RSS

Just My little Brother?! part. 3

Baru saja kami melangkah…

“Rara?”

“Oppa…” aku merasa tubuhku tidak bertulang…

“Apa yang kau lakukan? Siapa dia?” tanyanya datar. Oppa sangat marah!

“Dia…dia…”

“Jonghyun imnida!” jawab Jonghyun, dia membungkukan sedikit badannya. Kenapa dia malah menjawab disaat seperti ini.

“Oppa, aku sudah selesai. Ayo!” tiba-tiba saja seorang gadis menarik lengan Eunhyuk oppa tanpa mempedulikan kami. Eunhyuk oppa terlihat kaget, tapi dia tidak berbuat apa-apa dan menuruti gadis itu. Dia terus menatapku walaupun badannya ditarik gadis itu.

Siapa dia? Apa itu alasan Eunhyuk oppa tidak pernah mempedulikanku akhir-akhir ini?

Tanpa kusadari air mataku menetes setitik demi setitik. Kenapa?

Kurasakan tangan Jonghyun menyentuh pipiku, lalu menghapus air mataku.

“Noona, gwenchana?” tanyanya. Aku lalu memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.

*

“Jadi itu pacarmu noona?” Tanya Jonghyun. Dia membawaku ke taman dan membelikanku es krim untuk menenangkanku.

Aku mengangguk pelan.

“Hh…kenapa Noona tidak bilang padaku?” ucapnya.

“Mianhae. Kau marah?” tanyaku. Jonghyun malah menggaruk belakang kepalanya.

“Bukan begitu Noona, sekarang pacarmu itu pasti salah paham pada kita.” Jawabnya.

“Aku tidak peduli, dia juga sudah tidak peduli lagi padaku.”

“Haha, Noona benar-benar lucu! Jika memang Noona sudah tidak peduli, untuk apa Noona menangisinya?” ucapnya lagi. Perkataannya benar-benar menancap dihatiku. Aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.

“Ayo,kuantar pulang.” Ajaknya. Dia mengulurkan tangannya padaku, lalu menggenggamnya lagi seperti tadi pagi. Aku benar-benar merasa nyaman bersamanya.

“Jonghyun-ah… Mianhae, kita tidak sempat makan malam. Akan kutraktir lain kali.” Ucapku tulus.

“Gwenchana, kita masih punya banyak waktu Noona.” Jawabnya. Dia tidak menolehkan wajahnya padaku, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Aku hanya bisa melihat punggungnya. Tapi entah kenapa, aku berpikir ini sangat romantis.

Setelah itu tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Seharusnya saat ini aku memikirkan Eunhyuk oppa bukan? Tapi anehnya, memikirkan apa yang jonghyun pikirkan lebih menarik untuk ku saat ini. Apa ini artinya…?

“Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanyaku. Aku merasakan tangan Jonghyun menegang. Dia lalu menoleh padaku.

“Noona, sebaiknya aku pulang sekarang. Annyeong…” ucapnya. Dia lalu segera pergi dari hadapnku tanpa berkata apa-apa lagi.

“rupanya dia tidak cukup jantan menghadapiku huh?” tiba-tiba saja Eunhyuk oppa sudah ada dibelakangku. Aku berbalik, rupanya karena ini jonghyun pergi.

“apa maksud oppa?” tanyaku.

“Harusnya aku yang bertanya begitu padamu Shin Rara? Apa yang kau lakukan dengan anak itu?!” bentaknya. Aku belum pernah melihat oppa semarah ini padaku.

“lalu oppa sendiri?! Apa yang oppa lakukan bersama gadis itu? 3 bulan oppa tidak pernah memberiku kabar! Oppa sibuk dengan gadis itu hah?!” jawabku tak mau kalah. Dada ku kembang kempis menahan emosi yang begitu meledak-ledak. Mataku mulai panas lagi. Oh tidak, jangan menangis sekarang Shin Rara!

“Aku…aku…” Eunhyuk oppa tidak bisa menjawab, aku lalu mendorongnya dan berlari masuk ke dalam rumah. Kubanting pintu depan dan segera berlari menuju kamarku. Akupun tidak mempedulikan teriakan omma dan Kibum yang merasa terganggu dengan tingkahku barusan. Yang kuinginkan sekarang hanya menangis sepuasnya.

*

Aku tertidur dalam tangisanku. Mataku sembab dan wajahku terlihat sangat lusuh. Aku tidak ingin pergi ke sekolah dengan keadaan seperti ini.

“Rara ya, apa kau tidak pergi sekolah?” Tanya omma setelah mengetuk pintuku beberapa kali. Aku lalu membuka pintu dan melongokan sebagian wajahku keluar.

“Omma, kepalaku pusing sekali. Apa omma bisa memintakan izin untukku?” pintaku.

“Aigoo… wajahmu benar-benar pucat. Apa kau demam nak?” Tanya omma khawatir. Aku menggelengkan kepalaku.

“Ani, aku hanya pusing. Seharian ini aku ingin istirahat saja dikamar, Omma.” Ucapku.

“Baiklah, Omma akan menelpon sekolahmu. Istirahatlah. Omma akan buatkan bubur.”

“Ne…” setelah Omma pergi aku kembali menutup pintuku. Aku juga menonaktifkan ponselku. Aku hanya ingin sendirian hari ini.

Aku kembali naik keatas ranjang dan menarik selimut sampai ke kepala. Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi setiap kali aku menutup mataku bayangan kejadian kemarin selalu berputar dikepalaku.

“Sial!” umpatku kesal.

Aku mendengar suara pintu yang dibuka.

“Taruh saja buburnya disitu Omma, nanti akan kumakan.” Ucapku.

“Ini aku…” ucap seseorang yang suaranya sudah sangat familiar di telingku.

“Ada apa oppa kemari?” tanyaku ketus. Aku tidak membuka selimutku. Aku tidak ingin dia melihat keadaanku yang berantakan seperti ini.

“Aku ingin minta maaf soal kemarin. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti itu.” Ucapnya. Aku tidak menjawab.

“Gadis itu… dia teman kerjaku di radio.” Lanjutnya.

“Tidak mungkin dia hanya temankan?” balasku. Emosiku kembali terpancing.

“Dia…dia…”

Aku lalu membuka selimutku dan menatap matanya. Matanya tidak pernah bisa berbohong padaku.

“kau suka padanya kan oppa?” tanyaku lagi. Eunhyuk oppa hanya diam. Dia juga tidak berani menatapku.

“Dan jika aku boleh menduga, dia sudah menjadi yeoja chingumu sejak 3 bulan yang lalu kan?” tanyaku lagi semakin memojokkannya.

“Oppa, tatap aku dan jawab pertanyaanku!” pintaku keras. Perlahan-lahan Eunhyuk oppa memberanikan diri menatap mataku. Aku sudah bisa mendapat jawabannya.

“Mianhae…” ucapnya.

“Huh, maaf? Untuk apa? Tidak ada gunanya…” jawabku, lagi-lagi air mataku mengalir. Selamat Shin rara, kau terlihat sangat lemah dihadapannya sekarang!

“Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud berbuat seperti itu padamu.” Ucapnya. Dia membelai pipiku dan menghapus air mataku.

“Oppa, sebaiknya kita akhiri saja.” Ucapku. Eunhyuk oppa terlihat sangat terkejut dengan perkataanku. Tapi kemudian

“Jika menurutmu itu yang terbaik.” Ucapnya.

Dia lalu pergi meninggalkanku dalam genangan air mata.

*

 

 

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on January 17, 2011 in fanfiction

 

Senyum Malaikatku

Entah sejak kapan dia mulai berubah. Dihadapanku dia selalu bersikap biasa saja. Seolah segalanya berjalan dengan sempurna.

Dimulai ketika aku membelikannya sebuah mobil.

“chagi, lihatlah apa yang kubelikan untukmu..” panggilku. Aku meminta malaikatku itu untuk keluar dari istana kami dan melihat kejutan apa yang telah kupersiapkan untuknya.

Dia keluar dengan perlahan. Aku terlalu gembira sampai aku tidak menyadari ada setitik air disudut matanya.

“oppa, apa ini?” tanyanya. Dia masih berusaha untuk menyenangkanku dengan berpura-pura terkejut.

“ini untukmu. Aku tidak enak jika harus membiarkanmu kesana kemari menggunakan bis. Apa kata orang jika mereka tahu aku membiarkan istri tercintaku kedinginan dan kepanasan?” godaku. Malaikatku tersenyum.

“tapi ini terlalu mahal oppa.” sahutnya. Istriku ini memang seorang ibu rumah tangga yang baik. Dia sangat cermat untuk membelanjakan uang kami.

“tidak apa-apa. Karena ini untuk istriku tercinta.” jawabku. Aku lalu merangkulnya seraya memandangi vw beattle yang baru saja kuberikan. Dia lalu memeluk ku.

“gomawo oppa…”

aku tersenyum puas karena telah bisa membuat istriku bahagia.

*

Aku baru saja selesai syuting dan beranjak pulang. Di tengah jalan aku melihat sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Si gadis memegang sebuket mawar dan kotak coklat. Saat itu aku berpikir mungkin aku bisa melihat senyuman malaikatku malam ini. Jadi kuputuskan untuk membeli sebuket besar mawar putih dan sekotak coklat kesukaannya.

Sepanjang perjalanan aku tersenyum melihat mawar dan coklat itu berada dalam mobilku. Aku membayangkan betapa girangnya malaikatku ini saat mendapatkan hadiah kesukaannya.

Aku mengetuk pintu depan dan menutupi wajahku dengan buket bunga itu. Tak lama kemudian aku mendengar pintu itu dibuka.

“maaf, anda mencari siapa?” tanya malaikatku.

“apa nyonya lee ada?” tanyaku dengan suara yang dibuat2.

“ya, saya sendiri.” jawabnya dengan suara bergetar. Sepertinya dia ketakutan.

“ada kiriman untuk anda nyonya.” ucapku lagi masih dengan suara dibuat2.

“oppa!” teriaknya saat dia mengambil bunga dari tanganku.

“aku pikir siapa tadi.” ucapnya, kelihatan sekali dia sangat lega.

“hahaha, aku juga punya ini untukmu!” ucapku sambil memberikan coklat yang kusembunyikan dibelakang punggungku tadi.

“ah… Gomawo…” ucapnya, dia lalu mengecup pipiku sekilas.

“ayo oppa, aku sudah memasak untukmu.” ucapnya. Dia lalu menaruh kedua hadiahku di meja bordes dan menarikku menuju ruang makan.

Aku tidak terlalu mengindahkannya saat itu. Aku sudah puas dengan senyumannya.

meja makan sudah dia tata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik di mataku. Makanan sudah terhidang diatas meja. Sepertinya hari ini malaikatku sudah bekerja sangat keras.

“ayo oppa, cobalah…” ucapnya. aku lalu mengambil sumpit dan mulai melahap masakannya.

Masakannya sangat enak tapi dia tahu aku tidak suka. Kenapa dia memasak ini untukku?

“chagi…”

“kenapa oppa? Apa masakanku tidak enak?” tanyanya.

“apa kau lupa aku tidak suka seafood?” ucapku. Dia terlihat terkejut saat itu.

“mi…mianhae oppa…” ucapnya lalu setitik demi setitik air jatuh dari pelupuk matanya.

“gwe, gwenchana… ini sangat enak! Aku akan menghabiskannya!” ucapku. Aku lalu memenuhi mulutku dengan semua makanan itu. Dia lalu menghapus air matanya dan tersenyum.

Tidak apa2, asalkan malaikatku bisa tersenyum kembali.

*

setiap malam kami selalu tidur saling berpelukan. Tapi ditengah malam, aku selalu mendapatinya sedang menangis di balkon kamar kami sambil menatap langit malam. Aku tidak pernah mengganggunya. Aku hanya menunggu. Menunggunya untuk bercerita.

Tapi dia tidak pernah bercerita. Sampai akhirnya aku tidak bisa menunggu lagi. Saat kami sarapan aku bertanya padanya.

“chagi, apa kau ada masalah?” tanyaku. Aku melihat dia hampir saja menjatuhkan gelasnya saat itu, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya kembali.

“masalah? Tidak ada oppa. Wae?”

“benarkah?” tanyaku penuh selidik. Dia lalu tersenyum dan mengangguk. dia memang tahu kelemahanku. Aku paling tidak tahan jika sudah melihat senyumannya.

“baiklah… Karena hari ini jadwalku kosong, bagaimana jika kita jalan2?” usulku untuk mengalihkan perhatiannya.

“sudah lama kan kita tidak jalan2 berdua?” lanjutku lagi. Dia tersenyum dan mengangguk.

Lalu, disinilah kami. Bergandengan tangan di sepanjang myeongdong. Sekali2 aku ingin berjalan dengannya sebagai orang biasa. Aku pikir kami bergembira sampai aku melihat matanya yang kosong dari bayangan di etalase toko.

setelah makan siang, tanpa dia ketahui aku membawanya menuju namsan tower. Aku ingin mengaitkan gembok kami berdua. orang bilang jika kita mengaitkan gembok yang bertuliskan nama kita dan nama pasangan, maka cinta kami berdua akan abadi. Aku ingin membuktikannya.

“oppa, apa kita akan keatas sana?” tanya malaikatku saat kami telah tiba.

“ne chagiya… Aku ingin mengaitkan gembok atas nama kita berdua.” jawabku. Dia terlihat menggigil. Aku lalu membuka jaketku dan memakaikan padanya.

“oppa, aku lelah. Apa kita bisa pulang saja?” pintanya. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi melihat wajahnya yang begitu pucat akhirnya aku menurut.

Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya. Dia memang selalu tersenyum padaku, tapi sinar matanya bukan untukku. Dia memang selalu tidur dipelukanku, tapi hatinya bukanlah untukku. Dia memang selalu menggenggam tanganku, tapi kehangatannya bukanlah untukku.

*

Sekarang aku berdiri di hadapan 2 buah nisan yang terlihat sangat serasi. Matahari mulai turun, membuat semburat jingga di langit kota. Tapi aku belum juga mau beranjak dari sana. Aku masih rindu malaikatku.

Beberapa hari yang lalu akhirnya aku tahu apa yang terjadi padanya. Ketika aku membelikan mobil untuknya, saat itulah dia kehilangan belahan jiwanya. Dia selalu senang menggunakan bis karena dia merasa seolah2 belahan jiwanya sedang disana juga bersamanya.

Dia begitu terkejut saat menerima mawar dan coklat dariku karena begitulah cara belahan jiwanya memberinya kejutan. Dia memasakan ku seafood yang tidak kusuka, karena itu adalah makanan kesukaan belahan jiwanya.

Dia begitu kosong saat kubawa berjalan2 di myeongdong, karena kesanalah mereka berdua sering menghabiskan sore bersama. Dan dia tidak mau kuajak mengaitkan gembok atas nama kami karena gembok atas namanya sudah terkait erat dengan gembok milik belahan jiwanya diatas sana.

Aku begitu bodoh karena tidak menyadarinya lebih cepat. Aku begitu terbuai dengan kesempurnaan dirinya. Sampai aku melupakan jika dia hanyalah seorang gadis biasa yang mempunyai masa lalu dan pernah terluka.

Hari ini, malaikatku pergi menyusul belahan jiwanya. Untuk pertama dan terakhir kalinya dia meminta sesuatu padaku. Dia ingin memenuhi janjinya, selalu berada disamping belahan jiwanya sampai ujung waktu.

Aku akan merindukan senyuman malaikatku. Tapi aku tahu, saat ini malaikatku sedang tersenyum pada dunia

***

 
9 Comments

Posted by on January 13, 2011 in Uncategorized

 

Surat Bertinta Ungu

Aku merindukanmu. Maaf, aku tahu kamu pasti merasa aneh. Tapi aku benar-benar merindukanmu.

Eunhyuk memandang surat itu berkali-kali. Tidak ada kalimat lain disana. Dia tahu, surat itu adalah surat dari fansnya. Karena ia dapatkan dari tumpukan surat yang diberikan oleh manajernya tadi siang. Tapi isi surat itu berbeda. Biasanya surat-surat itu akan menuliskan hal yang sama ‘oppa saranghae, semangat, jaga kesehatan’ kalimat-kalimat seperti itu. Tidak ada yang bilang merindukannya. Sangat aneh bukan jika kau merindukan orang yang dengan mudahnya bisa kau temukan di televisi, radio, dan internet?

Eunhyuk melipat surat bertinta ungu itu dan menyimpannya di sebuah kotak bersama surat-surat dari penggemarnya yang lain.

 

Aku ingin mendengar suaramu, aku ingin melihat wajahmu. Oh, aku benar-benar rindu padamu.

Ini surat kedua yang Eunhyuk dapat. Masih orang yang sama, tulisan yang sama, dan tinta yang sama. Tidak ada nama pengirim tentu saja.

seperti biasa dia melipat surat itu dan memasukannya ke dalam kotak.

 

*

 

Membaca surat bertinta ungu itu sekarang menjadi hobi barunya. Eunhyuk menjadi sangat penasaran siapakah si penulis surat itu. Kenapa selalu tersirat kerinduan di dalam surat-suratnya? Dia kan tidak pernah cuti.

Eunhyuk membuka surat bertinta ungu itu. Hanya satu kalimat, tapi dapat membuat wajahnya panas seketika.

 

Maaf, aku telah mengotorimu.

Pikirannya segera berimajinasi dengan liar. Seseksi itukah dia sampai seorang gadis memimpikannya menjadi teman tidurnya?

 

Ini sudah 1 bulan surat bertinta ungu itu tidak pernah mampir lagi di kotak suratnya.

“aku merindukanmu juga.” ucapnya tanpa sadar sambil memandang surat-surat itu di kotaknya yang berwana ungu juga. Eunhyuk sengaja memilih kotak yang berbeda untuk menyimpan surat itu.

Dia menolak jika menyatakan si pengirimnya adalah orang yang spesial baginya. Tapi tidak bisa dipungkiri, hatinya tergelitik untuk mengetahui siapa si penulis surat itu.

 

Eunhyuk kembali menatap surat bertinta ungu yang ada dalam genggamannya. Surat itu berada bersama surat-surat lainnya yang diberikan manajer tadi siang. Hanya ada 2 kalimat.

 

Temui aku di han gang besok malam. Aku akan memakai syal ungu.

 

Hanya itu. Eunhyuk tersenyum, gadis ini benar-benar penuh percaya diri. Bagaimana bisa dia begitu yakin bahwa dirinya akan memenuhi permintaannya itu? Tapi Eunhyuk memang tidak ingin menolaknya.

 

Malam itu Eunhyuk siap dengan hoodie dan masker yang menutup sebagian wajahnya. Dia berjalan menuju han gang. Dia harus menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas. pandangan nya menyapu seluas mungkin.

Dia menemukannya! Seseorang dengan syal berwarna ungu sedang duduk ditepi sungai han. Eunhyuk segera menghampiri nya.

“annyeong haesseyo.” sapanya. Orang itu berbalik. Seorang pria, bertubuh tegap, dibalut mantel dan syal ungu melingkar di lehernya.

Eunhyuk terhenyak, bagaimana mungkin fans nya adalah seorang pria?

“duduklah.” ucapnya. Eunhyuk menurut dengan takut-takut. Dia menjaga jarak dari “fans” nya itu.

“aku masih normal. Tidak usah tegang seperti itu.” ucapnya. Eunhyuk hanya tersenyum.

“surat-surat itu bukan aku yang menulisnya.” lanjutnya.

“lalu siapa?”

“kekasihku.” Eunhyuk kembali menatap pria itu heran. Apa yang akan dilakukan pria itu? Apa dia akan memukulnya karena dia telah merebut perhatian gadisnya?

Eunhyuk menyiapkan kuda-kuda nya, bersiap kalau-kalau pria itu akan memukulnya. Besok dia akan tampil di tv, bisa gawat jika netizen melihat bogem di wajahnya.

“dia meninggal 2 hari yang lalu.” lanjutnya. Eunhyuk terkejut. Dia lalu menepuk pundak pria itu untuk menunjukan rasa simpatinya.

“aku tahu dia selalu mengirimu surat. Surat-surat itu dia tulis saat dia di rumah sakit. Kau adalah pria dalam imajinasinya, pria yang sempurna.”

“tapi kau yang selalu ada disampingnya kan?” pria itu menggeleng lemah.

“aku bekerja di Jepang. Baru sebulan yang lalu aku kembali karena mendengar sakitnya semakin parah.” Eunhyuk mengingat-ingat, sejak sebulan yang lalu surat-surat bertinta ungu itu tidak pernah mampir lagi ke dalam kotak suratnya.

“aku tahu dari kakaknya, setiap hari dia selalu mengirimi mu surat. Entah apa yang dia tulis, tapi aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah menghiburnya. Dia selalu tertawa saat melihatmu di televisi.” ujarnya.

“itu profesiku.”

“tapi aku malah meninggalkannya.” pria itu tertunduk lemah.

Akhirnya eunhyuk sadar apa yang sebenarnya surat-surat itu maksudkan.

“hei teman, kau tahu apa yang dia tulis untukku? Dia bilang, dia merindukanku. Hanya merindukanku. Tidak cinta, atau apapun seperti yang dikatakan fansku yang lain. Aku rasa sebenarnya surat itu untukmu.” pria itu kembali terhenyak. Dia menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan semua kesedihan yang selama ini dia pendam.

 

Eunhyuk kembali ke apartemennya dengan pikiran melayang.

“tragis.” batinnya. Dia membuka kotak surat berwarna ungu dan membaca surat-surat di dalamnya. Dia membacanya sambil berbaring. Enhyuk melihat tulisan lain disana. Tidak dengan tinta ungu. Dia mengambil sesuatu dari meja kerjanya agar bisa melihat tulisan itu lebih jelas.

Semua surat dia periksa, dan kalimat itu selalu tercantum disana. eunhyuk tersenyum. Selama ini surat-surat itu ternyata bukan untuknya.

 

Untuk kekasihku yang sedang bekerja keras untukku di Jepang

 

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Just My Little Brother? part. 2

Eunhyuk oppa masih saja tidak peduli padaku. Sudah 3 bulan ini dia tidak pernah menjemput atau bahkan hanya menghubungiku. Hah… yang benar saja! Masa setiap hari aku terus yang harus menghubunginya lebih dulu? Aish~ padahal aku benar-benar rindu padanya! Kenapa dia tidak pernah mengerti?

Aku membuang muka ku ke jendela. Berharap melihat pemandangan diluar bisa sedikit meredakan kegundahan hatiku. Dari kelasku, aku bisa melihat lapangan. Wah, ternyata anak-anak kelas 1 sedang bermain bola. Aku menangkap sosok Jonghyun disana. Semester ini sudah hampir habis. Sudah 3 bulan sejak dia pindah kemari, dan hampir setiap hari kami pulang bersamaTanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik ke atas saat melihatnya.

“Ya! Apa yang kau lihat?” teriakan Hee Gi mengagetkanku.

“Ani…”

“Hm, dia boleh juga. Kau tahu? Dia sangat populer di kalangan anak kelas 1. Bahkan setiap hari ada saja gadis-gadis yang memberinya semangat saat dia latihan. Tapi mereka tidak berani mendekat karena selalu ada kau di dekatnya. Apa gossip yang bilang kalau kau berpacaran dengannya itu benar?” tanyanya.

“Aku tidak pacaran dengan Jonghyun…”

“Memangnya siapa yang membicarakan Jonghyun?” tanyanya penuh selidik. Reflek aku membekap mulutku.

“Shin ra ra, ada yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya langsung dengan tatapan penuh curiga. Aku menggeleng, tapi dia terus menatapku tajam.

“Dia Cuma kuanggap adikku. Itu saja…” jawabku.

“Hati-hati dengan ucapanmu.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkanku lagi.

Aku memfokuskan diriku kembali pada pemandangan di luar jendela. Sepertinya Jonghyun berhasil memasukan satu gol. Lagi-lagi seulas senyuman tersuging di bibirku.

*

Hari ini aku sudah berjanji akan menemani Jonghyun jalan-jalan. Aku memakai jins kesayanganku, hoodie baruku, juga tas selempang kecil untuk menaruh dompet dan ponselku.

“Mau kemana?” Tanya omma saat aku turun untuk sarapan.

“Aku akan menemani Jonghyun jalan-jalan omma.” Jawabku.

“Jonghyun? Akhir-akhir ini kau sering sekali pergi dengannya. Apa kau sudah putus dengan Eunhyuk?”

“Aniyo.” Sahutku.

“Lalu kenapa kau sering pergi dengannya? Omma tidak pernah mengajarimu untuk tidak setia.”

“Aku tidak selingkuh, aku hanya menganggapnya seperti Kibumie. Itu saja.”

“Aigo~ omma tidak pernah melihat kau dan Kibumie akrab seperti kau dan Jonghyun.”

“Karena Kibum menyebalkan! Jika Omma bicara terus, aku tidak bisa konsentrasi pada sarapanku.”

“Aish~ kau ini.” Omma lalu pergi meninggalkanku di meja makan. Appa dan Kibuma tidak terlihat, apa mereka masih tidur?

Aku menghabiskan sarapanku dengan tenang, Jonghyun bilang dia akan menjemputku nanti.

Aku baru menghabiskan setengah porsi sarapanku ketika omma memanggilku dari depan. Aku segera menghampirinya. Ternyata Jonghyun sudah menjemputku. Dia mengenakan celana jins, t-shirt hitam dan jaket berwarna coklat yang dia tarik lengannya setengah. Headphone tergantung di lehernya. He looks really cute!

Ow! Apa yang kuucapkan barusan? Lupakan saja.

“Noona sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk. Kami pergi setelah pamit pada omma.

“Baiklah, kita mau kemana sekarang?” tanyaku.

“Temani aku ke taman bermain ya Noona?” pintanya.

“Tentu saja Jonghyunie, aku akan menemanimu. Jika tidak, aku tidak akan ada disini.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Baiklah, kaja!” dia lalu berlari sambil menarik lenganku menuju halte. Jonghyun baru berhenti berlari ketika kami sampai di halte. Dia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Bahkan sampai bis tiba, kami naik dan duduk sambil terus berpegangan tangan. Jonghyun menggenggam tanganku erat seakan tidak mau melepaskan tanganku. Dan entah mengapa akupun tidak berniat melepasnya.

“Ayo Noona.” Ujarnya. Aku memperhatikan sekelilingku.

“Eh? Tapi kan masih jauh untuk sampai ke taman bermain?” tanyaku. Jonghun tersenyum.

“Aku berubah pikiran, aku ingin bermain ice skating saja. Ayo.” Dia menarik tanganku lagi.

“Kau bisa kan noona?” tanyanya menggodaku.

“Tentu saja. Atau mungkin malah kau yang tidak bisa?”

“Kita lihat saja nanti!” kami segera memakai sepatu skate kami dan meluncur. Haah… senangnya. Saat aku meluncur diatas es, aku merasa sangat bebas. Setiap kali aku bertengkar dengan eunhyuk oppa, aku akan pergi kesini dan bermain sampai puas. Setelah itu aku pasti akan merasa lebih baik.

“Noona, tunggu aku…” ucap Jonghyun dari belakang. Dia terlihat kepayahan menggerakan kakinya.

“Uri Jonghyuni ternyata tidak bisa bermain skate ya?” godaku. Dia mengerucutkan bibirnya sebal.

Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya, dia menyambut uluran ku dengan sebuah senyuman. Kami meluncur bersama, aku menuntunnya melewati arena. Sampai akhirnya dia mulai terbiasa aku bisa melepasnya.

“Bukankah kau yang mengajak ku kemari? Aku pikir kau sudah mahir?” godaku. Dia hanya tertawa dan mengejarku. Aigo~ dia cepat sekali belajar.

“Noona awas kau!” teriaknya. Aku berusaha menghindar dari kejarannya. Aku berbelok ke kiri dan ke kanan. Dan ternyata Jonghyun memang tidak bisa menangkapku. Aku terlalu mahir!

“Jonghyunie…” teriakku sambil berbalik ke arahnya. Sepatu luncur ku masih meluncur dengan cepat diatas es, tanpa ku ketahui apa yang ada di belakangku.

“Noona, awas!!” tiba-tiba sesuatu menubrukku dengan agak keras dari belakang. Otomatis aku kehilangan keseimbanganku. Ah, jatuh dengan keadaan seperti ini pasti sangat sakit.

Aku memjamkan mataku, berharap dengan begitu aku tidak akan terlalu kesakitan. Eh, tapi benar-benar tidak sakit.

“Noona…” aku membuka kedua mataku perlahan. Ternyata aku malah menindih Jonghyun. Jadi tadi dia merelakan tubuhnya untuk alas jatuhku?

“Ah, Jonghyun-ah, gwenchana?” tanyaku. Aku segera bangkit. Tidak enak dilihat oleh orang-orang dengan posisi seperti ini.

“Ne… Noona bagaimana? Tidak apa-apa?”

“Tidak, untung ada kau. Benar tidak ada yang sakit?” tanyaku lagi. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tapi aku melihat ekspresi kesakitan di matanya. Dan tanpa sengaja, aku melihat dia terus memegang tangan kirinya.

“Ini sakit?” tanyaku seraya mengelus tangan kirinya. Dengan segera dia menghindar yang semakin menguatkan dugaanku bahwa dia memang kesakitan.

“Hm… ayo kita ke klinik sekarang.”

“Noona, aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Ke klinik sekarang atau aku akan marah padamu?” Jonghyun cemberut lalu bergerak menurutiku.

“Hah, syukurlah tanganmu tidak cedera serius.”

“Kan tadi sudah kubilang, aku tidak apa-apa.” Jawabnya. Aku tersenyum.

“Baiklah, karena kau sudah menolongku tadi, aku akan mentraktirmu sekarang! Kau ingin makan apa?”

“Bulgogi!”

“Mwo?!”

“Ayolah Noona… ya? Ya?” pintanya. Aku tidak bisa meolak.

“Baiklah, ayo kita pergi!” ucapku bersemangat. Aku lalu menggandeng lengannya. Sangat nyaman berada disisinya seperti ini.

Baru saja kami melangkah…

“Rara?”

“Oppa…” aku merasa tubuhku tidak bertulang…

-tbc-

 
2 Comments

Posted by on December 10, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Just My Little Brother?? part. 1

“oppa, bisakah kau menjemputku? Tidak bisa? Ne… Araesso.” aku menutup flip ponselku. Huh, lagi-lagi eunhyuk oppa tidak bisa datang menjemput. Pasti gara-gara kerjaannya lagi. Susah ya ternyata punya seorang namja chingu yang berbeda dunia dengan kita. Eunhyuk oppa seorang mahasiswa dan part time sebagai penyiar radio. Sedangkan aku, hanya seorang siswi SMA. Waktunya untuk ku sedikit sekali.

“ Aish~ benar-benar kesal!” batinku. Aku lalu menendang batu kerikil yang berserakan di jalan.

“auch!” seseorang berteriak. Aku mendongak. Di hadapanku berdiri seorang laki2 yang sedang mengusap-usap kepalanya. seragamnya sama denganku. Berarti dia satu sekolah denganku. Tapi aku tidak pernah melihatnya. Siapa dia?

“kenapa hanya diam?” tanyanya menyadarkanku.

“ah, mianhae. Gwenchana?” tanyaku.

“ne, tapi lain kali jangan menendang batu jika sedang kesal.” ucapnya. Dia masih mengusap-usap kepalanya. Sepertinya sakit sekali.

“ah, iya. Aku benar-benar minta maaf.” ucapku. Aku membungkukkan badan sedalam-dalamnya.

“sudah, sudah. Tidak usah berlebihan seperti itu.” ucapnya. Aku menegakkan badanku kembali.

“kim jonghyun imnida.” ucapnya. Seraya tersenyum.

“shin rara imnida.” jawabku.

“kau satu sekolah denganku kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“dimana kelasmu? Aku baru pindah hari ini.” tanyanya. Ah, pantas saja aku tidak pernah melihatnya.

“aku kelas 2-E.” dia terlihat agak terkejut mendengar jawabanku. Lalu menggaruk belakang kepalanya.

“ah, ternyata aku harus memanggilmu noona. Aku baru kelas 1.” jawabnya malu-malu.

“ahahaha, gwenchana. Aku tidak pernah memilih-milih teman.”  Jawabku sekenanya. Sebenarnya saat aku sedang kesal aku paling tidak suka sendirian. Mungkin dengan mengobrol dengannya bisa mengalihkan perhatianku dari rasa kesalku itu.

“Noona mau pulang?” tanyanya.

“Ne.” Jawabku seraya menganggukan kepalaku.

“Kau mau pulang juga?”

“Iya, tapi aku belum hapal jalan.” Ucapnya seraya memamerkan deretan giginya.

“Mau kuantar?” tawarku. Lagi-lagi dia tersenyum, saat dia melakukan itu seperti ada sinar dari matanya.

“Jika Noona tidak keberatan…” jawabnya malu. Aku tersenyum lalu menyeretnya menuju halte bis. Dan ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Hanya beda beberapa blok saja.

Kami akhirnya pulang bersama. Dia lalu mengantarku sampai depan rumah. Menurutnya dia tidak akan tersesat karena tinggal beberapa blok saja.

“Yakin kau tidak akan tersesat?”  ucapku menggodanya. Dia menggelengkan kepalanya dengan yakin.

“Tidak akan.” Jawabnya kemudian.

“Nah, noona, sampai besok ya. Jangan lupa, besok tunjukan seluruh sekolah padaku!” lanjutnya.

“ne, annyeong…” seruku seraya melambaikan tangan pada sosoknya yang semakin menjauh.

“aku berangkat!” ucapku. Pagi ini cerah, aku menutup mataku menikmati sinar mentari pagi dan menghirup udara sebanyak yang ku bisa. Haah…akan sangat  menyenangkan jika aku bisa pergi ke sekolah bersama eunhyuk oppa seperti saat aku duduk dikelas 1 dulu.

“noona~”

aku membuka mata, ternyata jonghyun. Dia melambaikan tangan dari luar pagar dengan senyuman lebar. Aku segera menghampirinya.

“annyeong.” sapaku.

“tidak apa-apakan jika kita berangkat bersama?” tanyanya.

“haha, tentu saja. Memangnya kenapa?”

“aku hanya tidak ingin setibanya di sekolah nanti aku dihajar oleh sonbae-sonbae karena berangkat sekolah bersamamu.” jawabnya.

“tenang saja, aku tidak seterkenal itu disekolah.”

“jinca?”

“ne, memangnya apa yang bisa kubanggakan dariku?”

“senyum mu sangat manis.” jawabnya langsung. Aku hanya tertawa mendengar pujiannya.

“noona.” aku menolehkan kepalaku dari buku biologi yang sedang berusaha kubaca. Ternyata Jonghyun sudah berada di ambang pintu kelas. Aku segera menghampirinya. Beberapa pasang mata melirik ku tajam saat aku menghampirinya, tapi aku tidak peduli.

“ne, ada apa jonghyun-ah?” tanyaku.

“setelah pulang sekolah, apa bisa menemaniku?”

“mh? Kemana?”

“aku hanya ingin berjalan-jalan keliling kota.”

“ah… Eksplorasi kota ini?”

“ne, mau ya noona?” pintanya.

“mian, aku tidak bisa pulang terlalu malam. Bagaimana jika hari minggu saja?” tawarku. Dia kelihatan berpikir.

“hm, baiklah! Aku akan menjemput noona hari minggu!” ujarnya riang.

“ne.” dia berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangannya padaku. Aigo~ lucunya.

“noona, jangan lupa hari ini antar aku keliling sekolah sebelum pulang…!” teriaknya. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Dia mengacungkan kedua jempolnya lalu berbalik pergi.

Bel baru saja berbunyi, aku sedang membereskan buku-bukuku ketika

“noona~” aku mendongak, jonghyun sudah menungguku dengan tasnya.

“pelajaranmu sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk.

“baiklah, kaja. Akan kutunjukan seluruh sekolah ini padamu! bagian mana yang ingin kau ketahui lebih dulu?” tanyaku.

“mmh… Dimana ruang musik?” tanyanya.

“ruang musik? Baiklah, ikuti aku.” jawabku. Kami lalu berjalan berdua. sekolah belum sepi, karena biasanya setelah sekolah usai akan ada latihan dari beberapa klub.

sepanjang jalan aku sibuk menjelaskan ini itu padanya. Dia tidak banyak berkomentar, hanya mengiyakan dan mengangguk.

“nah, ini dia ruang musik kami!” ujarku. Kami masuk ke dalam. Di dalam ada sebuah piano yang biasa digunakan untuk mengiringi anak-anak paduan suara latihan.

“wah…piano..!!” ujarnya riang. Dia segera duduk dan memainkan jari-jarinya diatas tuts piano.

You are so beatifull to me…

You are so beatifull to me…

Wah, ternyata suaranya lumayan juga. Kekeke~

Dia terus saja bernyanyi, aku hanya berdiri di samping piano menikmati nyanyiannya.

“Noona, kau bisa main piano?” tanyanya.

“Hm… sedikit.”

“Iringi aku bernyanyi ya.” Pintanya.

“Hm… baiklah…” jawabku. Aku mulai berlagak meregangkan jari dan tubuhku.

Aku mulai menekan tuts-tuts piano dan memainkan lagu A Thousand Miles milik Vanessa Carlton.

“Vaneesa Carlton?”

“Kau bisa?”

“Tentu saja.” Jawabnya. Akhirnya kami bernyanyi bersama. Lagu ini merupakan lagu favoritku. Dentingan pianonya sangat enak bukan?

Making my way downtown
Walking fast
Faces passed
And I’m home bound

Staring blankly ahead
Just making my way
Making my way
Through the crowd

And I need you
And I miss you
And now I wonder….

If I could fall
Into the sky
Do you think time
Would pass me by
‘Cause you know I’d walk
A thousand miles
If I could
Just see you
Tonight

Kami bertepuk tangan dengan gembira. Ternyata kami cocok juga.

“Noona, suaramu indah juga ya? Permainan piano mu juga lumayan. Kenapa kau masih suka merendahkan diri?” tanyanya polos. Aku hanya tersenyum.

“Hah, kau mau kutunjukan apa lagi?” tanyaku. Dia mencoba berpikir sejenak.

“Kantin, aku sudah tahu. Lapangan bola juga. Ah, bisakah kau tunjukan padaku ruangan klub sepak bola? Aku ingin sekali bergabung dengan mereka!” ucapnya kemudian.

“Tentu saja, kebetulan manajer klub itu adalah sahabatku. Ayo!” aku lalu berjalan keluar lebih dulu dari ruang musik, dia mengikutiku setelah menutup pintunya.

“Noona, chakammanyo…”

“Palliwa..” dia berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkahku.

“Kenapa sih noona terburu-buru seperti ini?” tanyanya heran.

“Klub sepak bola hari ini sedang ada latihan. Kau bisa melihat mereka sekalian.” Jawabku.

“Ah, arraesso.” Dia lalu mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkahku. Tak lama kemudian kamipun sampai di lapangan. Benar saja, anak-anak klub sepak bola memang sedang berlatih. Aku melihat Hee Gi sedang berdiri di pinggir lapangan, mencatat semua perkembangan dari latihan hari ini.

“Hee gi ya…” panggilku. Si empunya nama langsung menoleh dan melambaikan tangannya. Setengah berlari aku menghampirinya diikuti oleh Jonghyun di belakangku. Dia seperti anak bebek yang sedang mengikuti induknya! Hihihi…

“Hee Gi ya, aku membawakanmu anggota baru!” ujarku bersemangat.

“Nugu?” tanyanya. Aku lalu menarik lengan Jonghyun agar Hee Gi bisa melihatnya.

“Dia murid baru disekolah ini. Jonghyun, anak kelas 1.”

“Annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.”

“Choi Hee Gi imnida. Kau ingin masuk tim?” tanya Hee Gi.

“Ne. Aku sangat suka sepak bola.” Jawab Jonghyun dengan mata berbinar.

“Ehm, tunggulah sebentar.” Ucap Hee Gi. Dia lalu menghampiri Minho, sang kapten. Mereka bercakap-cakap sebentar. Sesekali aku melihat Minho melirik pada kami. Tak lama kemudian dia lalu menghampiri kami.

“Annyeong.” Sapanya dingin. Cih, kapan ya Choi Minho tidak berlagak seperti ini? Tapi ku akui jika memang dia punya aura kepemimpinan yang besar.

“Ah, annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.” Jawab Jonghyun.

“Ehm, Minho Imnida. Jadi kau ingin bergabung dengan tim kami?” tanya Minho langsung.

“Ne, Sonbaenim.”

“Baik, besok kau boleh langsung ikut latihan. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Latihan disini sangat berat. Dan jangan bermanja-manja pada noona mu ini.” Ucapnya seraya melirik ku dan tertatawa mengejek. Dia lalu kembali latihan bersama timnya.

“Kok kau bisa tahan sekali dengannya sih Hee Gi?” tanyaku sebal.

“Yah, aku kan sudah memilih untuk menjadi manajer klub, mau tidak mau aku memang harus bertahan.” Jawabnya diplomatis. Aku hanya mendengus sebal.

“Baiklah Jonghyun, besok jangan terlambat ya. Karena kapten kita sangat tidak suka anggota yang tidak disiplin.”

“Ne, araesso sonbaenim!” jawab Jonghyun. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya.” Pamitku.

“Kalian pulang bersama?” tanya Hee Gi keheranan.

“Ne, rumah kami tidak jauh. Hee Gi ya, annyeong…” aku lalu menarik lengan Jonghyun lagi dan segera pulang. Aku sangat yakin, dibelakang sana banyak mata yang menatap kami.

-tbc-

 
5 Comments

Posted by on October 28, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Mianhae part.5

‘benarkah itu oppa?’ tanya hyo hee tak percaya. Dia, hyuk jae dan kibum masih mengobrol di studio.

‘tentu saja.’

‘wahahaha…! Oppa memang hebat! Kita berhasil!’

‘syukurlah hami noona sudah bisa tersenyum kembali.’ ucap kibum.

‘ne, akupun tidak menduga dia bisa menerimaku! pesonaku memang tidak bisa dilawan!’ ucap hyuk jae seraya tertawa.

‘jadi… Ini semua sudah diatur?’ serentak mereka menoleh ke sumber suara. Hami berdiri di ambang pintu. Matanya merah menahan air mata yang mulai menggenang.

‘cha…chagi?’

‘stop! Jangan panggil aku seperti itu lagi hyuk jae ssi.’ ucap hami dingin. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia tidak menyangka orang-orang yang dia sayangi tega menipunya. Apa yang di katakan hyuk jae hari itu, apa yang dia lakukan selama ini, ternyata hanya rekayasa. Semuanya dilakukan karena mereka kasihan. Hami tidak suka dikasihani seperti itu.

‘aku berjanji, air mata ini tidak akan terjatuh lagi!’ ucap hami. Dia lalu berlari meninggalkan mereka yang masih shock.

‘o…ottohkae…?’ gumam hyo hee pelan.

‘hyung, sebaiknya tunggu noona tenang dulu.’ ucap kibum mencoba memulihkan keadaan.

‘biarkan kami yang bicara padanya nanti.’ lanjutnya. Hyuk jae mengangguk.

Sebenarnya dia ingin sekali berlari dan memeluk kekasihnya itu. Tapi kibum benar, dia harus menunggu.

‘kibuma, aku pinjam kameramu ya!’ ucap hyuk jae.

‘kamera? Untuk apa hyung?’ tanya kibum heran. Karena dia tahu, kakaknya ini lebih suka merekam gambar daripada harus memotret.

