RSS

Just My Little brother?! end

22 Jan

Pintu kamarku diketuk, aku membuka mataku perlahan. Ah, rupanya aku tertidur. Menangis seharian ternyata sangat melelahkan ya? Akupun belum makan sejak tadi. Pantas saja perutku keroncongan.

Aku lalu bangun dari tempat tidurku untuk membukakan pintu. Rupanya si pengetuk ini tidak ingin mengganggu privasiku.

“Jonghyun?” Jonghyun memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Annyeong…” ucapnya, ditambah dengan seulas senyuman manis di bibirnya.

“Kenapa kau…ah…” aku terhuyung. Pandanganku tiba-tiba saja menjadi buram. Jonghyun menarikku sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Noona! Gwenchana?” tanyanya khawatir. Dia lalu memapahku kembali ke tempat tidurku.

“Noona masih sakit?” tanyanya lagi. Dia membaringkanku dan menyelimutiku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.

“Ani, aku hanya belum makan dari pagi.” Ucapku hampir tanpa suara. Mungkin tenagaku sudah habis.

“Aigoo~ sudah jam berapa ini Noona? Bagaimana bisa kau tidak makan?” ucapnya. Wajahnya Nampak khawatir.

Aku tersenyum. Belum pernah aku diperhatikan seperti ini oleh pria. Bahkan oleh Eunhyuk oppa sekalipun. Eunhyuk oppa?

“Noona? Noona menangis?” Tanya Jonghyun. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku cepat-cepat membalikan badanku. Aku tidak ingin Jonghyun melihatku menangis lagi.

“Noona? Apa kau tidak mau bercerita padaku?” tanyanya. Aku hanya diam.

“Hh, baiklah… kalau begitu aku pulang saja ya?” ucapnya. Dia bangkit berdiri.

“Jonghyun ya, bisakah mintakan bubur pada omma? Aku sangat lapar…”

“Tunggu sebentar.” Hanya itu yang kudengar sampai Jonghyun menghilang di balik pintu.

*

“Noona…” Jonghyun membelai tanganku lembut. Aku tertidur lagi rupanya.

“Ini buburmu.” Ucapnya.

“Ne, gomawo…” ucapku seraya bangkit.

“Kusuapi ya?” aku hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Aku sangat lapar. Mangkok itu akan kosong dalam 5 menit!” ucapku sambil merebut mangkok itu dari tangannya.

“Ceritakan apa kegiatanmu hari ini.” Ucapku seraya membuat sendokan pertama pada buburku.

“Apa ya….” Jonghyun sibuk menceritakan semua kelakuan teman-temannya hari ini. Sesekali dia menirukan gerakan atau ekpresi teman-temannya itu danhal itu berhasil membuatku tertawa. Dia juga bercerita bahwa hari ini dia berhasil memasukan gol ke gawang lawan dan Minho memintanya untuk bermain pada pertandingan nanti. Sambil mendengarkan ceritanya tanpa kusadari bubur di mangkokku telah ludes.

“Jadi besok Noona akan kembali sekolah kan?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Sekolah? Apa yang harus kulakukan sekarang disana? Dulu aku bersemangat karena setiap hari aku bisa melihat senyuman dari Eunhyuk oppa. Sonbae yang sangat kusukai. Hanya karena melihat tatapan matanya yang tulus saja sudah membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan bertahan sampai dia pulang. Tapi sekarang? Apa yang harus kutunggu?

“Noona? Noona melamun lagi.” Ucapannya menyadarkanku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. Terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin air mataku terjatuh lagi.

“Aku mengerti. Kalau begit aku pulang ya, Noona.” Ucapnya. Dia lalu mengambil tasnya dan melangkah ke pintu.

“Jonghyun-ah…” sahutku sebelum dia melewati pintu kamar. Dia menolehkan sedikit kepalanya.

