dan masker yang menutup sebagian wajahnya. Dia berjalan menuju han gang. Dia harus menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas. pandangan nya menyapu seluas mungkin.

Dia menemukannya! Seseorang dengan syal berwarna ungu sedang duduk ditepi sungai han. Eunhyuk segera menghampiri nya.

“annyeong haesseyo.” sapanya. Orang itu berbalik. Seorang pria, bertubuh tegap, dibalut mantel dan syal ungu melingkar di lehernya.

Eunhyuk terhenyak, bagaimana mungkin fans nya adalah seorang pria?

“duduklah.” ucapnya. Eunhyuk menurut dengan takut-takut. Dia menjaga jarak dari “fans” nya itu.

“aku masih normal. Tidak usah tegang seperti itu.” ucapnya. Eunhyuk hanya tersenyum.

“surat-surat itu bukan aku yang menulisnya.” lanjutnya.

“lalu siapa?”

“kekasihku.” Eunhyuk kembali menatap pria itu heran. Apa yang akan dilakukan pria itu? Apa dia akan memukulnya karena dia telah merebut perhatian gadisnya?

Eunhyuk menyiapkan kuda-kuda nya, bersiap kalau-kalau pria itu akan memukulnya. Besok dia akan tampil di tv, bisa gawat jika netizen melihat bogem di wajahnya.

“dia meninggal 2 hari yang lalu.” lanjutnya. Eunhyuk terkejut. Dia lalu menepuk pundak pria itu untuk menunjukan rasa simpatinya.

“aku tahu dia selalu mengirimu surat. Surat-surat itu dia tulis saat dia di rumah sakit. Kau adalah pria dalam imajinasinya, pria yang sempurna.”

“tapi kau yang selalu ada disampingnya kan?” pria itu menggeleng lemah.

“aku bekerja di Jepang. Baru sebulan yang lalu aku kembali karena mendengar sakitnya semakin parah.” Eunhyuk mengingat-ingat, sejak sebulan yang lalu surat-surat bertinta ungu itu tidak pernah mampir lagi ke dalam kotak suratnya.

“aku tahu dari kakaknya, setiap hari dia selalu mengirimi mu surat. Entah apa yang dia tulis, tapi aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah menghiburnya. Dia selalu tertawa saat melihatmu di televisi.” ujarnya.

“itu profesiku.”

“tapi aku malah meninggalkannya.” pria itu tertunduk lemah.

Akhirnya eunhyuk sadar apa yang sebenarnya surat-surat itu maksudkan.

“hei teman, kau tahu apa yang dia tulis untukku? Dia bilang, dia merindukanku. Hanya merindukanku. Tidak cinta, atau apapun seperti yang dikatakan fansku yang lain. Aku rasa sebenarnya surat itu untukmu.” pria itu kembali terhenyak. Dia menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan semua kesedihan yang selama ini dia pendam.

 

Eunhyuk kembali ke apartemennya dengan pikiran melayang.

“tragis.” batinnya. Dia membuka kotak surat berwarna ungu dan membaca surat-surat di dalamnya. Dia membacanya sambil berbaring. Enhyuk melihat tulisan lain disana. Tidak dengan tinta ungu. Dia mengambil sesuatu dari meja kerjanya agar bisa melihat tulisan itu lebih jelas.

Semua surat dia periksa, dan kalimat itu selalu tercantum disana. eunhyuk tersenyum. Selama ini surat-surat itu ternyata bukan untuknya.

 

Untuk kekasihku yang sedang bekerja keras untukku di Jepang

 

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2011 in fanfiction

 

Tags: