RSS

Category Archives: Uncategorized

Endless Moment

Diiringi lagumu aku mulai mengguratkan penaku diatas kertas ini. Kenangan saat bersamamu kembali memenuhi pikiranku. Senyummu yang begitu manis, canda tawamu, kecerdasanmu dalam merangkai kata, tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Semuanya begitu menyejukan jiwa. Bahkan saat aku sangat marah, entah mantra apa yang kau ucapkan, hanya dengan menatap matamu, amarah itu akan menguap begitu saja.

Aku ingat, kau selalu mengajakku bermain basket di lapangan kampus setiap sore. Kau bilang agar aku sedikit kurus dengan berolahraga. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin bersamaku lebih lama. Karena akupun merasakan hal yang sama. Makanya aku selalu menuruti permintaanmu itu walaupun aku sangat lelah. Tapi kau tidak pernah memaksaku bermain. Kau bilang aku harus melihat permainan seorang pro dulu jika ingin bermain dengan bagus pula. Padahal aku tahu, sebenarnya kau hanya ingin memberiku waktu untuk beristirahat.

Aku juga ingat, kau selalu merengek minta dibelikan susu strawberry kesukaanmu. Kau bilang uangmu sudah habis. Padahal aku tahu, saat itu kau sedang sedih dan hanya susu strawberry lah yang bisa menghiburmu. Sama sepertiku yang akan memakan banyak sekali coklat saat perasaanku sedang tidak menentu.

Aku juga ingat, kau akan bertingkah sangat konyol dihadapan orang-orang saat melihat alisku mulai bertaut dan bibirku mengerucut. Kau melakukan itu hanya untuk membuatku tersenyum kembali. Tapi nyatanya aku malah marah dan meninggalkanmu. Padahal sebenernya aku senang kau melakukan itu untukku.

Kau selalu bilang arti dari namaku adalah cahaya. Cahaya yang menyinari duniamu, mataharimu. Karena aku ada, maka orang-orang dapat melihatmu. Ya, kau mengartikan nama yang telah diberikan orang tuaku dengan seenaknya. Aku selalu tidak suka jika ada yang mengganti-ganti namaku. Tapi untukmu, itu sebuah pengecualian.

Kau tahu, jika aku adalah cahayamu maka kau adalah perhiasan untukku. Perhiasan yang akan membuatku tampil kian mempesona. Perhiasan yang akan membuatku makin cantik. Tanpamu aku hanyalah gadis biasa.

Kau selalu memujiku atas semua prestasiku. Kau selalu bilang aku gadis yang sangat hebat. Bahkan kau merasa tidak pantas untuk selalu berada di samping gadis luar biasa seperti ku. Padahal sebenarnya semua yang kuraih hari ini adalah hasil kerja kerasmu. Semua tingkah lakumu. Semua kata-katamu. Semua semangat dan energimu. Dan senyummu adalah sumber kekuatanku.

Kau selalu bilang kau takut kehilanganku dan memintaku untuk selalu berada disisimu. Aku menyanggupinya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri. Sebenarnya akulah yang terlalu takut untuk kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup bertahan tanpa kau disampingku. Aku sangat takut.

Endless Moment, lagu yang kau ciptakan khusus untukku, sudah berulang kali kuputar. Maaf aku baru mengerti betapa indahnya lagu itu hari ini. Ternyata aku tidak cukup pintar ya?

Aku tahu, waktu tidak akan bisa berputar kembali. Tapi seandainya saja bisa, aku ingin mengatakan semua ini langsung padamu.

Ah, lagunya sudah hampir habis. Dan sepertinya waktuku pun sudah hampir tiba. Aku tidak akan meminta apapun darimu. Karena semua yang telah kau berikan kepadaku sudah terlalu banyak.

With love

Your shining moment

*

Ditemani lagu ku yang sangat kau suka, aku menuliskan semua perasaanku di atas kertas ini. Semua kenangan tentangmu mengalir seperti air dalam pikiranku. Perhatianmu, sikapmu yang penuh keanggunan, wajahmu yang jarang berekspresi. Bahkan aku tidak bisa tahu kapan sebenarnya kau marah padaku.

Aku ingat, kau selalu saja bersikap dingin padaku. Kau jarang sekali bicara, apakah kau sadar jika kau sangat pendiam? Tapi dibalik itu aku tahu betapa perhatiannya kau padaku. Begitu aku murung, akan ada sekotak susu strawberry di hadapanku. Jika aku mengeluh kedinginan kau akan segera menutup jendela kamarku atau meminjamkan jaketmu.

Aku juga ingat, kau akan marah jika aku bertingkah konyol di hadapan teman-temanmu. Mereka akan tertawa melihat tingkahku. Sedangkan kau, kau akan pergi menjauh dariku. Padahal aku tahu, tersuging sebuah senyuman saat kau pergi. Karena itu aku melakukannya lagi dan lagi agar terus melihat senyuman yang kau sembunyikan itu.

Aku juga masih ingat bagaimana ekspresimu ketika teman-temanku menyanyikan lagu yang kuciptakan khusus untukmu. Kau bilang aku pengecut karena tidak cukup berani untuk menyanyikannya dihadapanmu. Padahal sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin mendengar suaraku lagi dan lagi.

Kau matahariku, kau cahaya yang menyinari duniaku. Tanpamu dunia tidak dapat melihatku. Tanpamu duniaku sangat dingin dan gelap. Dan kau bilang aku perhiasanmu? Aku yang membuatmu menjadi semakin mempesona?. Tapi aku tidak begitu berharga dibanding cahaya, sayangku.

Kau tidak pernah meminta apapun dariku. Kau bilang apa yang telah kuberikan sudah terlalu banyak untukmu. Kau salah, apa yang kuberikan padamu tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah kau berikan padaku.

Terimakasih cahayaku, karena kau tidak pernah meninggalkan ku sendiri. Kau memberikanku cahaya yang lain, yang dapat menggantikanmu untuk menyinari duniaku. Aku akan selalu menjaga cahaya ini, tidak akan kubiarkan dia meredup walau sedetikpun.

With love

Your endless moment

*

“Ayah sedang apa?” Tanya seorang gadis kecil dari balik pintu. Dia berlari kecil menghampiri ayahnya yang sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar. Ayahnya lalu menariknya agar duduk diatas pangkuannya.

“Ayah sedang menulis surat untuk ibu.” Jawabnya. Mata gadis kecil itu membulat.

“Bolehkah aku menulis juga?” tanyanya polos. Ayahnya tersenyum.

“Tentu saja….” Dia lalu mengambil kertas di laci mejanya dan memindahkannya ke atas meja.

“Tapi ayah tuliskan untukku ya…” pinta gadis kecil itu. Lagi-lagi ayahnya tersenyum.

“Baiklah cahaya kecilku. Apa yang ingin kau tulis?” Tanya ayahnya. Gadis kecil itu berpikir. Dia memainkan rambutnya yang ikal persis seperti ibunya.

“Mm… ibu tersayang…” ucapnya. Matanya berputar-putar, mencari inspirasi. Ayahnya segera mencatat apa yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu.

“Apa kabar? Aku harap ibu baik-baik saja di surga. Aku dan ayah baik-baik saja disini. Ibu… aku baru saja masuk sekolah. Banyak sekali mainan di sekolahku. Setiap hari aku bisa bermain, bernyanyi, menari, bahkan menggambar  bersama teman-teman, rasanya sangat menyenangkan!” ucapnya, gadis kecil itu tersenyum girang.

“Ibu tau? Ayah selalu jadi yang paling tampan di sekolah saat waktu pulang sekolah tiba. Karena tidak ada ayah yang lain disana! Hanya ada ayah. Tapi aku yakin, jika ibu yang menjemputku, pasti ibulah yang paling cantik! Karena ayah bilang ibu adalah wanita tercantik.” Lanjutnya. Gadis kecil itu terdiam sebentar.

“Ayah bilang dulu ibu adalah cahayanya dan sekarang akulah pengganti ibu. Aku cahaya ayah. Ibu disurga tenang saja, tugas ibu untuk selalu bersinar dihadapan ayah akan kugantikan dengan baik. Karena aku anak ibu.” Lanjutnya penuh percaya diri. Gadis kecil itu melihat jam di dinding ruang kerja ayahnya. Dia lalu teringat sesuatu.

“Ibu, sebentar lagi kartun kesukaan ku akan mulai. Sampai disini dulu ya suratku… akan kusambung lagi jika kartunku sudah selesai. Dadah ibu…” ucapnya. Dia lalu mengecup pipi ayahnya dan berlari menuju ruang tv.

*

Kompleks pemakaman sepi seperti biasa. Hanya terdengar bisik-bisik angin di sela-sela dedaunan. Seorang pria berdiri dihadapan sebuah nisan. Dia membawa sebuket mawar putih dan sepucuk surat yang diletakannya di depan nisan tersebut. Pria itu tersenyum seraya mengelus nisan dihadapannya lembut.

“Halo, cahayaku… Aku bawakan sebuket mawar putih kesayanganmu. Aku harap aku tidak salah lagi kali ini.” Ucapnya.

“Sepuluh tahun yang lalu kita bertemu, aku selalu menunggu saat itu tiba. Saat aku bertemu dengan mu. Bahkan hanya dengan melihat senyuman kecilmu saja aku sudah bahagia. Saat itu aku berjanji ini bukanlah sebuah mimpi. Banyak waktu yang akan terlewati, dan aku akan tetap menjadi milikmu. My shining moment, forever…”

***

 

 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2011 in Uncategorized

 

Perak & Laut

Nuri meletakan pensilnya. Dia tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada 2 pria itu. Tidak bisakah mereka beristirahat dari pikirannya untuk sekejap saja? Saat ini nuri benar-benar butuh konsentrasi. Deadline untuk perlombaan desain yang dia ikuti hanya tinggal menghitung hari. Dan sampai hari ini dia belum menyelesaikan 1 desainpun! Padahal perlombaan ini adalah hidup matinya sebagai seorang desainer perhiasan.

Nuri mengacak acak rambutnya. Dia menelungkupkan wajahnya diatas meja.

“ini untukmu! Agar kau selalu mengingatku saat melihat gelang perak ini! Jika kau mengingatku, pasti hatimu akan menjadi tenang dan inspirasi akan datang dari mana saja!” sebuah suara dari dalam pikirannya membuatnya terbangun. Dia menatap gelang perak yang sudah berada di pergelangan tangan kirinya sejak 2 bulan yang lalu itu.

Suara pria itu terus bergema di kepalanya. Pria yang bersinar seperti perak. Tidak seperti emas yang mahal, perak lebih mudah dijangkau. Muda, itulah trademark perak. Dia sangat atraktif dan menyenangkan. Berada bersamanya akan membuatmu merasa beberapa tahun lebih muda. Tapi disaat bersamaan dia akan menghiburmu, seberapa lelahpun dia. Senyumnya yang ceria akan membuatmu merasa gembira.

“saat kau gundah, lihat saja foto ini. Kau pasti akan merasa lebih tenang.” ada suara lain yang bergaung di kepalanya. Kali ini nuri mengalihkan pandangannya menuju sebuah foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto laut. Kampung halaman dari pria itu. Pria yang tenang seperti lautan. Yang menyimpan banyak kekayaan di dalamnya. Sinar matanya sangat hangat, seperti mentari. Senyum yang begitu tenang, bahkan bisa menghanyutkanmu. Suaranya yang merdu, seperti deburan ombak di pantai.

Dan kemarin keduanya meminta nuri untuk menjadi tempat mereka bersandar. Perak yang bersinar, dan laut yang tenang. Manakah yang harus dia pilih? Mengapa dia harus memilih?

“apakah perak dan laut tidak bisa bersatu?” nuri membatin. Dia kembali menelungkupkan wajahnya diatas meja kerjanya. Tiba-tiba nuri terbangun. Dia mengambil pensil dan buku sketsanya. semalam suntuk dia sibuk mengguratkan goresan-goresan diatas kertas. Begitu matahari terbit, selesai jugalah sketsa tersebut.

“yah, mereka bisa bersatu jika aku yang membuatnya.” ucap nuri. Dia lalu memasukan hasil rancangannya ke dalam amplop coklat dan mengirimkannya.

Cincin perak dengan permata biru dan grafir ombak di sekelilingnya menjadi asesoris yang paling digandrungi anak muda saat ini. Yah, sketsa yang nuri buat malam itu berhasil mengambil perhatian para juri.

Dan hari ini, Nuri tersenyum pada kedua pria yang ada di hadapannya. Dia lalu menyerahkan sebuah kotak kepada mereka. Mereka membukanya bersama. Sebuah gelang rantai perak. Ada sebuah garis biru di setiap mata rantainya. Nuri membuatnya khusus untuk mereka berdua.

Mereka tersenyum saat tahu nuri sudah lebih dulu mengenakannya. dan merekapun segera memakainya.

Tidak ada yang lebih istimewa, semuanya istimewa di mata nuri. Nuri tidak bisa bernafas tanpa melihat senyuman perak yang begitu menyilaukan. Dia juga tidak bisa tidur nyenyak jika tidak melihat sinar mata laut yang begitu menenangkan. Untuk saat ini, biarkanlah ia memiliki keduanya. Sampai suatu hari nanti, ketika dia bisa mendesain cintanya sendiri.

 

TAMAT

 

 
7 Comments

Posted by on February 5, 2011 in Uncategorized

 

Tags: ,

Senyum Malaikatku

Entah sejak kapan dia mulai berubah. Dihadapanku dia selalu bersikap biasa saja. Seolah segalanya berjalan dengan sempurna.

Dimulai ketika aku membelikannya sebuah mobil.

“chagi, lihatlah apa yang kubelikan untukmu..” panggilku. Aku meminta malaikatku itu untuk keluar dari istana kami dan melihat kejutan apa yang telah kupersiapkan untuknya.

Dia keluar dengan perlahan. Aku terlalu gembira sampai aku tidak menyadari ada setitik air disudut matanya.

“oppa, apa ini?” tanyanya. Dia masih berusaha untuk menyenangkanku dengan berpura-pura terkejut.

“ini untukmu. Aku tidak enak jika harus membiarkanmu kesana kemari menggunakan bis. Apa kata orang jika mereka tahu aku membiarkan istri tercintaku kedinginan dan kepanasan?” godaku. Malaikatku tersenyum.

“tapi ini terlalu mahal oppa.” sahutnya. Istriku ini memang seorang ibu rumah tangga yang baik. Dia sangat cermat untuk membelanjakan uang kami.

“tidak apa-apa. Karena ini untuk istriku tercinta.” jawabku. Aku lalu merangkulnya seraya memandangi vw beattle yang baru saja kuberikan. Dia lalu memeluk ku.

“gomawo oppa…”

aku tersenyum puas karena telah bisa membuat istriku bahagia.

*

Aku baru saja selesai syuting dan beranjak pulang. Di tengah jalan aku melihat sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Si gadis memegang sebuket mawar dan kotak coklat. Saat itu aku berpikir mungkin aku bisa melihat senyuman malaikatku malam ini. Jadi kuputuskan untuk membeli sebuket besar mawar putih dan sekotak coklat kesukaannya.

Sepanjang perjalanan aku tersenyum melihat mawar dan coklat itu berada dalam mobilku. Aku membayangkan betapa girangnya malaikatku ini saat mendapatkan hadiah kesukaannya.

Aku mengetuk pintu depan dan menutupi wajahku dengan buket bunga itu. Tak lama kemudian aku mendengar pintu itu dibuka.

“maaf, anda mencari siapa?” tanya malaikatku.

“apa nyonya lee ada?” tanyaku dengan suara yang dibuat2.

“ya, saya sendiri.” jawabnya dengan suara bergetar. Sepertinya dia ketakutan.

“ada kiriman untuk anda nyonya.” ucapku lagi masih dengan suara dibuat2.

“oppa!” teriaknya saat dia mengambil bunga dari tanganku.

“aku pikir siapa tadi.” ucapnya, kelihatan sekali dia sangat lega.

“hahaha, aku juga punya ini untukmu!” ucapku sambil memberikan coklat yang kusembunyikan dibelakang punggungku tadi.

“ah… Gomawo…” ucapnya, dia lalu mengecup pipiku sekilas.

“ayo oppa, aku sudah memasak untukmu.” ucapnya. Dia lalu menaruh kedua hadiahku di meja bordes dan menarikku menuju ruang makan.

Aku tidak terlalu mengindahkannya saat itu. Aku sudah puas dengan senyumannya.

meja makan sudah dia tata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik di mataku. Makanan sudah terhidang diatas meja. Sepertinya hari ini malaikatku sudah bekerja sangat keras.

“ayo oppa, cobalah…” ucapnya. aku lalu mengambil sumpit dan mulai melahap masakannya.

Masakannya sangat enak tapi dia tahu aku tidak suka. Kenapa dia memasak ini untukku?

“chagi…”

“kenapa oppa? Apa masakanku tidak enak?” tanyanya.

“apa kau lupa aku tidak suka seafood?” ucapku. Dia terlihat terkejut saat itu.

“mi…mianhae oppa…” ucapnya lalu setitik demi setitik air jatuh dari pelupuk matanya.

“gwe, gwenchana… ini sangat enak! Aku akan menghabiskannya!” ucapku. Aku lalu memenuhi mulutku dengan semua makanan itu. Dia lalu menghapus air matanya dan tersenyum.

Tidak apa2, asalkan malaikatku bisa tersenyum kembali.

*

setiap malam kami selalu tidur saling berpelukan. Tapi ditengah malam, aku selalu mendapatinya sedang menangis di balkon kamar kami sambil menatap langit malam. Aku tidak pernah mengganggunya. Aku hanya menunggu. Menunggunya untuk bercerita.

Tapi dia tidak pernah bercerita. Sampai akhirnya aku tidak bisa menunggu lagi. Saat kami sarapan aku bertanya padanya.

“chagi, apa kau ada masalah?” tanyaku. Aku melihat dia hampir saja menjatuhkan gelasnya saat itu, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya kembali.

“masalah? Tidak ada oppa. Wae?”

“benarkah?” tanyaku penuh selidik. Dia lalu tersenyum dan mengangguk. dia memang tahu kelemahanku. Aku paling tidak tahan jika sudah melihat senyumannya.

“baiklah… Karena hari ini jadwalku kosong, bagaimana jika kita jalan2?” usulku untuk mengalihkan perhatiannya.

“sudah lama kan kita tidak jalan2 berdua?” lanjutku lagi. Dia tersenyum dan mengangguk.

Lalu, disinilah kami. Bergandengan tangan di sepanjang myeongdong. Sekali2 aku ingin berjalan dengannya sebagai orang biasa. Aku pikir kami bergembira sampai aku melihat matanya yang kosong dari bayangan di etalase toko.

setelah makan siang, tanpa dia ketahui aku membawanya menuju namsan tower. Aku ingin mengaitkan gembok kami berdua. orang bilang jika kita mengaitkan gembok yang bertuliskan nama kita dan nama pasangan, maka cinta kami berdua akan abadi. Aku ingin membuktikannya.

“oppa, apa kita akan keatas sana?” tanya malaikatku saat kami telah tiba.

“ne chagiya… Aku ingin mengaitkan gembok atas nama kita berdua.” jawabku. Dia terlihat menggigil. Aku lalu membuka jaketku dan memakaikan padanya.

“oppa, aku lelah. Apa kita bisa pulang saja?” pintanya. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi melihat wajahnya yang begitu pucat akhirnya aku menurut.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya. Dia memang selalu tersenyum padaku, tapi sinar matanya bukan untukku. Dia memang selalu tidur dipelukanku, tapi hatinya bukanlah untukku. Dia memang selalu menggenggam tanganku, tapi kehangatannya bukanlah untukku.

*

Sekarang aku berdiri di hadapan 2 buah nisan yang terlihat sangat serasi. Matahari mulai turun, membuat semburat jingga di langit kota. Tapi aku belum juga mau beranjak dari sana. Aku masih rindu malaikatku.

Beberapa hari yang lalu akhirnya aku tahu apa yang terjadi padanya. Ketika aku membelikan mobil untuknya, saat itulah dia kehilangan belahan jiwanya. Dia selalu senang menggunakan bis karena dia merasa seolah2 belahan jiwanya sedang disana juga bersamanya.

Dia begitu terkejut saat menerima mawar dan coklat dariku karena begitulah cara belahan jiwanya memberinya kejutan. Dia memasakan ku seafood yang tidak kusuka, karena itu adalah makanan kesukaan belahan jiwanya.

Dia begitu kosong saat kubawa berjalan2 di myeongdong, karena kesanalah mereka berdua sering menghabiskan sore bersama. Dan dia tidak mau kuajak mengaitkan gembok atas nama kami karena gembok atas namanya sudah terkait erat dengan gembok milik belahan jiwanya diatas sana.

Aku begitu bodoh karena tidak menyadarinya lebih cepat. Aku begitu terbuai dengan kesempurnaan dirinya. Sampai aku melupakan jika dia hanyalah seorang gadis biasa yang mempunyai masa lalu dan pernah terluka.

Hari ini, malaikatku pergi menyusul belahan jiwanya. Untuk pertama dan terakhir kalinya dia meminta sesuatu padaku. Dia ingin memenuhi janjinya, selalu berada disamping belahan jiwanya sampai ujung waktu.

Aku akan merindukan senyuman malaikatku. Tapi aku tahu, saat ini malaikatku sedang tersenyum pada dunia

***

 
9 Comments

Posted by on January 13, 2011 in Uncategorized

 

The Answer part. 2

Sudah pagi, aku tertidur di samping ranjang gadis itu. Donghae sepertinya sempat memindahkan diri ke sofa di salah satu sisi ruangan. Dia masih tidur, gadis itu juga masih belum sadar sepertinya.

Aku memeriksa ponselku, ada banyak sekali telepon dari Leeteuk Hyung. Wajar saja, dia pasti cemas karena kami tidak pulang semalaman. Aku lalu keluar untuk menelponnya.

“Halo, Hyung?”

“Yah! Kemana saja kalian? Kenapa teleponku tidak kalian angkat?” ucapnya.

“Mianhae Hyung, aku akan menjelaskannya nanti. Kami akan segera pulang.” jawabku singkat lalu menutup teleponnya. semoga semuanya baik-baik saja dan gadis itu tidak menuntut Donghae sama sekali.

Aku kembali masuk kedalam kamar. Dan ternyata gadis itu sudah siuman.

“Kau sudah sadar?” tanyaku. Tapi gadis itu masih terlihat kebingungan. Ah, bagaimana jika dia tidak mengerti bahasaku?

“Nugu?” tanyanya. Hah, syukurlah, ternyata dia mengerti.

“Aku? Lee Hyuk Jae imnida. Aku orang yang membawamu kesini.” jawabku.

“Aku kenapa?” tanyanya. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi sepertinya tubuhnya masih sakit. Dia mengerang kesakitan. Aku lalu membantunya untuk duduk.

“Semalam kau tertabrak. Kepalamu terbentur.” jawabku.

“Ah… Lalu, siapa aku?” tanyanya. Aku tidak mengerti apa ini keberuntungan atau apa,tapi dia tidak mengingat siapa dirinya. Apakah dia amnesia?

“Kau tidak tahu siapa dirimu?” tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepalanya. Aku lalu mencari copyan pasport yang dokter bilang dan membacakan namanya.

“Namamu Nania Nirmala. Kau dari Indonesia.” ucapku.

“Apa kau ingat?” tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepalanya.

“Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan dokter.” ucapku, aku berlari ke ruang dokter jaga dan menarik dokter yang sedang bertugas ke kamar. Dokter itu memeriksanya dengan seksama. Donghae bangun saat dokter sedang memeriksa gadis itu.

“Bagaimana Dok?” tanyaku.

“Dia kehilangan seluruh ingatannya gara-gara benturan keras yang terjadi semalam.” jawab dokter itu.

“Apakah bisa sembuh?” tanyaku lagi.

“Ya, tentu saja. Tapi hanya Tuhan yang tahu kapan akan kembali. Mungkin beberapa hari ni ingatannya bisa pulih, tapi mungkin juga membutuhkan waktu yang sangat lama.” jawabnya.

“Apakah ada cara agar ingatannya bisa kembali, Dok?” tanyaku.

“Ada. Jika dia mengalami benturan sekali lagi atau mungkin bisa kau pancing ingtannya dengan mengulang peristiwa yang pernah dia alami.” jawab dokter itu.

Aku dan Donghae mengangguk paham. Dokter itu meninggalkan kami. Kami kembali masuk kedalam kamar. Gadis itu melihat jendela dengan tatapan kosong. Kasihan sekali dia tidak bisa mengingat dirinya, keluarganya, juga…

Hei! Berarti dia tidak bisa mengingat siapa yang menabraknya semalam! Aku benar-benar tidak menyangka jika Tuhan benar-benar sangat baik pada kami. Ini tidak akan menjadi masalah bagi kami. Aku tahu, aku tahu, tidak seharusnya aku bahagia diatas penderitaannya. Tapi setidaknya kami telah bertanggujawab dan tidak meninggalkannya sendirian di jalanan kan?

“Hae, kemari.” aku menarik Donghae keluar dari kamar.

“kau bisa selamat.” ucapku ketika sudah diluar kamar.

“Kita beruntung, dia tidak mengingat kejadian tadi malam. Jadi kau tidak usah khawatir. Kita bilang saja kita menemukannya di jalan, lalu kita membawanya kesini.” usulku.

“Tapi apa benar tidak apa-apa?” tanyanya ragu.

“Gwencana… bukankah semalam tidak ada seorangpun dijalanan?” aku berusaha meyakinkannya. Donghae masih kelihatan ragu, tapi akhirnya dia mengangguk setuju. Kami kembali masuk kedalam kamar gadis itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.

“Mmh… kepalaku masih agak sakit.” jawabnya.

“Apa kau benar-benar tidak ingat apa yang terjadi semalam?” tanyaku lagi. Dia menggeleng.

“Kau juga tidak ingat siapa yang menabrakmu?” tanyaku lagi. Dia terdiam. Nafas Donghae memburu, dia sangat tegang menunggu jawaban dari gadis itu. Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu kembali menggeleng. Donghae tersenyum lega.

“Gwencana, kami akan menjagamu.” ucapnya. Gadis itu tersenyum

“Gamsahamnida…” ucapnya.

“Ah, pertama kita harus menemukan tempat tinggalmu disini.” ucap Donghae. Dia sudah terlihat tenang sekarang. Donghae lalu mengaduk-aduk tas gadis itu. Sepertinya dia mencari petunjuk.

“oppseo…” ucapnya.

“Sealin kartu identitas, tidak ada petunjuk lain.” lanjutnya.

“Hmm…baiklah, kita pikirkan itu nanti saja.” ucapku. Tiba-tiba suster masuk, dia membawakan sarapan untuk gadis itu.

“Silakan… dihabiskan ya makanannya…” ucap suster itu ramah.

“Gamsahamnida…” sahut kami berbarengan.

“Ah, benar juga. Dari semalam kita belum makan. Aku akan beli makanan di kantin, kau mau apa Hyukie?” tanya Donghae.

“Samakan saja denganmu.” jawabku. Donghae segera keluar untuk membelikanku makanan.

Kulihat gadis itu mencoba menyendok buburnya, tapi tangannya gemetaran membuat kesulitan untuk melahap makanannya.

“Mau kusuapi?” tawarku. Dia terlihat malu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mengambil sendok dari tangannya dan mulai menyuapinya.

Tak lama Donghae datang membawa 2 bungkus makanan.

“ini makananmu.” ucapnya, seraya menyodorkan 1 bungkus padaku.

“Simpan saja disana.” jawabku seraya menunjuk meja di samping tempat tidur. Dia menurut dan meletakannya disana. Dia membuka makanannya dan segera melahapnya. Tak lama kemudian makanannya sudah habis tak bersisa.

“Kau benar-benar lapar?” tanyaku iseng. Dia tersenyum. Donghae sudah kembali seperti semula.

“Biar aku yang menggantikanmu menyuapinya. Habiskan makananmu.” ucapnya. Dia merebut sendok dari tanganku. aku lalu beranjak dari kursiku dan menuju sofa untuk menghabiskan sarapanku.

“Yah,apa kau sudah menelpon Hyung?” tanya Donghae seraya menyuapi gadis itu.

“Iya, aku sudah bilang padanya tidak usah khawatir.” jawabku, aku mulai menyendok makananku.

“Mm…Apa ada yang kalian harus kerjakan?” tanya gadis itu.

“Aku tidak apa-apa. Pergilah.” ucapnya seraya tersenyum. Aku menatap Donghae, dia lalu mengangguk.

“Baiklah,setelah makananmu habis, kami baru pergi.” ucap Donghae.

Gadis itu semakin bersemangat melahap makanannya. Tapi entah karena makanan rumah sakit yang tidak enak atau lidahnya yang masih pahit, dibujuk seperti apapun makanannya tetap bersisa.

Akhirnya setelah dia meminum obatnya kami segera pamit dan berjanji akan menjenguknya lagi nanti. Sepertinya aku dan Donghae akan bergantian menjaganya, karena aku akan siaran sampai tengah malam nanti.

-to be continued-

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2010 in Uncategorized

 

Tags: ,

Welcome to Black and White 2204 Land!!

Menulis, menulis, dan menulis. Mau di rumah, kosan, bis, kampus, dimanapun pasti nulis. Asal ada handphone, mau nyuruh nunggu berapa lamapun pasti bakalan bilang iya. Alhasil, selama menunggu itu akan tercipta beberapa cerita. Ada yang jelas, ada juga yang enggak. Ada yang sekali selesai, ada juga yang masih setengah.

Setelah dipikir-pikir, hanya dari sebuah handphone sebuah cerita tercipta, siapa yang akan menikmati selain si pemilik handphone? Sampai memori handphone penuh pun tetap hanya si pemilik handphone yang akan menikmati.

Selain untuk memenuhi hasrat,  saya juga ingin berbagi cerita.^^

Welcome to Black and White 2204 land!!

Selamat berpetualang dan selamat menikmati….^^v

 
1 Comment

Posted by on June 25, 2010 in Uncategorized