RSS

Hanya Dia

15 Feb

“kau butuh teman?” itu yang pertama kali dia ucapkan padaku. Dia tidak menuntut apa-apa saat itu. Hanya duduk diam disampingku hingga air mataku berhenti mengalir.

“gomawo~” ucapku lirih. Dia memiringkan kepalanya.

“untuk apa?”

“untuk menemaniku.” jawabku tulus. Dia hanya tersenyum.

“aku hanya tidak tahan melihat seorang gadis menangis.” lalu pergi meninggalkanku.

“kenapa setiap kali aku bertemu denganmu kau selalu menangis?” tanyanya. Tapi setelahnya dia malah duduk disampingku dan tidak berkata apa-apa lagi.

“gomawo.” ucapku. Entah sudah berapa lama kami duduk disana. Dia hanya diam, menunggu tangisanku mereda tanpa ingin tahu apapun.

Lagi-lagi dia memeringkan kepalanya dan bertanya.

“untuk apa?”

“karena tidak menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan.” jawabku tulus. Tapi dia malah mengacak rambutku pelan.

“tersenyumlah.” ucapnya lalu pergi. Aku menghapus air mataku lalu mengerjarnya.

“hei, tunggu! Siapa namamu?” tanyaku.dia berbalik lalu menjulurkan tangannya padaku.

“kim jong woon.” jawabnya.

“park rara.”

“lagi-lagi kau menangis.” ucapnya frustasi. aku segera mengusap air mataku yang terlanjur jatuh.

“mianhae~”

“untuk apa?”

“karena setiap kali kita bertemu aku selalu seperti ini.” jawabku. Tapi dia tidak menjawab. Dia malah menggores-gores tanah dengan ranting yang dia ambil entah dari mana.

“ibuku meninggal ketika kau menemukanku menangis pertama kali disini.” ucapku. Aku menatap sungai yang mengalir tenang di hadapanku. Dia menolehkan wajahnya kepadaku, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“setelah itu ayahku menikah lagi tanpa persetujuanku.”

“biar kutebak, itu saat aku menemukanmu menangis lagi disini?” tanyanya. Aku mengangguk.

“dan hari ini…” aku berhenti. Air mataku kembali mengalir.

“hari ini, kakak ku kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ayah.” dia menggeser duduknya lalu mengelus punggungku.

Aku membenamkan wajahku ke dalam kedua lututku. Mencoba menyembunyikan air mata yang turun kian deras. Walaupun kurasa percuma karena dia sudah tahu.

Lagi-lagi dia hanya diam, menunggu air mataku mengering.

“gomawo~” ucapku akhirnya.

“untuk apa?”

“karena sudah mendengarkanku.” ucapku tulus. Dia hanya tersenyum dan pergi lagi.

“tunggu!” pintaku. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik.

“come on!” ajaknya. Aku lalu menghapus air mataku dan berlari mengejarnya.

Ya, tidak apa-apa. Asal ada dia. Aku tidak akan apa-apa.

Kim jong woon…

Nama itu sudah terukir dalam hatiku sekarang. Dia memberiku harapan. Dia memberiku ketenangan. karena dia, aku dapat melihat sisi indah dari kehidupanku. Aku menjadi kuat karenanya.

Dia sumber kekuatanku. Dia sumber inpirasiku. Dia, cintaku. Ya, dia segalanya untukku.

“oppa, lihat! Lukisanku masuk majalah!” ujarku girang. Dengan tenang dia mengambil majalah itu dariku.

“wah, kau semakin hebat saja!” pujinya. Dia lalu mengelus kepalaku lembut. Aku tersenyum.

“kalau begitu traktir aku!” pintaku manja.

“mwo? Kan kamu yang sudah terkenal park rara. Seharusnya kamu yang mentraktirku makan.” ucapnya. Dia mencubit pipiku.

“tapi kan oppa lebih tua. Seharusnya oppa yang mentraktir dongsaengnya.” aku menggembungkan kedua pipiku. Biasanya cara ini selalu berhasil.

“iya,iya. Hh… Dongsaengku yang satu ini memang sangat manja!” lagi-lagi dia mencubit pipiku.

“kyaaa~ sakit oppa!” aku lalu memukul-mukul lengannya. Dia tertawa. Tawa yang selalu kurindukan di hari-hariku.

Kim jong woon. Walaupun dia hanya menganggapku sebagai adiknya, tidak apa-apa. Yang penting saat ini adalah aku bisa selalu menikmati tawanya.

Dia menghilang! Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya! Di tempat biasa kami bertemupun dia tidak kutemukan.

bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? harus kucari kemana lagi dia? Aku tidak tahu dimana dia tinggal. Diapun tidak pernah memberitahuku tentang keluarganya.

Aku bodoh! Benar-benar bodoh! Selama ini yang kupikirkan hanya diriku saja! Aku tidak pernah tau siapa dirinya!

Kim jong woon. Woonie oppa.. Dimana kau sebenarnya?

Aku terus berusaha hidup seperti saat aku bersamanya. Aku harus hidup, karena kuyakin aku pasti bisa bertemu dengannya lagi. Tapi dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia memikirkanku seperti aku memikirkannya?

Aku melempar-lemparkan kerikil ke dalam sungai. Hari ini tepat 1 tahun sejak dia pergi. Mengapa dia tidak pernah menghubungiku? Apa dia tidak rindu padaku?

Ponselku berdering. Tanpa memperhatikan aku merogohnya dari saku dan menekan tombol menjawab.

“yoboseyo?” sapaku malas. Siapa pula yang menghubungiku disaat seperti ini?

“rara ya…” sahut suara dari seberang. Suara itu! Suara yang telah lama kunanti.

“oppa…?” tanyaku tak percaya.

“ne, ini aku.” jawabnya. Aku tidak bisa lagi membendung perasaanku. Tangisanku pecah seketika.

“op..oppa kemana saja? Me..mengapa meninggalkanku sendirian?” tanyaku dalam tangisan.

“uljima. Kau terlihat sangat cantik dengan dress putih itu. Jangan merusaknya.” ucapnya. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling. Oppa ada disekitar sini dan sedang memperhatikanku.

“kau tidak usah mencariku rara ya.” ucapnya. Benar dugaanku. Dia memang disekitar sini. Tapi dimana?

“oppa… Kumohon jangan pergi lagi…” ucapku. Aku mulai berjalan untuk mencarinya.

“kau bisa hidup dengan baik tanpa diriku.” jawabnya. Aku menemukannya! Sosok itu bersembunyi diantara pepohonan dan sedang memunggungiku.

Aku berjalan lebih cepat untuk meraihnya.

“oppa…” dia menoleh. aku segera memeluknya.

“jangan menghilang lagi.” ucapku.

“mianhae rara ya…” hanya itu yang dia ucapkan.

Sekarang aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Kim jong woon yang begitu kuat, kini terbaring tak berdaya di hadapanku. Dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan untuk bernafaspun dia harus dibantu oleh alat. Selang infus tidak pernah lepas dari tubuhnya. Berbagai suntikan dia terima setiap harinya.

Penyakitnya telah menggerogoti tubuhnya.Pipinya, yang dulu sering sekali kucubiti, kini tirus. Oppaku telah berubah.

Aku belum sempat berbagi kebahagiaan dengannya. Akupun belum sempat mengukir senyum diwajahnya. Haruskah aku kehilangan untuk kesekian kali? Ya Tuhan kumohon jangan lakukan itu!

Sebab aku menyayanginya, sebab aku mengasihinya. Sebab aku tak rela jika tak selalu bersamanya. Aku rapuh tanpanya, seperti kehilangan harapan.

Lagi-lagi aku menangis. Aku memang gadis cengeng! Melihatnya seperti ini membuatku tidak tega.

“rara ya…” bisiknya lirih. Aku memandangnya. Dia menjulurkan tangannya padaku.

Aku segera menghapus air mataku dan menyambut ulurannya.

“tersenyumlah.” ucapnya. Dan dia tersenyum.

“tersenyumlah untuk ku.” lanjutnya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menarik kedua sudut bibirku.

“dongsaeng terbaik oppa…” ucapnya, hampir tanpa suara. Aku berusaha sebisa mungkin agar air mataku tidak jatuh.

“oppa juga oppa terbaik!” balasku. Dia kembali tersenyum.

“tidak, oppa telah membuatmu menangis. Oppa jahat.” ucapnya lagi. Aku menggeleng.

“lihat! Aku tidak menangis! Aku tersenyum kan?” ucapku. Ya, aku berbohong. Kebohonganku yang pertama padanya.

dia menggenggam erat tanganku.

“hiduplah dengan sangat baik.” ucapnya.

“ne… Oppa juga.” balasku.

“jadilah pelukis yang paling hebat se Korea!” ucapnya.

“ne, pasti oppa…” dia lagi-lagi tersenyum. Kedua matanya lalu tertutup secara perlahan. Dia kembali tertidur.

Jika memang harus kualami duka. Kuatkan hati ini menerimanya ya Tuhan.

“anda begitu muda, tapi sudah bisa membuat pameran seperti ini. Bagaimana anda bisa melakukannya?” tanya seorang wartawan.

Aku duduk menghadap puluhan wartawan di hadapanku. Blitz kamera tidak henti-hentinya menyala. Ya, aku sedang melakukan konferensi pers untuk pameran pertamaku.

“tentu saja aku tidak melakukannya sendirian. Begitu banyak orang-orang yang mendukungku. Tanpa mereka semua aku bukanlah apa-apa.” jawabku.

“siapa saja mereka?” tanya wartawan lagi.

“keluargaku, ayah, ibu, dan oppa. Serta seseorang yang selalu menjadi inspirasi bagiku. Pameran ini kupersembahkan untuknya.” jawabku lagi.

“wah, dia sangat beruntung. Sebenarnya siapa dia? Apakah dia begitu berarti untuk Anda?”

“dia suamiku. Jong woon oppa, saranghae…” jawabku. Ruangan konferensi riuh seketika. Dan aku bisa melihatnya tersenyum diatas kursi rodanya. Ya, asal dia disampingku, semuanya akan baik-baik saja.

 

The end

 

 

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 15, 2011 in fanfiction

 

Tags:

2 responses to “Hanya Dia

  1. dhean

    February 15, 2011 at 7:24 am

    hhhhhhh……..
    bernafas lega setelah tau ending nya….
    tadinya aku pikir kim jong woon bakal “D”…..soalnya dia bilang gini segala “hiduplah dengan sangat baik.” (keren2….^^….)
    tapi syukurlah dia masih tetap bertahan meskipun dengan kondisi seperti itu…^^…
    salut buat rara yang tetap saranghae ma yespa….^^…..

    tapi terlalu pendek….belum sampek dleweran (nangis) baru berkaca2 aja ni….^^..
    ditunggu ff selanjutny ya…^^…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: