RSS

Monthly Archives: February 2011

Hanya Dia

“kau butuh teman?” itu yang pertama kali dia ucapkan padaku. Dia tidak menuntut apa-apa saat itu. Hanya duduk diam disampingku hingga air mataku berhenti mengalir.

“gomawo~” ucapku lirih. Dia memiringkan kepalanya.

“untuk apa?”

“untuk menemaniku.” jawabku tulus. Dia hanya tersenyum.

“aku hanya tidak tahan melihat seorang gadis menangis.” lalu pergi meninggalkanku.

“kenapa setiap kali aku bertemu denganmu kau selalu menangis?” tanyanya. Tapi setelahnya dia malah duduk disampingku dan tidak berkata apa-apa lagi.

“gomawo.” ucapku. Entah sudah berapa lama kami duduk disana. Dia hanya diam, menunggu tangisanku mereda tanpa ingin tahu apapun.

Lagi-lagi dia memeringkan kepalanya dan bertanya.

“untuk apa?”

“karena tidak menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan.” jawabku tulus. Tapi dia malah mengacak rambutku pelan.

“tersenyumlah.” ucapnya lalu pergi. Aku menghapus air mataku lalu mengerjarnya.

“hei, tunggu! Siapa namamu?” tanyaku.dia berbalik lalu menjulurkan tangannya padaku.

“kim jong woon.” jawabnya.

“park rara.”

“lagi-lagi kau menangis.” ucapnya frustasi. aku segera mengusap air mataku yang terlanjur jatuh.

“mianhae~”

“untuk apa?”

“karena setiap kali kita bertemu aku selalu seperti ini.” jawabku. Tapi dia tidak menjawab. Dia malah menggores-gores tanah dengan ranting yang dia ambil entah dari mana.

“ibuku meninggal ketika kau menemukanku menangis pertama kali disini.” ucapku. Aku menatap sungai yang mengalir tenang di hadapanku. Dia menolehkan wajahnya kepadaku, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“setelah itu ayahku menikah lagi tanpa persetujuanku.”

“biar kutebak, itu saat aku menemukanmu menangis lagi disini?” tanyanya. Aku mengangguk.

“dan hari ini…” aku berhenti. Air mataku kembali mengalir.

“hari ini, kakak ku kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ayah.” dia menggeser duduknya lalu mengelus punggungku.

Aku membenamkan wajahku ke dalam kedua lututku. Mencoba menyembunyikan air mata yang turun kian deras. Walaupun kurasa percuma karena dia sudah tahu.

Lagi-lagi dia hanya diam, menunggu air mataku mengering.

“gomawo~” ucapku akhirnya.

“untuk apa?”

“karena sudah mendengarkanku.” ucapku tulus. Dia hanya tersenyum dan pergi lagi.

“tunggu!” pintaku. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik.

“come on!” ajaknya. Aku lalu menghapus air mataku dan berlari mengejarnya.

Ya, tidak apa-apa. Asal ada dia. Aku tidak akan apa-apa.

Kim jong woon…

Nama itu sudah terukir dalam hatiku sekarang. Dia memberiku harapan. Dia memberiku ketenangan. karena dia, aku dapat melihat sisi indah dari kehidupanku. Aku menjadi kuat karenanya.

Dia sumber kekuatanku. Dia sumber inpirasiku. Dia, cintaku. Ya, dia segalanya untukku.

“oppa, lihat! Lukisanku masuk majalah!” ujarku girang. Dengan tenang dia mengambil majalah itu dariku.

“wah, kau semakin hebat saja!” pujinya. Dia lalu mengelus kepalaku lembut. Aku tersenyum.

“kalau begitu traktir aku!” pintaku manja.

“mwo? Kan kamu yang sudah terkenal park rara. Seharusnya kamu yang mentraktirku makan.” ucapnya. Dia mencubit pipiku.

“tapi kan oppa lebih tua. Seharusnya oppa yang mentraktir dongsaengnya.” aku menggembungkan kedua pipiku. Biasanya cara ini selalu berhasil.

“iya,iya. Hh… Dongsaengku yang satu ini memang sangat manja!” lagi-lagi dia mencubit pipiku.

“kyaaa~ sakit oppa!” aku lalu memukul-mukul lengannya. Dia tertawa. Tawa yang selalu kurindukan di hari-hariku.

Kim jong woon. Walaupun dia hanya menganggapku sebagai adiknya, tidak apa-apa. Yang penting saat ini adalah aku bisa selalu menikmati tawanya.

Dia menghilang! Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya! Di tempat biasa kami bertemupun dia tidak kutemukan.

bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? harus kucari kemana lagi dia? Aku tidak tahu dimana dia tinggal. Diapun tidak pernah memberitahuku tentang keluarganya.

Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Selama ini yang kupikirkan hanya diriku saja! Aku tidak pernah tau siapa dirinya!

Kim jong woon. Woonie oppa.. Dimana kau sebenarnya?

Aku terus berusaha hidup seperti saat aku bersamanya. Aku harus hidup, karena kuyakin aku pasti bisa bertemu dengannya lagi. Tapi dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia memikirkanku seperti aku memikirkannya?

Aku melempar-lemparkan kerikil ke dalam sungai. Hari ini tepat 1 tahun sejak dia pergi. Mengapa dia tidak pernah menghubungiku? Apa dia tidak rindu padaku?

Ponselku berdering. Tanpa memperhatikan aku merogohnya dari saku dan menekan tombol menjawab.

“yoboseyo?” sapaku malas. Siapa pula yang menghubungiku disaat seperti ini?

“rara ya…” sahut suara dari seberang. Suara itu! Suara yang telah lama kunanti.

“oppa…?” tanyaku tak percaya.

“ne, ini aku.” jawabnya. Aku tidak bisa lagi membendung perasaanku. Tangisanku pecah seketika.

“op..oppa kemana saja? Me..mengapa meninggalkanku sendirian?” tanyaku dalam tangisan.

“uljima. Kau terlihat sangat cantik dengan dress putih itu. Jangan merusaknya.” ucapnya. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling. Oppa ada disekitar sini dan sedang memperhatikanku.

“kau tidak usah mencariku rara ya.” ucapnya. Benar dugaanku. Dia memang disekitar sini. Tapi dimana?

“oppa… Kumohon jangan pergi lagi…” ucapku. Aku mulai berjalan untuk mencarinya.

“kau bisa hidup dengan baik tanpa diriku.” jawabnya. Aku menemukannya! Sosok itu bersembunyi diantara pepohonan dan sedang memunggungiku.

Aku berjalan lebih cepat untuk meraihnya.

“oppa…” dia menoleh. aku segera memeluknya.

“jangan menghilang lagi.” ucapku.

“mianhae rara ya…” hanya itu yang dia ucapkan.

Sekarang aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Kim jong woon yang begitu kuat, kini terbaring tak berdaya di hadapanku. Dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk bernafaspun dia harus dibantu oleh alat. Selang infus tidak pernah lepas dari tubuhnya. Berbagai suntikan dia terima setiap harinya.

Penyakitnya telah menggerogoti tubuhnya.Pipinya, yang dulu sering sekali kucubiti, kini tirus. Oppaku telah berubah.

Aku belum sempat berbagi kebahagiaan dengannya. Akupun belum sempat mengukir senyum diwajahnya. Haruskah aku kehilangan untuk kesekian kali? Ya Tuhan kumohon jangan lakukan itu!

Sebab aku menyayanginya, sebab aku mengasihinya. Sebab aku tak rela jika tak selalu bersamanya. Aku rapuh tanpanya, seperti kehilangan harapan.

Lagi-lagi aku menangis. Aku memang gadis cengeng! Melihatnya seperti ini membuatku tidak tega.

“rara ya…” bisiknya lirih. Aku memandangnya. Dia menjulurkan tangannya padaku.

Aku segera menghapus air mataku dan menyambut ulurannya.

“tersenyumlah.” ucapnya. Dan dia tersenyum.

“tersenyumlah untuk ku.” lanjutnya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menarik kedua sudut bibirku.

“dongsaeng terbaik oppa…” ucapnya, hampir tanpa suara. Aku berusaha sebisa mungkin agar air mataku tidak jatuh.

“oppa juga oppa terbaik!” balasku. Dia kembali tersenyum.

“tidak, oppa telah membuatmu menangis. Oppa jahat.” ucapnya lagi. Aku menggeleng.

“lihat! Aku tidak menangis! Aku tersenyum kan?” ucapku. Ya, aku berbohong. Kebohonganku yang pertama padanya.

dia menggenggam erat tanganku.

“hiduplah dengan sangat baik.” ucapnya.

“ne… Oppa juga.” balasku.

“jadilah pelukis yang paling hebat se Korea!” ucapnya.

“ne, pasti oppa…” dia lagi-lagi tersenyum. Kedua matanya lalu tertutup secara perlahan. Dia kembali tertidur.

Jika memang harus kualami duka. Kuatkan hati ini menerimanya ya Tuhan.

“anda begitu muda, tapi sudah bisa membuat pameran seperti ini. Bagaimana anda bisa melakukannya?” tanya seorang wartawan.

Aku duduk menghadap puluhan wartawan di hadapanku. Blitz kamera tidak henti-hentinya menyala. Ya, aku sedang melakukan konferensi pers untuk pameran pertamaku.

“tentu saja aku tidak melakukannya sendirian. Begitu banyak orang-orang yang mendukungku. Tanpa mereka semua aku bukanlah apa-apa.” jawabku.

“siapa saja mereka?” tanya wartawan lagi.

“keluargaku, ayah, ibu, dan oppa. Serta seseorang yang selalu menjadi inspirasi bagiku. Pameran ini kupersembahkan untuknya.” jawabku lagi.

“wah, dia sangat beruntung. Sebenarnya siapa dia? Apakah dia begitu berarti untuk Anda?”

“dia suamiku. Jong woon oppa, saranghae…” jawabku. Ruangan konferensi riuh seketika. Dan aku bisa melihatnya tersenyum diatas kursi rodanya. Ya, asal dia disampingku, semuanya akan baik-baik saja.

 

The end

 

 

 
2 Comments

Posted by on February 15, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Perak & Laut

Nuri meletakan pensilnya. Dia tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada 2 pria itu. Tidak bisakah mereka beristirahat dari pikirannya untuk sekejap saja? Saat ini nuri benar-benar butuh konsentrasi. Deadline untuk perlombaan desain yang dia ikuti hanya tinggal menghitung hari. Dan sampai hari ini dia belum menyelesaikan 1 desainpun! Padahal perlombaan ini adalah hidup matinya sebagai seorang desainer perhiasan.

Nuri mengacak acak rambutnya. Dia menelungkupkan wajahnya diatas meja.

“ini untukmu! Agar kau selalu mengingatku saat melihat gelang perak ini! Jika kau mengingatku, pasti hatimu akan menjadi tenang dan inspirasi akan datang dari mana saja!” sebuah suara dari dalam pikirannya membuatnya terbangun. Dia menatap gelang perak yang sudah berada di pergelangan tangan kirinya sejak 2 bulan yang lalu itu.

Suara pria itu terus bergema di kepalanya. Pria yang bersinar seperti perak. Tidak seperti emas yang mahal, perak lebih mudah dijangkau. Muda, itulah trademark perak. Dia sangat atraktif dan menyenangkan. Berada bersamanya akan membuatmu merasa beberapa tahun lebih muda. Tapi disaat bersamaan dia akan menghiburmu, seberapa lelahpun dia. Senyumnya yang ceria akan membuatmu merasa gembira.

“saat kau gundah, lihat saja foto ini. Kau pasti akan merasa lebih tenang.” ada suara lain yang bergaung di kepalanya. Kali ini nuri mengalihkan pandangannya menuju sebuah foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto laut. Kampung halaman dari pria itu. Pria yang tenang seperti lautan. Yang menyimpan banyak kekayaan di dalamnya. Sinar matanya sangat hangat, seperti mentari. Senyum yang begitu tenang, bahkan bisa menghanyutkanmu. Suaranya yang merdu, seperti deburan ombak di pantai.

Dan kemarin keduanya meminta nuri untuk menjadi tempat mereka bersandar. Perak yang bersinar, dan laut yang tenang. Manakah yang harus dia pilih? Mengapa dia harus memilih?

“apakah perak dan laut tidak bisa bersatu?” nuri membatin. Dia kembali menelungkupkan wajahnya diatas meja kerjanya. Tiba-tiba nuri terbangun. Dia mengambil pensil dan buku sketsanya. semalam suntuk dia sibuk mengguratkan goresan-goresan diatas kertas. Begitu matahari terbit, selesai jugalah sketsa tersebut.

“yah, mereka bisa bersatu jika aku yang membuatnya.” ucap nuri. Dia lalu memasukan hasil rancangannya ke dalam amplop coklat dan mengirimkannya.

Cincin perak dengan permata biru dan grafir ombak di sekelilingnya menjadi asesoris yang paling digandrungi anak muda saat ini. Yah, sketsa yang nuri buat malam itu berhasil mengambil perhatian para juri.

Dan hari ini, Nuri tersenyum pada kedua pria yang ada di hadapannya. Dia lalu menyerahkan sebuah kotak kepada mereka. Mereka membukanya bersama. Sebuah gelang rantai perak. Ada sebuah garis biru di setiap mata rantainya. Nuri membuatnya khusus untuk mereka berdua.

Mereka tersenyum saat tahu nuri sudah lebih dulu mengenakannya. dan merekapun segera memakainya.

Tidak ada yang lebih istimewa, semuanya istimewa di mata nuri. Nuri tidak bisa bernafas tanpa melihat senyuman perak yang begitu menyilaukan. Dia juga tidak bisa tidur nyenyak jika tidak melihat sinar mata laut yang begitu menenangkan. Untuk saat ini, biarkanlah ia memiliki keduanya. Sampai suatu hari nanti, ketika dia bisa mendesain cintanya sendiri.

 

TAMAT

 

 
7 Comments

Posted by on February 5, 2011 in Uncategorized

 

Tags: ,