“Besok jemput aku ya…”

“Ne, Noona! Aku pamit dulu! Annyeong…” ucapnya riang. Senyum tetap menghiasi wajahnya sampai dia menghilang di balik pintu.

*

Jika saja aku tidak ingat akan janjiku pada Jonghyun, aku tidak akan berangkat ke sekolah hari ini. Kakiku benar-benar terasa berat untuk kulangkahkan. Seandainya tidak ada Jonghyun di sisiku, entah bagaimana keadaanku sekarang.

“Kemarin kenapa kau tidak masuk?” Tanya Hee Gi yang sudah berada dihadapanku.

“Sakit.” Jawabku singkat.

“Kudengar Jonghyun menjengukmu.” Tanyanya lagi. Hee gi memulai penyelidikannya lagi. Padahal aku sedang tidak ingin bercerita saat ini.

“Iya.”

“Sepertinya saat ini Jonghyun lebih berarti untukmu daripada aku.” Ucapnya dingin. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak suka Jonghyun kan? Bagaimana jika aku bercerita tentang kejadian kemarin padanya. Bisa-bisa dia mendamprat Jonghyun dan menuduhnya sebagai perusak hubungan kami. Tidak. Kasihan dia. Lebih baik seperti in saja. Urusanku dengan Hee Gi, biar aku yang selesaikan sendiri nanti ketika hatiku sudah siap untuk menceritakannya tanpa menangis.

*

Besok natal. Hiasan natal sudah dipasang sejak awal bulan di berbagai sudut kota. Aku melihat salju yang turun perlahan di balik jendela kamarku. Tahun lalu aku merayakannya bersama Eunhyuk oppa. Besok? Aku tidak tahu. Akupun tidak berharap banyak.

Ponselku bordering. Dengan malas-malasan aku bergerak dari tempatku berdiri tadi. Merutuki siapa yang sudah mengganggu waktu melankolis-ku. Jonghyun

“Yoboseyo?”

“Noona!”

“Wae?” tanyaku. Semenjak hari itu Jonghyun tidak pernah memaksaku untuk menceritakan tentang masalah itu lagi padanya. Perlahan sikapku berubah. Aku tidak lagi bersikap manja padanya. Malah lebih sering cuek, bahkan lebih seperti hyung daripada noona untuknya. Dia menyadari sikapku tentu saja. Tapi dia selalu tersenyum untukku.

“Apa kau melihat salju?” tanyanya antusias.

“Ne, waeyo? Sebelum kau menelpon aku sedang menikmatinya.”

“Jadi aku mengganggumu?” tanyanya.

“Ne…” jawabku malas-malasan. Keterlaluan? Kurasa tidak, karena dia selalu tertawa dengan tingkahku yang seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya terus menerus khawatir padaku.

“Hahaha… khas jawabanmu Hyung!” ucapnya.

“Ya! Jika kau menelponku hanya untuk berkata seperti itu, kupukul kau nanti!” tentu saja aku tidak bersungguh-sungguh.

“Jika Noona memang berani, pukul saja aku!” ucapnya lalu menutup telepon. Apa maksudnya?

Aku lalu kembali berdiri di sisi jendela. Jalanan sudah ditutupi oleh salju. Begitu juga dengan halamanku. Semuanya putih.

Tapi siapa itu? Seseorang sedang mengerjakan sesuatu di halamanku. Tepat dibawah jendelaku. Omma, appa, dan kibum sedang keluar. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan?

Dering ponsel membuatku terlonjak.

“Sial! Kenapa ada yang menelpon disaat seperti ini?!” umpatku dalam hati.

“Yoboseyo!” sapaku kasar.

“Noona…”

“Jonghyun ya.. ada apa lagi?” tanyaku mulai tidak sabar.

“Lihat kehalaman!” ucapnya lalu menutup teleponnya kembali. Aku menurutinya. Lagi, aku berdiri di sisi jendela tempatku berdiri tadi.

Aku melihatnya, dibawah jendelaku, sedang mengarahkan kedua tangannya ke atas. Ke arahku. Seolah mengharapkanku jatuh ke pelukannya. Dia membuat sebuah hati yang sangat besar dari menyingkirkan salju yang menutupi halamanku.

Aku membuka jendelaku. Udara dingin segera saja menerpa wajahku.

“Jonghyun-ah, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Noona..!! Besok natal! Aku harus meminta hadiahku pada Santa malam ini!!” teriaknya.

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti!”

“Noona… aku ingin kau membantuku! Bisakah kau berdoa pada Santa agar kau menjadi hadiah natalku?” aku mengerjapkan mataku tiga kali. Aku rasa aku sedang berhalusinasi. Dia adik kecilku.

“Apa?!”

“Noona, mau kan kau membantuku?” teriaknya lagi.

“Noona! Sekali saja! Sebagai dongsaeng yang baik aku selalu menuruti kemauanmu! Sekarang sebagai noona yang baik, maukah kau membantuku?” teriaknya lagi. Suaranya agak bergetar. Dia kedinginan.

Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera turun dan menariknya masuk. Aku membuatkannya segelas teh hangat yang kuharap bisa menghangatkan badannya kembali.

Aku menjatuhkan diri ke sofa, tepat disampingnya. Dia menyesap tehnya perlahan tanpa berani menatapku. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya. Aku lalu menutup mataku. Rasanya sangat nyaman.

“Jonghyun-ah…” panggilku. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit, mungkin ia menoleh padaku.

“Ne…” jawabnya lembut.

“Aku sudah meminta pada Santa tadi.”

“Benarkah? Lalu Santa bilang apa?” tanyanya antusias.

“Dia tidak mengabulkannya, karena aku anak yang nakal.” Sahutku. Dia menghela nafas. Sepertinya dia kecewa.

“Tapi karena kau dongsaeng yang baik, mintalah pada Santa hadiahmu sendiri. Mungkin Santa akan mengabulkannya.” Lanjutku. Jonghyun memegang kedua pundakku dan memposisikan agar tubuhku berada tepat dihadapannya.

“Noona.” Dia menatapku,lurus. Tangannya sedikit bergetar dibahuku.

“Apa kau mau menjadi hadiah natalku?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Ani.” Jawabku, dia melepaskan tangannya.

“Kaulah hadiah untukku.” Lanjutku lagi. Perlahan-lahan, senyuman terkembang di bibirnya. Segera saja dia mendekapku.

“Noona, jadilah noona yang terbaik untukku. Hanya untukku. Araesso?” ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya.

Hanya adik? Cih, tidak mungkin! Sejak awal orang-orang sudah menyadari hubunganku dan dia lebih dari hubungan adik dan kakak saja. Hanya saja aku terlalu ragu untuk mengakuinya. Hari ini, semua keraguanku itu sudah lenyap. Tidak ada lagi rasa bersalah saat aku menunjukan kasih sayangku padanya.

Hee gi? Oops, aku lupa! Aku harus menelponnya setelah ini. Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat hatiku sudah siap kan? Dan aku rasa, sekarang aku sudah siap. Ini semua karena Jonghyun, dongsaeng kesayanganku!

“Dongsaeng-ah, saranghae…”

“Nado saranghae, Noona.”

***

 

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on January 22, 2011 in fanfiction

 

Tags:

3 responses to “Just My Little brother?! end

  1. kawaiimei

    January 23, 2011 at 11:40 am

    chingu, really nice story! XD
    really like this ff so much ..

     
    • blackandwhite2204

      January 23, 2011 at 12:57 pm

      jeongmal?
      gomawo…
      jadi semangat nih bikin cerita2 lainnya!^^/

       
      • winkimkawaii

        January 27, 2011 at 2:26 pm

        yupppp , suka bangettt .
        di tunggu FF yg laen nya yah chingu 🙂

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: