RSS

Tag Archives: jonghyun

Just My Little brother?! end

Pintu kamarku diketuk, aku membuka mataku perlahan. Ah, rupanya aku tertidur. Menangis seharian ternyata sangat melelahkan ya? Akupun belum makan sejak tadi. Pantas saja perutku keroncongan.

Aku lalu bangun dari tempat tidurku untuk membukakan pintu. Rupanya si pengetuk ini tidak ingin mengganggu privasiku.

“Jonghyun?” Jonghyun memamerkan deretan giginya yang rapi.

“Annyeong…” ucapnya, ditambah dengan seulas senyuman manis di bibirnya.

“Kenapa kau…ah…” aku terhuyung. Pandanganku tiba-tiba saja menjadi buram. Jonghyun menarikku sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Noona! Gwenchana?” tanyanya khawatir. Dia lalu memapahku kembali ke tempat tidurku.

“Noona masih sakit?” tanyanya lagi. Dia membaringkanku dan menyelimutiku. Aku menggelengkan kepalaku perlahan.

“Ani, aku hanya belum makan dari pagi.” Ucapku hampir tanpa suara. Mungkin tenagaku sudah habis.

“Aigoo~ sudah jam berapa ini Noona? Bagaimana bisa kau tidak makan?” ucapnya. Wajahnya Nampak khawatir.

Aku tersenyum. Belum pernah aku diperhatikan seperti ini oleh pria. Bahkan oleh Eunhyuk oppa sekalipun. Eunhyuk oppa?

“Noona? Noona menangis?” Tanya Jonghyun. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku cepat-cepat membalikan badanku. Aku tidak ingin Jonghyun melihatku menangis lagi.

“Noona? Apa kau tidak mau bercerita padaku?” tanyanya. Aku hanya diam.

“Hh, baiklah… kalau begitu aku pulang saja ya?” ucapnya. Dia bangkit berdiri.

“Jonghyun ya, bisakah mintakan bubur pada omma? Aku sangat lapar…”

“Tunggu sebentar.” Hanya itu yang kudengar sampai Jonghyun menghilang di balik pintu.

*

“Noona…” Jonghyun membelai tanganku lembut. Aku tertidur lagi rupanya.

“Ini buburmu.” Ucapnya.

“Ne, gomawo…” ucapku seraya bangkit.

“Kusuapi ya?” aku hanya tersenyum seraya menggeleng.

“Aku sangat lapar. Mangkok itu akan kosong dalam 5 menit!” ucapku sambil merebut mangkok itu dari tangannya.

“Ceritakan apa kegiatanmu hari ini.” Ucapku seraya membuat sendokan pertama pada buburku.

“Apa ya….” Jonghyun sibuk menceritakan semua kelakuan teman-temannya hari ini. Sesekali dia menirukan gerakan atau ekpresi teman-temannya itu danhal itu berhasil membuatku tertawa. Dia juga bercerita bahwa hari ini dia berhasil memasukan gol ke gawang lawan dan Minho memintanya untuk bermain pada pertandingan nanti. Sambil mendengarkan ceritanya tanpa kusadari bubur di mangkokku telah ludes.

“Jadi besok Noona akan kembali sekolah kan?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Sekolah? Apa yang harus kulakukan sekarang disana? Dulu aku bersemangat karena setiap hari aku bisa melihat senyuman dari Eunhyuk oppa. Sonbae yang sangat kusukai. Hanya karena melihat tatapan matanya yang tulus saja sudah membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan bertahan sampai dia pulang. Tapi sekarang? Apa yang harus kutunggu?

“Noona? Noona melamun lagi.” Ucapannya menyadarkanku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanya. Terlalu menyakitkan. Aku tidak ingin air mataku terjatuh lagi.

“Aku mengerti. Kalau begit aku pulang ya, Noona.” Ucapnya. Dia lalu mengambil tasnya dan melangkah ke pintu.

“Jonghyun-ah…” sahutku sebelum dia melewati pintu kamar. Dia menolehkan sedikit kepalanya.

“Besok jemput aku ya…”

“Ne, Noona! Aku pamit dulu! Annyeong…” ucapnya riang. Senyum tetap menghiasi wajahnya sampai dia menghilang di balik pintu.

*

Jika saja aku tidak ingat akan janjiku pada Jonghyun, aku tidak akan berangkat ke sekolah hari ini. Kakiku benar-benar terasa berat untuk kulangkahkan. Seandainya tidak ada Jonghyun di sisiku, entah bagaimana keadaanku sekarang.

“Kemarin kenapa kau tidak masuk?” Tanya Hee Gi yang sudah berada dihadapanku.

“Sakit.” Jawabku singkat.

“Kudengar Jonghyun menjengukmu.” Tanyanya lagi. Hee gi memulai penyelidikannya lagi. Padahal aku sedang tidak ingin bercerita saat ini.

“Iya.”

“Sepertinya saat ini Jonghyun lebih berarti untukmu daripada aku.” Ucapnya dingin. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku tidak peduli. Sejak awal dia memang tidak suka Jonghyun kan? Bagaimana jika aku bercerita tentang kejadian kemarin padanya. Bisa-bisa dia mendamprat Jonghyun dan menuduhnya sebagai perusak hubungan kami. Tidak. Kasihan dia. Lebih baik seperti in saja. Urusanku dengan Hee Gi, biar aku yang selesaikan sendiri nanti ketika hatiku sudah siap untuk menceritakannya tanpa menangis.

*

Besok natal. Hiasan natal sudah dipasang sejak awal bulan di berbagai sudut kota. Aku melihat salju yang turun perlahan di balik jendela kamarku. Tahun lalu aku merayakannya bersama Eunhyuk oppa. Besok? Aku tidak tahu. Akupun tidak berharap banyak.

Ponselku bordering. Dengan malas-malasan aku bergerak dari tempatku berdiri tadi. Merutuki siapa yang sudah mengganggu waktu melankolis-ku. Jonghyun

“Yoboseyo?”

“Noona!”

“Wae?” tanyaku. Semenjak hari itu Jonghyun tidak pernah memaksaku untuk menceritakan tentang masalah itu lagi padanya. Perlahan sikapku berubah. Aku tidak lagi bersikap manja padanya. Malah lebih sering cuek, bahkan lebih seperti hyung daripada noona untuknya. Dia menyadari sikapku tentu saja. Tapi dia selalu tersenyum untukku.

“Apa kau melihat salju?” tanyanya antusias.

“Ne, waeyo? Sebelum kau menelpon aku sedang menikmatinya.”

“Jadi aku mengganggumu?” tanyanya.

“Ne…” jawabku malas-malasan. Keterlaluan? Kurasa tidak, karena dia selalu tertawa dengan tingkahku yang seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya terus menerus khawatir padaku.

“Hahaha… khas jawabanmu Hyung!” ucapnya.

“Ya! Jika kau menelponku hanya untuk berkata seperti itu, kupukul kau nanti!” tentu saja aku tidak bersungguh-sungguh.

“Jika Noona memang berani, pukul saja aku!” ucapnya lalu menutup telepon. Apa maksudnya?

Aku lalu kembali berdiri di sisi jendela. Jalanan sudah ditutupi oleh salju. Begitu juga dengan halamanku. Semuanya putih.

Tapi siapa itu? Seseorang sedang mengerjakan sesuatu di halamanku. Tepat dibawah jendelaku. Omma, appa, dan kibum sedang keluar. Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan?

Dering ponsel membuatku terlonjak.

“Sial! Kenapa ada yang menelpon disaat seperti ini?!” umpatku dalam hati.

“Yoboseyo!” sapaku kasar.

“Noona…”

“Jonghyun ya.. ada apa lagi?” tanyaku mulai tidak sabar.

“Lihat kehalaman!” ucapnya lalu menutup teleponnya kembali. Aku menurutinya. Lagi, aku berdiri di sisi jendela tempatku berdiri tadi.

Aku melihatnya, dibawah jendelaku, sedang mengarahkan kedua tangannya ke atas. Ke arahku. Seolah mengharapkanku jatuh ke pelukannya. Dia membuat sebuah hati yang sangat besar dari menyingkirkan salju yang menutupi halamanku.

Aku membuka jendelaku. Udara dingin segera saja menerpa wajahku.

“Jonghyun-ah, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Noona..!! Besok natal! Aku harus meminta hadiahku pada Santa malam ini!!” teriaknya.

“Apa maksudmu, aku tidak mengerti!”

“Noona… aku ingin kau membantuku! Bisakah kau berdoa pada Santa agar kau menjadi hadiah natalku?” aku mengerjapkan mataku tiga kali. Aku rasa aku sedang berhalusinasi. Dia adik kecilku.

“Apa?!”

“Noona, mau kan kau membantuku?” teriaknya lagi.

“Noona! Sekali saja! Sebagai dongsaeng yang baik aku selalu menuruti kemauanmu! Sekarang sebagai noona yang baik, maukah kau membantuku?” teriaknya lagi. Suaranya agak bergetar. Dia kedinginan.

Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera turun dan menariknya masuk. Aku membuatkannya segelas teh hangat yang kuharap bisa menghangatkan badannya kembali.

Aku menjatuhkan diri ke sofa, tepat disampingnya. Dia menyesap tehnya perlahan tanpa berani menatapku. Aku menyenderkan kepalaku dibahunya. Aku lalu menutup mataku. Rasanya sangat nyaman.

“Jonghyun-ah…” panggilku. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit, mungkin ia menoleh padaku.

“Ne…” jawabnya lembut.

“Aku sudah meminta pada Santa tadi.”

“Benarkah? Lalu Santa bilang apa?” tanyanya antusias.

“Dia tidak mengabulkannya, karena aku anak yang nakal.” Sahutku. Dia menghela nafas. Sepertinya dia kecewa.

“Tapi karena kau dongsaeng yang baik, mintalah pada Santa hadiahmu sendiri. Mungkin Santa akan mengabulkannya.” Lanjutku. Jonghyun memegang kedua pundakku dan memposisikan agar tubuhku berada tepat dihadapannya.

“Noona.” Dia menatapku,lurus. Tangannya sedikit bergetar dibahuku.

“Apa kau mau menjadi hadiah natalku?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Ani.” Jawabku, dia melepaskan tangannya.

“Kaulah hadiah untukku.” Lanjutku lagi. Perlahan-lahan, senyuman terkembang di bibirnya. Segera saja dia mendekapku.

“Noona, jadilah noona yang terbaik untukku. Hanya untukku. Araesso?” ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya.

Hanya adik? Cih, tidak mungkin! Sejak awal orang-orang sudah menyadari hubunganku dan dia lebih dari hubungan adik dan kakak saja. Hanya saja aku terlalu ragu untuk mengakuinya. Hari ini, semua keraguanku itu sudah lenyap. Tidak ada lagi rasa bersalah saat aku menunjukan kasih sayangku padanya.

Hee gi? Oops, aku lupa! Aku harus menelponnya setelah ini. Aku sudah berjanji akan menceritakan semuanya saat hatiku sudah siap kan? Dan aku rasa, sekarang aku sudah siap. Ini semua karena Jonghyun, dongsaeng kesayanganku!

“Dongsaeng-ah, saranghae…”

“Nado saranghae, Noona.”

***

 

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on January 22, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Just My Little Brother? part. 2

Eunhyuk oppa masih saja tidak peduli padaku. Sudah 3 bulan ini dia tidak pernah menjemput atau bahkan hanya menghubungiku. Hah… yang benar saja! Masa setiap hari aku terus yang harus menghubunginya lebih dulu? Aish~ padahal aku benar-benar rindu padanya! Kenapa dia tidak pernah mengerti?

Aku membuang muka ku ke jendela. Berharap melihat pemandangan diluar bisa sedikit meredakan kegundahan hatiku. Dari kelasku, aku bisa melihat lapangan. Wah, ternyata anak-anak kelas 1 sedang bermain bola. Aku menangkap sosok Jonghyun disana. Semester ini sudah hampir habis. Sudah 3 bulan sejak dia pindah kemari, dan hampir setiap hari kami pulang bersamaTanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik ke atas saat melihatnya.

“Ya! Apa yang kau lihat?” teriakan Hee Gi mengagetkanku.

“Ani…”

“Hm, dia boleh juga. Kau tahu? Dia sangat populer di kalangan anak kelas 1. Bahkan setiap hari ada saja gadis-gadis yang memberinya semangat saat dia latihan. Tapi mereka tidak berani mendekat karena selalu ada kau di dekatnya. Apa gossip yang bilang kalau kau berpacaran dengannya itu benar?” tanyanya.

“Aku tidak pacaran dengan Jonghyun…”

“Memangnya siapa yang membicarakan Jonghyun?” tanyanya penuh selidik. Reflek aku membekap mulutku.

“Shin ra ra, ada yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya langsung dengan tatapan penuh curiga. Aku menggeleng, tapi dia terus menatapku tajam.

“Dia Cuma kuanggap adikku. Itu saja…” jawabku.

“Hati-hati dengan ucapanmu.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkanku lagi.

Aku memfokuskan diriku kembali pada pemandangan di luar jendela. Sepertinya Jonghyun berhasil memasukan satu gol. Lagi-lagi seulas senyuman tersuging di bibirku.

*

Hari ini aku sudah berjanji akan menemani Jonghyun jalan-jalan. Aku memakai jins kesayanganku, hoodie baruku, juga tas selempang kecil untuk menaruh dompet dan ponselku.

“Mau kemana?” Tanya omma saat aku turun untuk sarapan.

“Aku akan menemani Jonghyun jalan-jalan omma.” Jawabku.

“Jonghyun? Akhir-akhir ini kau sering sekali pergi dengannya. Apa kau sudah putus dengan Eunhyuk?”

“Aniyo.” Sahutku.

“Lalu kenapa kau sering pergi dengannya? Omma tidak pernah mengajarimu untuk tidak setia.”

“Aku tidak selingkuh, aku hanya menganggapnya seperti Kibumie. Itu saja.”

“Aigo~ omma tidak pernah melihat kau dan Kibumie akrab seperti kau dan Jonghyun.”

“Karena Kibum menyebalkan! Jika Omma bicara terus, aku tidak bisa konsentrasi pada sarapanku.”

“Aish~ kau ini.” Omma lalu pergi meninggalkanku di meja makan. Appa dan Kibuma tidak terlihat, apa mereka masih tidur?

Aku menghabiskan sarapanku dengan tenang, Jonghyun bilang dia akan menjemputku nanti.

Aku baru menghabiskan setengah porsi sarapanku ketika omma memanggilku dari depan. Aku segera menghampirinya. Ternyata Jonghyun sudah menjemputku. Dia mengenakan celana jins, t-shirt hitam dan jaket berwarna coklat yang dia tarik lengannya setengah. Headphone tergantung di lehernya. He looks really cute!

Ow! Apa yang kuucapkan barusan? Lupakan saja.

“Noona sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk. Kami pergi setelah pamit pada omma.

“Baiklah, kita mau kemana sekarang?” tanyaku.

“Temani aku ke taman bermain ya Noona?” pintanya.

“Tentu saja Jonghyunie, aku akan menemanimu. Jika tidak, aku tidak akan ada disini.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Baiklah, kaja!” dia lalu berlari sambil menarik lenganku menuju halte. Jonghyun baru berhenti berlari ketika kami sampai di halte. Dia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Bahkan sampai bis tiba, kami naik dan duduk sambil terus berpegangan tangan. Jonghyun menggenggam tanganku erat seakan tidak mau melepaskan tanganku. Dan entah mengapa akupun tidak berniat melepasnya.

“Ayo Noona.” Ujarnya. Aku memperhatikan sekelilingku.

“Eh? Tapi kan masih jauh untuk sampai ke taman bermain?” tanyaku. Jonghun tersenyum.

“Aku berubah pikiran, aku ingin bermain ice skating saja. Ayo.” Dia menarik tanganku lagi.

“Kau bisa kan noona?” tanyanya menggodaku.

“Tentu saja. Atau mungkin malah kau yang tidak bisa?”

“Kita lihat saja nanti!” kami segera memakai sepatu skate kami dan meluncur. Haah… senangnya. Saat aku meluncur diatas es, aku merasa sangat bebas. Setiap kali aku bertengkar dengan eunhyuk oppa, aku akan pergi kesini dan bermain sampai puas. Setelah itu aku pasti akan merasa lebih baik.

“Noona, tunggu aku…” ucap Jonghyun dari belakang. Dia terlihat kepayahan menggerakan kakinya.

“Uri Jonghyuni ternyata tidak bisa bermain skate ya?” godaku. Dia mengerucutkan bibirnya sebal.

Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya, dia menyambut uluran ku dengan sebuah senyuman. Kami meluncur bersama, aku menuntunnya melewati arena. Sampai akhirnya dia mulai terbiasa aku bisa melepasnya.

“Bukankah kau yang mengajak ku kemari? Aku pikir kau sudah mahir?” godaku. Dia hanya tertawa dan mengejarku. Aigo~ dia cepat sekali belajar.

“Noona awas kau!” teriaknya. Aku berusaha menghindar dari kejarannya. Aku berbelok ke kiri dan ke kanan. Dan ternyata Jonghyun memang tidak bisa menangkapku. Aku terlalu mahir!

“Jonghyunie…” teriakku sambil berbalik ke arahnya. Sepatu luncur ku masih meluncur dengan cepat diatas es, tanpa ku ketahui apa yang ada di belakangku.

“Noona, awas!!” tiba-tiba sesuatu menubrukku dengan agak keras dari belakang. Otomatis aku kehilangan keseimbanganku. Ah, jatuh dengan keadaan seperti ini pasti sangat sakit.

Aku memjamkan mataku, berharap dengan begitu aku tidak akan terlalu kesakitan. Eh, tapi benar-benar tidak sakit.

“Noona…” aku membuka kedua mataku perlahan. Ternyata aku malah menindih Jonghyun. Jadi tadi dia merelakan tubuhnya untuk alas jatuhku?

“Ah, Jonghyun-ah, gwenchana?” tanyaku. Aku segera bangkit. Tidak enak dilihat oleh orang-orang dengan posisi seperti ini.

“Ne… Noona bagaimana? Tidak apa-apa?”

“Tidak, untung ada kau. Benar tidak ada yang sakit?” tanyaku lagi. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tapi aku melihat ekspresi kesakitan di matanya. Dan tanpa sengaja, aku melihat dia terus memegang tangan kirinya.

“Ini sakit?” tanyaku seraya mengelus tangan kirinya. Dengan segera dia menghindar yang semakin menguatkan dugaanku bahwa dia memang kesakitan.

“Hm… ayo kita ke klinik sekarang.”

“Noona, aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Ke klinik sekarang atau aku akan marah padamu?” Jonghyun cemberut lalu bergerak menurutiku.

“Hah, syukurlah tanganmu tidak cedera serius.”

“Kan tadi sudah kubilang, aku tidak apa-apa.” Jawabnya. Aku tersenyum.

“Baiklah, karena kau sudah menolongku tadi, aku akan mentraktirmu sekarang! Kau ingin makan apa?”

“Bulgogi!”

“Mwo?!”

“Ayolah Noona… ya? Ya?” pintanya. Aku tidak bisa meolak.

“Baiklah, ayo kita pergi!” ucapku bersemangat. Aku lalu menggandeng lengannya. Sangat nyaman berada disisinya seperti ini.

Baru saja kami melangkah…

“Rara?”

“Oppa…” aku merasa tubuhku tidak bertulang…

-tbc-

 
2 Comments

Posted by on December 10, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

Just My Little Brother?? part. 1

“oppa, bisakah kau menjemputku? Tidak bisa? Ne… Araesso.” aku menutup flip ponselku. Huh, lagi-lagi eunhyuk oppa tidak bisa datang menjemput. Pasti gara-gara kerjaannya lagi. Susah ya ternyata punya seorang namja chingu yang berbeda dunia dengan kita. Eunhyuk oppa seorang mahasiswa dan part time sebagai penyiar radio. Sedangkan aku, hanya seorang siswi SMA. Waktunya untuk ku sedikit sekali.

“ Aish~ benar-benar kesal!” batinku. Aku lalu menendang batu kerikil yang berserakan di jalan.

“auch!” seseorang berteriak. Aku mendongak. Di hadapanku berdiri seorang laki2 yang sedang mengusap-usap kepalanya. seragamnya sama denganku. Berarti dia satu sekolah denganku. Tapi aku tidak pernah melihatnya. Siapa dia?

“kenapa hanya diam?” tanyanya menyadarkanku.

“ah, mianhae. Gwenchana?” tanyaku.

“ne, tapi lain kali jangan menendang batu jika sedang kesal.” ucapnya. Dia masih mengusap-usap kepalanya. Sepertinya sakit sekali.

“ah, iya. Aku benar-benar minta maaf.” ucapku. Aku membungkukkan badan sedalam-dalamnya.

“sudah, sudah. Tidak usah berlebihan seperti itu.” ucapnya. Aku menegakkan badanku kembali.

“kim jonghyun imnida.” ucapnya. Seraya tersenyum.

“shin rara imnida.” jawabku.

“kau satu sekolah denganku kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“dimana kelasmu? Aku baru pindah hari ini.” tanyanya. Ah, pantas saja aku tidak pernah melihatnya.

“aku kelas 2-E.” dia terlihat agak terkejut mendengar jawabanku. Lalu menggaruk belakang kepalanya.

“ah, ternyata aku harus memanggilmu noona. Aku baru kelas 1.” jawabnya malu-malu.

“ahahaha, gwenchana. Aku tidak pernah memilih-milih teman.”  Jawabku sekenanya. Sebenarnya saat aku sedang kesal aku paling tidak suka sendirian. Mungkin dengan mengobrol dengannya bisa mengalihkan perhatianku dari rasa kesalku itu.

“Noona mau pulang?” tanyanya.

“Ne.” Jawabku seraya menganggukan kepalaku.

“Kau mau pulang juga?”

“Iya, tapi aku belum hapal jalan.” Ucapnya seraya memamerkan deretan giginya.

“Mau kuantar?” tawarku. Lagi-lagi dia tersenyum, saat dia melakukan itu seperti ada sinar dari matanya.

“Jika Noona tidak keberatan…” jawabnya malu. Aku tersenyum lalu menyeretnya menuju halte bis. Dan ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Hanya beda beberapa blok saja.

Kami akhirnya pulang bersama. Dia lalu mengantarku sampai depan rumah. Menurutnya dia tidak akan tersesat karena tinggal beberapa blok saja.

“Yakin kau tidak akan tersesat?”  ucapku menggodanya. Dia menggelengkan kepalanya dengan yakin.

“Tidak akan.” Jawabnya kemudian.

“Nah, noona, sampai besok ya. Jangan lupa, besok tunjukan seluruh sekolah padaku!” lanjutnya.

“ne, annyeong…” seruku seraya melambaikan tangan pada sosoknya yang semakin menjauh.

“aku berangkat!” ucapku. Pagi ini cerah, aku menutup mataku menikmati sinar mentari pagi dan menghirup udara sebanyak yang ku bisa. Haah…akan sangat  menyenangkan jika aku bisa pergi ke sekolah bersama eunhyuk oppa seperti saat aku duduk dikelas 1 dulu.

“noona~”

aku membuka mata, ternyata jonghyun. Dia melambaikan tangan dari luar pagar dengan senyuman lebar. Aku segera menghampirinya.

“annyeong.” sapaku.

“tidak apa-apakan jika kita berangkat bersama?” tanyanya.

“haha, tentu saja. Memangnya kenapa?”

“aku hanya tidak ingin setibanya di sekolah nanti aku dihajar oleh sonbae-sonbae karena berangkat sekolah bersamamu.” jawabnya.

“tenang saja, aku tidak seterkenal itu disekolah.”

“jinca?”

“ne, memangnya apa yang bisa kubanggakan dariku?”

“senyum mu sangat manis.” jawabnya langsung. Aku hanya tertawa mendengar pujiannya.

“noona.” aku menolehkan kepalaku dari buku biologi yang sedang berusaha kubaca. Ternyata Jonghyun sudah berada di ambang pintu kelas. Aku segera menghampirinya. Beberapa pasang mata melirik ku tajam saat aku menghampirinya, tapi aku tidak peduli.

“ne, ada apa jonghyun-ah?” tanyaku.

“setelah pulang sekolah, apa bisa menemaniku?”

“mh? Kemana?”

“aku hanya ingin berjalan-jalan keliling kota.”

“ah… Eksplorasi kota ini?”

“ne, mau ya noona?” pintanya.

“mian, aku tidak bisa pulang terlalu malam. Bagaimana jika hari minggu saja?” tawarku. Dia kelihatan berpikir.

“hm, baiklah! Aku akan menjemput noona hari minggu!” ujarnya riang.

“ne.” dia berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangannya padaku. Aigo~ lucunya.

“noona, jangan lupa hari ini antar aku keliling sekolah sebelum pulang…!” teriaknya. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Dia mengacungkan kedua jempolnya lalu berbalik pergi.

Bel baru saja berbunyi, aku sedang membereskan buku-bukuku ketika

“noona~” aku mendongak, jonghyun sudah menungguku dengan tasnya.

“pelajaranmu sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk.

“baiklah, kaja. Akan kutunjukan seluruh sekolah ini padamu! bagian mana yang ingin kau ketahui lebih dulu?” tanyaku.

“mmh… Dimana ruang musik?” tanyanya.

“ruang musik? Baiklah, ikuti aku.” jawabku. Kami lalu berjalan berdua. sekolah belum sepi, karena biasanya setelah sekolah usai akan ada latihan dari beberapa klub.

sepanjang jalan aku sibuk menjelaskan ini itu padanya. Dia tidak banyak berkomentar, hanya mengiyakan dan mengangguk.

“nah, ini dia ruang musik kami!” ujarku. Kami masuk ke dalam. Di dalam ada sebuah piano yang biasa digunakan untuk mengiringi anak-anak paduan suara latihan.

“wah…piano..!!” ujarnya riang. Dia segera duduk dan memainkan jari-jarinya diatas tuts piano.

You are so beatifull to me…

You are so beatifull to me…

Wah, ternyata suaranya lumayan juga. Kekeke~

Dia terus saja bernyanyi, aku hanya berdiri di samping piano menikmati nyanyiannya.

“Noona, kau bisa main piano?” tanyanya.

“Hm… sedikit.”

“Iringi aku bernyanyi ya.” Pintanya.

“Hm… baiklah…” jawabku. Aku mulai berlagak meregangkan jari dan tubuhku.

Aku mulai menekan tuts-tuts piano dan memainkan lagu A Thousand Miles milik Vanessa Carlton.

“Vaneesa Carlton?”

“Kau bisa?”

“Tentu saja.” Jawabnya. Akhirnya kami bernyanyi bersama. Lagu ini merupakan lagu favoritku. Dentingan pianonya sangat enak bukan?

Making my way downtown
Walking fast
Faces passed
And I’m home bound

Staring blankly ahead
Just making my way
Making my way
Through the crowd

And I need you
And I miss you
And now I wonder….

If I could fall
Into the sky
Do you think time
Would pass me by
‘Cause you know I’d walk
A thousand miles
If I could
Just see you
Tonight

Kami bertepuk tangan dengan gembira. Ternyata kami cocok juga.

“Noona, suaramu indah juga ya? Permainan piano mu juga lumayan. Kenapa kau masih suka merendahkan diri?” tanyanya polos. Aku hanya tersenyum.

“Hah, kau mau kutunjukan apa lagi?” tanyaku. Dia mencoba berpikir sejenak.

“Kantin, aku sudah tahu. Lapangan bola juga. Ah, bisakah kau tunjukan padaku ruangan klub sepak bola? Aku ingin sekali bergabung dengan mereka!” ucapnya kemudian.

“Tentu saja, kebetulan manajer klub itu adalah sahabatku. Ayo!” aku lalu berjalan keluar lebih dulu dari ruang musik, dia mengikutiku setelah menutup pintunya.

“Noona, chakammanyo…”

“Palliwa..” dia berlari-lari kecil untuk mengimbangi langkahku.

“Kenapa sih noona terburu-buru seperti ini?” tanyanya heran.

“Klub sepak bola hari ini sedang ada latihan. Kau bisa melihat mereka sekalian.” Jawabku.

“Ah, arraesso.” Dia lalu mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkahku. Tak lama kemudian kamipun sampai di lapangan. Benar saja, anak-anak klub sepak bola memang sedang berlatih. Aku melihat Hee Gi sedang berdiri di pinggir lapangan, mencatat semua perkembangan dari latihan hari ini.

“Hee gi ya…” panggilku. Si empunya nama langsung menoleh dan melambaikan tangannya. Setengah berlari aku menghampirinya diikuti oleh Jonghyun di belakangku. Dia seperti anak bebek yang sedang mengikuti induknya! Hihihi…

“Hee Gi ya, aku membawakanmu anggota baru!” ujarku bersemangat.

“Nugu?” tanyanya. Aku lalu menarik lengan Jonghyun agar Hee Gi bisa melihatnya.

“Dia murid baru disekolah ini. Jonghyun, anak kelas 1.”

“Annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.”

“Choi Hee Gi imnida. Kau ingin masuk tim?” tanya Hee Gi.

“Ne. Aku sangat suka sepak bola.” Jawab Jonghyun dengan mata berbinar.

“Ehm, tunggulah sebentar.” Ucap Hee Gi. Dia lalu menghampiri Minho, sang kapten. Mereka bercakap-cakap sebentar. Sesekali aku melihat Minho melirik pada kami. Tak lama kemudian dia lalu menghampiri kami.

“Annyeong.” Sapanya dingin. Cih, kapan ya Choi Minho tidak berlagak seperti ini? Tapi ku akui jika memang dia punya aura kepemimpinan yang besar.

“Ah, annyeong haesseyo, Jonghyun imnida.” Jawab Jonghyun.

“Ehm, Minho Imnida. Jadi kau ingin bergabung dengan tim kami?” tanya Minho langsung.

“Ne, Sonbaenim.”

“Baik, besok kau boleh langsung ikut latihan. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Latihan disini sangat berat. Dan jangan bermanja-manja pada noona mu ini.” Ucapnya seraya melirik ku dan tertatawa mengejek. Dia lalu kembali latihan bersama timnya.

“Kok kau bisa tahan sekali dengannya sih Hee Gi?” tanyaku sebal.

“Yah, aku kan sudah memilih untuk menjadi manajer klub, mau tidak mau aku memang harus bertahan.” Jawabnya diplomatis. Aku hanya mendengus sebal.

“Baiklah Jonghyun, besok jangan terlambat ya. Karena kapten kita sangat tidak suka anggota yang tidak disiplin.”

“Ne, araesso sonbaenim!” jawab Jonghyun. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu ya.” Pamitku.

“Kalian pulang bersama?” tanya Hee Gi keheranan.

“Ne, rumah kami tidak jauh. Hee Gi ya, annyeong…” aku lalu menarik lengan Jonghyun lagi dan segera pulang. Aku sangat yakin, dibelakang sana banyak mata yang menatap kami.

-tbc-

 
5 Comments

Posted by on October 28, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,