RSS

Endless Moment

10 Mar

Diiringi lagumu aku mulai mengguratkan penaku diatas kertas ini. Kenangan saat bersamamu kembali memenuhi pikiranku. Senyummu yang begitu manis, canda tawamu, kecerdasanmu dalam merangkai kata, tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Semuanya begitu menyejukan jiwa. Bahkan saat aku sangat marah, entah mantra apa yang kau ucapkan, hanya dengan menatap matamu, amarah itu akan menguap begitu saja.

Aku ingat, kau selalu mengajakku bermain basket di lapangan kampus setiap sore. Kau bilang agar aku sedikit kurus dengan berolahraga. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin bersamaku lebih lama. Karena akupun merasakan hal yang sama. Makanya aku selalu menuruti permintaanmu itu walaupun aku sangat lelah. Tapi kau tidak pernah memaksaku bermain. Kau bilang aku harus melihat permainan seorang pro dulu jika ingin bermain dengan bagus pula. Padahal aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin memberiku waktu untuk beristirahat.

Aku juga ingat, kau selalu merengek minta dibelikan susu strawberry kesukaanmu. Kau bilang uangmu sudah habis. Padahal aku tahu, saat itu kau sedang sedih dan hanya susu strawberry lah yang bisa menghiburmu. Sama sepertiku yang akan memakan banyak sekali coklat saat perasaanku sedang tidak menentu.

Aku juga ingat, kau akan bertingkah sangat konyol dihadapan orang-orang saat melihat alisku mulai bertaut dan bibirku mengerucut. Kau melakukan itu hanya untuk membuatku tersenyum kembali. Tapi nyatanya aku malah marah dan meninggalkanmu. Padahal sebenernya aku senang kau melakukan itu untukku.

Kau selalu bilang arti dari namaku adalah cahaya. Cahaya yang menyinari duniamu, mataharimu. Karena aku ada, maka orang-orang dapat melihatmu. Ya, kau mengartikan nama yang telah diberikan orang tuaku dengan seenaknya. Aku selalu tidak suka jika ada yang mengganti-ganti namaku. Tapi untukmu, itu sebuah pengecualian.

Kau tahu, jika aku adalah cahayamu maka kau adalah perhiasan untukku. Perhiasan yang akan membuatku tampil kian mempesona. Perhiasan yang akan membuatku makin cantik. Tanpamu aku hanyalah gadis biasa.

Kau selalu memujiku atas semua prestasiku. Kau selalu bilang aku gadis yang sangat hebat. Bahkan kau merasa tidak pantas untuk selalu berada di samping gadis luar biasa seperti ku. Padahal sebenarnya semua yang kuraih hari ini adalah hasil kerja kerasmu. Semua tingkah lakumu. Semua kata-katamu. Semua semangat dan energimu. Dan senyummu adalah sumber kekuatanku.

Kau selalu bilang kau takut kehilanganku dan memintaku untuk selalu berada disisimu. Aku menyanggupinya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Sebenarnya akulah yang terlalu takut untuk kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup bertahan tanpa kau disampingku. Aku sangat takut.

Endless Moment, lagu yang kau ciptakan khusus untukku, sudah berulang kali kuputar. Maaf aku baru mengerti betapa indahnya lagu itu hari ini. Ternyata aku tidak cukup pintar ya?

Aku tahu, waktu tidak akan bisa berputar kembali. Tapi seandainya saja bisa, aku ingin mengatakan semua ini langsung padamu.

Ah, lagunya sudah hampir habis. Dan sepertinya waktuku pun sudah hampir tiba. Aku tidak akan meminta apapun darimu. Karena semua yang telah kau berikan kepadaku sudah terlalu banyak.

With love

Your shining moment

*

Ditemani lagu ku yang sangat kau suka, aku menuliskan semua perasaanku di atas kertas ini. Semua kenangan tentangmu mengalir seperti air dalam pikiranku. Perhatianmu, sikapmu yang penuh keanggunan, wajahmu yang jarang berekspresi. Bahkan aku tidak bisa tahu kapan sebenarnya kau marah padaku.

Aku ingat, kau selalu saja bersikap dingin padaku. Kau jarang sekali bicara, apakah kau sadar jika kau sangat pendiam? Tapi dibalik itu aku tahu betapa perhatiannya kau padaku. Begitu aku murung, akan ada sekotak susu strawberry di hadapanku. Jika aku mengeluh kedinginan kau akan segera menutup jendela kamarku atau meminjamkan jaketmu.

Aku juga ingat, kau akan marah jika aku bertingkah konyol di hadapan teman-temanmu. Mereka akan tertawa melihat tingkahku. Sedangkan kau, kau akan pergi menjauh dariku. Padahal aku tahu, tersuging sebuah senyuman saat kau pergi. Karena itu aku melakukannya lagi dan lagi agar terus melihat senyuman yang kau sembunyikan itu.

Aku juga masih ingat bagaimana ekspresimu ketika teman-temanku menyanyikan lagu yang kuciptakan khusus untukmu. Kau bilang aku pengecut karena tidak cukup berani untuk menyanyikannya dihadapanmu. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin mendengar suaraku lagi dan lagi.

Kau matahariku, kau cahaya yang menyinari duniaku. Tanpamu dunia tidak dapat melihatku. Tanpamu duniaku sangat dingin dan gelap. Dan kau bilang aku perhiasanmu? Aku yang membuatmu menjadi semakin mempesona?. Tapi aku tidak begitu berharga dibanding cahaya, sayangku.

Kau tidak pernah meminta apapun dariku. Kau bilang apa yang telah kuberikan sudah terlalu banyak untukmu. Kau salah, apa yang kuberikan padamu tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah kau berikan padaku.

Terimakasih cahayaku, karena kau tidak pernah meninggalkan ku sendiri. Kau memberikanku cahaya yang lain, yang dapat menggantikanmu untuk menyinari duniaku. Aku akan selalu menjaga cahaya ini, tidak akan kubiarkan dia meredup walau sedetikpun.

With love

Your endless moment

*

“Ayah sedang apa?” Tanya seorang gadis kecil dari balik pintu. Dia berlari kecil menghampiri ayahnya yang sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ayahnya lalu menariknya agar duduk diatas pangkuannya.

“Ayah sedang menulis surat untuk ibu.” Jawabnya. Mata gadis kecil itu membulat.

“Bolehkah aku menulis juga?” tanyanya polos. Ayahnya tersenyum.

“Tentu saja….” Dia lalu mengambil kertas di laci mejanya dan memindahkannya ke atas meja.

“Tapi ayah tuliskan untukku ya…” pinta gadis kecil itu. Lagi-lagi ayahnya tersenyum.

“Baiklah cahaya kecilku. Apa yang ingin kau tulis?” Tanya ayahnya. Gadis kecil itu berpikir. Dia memainkan rambutnya yang ikal persis seperti ibunya.

“Mm… ibu tersayang…” ucapnya. Matanya berputar-putar, mencari inspirasi. Ayahnya segera mencatat apa yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu.

“Apa kabar? Aku harap ibu baik-baik saja di surga. Aku dan ayah baik-baik saja disini. Ibu… aku baru saja masuk sekolah. Banyak sekali mainan di sekolahku. Setiap hari aku bisa bermain, bernyanyi, menari, bahkan menggambar  bersama teman-teman, rasanya sangat menyenangkan!” ucapnya, gadis kecil itu tersenyum girang.

“Ibu tau? Ayah selalu jadi yang paling tampan di sekolah saat waktu pulang sekolah tiba. Karena tidak ada ayah yang lain disana! Hanya ada ayah. Tapi aku yakin, jika ibu yang menjemputku, pasti ibulah yang paling cantik! Karena ayah bilang ibu adalah wanita tercantik.” Lanjutnya. Gadis kecil itu terdiam sebentar.

“Ayah bilang dulu ibu adalah cahayanya dan sekarang akulah pengganti ibu. Aku cahaya ayah. Ibu disurga tenang saja, tugas ibu untuk selalu bersinar dihadapan ayah akan kugantikan dengan baik. Karena aku anak ibu.” Lanjutnya penuh percaya diri. Gadis kecil itu melihat jam di dinding ruang kerja ayahnya. Dia lalu teringat sesuatu.

“Ibu, sebentar lagi kartun kesukaan ku akan mulai. Sampai disini dulu ya suratku… akan kusambung lagi jika kartunku sudah selesai. Dadah ibu…” ucapnya. Dia lalu mengecup pipi ayahnya dan berlari menuju ruang tv.

*

Kompleks pemakaman sepi seperti biasa. Hanya terdengar bisik-bisik angin di sela-sela dedaunan. Seorang pria berdiri dihadapan sebuah nisan. Dia membawa sebuket mawar putih dan sepucuk surat yang diletakannya di depan nisan tersebut. Pria itu tersenyum seraya mengelus nisan dihadapannya lembut.

“Halo, cahayaku… Aku bawakan sebuket mawar putih kesayanganmu. Aku harap aku tidak salah lagi kali ini.” Ucapnya.

“Sepuluh tahun yang lalu kita bertemu, aku selalu menunggu saat itu tiba. Saat aku bertemu dengan mu. Bahkan hanya dengan melihat senyuman kecilmu saja aku sudah bahagia. Saat itu aku berjanji ini bukanlah sebuah mimpi. Banyak waktu yang akan terlewati, dan aku akan tetap menjadi milikmu. My shining moment, forever…”

***

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: