RSS

Monthly Archives: March 2011

Chan Chan

“Mengapa semua gelap?” itu yang pertama kali keluar dari mulutnya saat dia sadar. Aku melihat wajah Hami onnie memucat. Dia segera berlari keluar dari kamar entah untuk apa. Tapi beberapa saat kemudian aku tahu, dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan pria itu.

“Keadaannya sudah Stabil.” ucap dokter itu.

“Bagaimana kau bisa mengatakan kondisiku stabil? Aku tidak bisa melihat!” ujar pria itu. Hami onnie lalu mengajak dokter untuk berbicara diluar. Meninggalakan aku dan pria itu lagi.

Aku tidak bicara apapun, toh dia tidak dapat melihatku. Pria itu kelihatan sangat marah, atau lebih tepatnya frustasi. Dia memukul-mukul kepalanya. Apa menurutnya berbuat seperti itu akan membuat penglihatannya pulih?

Tak lama Hami onnie kembali, dia terlihat seperti habis menangis. Tapi dia tersenyum ketika masuk.

“Oppa, gwenchana?” tanya Hami onnie.

“Ya! Pertanyaan macam apa itu? Kau pikir aku baik-baik saja tanpa penglihatanku?” ujarnya. Apa dia suka sekali berteriak-teriak seperti itu? Jika tidak ada Hami onnie, sudah kupukul dia!

Tapi Hami onnie hanya tersenyum. Dia membelai rambut pria itu lembut.

“Tenanglah, penglihatanmu akan segera kembali.” ucapnya. Tapi pria itu malah menepis tangam Hami onnie. Hami onnie menggenggam tangannya. Sepertinya itu sakit.

“Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi! Haha, aku lupa, bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat!” ujarnya. Pria itu menangis. Cih, seperti anak kecil saja!

Tapi Hami onniepun ikut menangis. Dia memeluk pria itu, awalnya dia berontak. Namun Hami onnie tidak melepasnya. Mereka menangis bersama. Sampai akhirnya pria itu tertidur. Mungkin lelah. Dengan lembut, Hami onnie membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya. Dia memang calon istri yang baik. Tapi tidak akan kubiarkan pria jahat itu yang menjadi suaminya!

Dia lalu menghampiriku, duduk dan memelukku.

“Berikan aku kekuatan chan ya…” ucapnya. Sebelum akhirnya tertidur sambil memelukku.

Hami onnie terlihat lebih segar hari ini. Dia sedang menyuapi pria itu. Dengan susah payah dia membujuk agar pria itu membuka mulutnya. Tapi dasar keras kepala, dia malah menepis tangan Hami onnie dan membuat sendoknya terlempar ke lantai.

“Oppa… Kau harus makan. Bagaimana caranya kau sembuh jika terus menerus seperti ini?” ucapnya. Sepertinya Hami onnie sudah mulai kesal karena kelakuan kekasihnya itu. Cih, bahkan mulutku terasa gatal menyebutnya seperti itu.

“Lebih baik aku mati!” teriak pria itu.

“Keurae. Mati saja kau! Dengan begitu akupun akan bebas mengakhiri hidupku!” teriak Hami onnie histeris.

Aku terbelalak, Hami onnie yang biasanya tenang, bisa histeris seperti ini. Aku menghampirnya lalu membelainya. Dia memelukku dan menangis di pundakku.

“Hami ya? Kau… Kau menangis?” tanya pria itu. Bodoh! Tentu saja dia menangis karena kau! Aish, aku ingin sekali menggigit dan mencabik-cabiknya. Tapi Hami onnie memelukku dengan erat.

“Hami ya…” panggilnya. Tapi Hami onnie tetap memelukku. Dia tidak bergeming.

“Hami ya, uljima…” ucap pria itu lirih, hampir berbisik. Dia menggapai-gapai udara dihadapannya. Dan bangkit dari ranjang. Dia berjalan perlahan.

“Hami ya…” panggilnya lagi. Tapi Hami onnie tetap sesengukan di pundakku. Dan karena dia belum terbiasa tanpa penglihatan, akhirnya dia tersandung kaki tempat tidurnya dan jatuh terjerembab.

“Oppa!” teriak Hami onnie kaget. Dia melepaskanku dan berlari menuju kekasihnya itu.

“Oppa gwenchana? Mianhae, mianhae…” ucap Hami onnie. Sambil menangis dia memapah pria itu kembali menuju tempat tidurnya.

Hami onnie terlalu baik. Padahal berkali-kali dia disakiti pria itu. Tapi dia selalu memaafkannya. Aku sudah menasehatinya, tapi Hami onnie selalu bilang bahwa saat ini pria itu tidak sedang menjadi dirinya. Dulu dia sangat baik. Dan Hami onnie yakin, jika dia bersabar sedikit lagi saja dia akan mendapatkan pria itu kembali.

“Kajima~” ucap pria itu. Hami onnie mengangguk.

“Aku akan selalu disini.”

Hami onnie terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini. Matanya terlihat bersinar-sinar. Aku suka mata itu, terlebih sekarang dia nampak seperti bintang yang berkilauan.

“Chan ya, jaga rumah ya. Aku akan ke rumah sakit menemani Hyukjae oppa. Makanmu sudah ku siapkan.” ucap Hami onnie. Aku mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum seraya mengacak rambutku pelan.

“Anak pintar…” ucapnya. Dia lalu pergi. Tapi hei, mengapa aku merasa aneh? Aku seperti tidak akan melihatnya lagi.

Sepanjang hari aku gelisah. Memikirkan apa yang sedang dilakukan Hami onnie bersama pria itu sekarang. Aku terus menerus memikirkan hal yang baik. Tapi hatiku tetap saja tidak tenang.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan diluar. Mungkin aku hanya bosan saja.

Aku berjalan dengan santai di tengah kota. Orang-orang sibuk berlalu lalang disekitarku. “Chan…!” uhm? Aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan ternyata Hami onnie sedang melambai padaku dari seberang jalan. Aku segera berlari menghampirinya.

Tapi seketika ekspresinya berubah panik. Aku tidak mengerti apa yang terjadi karena tiba-tiba dia sudah mendorongku, menyelamatkanku dari truk yang melintas.

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Hami onnie mengeluarkan banyak sekali darah. Dan orang-orang berbaju putih itu membawanya memasuki sebuah ruangan. Seorang perawat memintaku untuk menunggu saja diluar. Aku menurut.

Entah sudah berapa lama aku menunggu disana, yang jelas saat aku terbangun keluarga Hami onnie telah datang. Begitu melihatku bangun, ibu Hami onnie segera memelukku erat.

“Kita kehilangan dia Chan…” ucapnya sambil menangis di pundakku. Ayah Hami onnie mengelus pundak istrinya itu perlahan. Mencoba menenangkannya. Adik laki-laki Hami onnie hanya bisa diam di kursi. Mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar, dan beberapa perawat membawa pria itu keluar dari sana.

“Operasinya berhasil.” ucapnya.

“Syukurlah, Hami pasti bahagia di alam sana, terima kasih dokter.” ucap ayah Hami.

Aku kembali melihat pria itu. Matanya di perban. Sepertinya dia sudah mendapatkan donor mata yang tepat. Ayah dan ibu Hami onnie mengajakku untuk menjenguknya. Mereka bilang hari ini perban pria itu akan dibuka. Dan mereka harus memberitahukan yang sebenarnya padanya.

Dokter mulai menggunting perban pria itu dan menggulungnya perlahan. Dia lalu melepaskan kapas yang tertempel di mata pria itu satu persatu.

“Buka matamu perlahan.” ucap dokter. Pria itu menurut. Dia membuka matanya secara perlahan. Aku dapat menangkap ketegangan di ruangan ini saat menunggu jawaban darinya.

Pria itu mengerutkan alisnya. Memperhatikan kami satu persatu. Dan berhenti saat melihatku.

“Hami ya?” tanyanya. Tapi perlahan penglihatannya mulai jelas dan malah kaget saat melihatku.

“Dimana Hami, ajuma? Dan mengapa anjing ini ada disini?” tanyanya. Cih, dia belum berubah juga! Dia masih belum juga menyukaiku!

Ibu Hami onnie terlihat menimbang-nimbang. Kata apa yang tepat untuk menjelaskan padanya.

Aku berbicara padanya, tapi dia tetap tidak mengerti.

“Hyukjae ya, Hami berpesan agar kau menjaga mata itu dengan baik.” ucap Ibu Hami onnie.

“Tapi dimana dia?”

“Dia sudah tiada nak, dia meninggal saat kau dioperasi. Dia mendonorkan korneanya kepadamu.” ucap ibu Hami onnie. Bahunya kembali berguncang. Dia menangis lagi. Suaminya segera merangkulnya.

Pria itupun terlihat terguncang. Dia menatapku dalam. Dia lalu membelaiku.

“Chan ya, berikan aku kekuatan…” ucapnya.

Pria itu berubah menjadi sangat baik sekarang. Mungkin karena ada bagian dari Hami onnie didalam tubuhnya. Entahlah, yang jelas saat ini dia sangat menyukaiku!

Sore ini sangat cerah, dia mengajakku berjalan-jalan ke taman. Dia lalu duduk di bangku taman dan membiarkanku untuk duduk disampingnya.

Kami hanya diam, menikmati pemandangan di taman sampai akhirnya, aku melihatnya! Aku melihat Hami onnie berdiri di tepi danau. Dia memakai dress selutut berwarna putih. Rambutnya yang lurus sebahu dia biarkan tergerai begitu saja.

Dan sepertinya Hyukjae oppa juga melihat hal yang sama denganku. Tanpa pikir panjang lgi kami berlari melintasi taman dan mendekat kepadanya.

“Hami ya?” panggil Hyukjae oppa. Hami onnie berbalik.

“Maaf, sepertinya anda salah.” ternyata dia bukan Hami onnie. Tapi mereka sangat mirip.

“Ah, maaf.” ucap Hyukjae oppa. Aku melihat wajahnya mulai memerah.

“Ini anjingmu?” tanya gadis itu. Hyukjae oppa mengangguk.

“Aigoo, neomu kyopta! Siapa namanya?” ujarnya. Dia lalu mengangkat dan memelukku. Rasanya seperti dipeluk Hami onnie.

“Chan chan.” jawab oppa.

“Ah, Lee Eunmi imnida.” ucap gadis itu seraya membungkukan sedikit badannya.

“Lee hyukjae imnida.” jawab oppa.

Aigoo, sepertinya kisah ini akan terus berlanjut. Tapi akhirnya aku senang oppa sudah dapat tersenyum seperti dulu, seperti dalam foto yang Hami onnie tunjukan padaku.

Dan sepertinya aku tahu bahwa gadis ini adalah hadiah terakhir dari Hami onnie untuk Hyukjae oppa selain matanya tentu saja. Dan sekarang, aku bisa menikmati mata itu. Tidak hanya 1, tapi 2 pasang sekaligus!^~^

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2011 in fanfiction

 

Endless Moment

Diiringi lagumu aku mulai mengguratkan penaku diatas kertas ini. Kenangan saat bersamamu kembali memenuhi pikiranku. Senyummu yang begitu manis, canda tawamu, kecerdasanmu dalam merangkai kata, tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Semuanya begitu menyejukan jiwa. Bahkan saat aku sangat marah, entah mantra apa yang kau ucapkan, hanya dengan menatap matamu, amarah itu akan menguap begitu saja.

Aku ingat, kau selalu mengajakku bermain basket di lapangan kampus setiap sore. Kau bilang agar aku sedikit kurus dengan berolahraga. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin bersamaku lebih lama. Karena akupun merasakan hal yang sama. Makanya aku selalu menuruti permintaanmu itu walaupun aku sangat lelah. Tapi kau tidak pernah memaksaku bermain. Kau bilang aku harus melihat permainan seorang pro dulu jika ingin bermain dengan bagus pula. Padahal aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin memberiku waktu untuk beristirahat.

Aku juga ingat, kau selalu merengek minta dibelikan susu strawberry kesukaanmu. Kau bilang uangmu sudah habis. Padahal aku tahu, saat itu kau sedang sedih dan hanya susu strawberry lah yang bisa menghiburmu. Sama sepertiku yang akan memakan banyak sekali coklat saat perasaanku sedang tidak menentu.

Aku juga ingat, kau akan bertingkah sangat konyol dihadapan orang-orang saat melihat alisku mulai bertaut dan bibirku mengerucut. Kau melakukan itu hanya untuk membuatku tersenyum kembali. Tapi nyatanya aku malah marah dan meninggalkanmu. Padahal sebenernya aku senang kau melakukan itu untukku.

Kau selalu bilang arti dari namaku adalah cahaya. Cahaya yang menyinari duniamu, mataharimu. Karena aku ada, maka orang-orang dapat melihatmu. Ya, kau mengartikan nama yang telah diberikan orang tuaku dengan seenaknya. Aku selalu tidak suka jika ada yang mengganti-ganti namaku. Tapi untukmu, itu sebuah pengecualian.

Kau tahu, jika aku adalah cahayamu maka kau adalah perhiasan untukku. Perhiasan yang akan membuatku tampil kian mempesona. Perhiasan yang akan membuatku makin cantik. Tanpamu aku hanyalah gadis biasa.

Kau selalu memujiku atas semua prestasiku. Kau selalu bilang aku gadis yang sangat hebat. Bahkan kau merasa tidak pantas untuk selalu berada di samping gadis luar biasa seperti ku. Padahal sebenarnya semua yang kuraih hari ini adalah hasil kerja kerasmu. Semua tingkah lakumu. Semua kata-katamu. Semua semangat dan energimu. Dan senyummu adalah sumber kekuatanku.

Kau selalu bilang kau takut kehilanganku dan memintaku untuk selalu berada disisimu. Aku menyanggupinya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Sebenarnya akulah yang terlalu takut untuk kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup bertahan tanpa kau disampingku. Aku sangat takut.

Endless Moment, lagu yang kau ciptakan khusus untukku, sudah berulang kali kuputar. Maaf aku baru mengerti betapa indahnya lagu itu hari ini. Ternyata aku tidak cukup pintar ya?

Aku tahu, waktu tidak akan bisa berputar kembali. Tapi seandainya saja bisa, aku ingin mengatakan semua ini langsung padamu.

Ah, lagunya sudah hampir habis. Dan sepertinya waktuku pun sudah hampir tiba. Aku tidak akan meminta apapun darimu. Karena semua yang telah kau berikan kepadaku sudah terlalu banyak.

With love

Your shining moment

*

Ditemani lagu ku yang sangat kau suka, aku menuliskan semua perasaanku di atas kertas ini. Semua kenangan tentangmu mengalir seperti air dalam pikiranku. Perhatianmu, sikapmu yang penuh keanggunan, wajahmu yang jarang berekspresi. Bahkan aku tidak bisa tahu kapan sebenarnya kau marah padaku.

Aku ingat, kau selalu saja bersikap dingin padaku. Kau jarang sekali bicara, apakah kau sadar jika kau sangat pendiam? Tapi dibalik itu aku tahu betapa perhatiannya kau padaku. Begitu aku murung, akan ada sekotak susu strawberry di hadapanku. Jika aku mengeluh kedinginan kau akan segera menutup jendela kamarku atau meminjamkan jaketmu.

Aku juga ingat, kau akan marah jika aku bertingkah konyol di hadapan teman-temanmu. Mereka akan tertawa melihat tingkahku. Sedangkan kau, kau akan pergi menjauh dariku. Padahal aku tahu, tersuging sebuah senyuman saat kau pergi. Karena itu aku melakukannya lagi dan lagi agar terus melihat senyuman yang kau sembunyikan itu.

Aku juga masih ingat bagaimana ekspresimu ketika teman-temanku menyanyikan lagu yang kuciptakan khusus untukmu. Kau bilang aku pengecut karena tidak cukup berani untuk menyanyikannya dihadapanmu. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin mendengar suaraku lagi dan lagi.

Kau matahariku, kau cahaya yang menyinari duniaku. Tanpamu dunia tidak dapat melihatku. Tanpamu duniaku sangat dingin dan gelap. Dan kau bilang aku perhiasanmu? Aku yang membuatmu menjadi semakin mempesona?. Tapi aku tidak begitu berharga dibanding cahaya, sayangku.

Kau tidak pernah meminta apapun dariku. Kau bilang apa yang telah kuberikan sudah terlalu banyak untukmu. Kau salah, apa yang kuberikan padamu tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah kau berikan padaku.

Terimakasih cahayaku, karena kau tidak pernah meninggalkan ku sendiri. Kau memberikanku cahaya yang lain, yang dapat menggantikanmu untuk menyinari duniaku. Aku akan selalu menjaga cahaya ini, tidak akan kubiarkan dia meredup walau sedetikpun.

With love

Your endless moment

*

“Ayah sedang apa?” Tanya seorang gadis kecil dari balik pintu. Dia berlari kecil menghampiri ayahnya yang sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ayahnya lalu menariknya agar duduk diatas pangkuannya.

“Ayah sedang menulis surat untuk ibu.” Jawabnya. Mata gadis kecil itu membulat.

“Bolehkah aku menulis juga?” tanyanya polos. Ayahnya tersenyum.

“Tentu saja….” Dia lalu mengambil kertas di laci mejanya dan memindahkannya ke atas meja.

“Tapi ayah tuliskan untukku ya…” pinta gadis kecil itu. Lagi-lagi ayahnya tersenyum.

“Baiklah cahaya kecilku. Apa yang ingin kau tulis?” Tanya ayahnya. Gadis kecil itu berpikir. Dia memainkan rambutnya yang ikal persis seperti ibunya.

“Mm… ibu tersayang…” ucapnya. Matanya berputar-putar, mencari inspirasi. Ayahnya segera mencatat apa yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu.

“Apa kabar? Aku harap ibu baik-baik saja di surga. Aku dan ayah baik-baik saja disini. Ibu… aku baru saja masuk sekolah. Banyak sekali mainan di sekolahku. Setiap hari aku bisa bermain, bernyanyi, menari, bahkan menggambar  bersama teman-teman, rasanya sangat menyenangkan!” ucapnya, gadis kecil itu tersenyum girang.

“Ibu tau? Ayah selalu jadi yang paling tampan di sekolah saat waktu pulang sekolah tiba. Karena tidak ada ayah yang lain disana! Hanya ada ayah. Tapi aku yakin, jika ibu yang menjemputku, pasti ibulah yang paling cantik! Karena ayah bilang ibu adalah wanita tercantik.” Lanjutnya. Gadis kecil itu terdiam sebentar.

“Ayah bilang dulu ibu adalah cahayanya dan sekarang akulah pengganti ibu. Aku cahaya ayah. Ibu disurga tenang saja, tugas ibu untuk selalu bersinar dihadapan ayah akan kugantikan dengan baik. Karena aku anak ibu.” Lanjutnya penuh percaya diri. Gadis kecil itu melihat jam di dinding ruang kerja ayahnya. Dia lalu teringat sesuatu.

“Ibu, sebentar lagi kartun kesukaan ku akan mulai. Sampai disini dulu ya suratku… akan kusambung lagi jika kartunku sudah selesai. Dadah ibu…” ucapnya. Dia lalu mengecup pipi ayahnya dan berlari menuju ruang tv.

*

Kompleks pemakaman sepi seperti biasa. Hanya terdengar bisik-bisik angin di sela-sela dedaunan. Seorang pria berdiri dihadapan sebuah nisan. Dia membawa sebuket mawar putih dan sepucuk surat yang diletakannya di depan nisan tersebut. Pria itu tersenyum seraya mengelus nisan dihadapannya lembut.

“Halo, cahayaku… Aku bawakan sebuket mawar putih kesayanganmu. Aku harap aku tidak salah lagi kali ini.” Ucapnya.

“Sepuluh tahun yang lalu kita bertemu, aku selalu menunggu saat itu tiba. Saat aku bertemu dengan mu. Bahkan hanya dengan melihat senyuman kecilmu saja aku sudah bahagia. Saat itu aku berjanji ini bukanlah sebuah mimpi. Banyak waktu yang akan terlewati, dan aku akan tetap menjadi milikmu. My shining moment, forever…”

***

 

 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2011 in Uncategorized