‘ah… Sudahlah, mana sini.’ ucapnya. Kibum lalu menyerahkan kameranya pada hyungnya itu. Hyuk jae nyengir kuda. Dia lalu berlari menuju kamarnya.

Kamar yang biasanya selalu dia jaga kerapihannya kini sangat berantakan. Puzzle nya belum dia selesaikan dan berserakan diatas meja begitu saja. Kertas-kertas yang akan dia buat pesawat juga belum dia selesaikan. Hyuk jae melihat kado yang tersimpan rapi diatas meja nya. Dia tersenyum.

Hyuk jae mengambil topinya dan pergi.

Kibum hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan hyungnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar hyuk jae. Dia hanya melihat tanpa berani menyentuhnya.

‘hyung,hyung…Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.’ gumam kibum.

‘jatuh cinta? Mungkinkah?’

sudah satu jam ini hyuk jae keliling kota. Dia memotret semua objek yang menurutnya cocok. Dia pergi ke taman, ke pusat perbelanjaan, ke taman bermain, kemanapun yang dia pikir banyak orang yang sedang jatuh cinta.

Hyukjae mulai merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk duduk sebentar dan melihat-lihat hasil jepretannya.

Ada beberapa pasangan yang dia potret, juga balon hati. Lalu kartu ucapan, bunga mawar, tulisan-tulisan love, stiker berbentuk hati, dan masih banyak lagi. Hyuk jae tertawa karena imajinasinya.

‘kuharap kau suka.’ ucapnya.

Hami membuka bungkusan kotak yang diberikan hyo hee padanya.

‘kaset video?’ tanyanya bingung. Dia mengeluarkan kaset itu dari kotaknya lalu memasukannya ke dalam video player.

Dilihatnya hyuk jae sedang menari dengan sangat indah. Dia mengenakan kemeja hitam, semua kancingnya dia buka dan memamerkan otot-otot di perutnya.

‘aish… Tukang pamer!’ rutuk hami. Tapi dia tetap melanjutkan menonton.

Tiba-tiba tariannya berhenti. Hyuk jae menatapnya.

‘Kau tahu? Meskipun aku malu mengatakan ini, tapi kau membakarku seperti matahari. Kumohon pahamilah hatiku. Meskipun banyak gadis lain yang lebih memikat, tapi hanya kau yang kulihat. Ya, aku gila, aku gila karenamu.

Mendengarmu mengatakan ‘I love you’ membuatku merasa aku telah memiliki semuanya di dunia ini. Kau dan aku, kau yang terbaik. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.

Saranghae, kumohon mengertilah. Bagiku hanya ada kau.’ ucapnya dalam video. Hami mematikan video itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pesan masuk dari hyuk jae.

Datanglah ke studio malam ini.

Hanya itu yang tertulis.

Hami kembali melihat pesan dari hyuk jae. Dia tidak mengerti apa yang mereka rencanakan lagi. Dia masih belum percaya. Walaupun hyo hee berkali-kali minta maaf dan mengatakan bahwa yang dia dengar tidak seperti yang dia pikirkan, tetap saja hami tidak percaya.

Ditatapnya sekali lagi layar ponselnya.

‘hh… Apa yang harus kulakukan?’ ucapnya.

Hyuk jae menunggu dengan resah. Ini sudah setengah jam dia menunggu.

“Apa dia tidak akan datang?” pikirnya. Tapi segera dienyahkannya pikiran itu.

“Dia pasti datang!” sahut hyuk jae yakin.

Dia mengambil nafas panjang-panjang, mencoba menenangkan diri. Belum pernah dia merasa seperti ini sebelumnya. Untung saja Kibum dan Hyohee menunggu diluar. Harga dirinya bisa jatuh jika mereka melihatnya tegang seperti ini.

Ponselnya berdering, dari kibum.

“Yoboseyo?”

“Hyung, noona sudah datang. bersiaplah.”

Akhirnya Hami memutuskan untuk pergi juga. Diraihnya jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya. Ia segera mengenakan sepatunya dan berlari pergi. Tanpa pernah berpikir untuk berhenti sama sekali.

Nafasnya mulai memburu, Hami sudah tidak kuat lagi. Tapi ternyata gedung studio itu sudah berada dihadapannya. Hami tersenyum puas. Didorongnya pintu kaca itu. Loby depan gelap. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat dalam kegelapan.

Tiba-tiba Hami melihat ada bayangan yang mendekat ke arahnya. Hami menahan nafasnya.

“Onnie…” sahut bayangan itu. Hami menghembuskan nafas lega. ternyata itu Hyo hee.

“Ini.” lanjut Hyo hee. dia menyerahkan sebuah kartu berwarna biru muda juga setangkai mawar padanya.

Hami membuka kartu itu, tapi dia tidak bisa membacanya dengan penerangan yang sangat terbatas itu. Akhirnya dia memutuskan untuk membawanya saja dan membacanya nanti. Dia kembali melangkahkan kakinya semakin ke dalam gedung itu.

Lagi-lagi ada sekelebat bayangan yang menghadangnya.

“Ini aku noona.” ucap sebuah suara yang sudah dia kenal. Kibum.

Kibum lalu menyerahkan sebuah puzzle, dengan gambar hari sangat besar. hami tersenyum. Butuh waktu untuk menyelesaikan puzzle itu. Sedikit membuktikan bahwa orang yang menyusunnya cukup sabar.

“Hyung sudah menunggumu Noona.” ucap Kibum. Dia lalu mempersilakan Hami untuk melanjutkan perjalanannya. Kibum membawanya sampai ke ruangan studio.

Sama seperti ruangan lainnya dalam gedung itu, ruangan studio itu gelap. Kibum mendorongnya masuk dan menutup pintunya. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi cahaya temaram. Hami bisa melihatnya disana. Dia berdiri di tengah ruangan. Wajahnya tertutupi oleh balon-balon yang dipegangnya. Dia membelakangi sebuah gambar. Mirip dengan puzzle yang didapati Hami tadi, hanya saja lebih besar.

Laki-laki itu hanya diam mematung. Selangkah demi selangkah Hami mendekatinya.

“Hyukjae ssi…” panggilnya. Balon itu tidak bergerak sedikit pun. Hami berniat menyingkapnya.

“Jangan…” ucap Hyukjae. Hami berhenti. Dia menarik tangannya kembali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hami.

“Kau tahu pasti apa yang ku lakukan.” jawabnya. Hami terdiam. Semuanya memang sudah cukup jelas baginya.

“Maukah kau memaafkanku?” tanya Hyukjae.

“Tidak.” Hyukjae terhenyak. Ia tidak menyangka jawaban seperti inilah yang akan dia dapatkan.

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf.” lanjut Hami. Hyukjae tersenyum lega. Dia mulai menggerakan balonnya.

“Hami ssi… Aku…Aku ingin bicara serius denganmu.”

“Baiklah…”

“Saranghaeyo…” ucapnya sembari menyorongkan sebuah cincin yang dia ikatkan pada tali balon-balon itu.

“Ma…maukah kau menerimaku kembali?” ucapnya terbata-bata. tangannya masih lurus menyodorkan cincin itu pada hami. Hami menyodorkan tangannya untuk mengambil cincin itu. Tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh ujung jari Hyukjae.

Hyukjae kaget, tanpa dia sadari dia melepaskan pegangannya pada balon-balon itu. Sehingga membuat cincinnya ikut melayang. Balon-balon itu berhenti di bawah langit-langit. Tapi setinggi apapun mereka melompat hasilnya nihil.

Dengan terengah-engah mereka terduduk di tengah ruangan. Tepat dibawah cincin itu.

“Jadi…?”

“I do…”

2 tahun berlalu, Hami masih tertawa jika mengingat peristiwa itu. Tapi dia kini bahagia, bisa mendapatkan seseorang yang selalu ada untuknya.

Seperti biasa hami mengecek e-mailnya. Hami meminum tehnya sambil menunggu e-mailnya terbuka. Ada banyak sekali pesan yang masuk. Rata2 dari pelanggannya, hami segera membalas semua pesan itu. Dan akhirnya dia menemukan satu pesan. Pesan itu dikirim semalam. Hami ragu untuk membuka pesan itu setelah dia melihat nama pengirimnya.

‘kenapa kau tidak membuka e-mail itu chagi?’ tanya hyuk jae yang sudah berada di belakangnya. Dia memeluk hami dari belakang.

‘bukalah, aku akan menemanimu. Aku tidak akan membacanya.’ ucap hyuk jae. Dia lalu menutup matanya, dan menundukkan kepalanya.

Hami mengklik pesan itu. Hami membacanya perlahan, seakan tidak ingin melewatkan satupun kata2 yang ditulis disana.

Hyuk jae merasakan ada air yang jatuh ke atas tangannya. Dia tahu, itu air mata belahan jiwanya. Dia ingin sekali menghapusnya segera. Tapi dia sudah berjanji akan tetap dalam posisi seperti itu sampai hami membalas pesan itu.

Terdengar suara keyboard ditekan. Hami sedang mengetik sesuatu. Hyuk jae tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang dia ketik.

‘oppa…’ panggil hami.

‘sudah selesaikah?’ tanyanya.

‘ne…’ jawab hami. Hyuk jae melepaskan pelukannya. Di berdiri tegak menatap layar komputer sekarang. Layar komputer masih dipenuhi oleh pesan itu juga balasannya.

Hyuk jae ingin segera pergi dari situ, dia tidak sanggup membacanya. Tapi hami menahannya agar dia tetap berdiri disitu.

 

Sonbaenim…

Setahun ini sudah cukup bagiku untuk memaafkanmu. Aku sudah melupakan semua perlakuanmu padaku dulu. Tapi Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini padaku?

Aku benar2 rindu padamu. Aku masih menyayangimu sungguh. Rasa sayang itulah yang membuatku memaafkanmu dengan mudah.

Saranghaneun sonbaenim…

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Aku tidak bisa kembali lagi. Kini sudah ada cinta lain yang menungguku. Cinta yang tidak bisa kuabaikan walaupun aku ingin. Cinta yang terus menyinariku walaupun aku bersembunyi dalam kegelapan. Cinta yang terus menemaniku walaupun kusendiri.

Aku tidak bisa berpaling darinya lagi sonbae.

Mianhae…

 

‘chagiya… Benarkah apa yang kau tulis?’ tanya hyuk jae.

Hami mengangguk seraya menatap pria yang telah menyelamatkannya dari kegelapan itu. Hyuk jae mengecup kening istrinya.

‘saranghae…’ ucapnya.

‘nado saranghae..’ jawab hami. Jauh dilubuk hatinya hami menangis. Ditatapnya layar komputer.

‘mianhae sonbaenim… Jeongmal mianhae…’

 
Comments Off on Mianhae part.5

Posted by on October 27, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

My Shinee Life part. 3

Aku menatap bangku hyo hee, kosong. Dia memutuskan untuk tidak masuk lagi hari ini. Sepertinya dia akan menemani jonghyun seharian. Haah… Entahlah.

“key… Jinki sonbae mencarimu…” teriak rae bin dari depan kelas. Aku melihat sekilas ke arah pintu dan jinki sonbae memang sedang berdiri disana.

Seharusnya dia mencari hyo hee, kenapa jadi mencariku?

“ada apa hyung?”

“bisa kita bicara sebentar?” tanyanya. Sebagai hoobae yang baik, aku menurutinya. Aku mengikutinya sampai ke atap sekolah. Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan.

“kibuma, aku tahu kau sahabat lama hyo hee. Kalian sangat akrab, saling mengerti satu sama lain.” ucapnya memulai pembicaraan. Aku mengangguk, tidak mengerti pembicaraan ini akan mengarah kemana.

“aku tahu, kemarin kau berbohong padaku. Aku tahu itu hanya untuk melindungi hyo hee juga perasaanku.” lanjutnya.

“aku tidak mengerti hyung.”

“kemarin malam, aku melihat kalian semua. Kau, minho, taemin, juga hyo hee di restoran. Tapi ada seseorang yang tidak kukenal yang selalu berada disamping hyo hee.” syarafku menegang menunggu kalimat yang akan meluncur selanjutnya.

“apa itu alasan hyo hee tidak mengangkat telpon ku kemarin? Apa itu alasan dia tidak masuk sekolah hari ini?” tanyanya tepat sesuai dugaanku. Jika yang ditanya minho, dia pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan. Tapi ini aku…

Aish, apa yang harus kulakukan??

“ceritakan saja. Aku hanya ingin tahu.” ucapnya. Aku sama sekali tidak melihat sinar kemarahan dari matanya. Bahkan dia terlalu tenang, atau sedih?

“dia… Jonghyun, teman sepermainan kami dulu.” ucapku memulai cerita.

“hanya teman?” aku menggeleng.

“dia cinta pertama hyo hee.” jinki hyung tidak membalas. Sepertinya dia sedang mencerna kalimatku barusan.

“dan… Dia tidak dapat melupakannya?”

“tentu saja dia melupakannya, jika saja dia tidak kembali.” jawabku.

“dia kembali…?”

“ya, dan jika saja kami tidak tahu apa yang membuatnya pergi dulu. Mungkin kami akan membencinya seumur hidup.”

jinki hyung hanya mengangguk.

“hyung, dia tidak bermaksud seperti ini padamu.”

“kibuma, aku mengerti. Tolong beritahu padanya, aku akan melanjutkan study ku di jepang.”

“hyung, mungkin permintaan ku ini egois. Tapi tolong mengertilah dia. Jangan tinggalkan dia.” ucapku.

“aku mengerti. Aku tidak apa2. Sejak dulu tokyo university adalah impianku. Ini tidak ada hubungannya.”

“aku mengerti.”

Aku sedang mengaduk2 sup ku ketika minho dan taemin datang. Mereka selalu masuk seenaknya jika tahu orang tuaku sedang tidak ada dirumah.

“sedang masak apa hyung? Baunya enak!” ucap taemin. Matanya berkilat senang. Aigo~

“sup ayam ala chef key.” ucapku. Minho hanya mendengus. Cih, dia masih saja tidak mau mengakui kehebatan sahabatnya ini.

“mana hyo hee?” tanyaku.

“ah, noona sedang bersama jonghyun hyung.” jawab taemin.

“dia sudah melupakan jinki hyung rupanya?” aku kembali mengingat percakapanku dengan jinki hyung tadi siang. Jika aku berada di posisinya, pasti rasanya akan sakit sekali.

“maksudmu?” tanya minho.

aku lalu menceritakan semuanya pada mereka sambil terus mengaduk sup.

“benar juga, aku lupa soal jinki hyung.” ucap minho. Aku meletakan supku diatas meja. Dengan tidak sabar taemin melahapnya.

“hati2 taemin ah, supnya masih panas…” ucapku, tamin memuntahkan kembali sup dari mulutnya karena tidak tahan dengan panasnya.

“aigo~ kau seperti anak kecil saja taemin ah..” aku menyodorkan segelas air dan serbet untuk mengelap mulutnya.

“mianhae hyung. Gomawo…” ucapnya dia lalu membersihkan bekas sup tadi.

“lalu bagaimana sekarang? Sampai kapan dia akan menemani jonghyun?” tanyaku

“kau masih belum bisa memaafkannya?” “sepertinya begitu. Kau kan tahu sejak dulu aku sulit memaafkan orang?”

“tapi kau kan sudah dewasa kibuma.”

“baiklah, baiklah. tidak usah membahas soal ini, sekarang bagaimana dengan jinki hyung?”

“aku tidak ingin ikut campur. Ini urusan hyo hee.”

“ya! Mana bisa seperti itu?”

“aku tahu kekhawatiranmu, tapi biarkan hyo hee yang memutuskan.” ucapnya.

“taemin ah” panggil minho. Taemin yang sejak tadi hanya mendengarkan menatapnya.

“ne?”

“tolong beritahu noona mu soal yang baru saja kami bicarakan.”

“tapi hyung.”

“hyung percaya kau bisa melakukannya dengan caramu.” ucap minho, dia menepuk2 pundak taemin.

” Ya, setidaknya dia tidak akan terlalu marah padamu.” tambahnya.

“lalu, bagaimana keadaan jonghyun sekarang?”

“rupanya kau mengkhawatirkannya juga?” aku mendengus.

“dia semakin membaik.”

“atau sebenarnya ini hanya caranya saja untuk mendapatkan hyo hee kembali?”

“huh, berhentilah bersikap sinis padanya. Pantau saja mereka, jika kau memang tidak percaya.” jawab minho. Dia menyendok sup dan memasukannya dalam mangkok lalu melahapnya.

“sup mu enak!” ucapnya. Hh, jika dia sudah begini berarti dia tidak ingin melanjutkan percakapan.

Jadi stalker untuk mereka? Hh, apa aku memang harus melakukannya?

1 bulan sudah berlalu tanpa melakukan apapun. Jinki hyung sepertinya sudah merelakan keputusan hyo hee, walaupun mereka tidak pernah membicarakannya. Dia semakin giat belajar, keputusannya sepertinya sudah tidak bisa dipatahkan lagi.

Dan hyo hee mengundurkan diri dari klub, sehingga akulah yang menjadi ketua sementara sampai dipilihnya ketua baru. di depanku dia hanya menceritakan kegelisahannya tentang jonghyun. Setiap dia pulang dan istirahat, dia selalu takut jonghyun tidak membuka matanya lagi. Aku sendiri sangat jarang bertemu dengannya. Tapi menurut minho, jonghyun terlihat bahagia. Taemin pun mengatakan hal yang sama. Sepertinya aku harus mengunjunginya sesekali.

Aku sudah menelpon jonghyun dan minho, aku akan mampir ke rumahnya pagi ini. Selama dia disini, minho dengan senang hati memberinya tempat tinggal. Dia anak tunggal, sepertinya dia senang bila punya hyung.

Aku menekan bel, pintu terbuka.

“annyeong haesseyo, ajumma.” ucapku sopan pada ibu minho. Dia tersenyum ramah.

“minho dan jonghyun masih di kamar.” ucapnya.

“aku langsung kesana ya.”

“ne.”

aku melesat menuju kamar minho di lantai atas. Pintunya tidak dikunci. Mereka masih tidur.

“ya! Bangun!” aku menarik selimut mereka. Minho yang lebih dulu bangun.

“aigo~ ternyata kau benar2 datang ya. Aku kira kau hanya bercanada kemarin.” ucapnya seraya menguap lebar dan mengucek2 matanya.

“tutup mulutmu saat kau menguap!” ucapku. Aku melemparkan selimut yang kupegang padanyanya. Dia hanya meniup rambutnya. Hahaha, minho terlihat sangat lucu! Harusnya aku memotretnya dan menyebarkannya di sekolah agar dia tidak dikejar2 gadis2 bodoh itu lagi.

“mmh~” jonghyun akhirnya terbangun gara2 keributan yang kami buat. Sepertinya dia kaget saat melihatku sudah berdiri disini.

“ah, ternyata itu kau. Aku pikir malaikat maut yang datang menjemputku.”

“ya! Kau ini bicara apa?!” sahutku dan minho bersamaan. Tentu saja karena aku tidak ingin disamakan dengan malaikat maut? Aku kan tidak seseram itu?! Sedangkan minho?

“hahaha, aku hanya bercanda. Mianhae…” ucapnya sambil nyegir kuda.

“baiklah, mau pergi kemana kita sekarang?” ucapnya.

“pergi?” tanyaku tak yakin.

“tentu saja! Kita kan sudah lama tidak pergi bersama. Minho mengangguk setuju.

“baiklah~”

“kalau begitu ayo!” ajaknya. Dia segera menyeretku dan minho.

“ya! Kau tidak cuci muka dulu? Tidak mengajak yang lain?” jonghyun nyengir kuda. Dia lalu berlari ke kamar mandi.

“sebaiknya tidak usah beritahu hyo hee dan taemin. Kau sudah lama tidak bicara dengannya kan? Dia rindu padamu.” ucap minho bijak. Aku hanya mengangguk.

Merindukanku?

Seharian ini sangat menyenangkan! Jonghyun ternyata tidak berubah. Dia masih saja jail dan bersemangat. Aku sama sekali tidak melihat jika dia memiliki penyakit.

“kibuma~” panggilnya. Minho sedang membelikan kami minum. Sedangkan kami duduk2 di taman. Aku menolehkan wajahku padanya.

“ne?”

“jaga hyo hee untuk ku ya.” ucapnya seraya tersenyum.

“kenapa tidak kau lakukan saja sendiri.”

“aigo~ kau masih saja sinis seperti biasa.” aku hanya merengut.

“jika saja aku bisa, pasti kulakukan.” ucapnya sok dramatis.

“memang separah apa sih penyakitmu itu? Memangnya kau sudah merasa kalau malaikat maut berdiri dibelakangmu?” aish, aku sungguh tak suka melihatnya seperti ini. Ini bukan jonghyun yang kukenal!

Dia hanya tersenyum miris. Lagi2 senyuman itu. Aku tidak suka!

“mau kah kau berjanji?” tanyanya lagi. Dia mengacungkan jari kelingkingnya. Cih, seperti anak kecil saja!

“ara, ara! Tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaganya!” ucapku seraya mengaitkan jari kelingki ku padanya.

“gomawo…” entah kenapa saat itu aku seperti melihat wajahnya begitu damai dan bercahaya. Aku mengerjap2kan mataku.

“minho ya~” panggilnya, aku berbalik. Rupanya minho sudah datang seraya membawa beberapa botol minuman ringan. Dia tersenyum sambil mengacungkan kantong belanjaannya. Dengan penuh semangat jonghyun menghampirinya. Dan seperti gerakan lambat dalam film2, tiba-tiba dia terjatuh. Minho melempar bawaannya. Dia mengguncang2kan tubuh jonghyun. Matanya tertutup rapat. Sedangkan aku hanya diam mematung.

“kenapa kau mengiyakan ajakannya? Kenapa?!” hyo hee menjerit histeris. Dia marah padaku. Saat tahu jonghyun koma.

Ya, dia koma sekarang. Banyak sekali selang yang tertempel di tubuhnya. Aku tidak mengerti apa penyakitnya. Yang jelas menurut dokter sulit sekali penyakitnya ini disembuhkan. Dan pertahanan tubuhnya sudah mencapai limit. Mungkin hanya keajaiban saja yang dapat membuatnya bangun kembali.

“noona, tenanglah. Tadi kan noona sudah mendengar penjelasan dari dokter. Mungkin memang sudah waktunya. Ini bukan salah hyung.” ucap taemin mencoba menenangkan noonanya. Dia menangis dalam pelukan taemin.

Minho pun terlihat gusar dan merasa bersalah. Sejak tadi dia menyendiri di ujung lorong rumah sakit. Tapi anehnya aku tidak merasakan apapun. Apa hatiku mulai mati rasa pada jonghyun?

Aku menatap tubuhnya lewat jendela besar itu. Dia terlihat sangat pucat dan kurus. Aish, salahku tidak mempercayainya sejak awal. Tiba2 aku melihat sebuah cahaya keluar dari tubuhnya. Aku mengerjap2kan mataku. Cahaya itu malah membentuk tubuh jonghyun. Dia tersenyum dan mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Aku mengangguk pasti. Dan cahaya itu menghilang bersamaan dengan berubahnya detektor jantung menjadi sebuah garis lurus.

Aku mendengar teriakan dari kanan kiriku. Dia tiada?

Sudah hampir 1 tahun dia meninggalkan kami. Jinki hyung tetap pergi ke Jepang untuk melanjutkan studinya. Dan sejak saat itu hyo hee menjauhi aku dan minho. Sepertinya dia masih marah pada kami. Dia tidak pernah mengomel lagi. Dia jauh lebih pendiam sekarang. Tapi amanat jonghyun tetap kupegang. Aku selalu menjaganya dari jauh.

sebentar lagi kami akan lulus. Taemin akan segera masuk SMA. anak2 tumbuh dengan cepat.

“jadi kau sudah menandatangani kontrak itu?” tanyaku. Minho mengangguk mantap. Dia akan menjadi pemain basket pro di Korea.

“kau sendiri, apa rencanamu?”

“aku akan sekolah di Perancis, aku ingin menjadi koki profesional.”

“jinca? Bukankah kau ingin menjadi aktor?” aku menggeleng.

“melihat wajah kalian saat memakan masakan ku aku merasa sangat senang. Aku ingin semua orang berwajah seperti itu saat memakan masakanku.” minho mengacak2 rambutku.

“kau sudah tumbuh jauh lebih dewasa kibuma~”

“ya! kau tidak usah menyindirku.”

“tidak, dia benar.” kami menoleh. Hyo hee sudah berdiri di belakang kami. Dia menggenggam erat ijazah kelulusannya. Matanya berkaca2 menatap kami.

“mi…mianhae…” ucapnya. Kepalanya tertunduk.

aku melirik minho, dia tersenyum. Serempak kami memeluk nya.

“huuuuaaaaa…. Aku merindukan kalian…..”

“ehm? Jadi kalian semua akan meninggalkanku?” tanya taemin. Kami sedang merayakan kelulusan kami dengan makan sangyupsal di tempat biasa.

“aku kan tidak kemana2 taemin ah.” ucap minho. Taemin malah menggembungkan pipinya.

“tapi hyung pasti akan sangat sibuk. Aku tidak ada teman di rumah…”

“lho? Bukankah ada noonamu?” tanyaku.

“ani, dia akan menyusul jinki hyung.” jawab taemin. Tiba2 muka hyo hee memerah.

“jadi kau dan jinki hyung?”

“entahlah. Aku belum tahu. Tapi dia selalu menghubungiku.” ucapnya malu2.

“cie…” wajah hyo hee  semakin memerah.

Seperti sudah kubilang dari awal, ini bukan ceritaku. Tokoh utama cerita ini adalah Park Hyo Hee. Temanku yang paling cerewet, galak, dan sering mengomel tapi begitu lemah jika sudah menyangkut 2 orang pria. Lee Jinki dan Jonghyun. Entah bagaimana caranya, akhirnya dia bisa memiliki keduanya. Dan dia juga memiliki 3 orang pria lain yang akan selalu menyokongnya dari belakang. Yaitu Park Taemin, choi minho dan aku, kim kibum.

TAMAT

 
5 Comments

Posted by on October 18, 2010 in fanfiction

 

Tags: