RSS

Chan Chan

13 Mar

“Mengapa semua gelap?” itu yang pertama kali keluar dari mulutnya saat dia sadar. Aku melihat wajah Hami onnie memucat. Dia segera berlari keluar dari kamar entah untuk apa. Tapi beberapa saat kemudian aku tahu, dia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan pria itu.

“Keadaannya sudah Stabil.” ucap dokter itu.

“Bagaimana kau bisa mengatakan kondisiku stabil? Aku tidak bisa melihat!” ujar pria itu. Hami onnie lalu mengajak dokter untuk berbicara diluar. Meninggalakan aku dan pria itu lagi.

Aku tidak bicara apapun, toh dia tidak dapat melihatku. Pria itu kelihatan sangat marah, atau lebih tepatnya frustasi. Dia memukul-mukul kepalanya. Apa menurutnya berbuat seperti itu akan membuat penglihatannya pulih?

Tak lama Hami onnie kembali, dia terlihat seperti habis menangis. Tapi dia tersenyum ketika masuk.

“Oppa, gwenchana?” tanya Hami onnie.

“Ya! Pertanyaan macam apa itu? Kau pikir aku baik-baik saja tanpa penglihatanku?” ujarnya. Apa dia suka sekali berteriak-teriak seperti itu? Jika tidak ada Hami onnie, sudah kupukul dia!

Tapi Hami onnie hanya tersenyum. Dia membelai rambut pria itu lembut.

“Tenanglah, penglihatanmu akan segera kembali.” ucapnya. Tapi pria itu malah menepis tangam Hami onnie. Hami onnie menggenggam tangannya. Sepertinya itu sakit.

“Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu lagi! Haha, aku lupa, bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat!” ujarnya. Pria itu menangis. Cih, seperti anak kecil saja!

Tapi Hami onniepun ikut menangis. Dia memeluk pria itu, awalnya dia berontak. Namun Hami onnie tidak melepasnya. Mereka menangis bersama. Sampai akhirnya pria itu tertidur. Mungkin lelah. Dengan lembut, Hami onnie membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya. Dia memang calon istri yang baik. Tapi tidak akan kubiarkan pria jahat itu yang menjadi suaminya!

Dia lalu menghampiriku, duduk dan memelukku.

“Berikan aku kekuatan chan ya…” ucapnya. Sebelum akhirnya tertidur sambil memelukku.

Hami onnie terlihat lebih segar hari ini. Dia sedang menyuapi pria itu. Dengan susah payah dia membujuk agar pria itu membuka mulutnya. Tapi dasar keras kepala, dia malah menepis tangan Hami onnie dan membuat sendoknya terlempar ke lantai.

“Oppa… Kau harus makan. Bagaimana caranya kau sembuh jika terus menerus seperti ini?” ucapnya. Sepertinya Hami onnie sudah mulai kesal karena kelakuan kekasihnya itu. Cih, bahkan mulutku terasa gatal menyebutnya seperti itu.

“Lebih baik aku mati!” teriak pria itu.

“Keurae. Mati saja kau! Dengan begitu akupun akan bebas mengakhiri hidupku!” teriak Hami onnie histeris.

Aku terbelalak, Hami onnie yang biasanya tenang, bisa histeris seperti ini. Aku menghampirnya lalu membelainya. Dia memelukku dan menangis di pundakku.

“Hami ya? Kau… Kau menangis?” tanya pria itu. Bodoh! Tentu saja dia menangis karena kau! Aish, aku ingin sekali menggigit dan mencabik-cabiknya. Tapi Hami onnie memelukku dengan erat.

“Hami ya…” panggilnya. Tapi Hami onnie tetap memelukku. Dia tidak bergeming.

“Hami ya, uljima…” ucap pria itu lirih, hampir berbisik. Dia menggapai-gapai udara dihadapannya. Dan bangkit dari ranjang. Dia berjalan perlahan.

“Hami ya…” panggilnya lagi. Tapi Hami onnie tetap sesengukan di pundakku. Dan karena dia belum terbiasa tanpa penglihatan, akhirnya dia tersandung kaki tempat tidurnya dan jatuh terjerembab.

“Oppa!” teriak Hami onnie kaget. Dia melepaskanku dan berlari menuju kekasihnya itu.

“Oppa gwenchana? Mianhae, mianhae…” ucap Hami onnie. Sambil menangis dia memapah pria itu kembali menuju tempat tidurnya.

Hami onnie terlalu baik. Padahal berkali-kali dia disakiti pria itu. Tapi dia selalu memaafkannya. Aku sudah menasehatinya, tapi Hami onnie selalu bilang bahwa saat ini pria itu tidak sedang menjadi dirinya. Dulu dia sangat baik. Dan Hami onnie yakin, jika dia bersabar sedikit lagi saja dia akan mendapatkan pria itu kembali.

“Kajima~” ucap pria itu. Hami onnie mengangguk.

“Aku akan selalu disini.”

Hami onnie terlihat sangat bahagia akhir-akhir ini. Matanya terlihat bersinar-sinar. Aku suka mata itu, terlebih sekarang dia nampak seperti bintang yang berkilauan.

“Chan ya, jaga rumah ya. Aku akan ke rumah sakit menemani Hyukjae oppa. Makanmu sudah ku siapkan.” ucap Hami onnie. Aku mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum seraya mengacak rambutku pelan.

“Anak pintar…” ucapnya. Dia lalu pergi. Tapi hei, mengapa aku merasa aneh? Aku seperti tidak akan melihatnya lagi.

Sepanjang hari aku gelisah. Memikirkan apa yang sedang dilakukan Hami onnie bersama pria itu sekarang. Aku terus menerus memikirkan hal yang baik. Tapi hatiku tetap saja tidak tenang.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan diluar. Mungkin aku hanya bosan saja.

Aku berjalan dengan santai di tengah kota. Orang-orang sibuk berlalu lalang disekitarku. “Chan…!” uhm? Aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Aku menoleh, dan ternyata Hami onnie sedang melambai padaku dari seberang jalan. Aku segera berlari menghampirinya.

Tapi seketika ekspresinya berubah panik. Aku tidak mengerti apa yang terjadi karena tiba-tiba dia sudah mendorongku, menyelamatkanku dari truk yang melintas.

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Hami onnie mengeluarkan banyak sekali darah. Dan orang-orang berbaju putih itu membawanya memasuki sebuah ruangan. Seorang perawat memintaku untuk menunggu saja diluar. Aku menurut.

Entah sudah berapa lama aku menunggu disana, yang jelas saat aku terbangun keluarga Hami onnie telah datang. Begitu melihatku bangun, ibu Hami onnie segera memelukku erat.

“Kita kehilangan dia Chan…” ucapnya sambil menangis di pundakku. Ayah Hami onnie mengelus pundak istrinya itu perlahan. Mencoba menenangkannya. Adik laki-laki Hami onnie hanya bisa diam di kursi. Mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar, dan beberapa perawat membawa pria itu keluar dari sana.

“Operasinya berhasil.” ucapnya.

“Syukurlah, Hami pasti bahagia di alam sana, terima kasih dokter.” ucap ayah Hami.

Aku kembali melihat pria itu. Matanya di perban. Sepertinya dia sudah mendapatkan donor mata yang tepat. Ayah dan ibu Hami onnie mengajakku untuk menjenguknya. Mereka bilang hari ini perban pria itu akan dibuka. Dan mereka harus memberitahukan yang sebenarnya padanya.

Dokter mulai menggunting perban pria itu dan menggulungnya perlahan. Dia lalu melepaskan kapas yang tertempel di mata pria itu satu persatu.

“Buka matamu perlahan.” ucap dokter. Pria itu menurut. Dia membuka matanya secara perlahan. Aku dapat menangkap ketegangan di ruangan ini saat menunggu jawaban darinya.

Pria itu mengerutkan alisnya. Memperhatikan kami satu persatu. Dan berhenti saat melihatku.

“Hami ya?” tanyanya. Tapi perlahan penglihatannya mulai jelas dan malah kaget saat melihatku.

“Dimana Hami, ajuma? Dan mengapa anjing ini ada disini?” tanyanya. Cih, dia belum berubah juga! Dia masih belum juga menyukaiku!

Ibu Hami onnie terlihat menimbang-nimbang. Kata apa yang tepat untuk menjelaskan padanya.

Aku berbicara padanya, tapi dia tetap tidak mengerti.

“Hyukjae ya, Hami berpesan agar kau menjaga mata itu dengan baik.” ucap Ibu Hami onnie.

“Tapi dimana dia?”

“Dia sudah tiada nak, dia meninggal saat kau dioperasi. Dia mendonorkan korneanya kepadamu.” ucap ibu Hami onnie. Bahunya kembali berguncang. Dia menangis lagi. Suaminya segera merangkulnya.

Pria itupun terlihat terguncang. Dia menatapku dalam. Dia lalu membelaiku.

“Chan ya, berikan aku kekuatan…” ucapnya.

Pria itu berubah menjadi sangat baik sekarang. Mungkin karena ada bagian dari Hami onnie didalam tubuhnya. Entahlah, yang jelas saat ini dia sangat menyukaiku!

Sore ini sangat cerah, dia mengajakku berjalan-jalan ke taman. Dia lalu duduk di bangku taman dan membiarkanku untuk duduk disampingnya.

Kami hanya diam, menikmati pemandangan di taman sampai akhirnya, aku melihatnya! Aku melihat Hami onnie berdiri di tepi danau. Dia memakai dress selutut berwarna putih. Rambutnya yang lurus sebahu dia biarkan tergerai begitu saja.

Dan sepertinya Hyukjae oppa juga melihat hal yang sama denganku. Tanpa pikir panjang lgi kami berlari melintasi taman dan mendekat kepadanya.

“Hami ya?” panggil Hyukjae oppa. Hami onnie berbalik.

“Maaf, sepertinya anda salah.” ternyata dia bukan Hami onnie. Tapi mereka sangat mirip.

“Ah, maaf.” ucap Hyukjae oppa. Aku melihat wajahnya mulai memerah.

“Ini anjingmu?” tanya gadis itu. Hyukjae oppa mengangguk.

“Aigoo, neomu kyopta! Siapa namanya?” ujarnya. Dia lalu mengangkat dan memelukku. Rasanya seperti dipeluk Hami onnie.

“Chan chan.” jawab oppa.

“Ah, Lee Eunmi imnida.” ucap gadis itu seraya membungkukan sedikit badannya.

“Lee hyukjae imnida.” jawab oppa.

Aigoo, sepertinya kisah ini akan terus berlanjut. Tapi akhirnya aku senang oppa sudah dapat tersenyum seperti dulu, seperti dalam foto yang Hami onnie tunjukan padaku.

Dan sepertinya aku tahu bahwa gadis ini adalah hadiah terakhir dari Hami onnie untuk Hyukjae oppa selain matanya tentu saja. Dan sekarang, aku bisa menikmati mata itu. Tidak hanya 1, tapi 2 pasang sekaligus!^~^

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2011 in fanfiction

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: