RSS

Tag Archives: Lee Hyuk Jae

That Guy

Sekuel dari “My Strory”

Enjoy…^^

DUK! DUK!

Aku mendengar suara bola basket yang dilemparkan dari dalam aula olahraga.

“Masih ada yang berlatih jam segini?” tanyaku dalam hati. Aku memberanikan diri untuk melihat. Haha, sebenarnya aku tidak takut pada apapun.

Ternyata seorang bocah yang sedang mencoba melakukan dunk. Haha, bodoh. Padahal dia laki-laki, tapi terlihat sangat tidak berdaya.

“Bukan begitu caranya.” Ujarku. Dia menoleh, kaget bercampur malu tergambar di wajahnya.

“Tapi begini!” aku segera merebut bola darinya dan melakukan teknik itu. Dia ternganga ketika aku mendarat dan bertepuk tangan pelan saking terpesonanya. Aku merapikan seragamku yang agak berantakan gara-gara melompat tadi dan berjalan pergi.

“TUNGGU!” teriaknya. Aku berbalik pelan.

“Si…siapa namamu?” lanjutnya.

“Jung Hami.” Jawabku datar dan kembali meninggalkannya.

“A..aku Lee Hyukjae! Sampai bertemu besok di sekolah ya…!!!” teriaknya. Aku bisa melihatnya melambaikan tangan penuh semangat dari ekor mataku.

“Anak yang lucu.”

*

Aku sedang tidur nyenyak ketika badanku diguncang-guncang Min young.

“Hami-ah.. ada yang mencarimu dari kelas sebelah. Bangunlah..” aku membuka mataku pelan. Hh, siapa sih yang menganggu waktu tidurku? Tidak dapat dimaafkan!

“Mana?”

“Itu. Dia menunggu di pintu.” Aku menyipitkan mataku agar penglihatanku lebih jelas. Ternyata anak yang kemarin. Siapa namanya? Aku lupa.

Aku bangun dan segera menghampirinya.

“Ada apa?” tanyaku langsung, aku memang paling tidak suka berbasa-basi.

“Ehm, aku… aku ingin minta bantuanmu..” ucapnya gugup.

“Bantuan?”

“I..iya… a.. ajari aku main basket!” ujarnya. Dia menangkupkan kedua tangannya dihadapan wajahku.

“Boleh saja, tapi ini tidak gratis.” Jawabku asal. Tapi sepertinya dia menganggapku serius. Karena dia terus menerus mengucapkan terimakasih. Dan akhirnya kami berjanji bertemu di di gerbang sekolah nanti sore.

“Siapa dia?” Tanya Min young.

“Siapa?”

“Cowok tadi…”

“Ah, aku tidak tahu.” Jawabku cuek. Aku lalu bersiap lagi untuk kembali tidur. Waktu istirahat masih ada 10 menit lagi, cukup bagiku untuk tidur.

“Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya..?” ucap Min young lagi. Tapi aku tidak peduli karena mataku mulai menutup.

*
Aku berjalan santai menuju gerbang, sesampainya di apartemen aku ingin segera berbaring. Hh, hari ini rasanya lelah sekali. Aku menguap lebar ketika ada seseorang menghalangi jalanku.

“Hami ssi, aku sudah menunggumu.” Ucap lelaki itu. Aish, aku sama sekali lupa dengannya.

“Ah, kau..” ucapku, Nampak sekali tidak tertarik dengan kehadirannya.

“Hari ini kita jadi latihan kan?” tanyanya bersemangat. Aku melihat sinar-sinar dimatanya. Dan mau tak mau akupun mengangguk. Aku sudah terlanjur berjanji.

“Kita latihan dimana?” tanyaku. Dia menyeringai lebar, terlihat sangat bersinar.

“Tempat rahasiaku!” ucapnya bersemangat. Dia berjalan lebih dulu, membawaku ke sebuah lapangan basket yang tidak jauh dari sekolah kami. Lapangan itu telah sepi. Lelaki itu mengeluarkan bola basketnya dan menyerahkan padaku.

“Ayo lakukan dunk sekali lagi! Aku ingin melihatmua terbang!” pintanya. Aku tersenyum sekilas, benar-benar lucu melihat dia begitu bersemangat melihat teknikku. Jadi aku melakukannya, lagi dan lagi. Dan dia selalu bertepuk tangan gembira. Haha, dia mengingatkanku pada adikku yang telah meninggal 2 tahun lalu.
Kami bermain sampai larut. Agak sulit untuk mengajarinya. Tapi dia pantang menyerah. Padahal berkali-kali jatuh, tapi dia bangkit dan mencoba lagi. Aku salut pada kegigihannya ini. Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat sebentar di sisi lapangan. Dia memberiku selembar handuk kecil dan sebotol air mineral, persiapannya untuk ini pantas diberi acungan jempol.

“Kenapa kau bersemangat sekali untuk menguasainya?” tanyaku. Dia mengelap mulutnya.

“Karena aku tidak ingin kalah dari saudara kembarku.”

“Kembaranmu? Kau memiliki kembaran?” dia mengangguk cepat. Matanya masih bersinar, persis seperti adikku.

“Kau pasti mengenalnya. Dia Lee Donghae.” Jawabnya.

“Mwo? Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin? Dia benar-benar kembaranku.” Ucapnya lagi. Aku memperhatikannya dengan seksama. Yah, memang ada beberapa kemiripan diantara mereka. Tapi aku masih sangsi jika mereka kembar.

“Kalian benar-benar berbeda.” Aku kembali minum. Tapi lama sekali dia menjawab. Aku meliriknya, kepalanya tertunduk lesu. Aigo, kenapa lagi bocah ini?

“Itu yang selalu mereka bilang.” Ucapnya lirih. Haish, apa dia menangis? Apa yang harus kulakukan? Aku melihat ke sekeliling. Untung saja di seberang sana ada minimarket. Aku segera berlari untuk membeli sesuatu. Aku berhenti dihadapan sebuah kulkas besar yang berisi berbagai macam minuman. Dan aku mengambil satu susu stroberi, minuman kesukaan adikku. Semoga diapun menyukainya.
Setelah selesai membayar aku segera kembali menuju lapangan. Dia masih tertunduk lesu. Aku menghampirinya dan memberikan susu yang kubeli itu. Dia mendongak, pelan tapi pasti dia tersenyum.

“Bagaimana kau tahu ini minuman kesukaanku?” tanyanya, manis sekali. Aku mengacak rambutnya. Sepertinya dia memang adik yang dikirimkan Tuhan untuk kujaga.

*

Nama adik baruku itu Lee Hyukjae. Dia satu-satunya teman dekatku, setelah Min young. Min young sendiri heran karena aku bisa menerimanya. Tapi dia benar-benar mirip adikku. Biarpun dia seusiaku, dia masih sangat polos. Kau bisa lihat itu dari matanya yang jernih. Berbeda sekali dengan saudara kembarnya yang terkenal playboy.

Sore itu, aku melihatnya di tampar untuk kesekian kalinya. Aku baru saja kembali dari toilet saat drama itu terjadi.

“Hyukie, sudah berapa banyak korban dari saudaramu itu?” tanyaku. Aku melihat kotak yang tadi dilemparkan gadis itu. Wuah, banyak sekali barang yang Donghae berikan padanya.

“Molla…” jawabnya sambil mengelus pipinya. Pipinya benar-benar merah sekarang.

“Mau sampai kapan kau terus dimanfaatkan cewek-cewek itu?” tanyaku lagi. Aku kembali ingat ceritanya mengenai pacar-pacar Donghae yang akan mencarinya ketika mereka marah pada Donghae. Entah apa yang Donghae lakukan, tapi saat gadis-gadis itu marah, dia pasti akan berubah menjadi kasat mata. Tidak dapat dilihat oleh siapapun.

“Aku sudah biasa.” Jawabnya lemah. Aku hanya menghela nafas. Dia memang sepert anak kecil. Dasar bodoh!

“Yasudah, ayo pulang!” ajakku. Hyukie membawa kotak itu dan membuangnya di tong sampah. Biasanya dia akan mampir di apartemenku sebentar, baru pulang.

Aku tinggal sendirian di Seoul. Orang tuaku masih bertahan di Busan. Setelah kematian adikku, aku tidak tahan untuk tetap bertahan di rumah. Sehingga aku memutuskan untuk pindah ke Seoul sendirian.

Aku membuka kunci pintu begitu sampai di apartemen. Melepaskan sepatu dan menggantinya dengan slipper. Hyukie mengikutiku, dia mengenakan slipper berwarna biru yang kusiapkan khusus untuknya. Dia segera duduk dan bersandar di sofa. Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas lalu mengambil susu stroberi dari sana.

“Ini, kompres dulu pipimu agar tidak membengkak.”

“Gomawo..” ucapnya sambil menyeringai lebar. Tapi aku tidak pernah menunjukan reaksi yang berlebihan padanya.

Aku duduk disampingnya dan menghidupkan tv, acara yang diputar tidak ada yang menarik.

“Hami-ah, itu foto siapa?” Tanya Hyukie. Dia menunjuk fotoku bersama adikku saat kami liburan ke pantai beberapa bulan sebelum dia meninggal. Itu liburan terakhir kami bersama. Dalam foto itu kami terlihat sangat gembira. Dengan senyuman lebar di wajah kami berdua, dan aku memeluknya erat. Tuhan, aku rindu padanya.

“Dia adikku.” Jawabku. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjatuhkan air mataku dihadapannya.

“Kau terlihat cantik tersenyum seperti itu. Lalu, dimana adikmu sekarang.” Pertanyaan itu. Pertanyaan yang selalu kuhindari. Rasanya masih terasa sakit saat mengingatnya.

“Dia meninggal, 2 tahun yang lalu.” Jawabku tanpa memandangnya.

“Ah, aku minta maaf.” Ucap Hyukie tulus. Dia lalu melirik jam.

“Aku harus pulang sekarang. Terimakasih susunya.” Ucapnya. Dia menaruh susu stroberi itu di meja dan beranjak pergi.

Setelah dia pergi, aku mengambil kotak susu itu dan menempelkannya di pipi.

“Hangat.” Tanpa bisa kucegah, air mataku kembali mengalir.

*

Hubunganku dan Hyukie bisa dibilang sangat aneh. Dia bilang, aku adalah sahabatnya, tapi dia sama sekali tidak pernah bisa benar-benar terbuka kepadaku. Aku harus mencari tahu sendiri masalah apa yang sedang menimpanya. Dan begitu juga sebaliknya. Biasanya jika kami memang benar-benar tidak puny aide tentang masalah yang sedang dihadapi, kami akan saling menghibur. Untuknya, ini bukan sesuatu yang luar biasa. Dengan melihat wajahnya saja akan membuatku sangat tertawa. Ok, aku memang tidak pernah tertawa lepas dihadapannya. Tapi mukanya memang sangat lucu! Sementara aku, hanya bisa membelikannya susu stroberi atau makanan manis, maka dia akan kembali tersenyum.

Karena itulah aku benar-benar terkejut saat dia bercerita padaku dia telah memiliki yeoja chingu.

“Wah, selamat ya! Akhirnya kau bisa punya pacar juga!” ucapku.

“Hehehe..” dia hanya menyeringai lebar seperti biasa. Memperlihatkan gigi dan gusinya.

“Dasar kau!” aku mengacak-acak rambutnya. Dia selalu senang kuperlakukan seperti itu. Jadi dia tertawa lebih keras lagi.

“Oppa…” tiba-tiba kami mendengar seseorang memanggil. Aku menoleh kea rah pintu aula olahraga, seorang gadis manis berambut lurus terurai berdiri dengan gugup disana. Aku melirik Hyukie, wajahnya tersipu-sipu. Itu pasti pacarnya.

“Tuh, pacarmu manggil. Aku duluan.” Ucapku. Segera membereskan dan pergi secepat yang kubisa.
Aku baru saja berjalan beberapa langkah dari aula ketika aku mengingat jaket kesayanganku tertinggal. Jadi aku kembali kesana. Tapi pemandangan yang kulihat membuat dadaku terasa perih. Aku melihat Hyukie mencium gadis itu.

Aku segera berbalik dan berlari pulang. Tidak kupedulikan lagi jaket itu. Aku juga tidak peduli kakiku yang meronta hebat saat kupaksa berlari menuju apartemen. Setibanya, aku segera berlari menuju kamar, menguncinya dan menangis. Dadaku naik turun. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa seperti ini. Tapi rasanya jelas sangat sakit.

Aku mendengar ketukan di pintu depan. Aku segera menghapus air mataku. Malas-malasan aku membukakan pintu. Ternyata Hyukie.

“Hami, kau melupakan jaketmu! Ini jaket kesayanganmu kan?” tanyanya. Aku mengangangguk seraya mengambil jaket itu.

Hyukie mengernyit.

“Kau sakit?” tanyanya,

“Wae?”

“Matamu bengkak.”

“Tidak. Aku hanya sedang tidur ketika kau dating. Sudah sana pulang! Aku ingin melanjutkan tidurku.” Hyukie hanya mengangkat bahunya dan menurut.

“Sampai besok…” ucapnya sebelum pergi. Aku menutup pintu dan kembali menangis.

*

“Aku pikir Hyukie pacarmu. Tapi ternyata sekarang dia jalan dengan gadis lain.” Ucap Min young. Gossip segera beredar dengan cepat.

“Apa kau tidak cemburu?” tanyanya. Tapi aku enggan menjawab dan memilih untuk tidur.

Min young sudah terbiasa dengan sikapku yang seperti ini, sehingga dia membiarkanku. Karena percuma saja, seberapa keraspun dia bertanya, aku tidak akan menjawabnya.

Hubungan Hyukie dan gadisnya berjalan baik-baik saja. Sesekali dia masih datang dan latihan basket bersamaku. Tapi kami tidak pernah bisa mengobrol panjang lebar seperti dulu, karena gadisnya akan dating dan aku tidak suka berlama-lama dekat dengannya.

Sebenarnya Hyukie selalu mengajakku saat mereka akan pergi bersama. Dia selalu bilang saudara kembarnya akan ikut, sehingga aku tidak akan merasa kesepian. Tapi aku selalu berbohong dengan bilang hari itu orang tuaku akan datang, atau aku ikut kelas tambahan, atau pergi bersama Min young, atau apapun. Sehingga aku tidak usah pergi dengannya. Dia terlihat kecewa, kalian tahu, dia tidak berubah, masih saja polos seperti anak kecil.

Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa sebentar lagi aku akan menjadi murid kelas 2. Hubunganku dengan Hyukie masih baik-baik saja. Maksudku, kami masih berteman baik meski aku selalu berusaha menghindar darinya. Tapi dia selalu percaya padaku. Dasar bodoh!

Entah mengapa perasaanku malam itu sangat kacau. Padahal tidak ada yang terjadi. Aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan keluar sebentar. Dan entah mengapa kakiku menuju lapangan basket tempat pertama kalinya aku mengajari Hyukie dunk. Dan aku melihatnya disana, sedang berusaha, dengan sekuat tenaga memasukan bola ke dalam ring. Tapi tidak pernah berhasil.

Aku berjalan menuju minimarket dan membelikannya sekotak susu. Aku tahu, dia sedang ditimpa masalah. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Dan aku berharap susu ini dapat membuatnya lebih tenang.
Dia sedang duduk di tepi lapangan ketika aku dating. Nafasnya masih memburu. Entah karena marah atau karena bermain terlalu keras tadi.

“Kau tidak akan bisa memasukan bolanya dengan kekuatan seperti itu.” Ucapku. Dia mendongak.

“Kau?” tanyanya.

“Wae? Siapa yang kau harapkan?” dia mengambil kotak susu dari tanganku dan meminumnya perlahan.

“Bagaimana kau tahu aku ada disini?” tanyanya lagi.

“Mmh, sepertinya dulu ada seseorang yang mengajakku bermain disini.” Jawabku cuek.

“Ah, mianhae.. aku lupa.” Ucapnya sambil terkekeh. Syukurlah.

“Tadinya aku khawatir kau tidak bisa tertawa lagi. Tapi sepertinya kau baik-baik saja.” Ucapku kemudian. Aku bangkit berdiri dan hamper saja berjalan pergi ketika dia menarik tanganku dan memintaku untuk duduk kembali. Aku menurut.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia mulai bercerita tentang gadis itu. Bagaimana dia bisa menyukainya, bagaimana kisah mereka, bagaimana gadis itu menghindarinya belakangan ini, dan hari inilah puncaknya. Gadis itu tidak tahan lagi dengan perasaannya. Dia merasa telah mengkhianati Hyukie dan merasa bukan gadis yang baik baginya. Hyukie merasa terpukul, sangat terpukul, karena gadis itu berpaling pada Donghae.

Dia merasa sangat bodoh, terkhianati, dan hancur. Dia sudah mencurahkan perasaannya pada gadis itu. Dan entah bagaimana caranya, Donghae mencuri hal itu darinya. Aku ikut hancur melihatnya seperti ini. Bahkan terasa lebih sakit saat melihatnya mencium gadis itu. Setidaknya saat itu akku masih bisa melihatnya tertawa lebar. Tapi tidak kali ini.

Kepalanya kembali tertunduk. Dia menangis. Untuk hal seperti ini sepertinya susu stroberi tidak bisa membantu banyak. Aku mengelus punggungnya perlahan, namun tidak keluar sepatah katapun dari bibirku. Aku terlalu hancur untuk dapat menghiburnya. Aku segera memeluknya dari belakang.

“Menangislah Hyukie, jika memang itu yang kau inginkan.” Ucapku akhirnya. Dia berbalik memelukku dan menangis sangat keras. Lebih keras dari biasanya.

*

Hyukie menangis lama sekali, ketika air matanya sudah kering, malam telah larut. Matanya yang sudah sipit, semakin terlihat sipit karena sembap.

“Gomawo…” ucapnya. Aku hanya tersenyum.

“Ayo kita pulang.” Ajakku. Tapi dia menggeleng.

“Aku tidak mau bertemu dia.” Ucapnya. Dia kembali cemberut. Hampir kembali menangis.

“Hyukie-ah…” bujukku. Dia kembali menggeleng, merajuk.

“Aku akan selalu bersamamu.” Ucapku mantap dan menggenggam tangannya.

“Ayo.” Bujukku. Dia akhirnya mau menurut.

Aku mengantarnya sampai depan rumah. Aku memastikannya pulang dengan selamat. Sepanjang jalan aku terus menggenggam tangannya, memberinya kekuatan. Kadang-kadang dia berhenti tapi aku terus berjalan. Dia harus bisa menghadapi ini semua.

“Hami-ah, aku benar-benar tidak ingin masuk.” Ucapnya.

“Buktikan jika kau lelaki hebat!” ucapku. Aku mendorongnya masuk dan terus berada disana sampai setengah jam kemudian. Aku mendengar sedikit keributan dari dalam rumah tapi setidaknya Hyukie tidak pergi keluar. Sepertinya tugasku sudah selesai malam ini. Jadi aku merapatkan jaketku dan berjalan pulang.

Esoknya aku menghampiri Hyukie di kelasnya dan mengajaknya makan siang bersama. Aku membelikannya susu stroberi, permen loli, dan es krim agar dapat melihatnya bercahaya kembali. Tapi usahaku tidak berjalan semudah itu. Selama berminggu-minggu dia hanya tertunduk lesu. Tidak bersemangat. Dan menghindari latihan basket.

Hal yang sama terjadi pada gadis itu dan saudara kembarnya. Malah beberapa kali aku melihat dia menangis sendiri. Tapi setelahnya Donghae akan datang dan menenangkannya. Masalah ini cukup rumit.

*

“Kau masih memusuhi saudaramu itu?” tanyaku. Hari itu seharian dia berada di apartemenku. Kami main seharian.

“Iya, sofa masih menjadi tempat tidurku.” Jawabnya. Aku tahu dia hanya berpura-pura terlihat tegar.

“Kau tidak pantas menjadi sahabatku jika bersikap pengecut seperti itu.” Dia terdiam. Tidak melanjutkan permainan.

“Hami-ah…” rajuknya.

“Hyukie, dengarkan aku. Mestinya kau bersikap lebih dewasa.” Lagi-lagi dia menundukan kepalanya. Mencoba menghindari tatapanku.

“Ternyata kau benar-benar pengecut.” Lanjutku santai seraya menyeruput sodaku.

“Aku…”

“Kau pasti bisa memaafkan mereka.”

Sepertinya kata-kataku cukup ampuh. Hari ini aku sudah dapat melihat kembali sinar di matanya. Dan hari ini dia kembali datang latihan

“Yah, aku senang kau bisa kembali tertawa seperti ini.” Ucapku di pinggir lapangan.

“Dan sepertinya kau tidak pernah ditampar lagi.” Ucapku seraya tertawa. Dia menggaruk belakang kepalanya sambil tersipu.

“Yah, kupikir Donghae sudah insyaf sekarang. Dia benar-benar setia pada Hyujin.” Jawabnya.

“Jinca? Bagus sekali!”

“Yah, begitulah. Jika sudah bertemu yang pas. Kau tidak akan melepasnya.” Ucapnya. Aku lalu meminum air mineralku.

“Hami-ah, terima kasih telah menjagaku selama ini.” Aku mengernyit.

“Mwo? Tumben sekali kau berterimakasih padaku.”

“Mulai sekarang, biarkan aku yang menjagamu sekarang.” Hei, ada apa dengannya?
Aku menjitak kepalanya. Dia mengaduh pelan.

“Yah! Jangan bercanda! Bagaimana bisa tanganmu yang kurus itu menjagaku?” ucapku. Aku kembali meminum air mineralku. Berbicara dengannya menghabiskan energiku.

“Tentu saja bisa, karena aku laki-laki.” Dia mengambil botol minumanku dan mendekatkan wajahnya padaku. Sebelum aku sempat berbicara lagi dia segera menempelkan bibirnya pada bibirku.

Dia melumatnya lembut. Ini bukan Hyukie yang kukenal. Aku berusaha untuk melepaskan diri darinya.
“Apa maksudmu?” semburku. Dia tidak menjawab, hanya mentapku lembut.

“Sarangheyo…” bisiknya. Dan aku menamparnya sangat keras.

“Kau pikir aku siapa?!”

“Mianhae, Hami-ah…”

“Aku tidak ingin jadi pelampiasanmu!” aku segera memberekan tasku dan melangkah pergi. Sialan! Itu ciuman pertamaku!

“Hami-ah, aku minta maaf atas ciuman tadi. Tapi kenapa kau semarah ini?” tanyanya. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. Aku melemparkan handukku kesal.

“Ya! Apa kau tidak tahu sudah berapa lama aku menyukaimu?! Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku saat kau bercerita soal Hyujin?! Apa kau tidak tahu hatiku lebih sakit lagi saat melihatmu hancur gara-gara gadis itu?!” ucapku marah.

Semua yang telah kutahan selama ini akhirnya keluar juga. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan air mataku.

“Dan sekarang kau menciumku hanya karena Hyujin sudah bersama Donghae…” isakku.
Dia berjalan mendekat dan memelukku.

“Menangislah jika itu yang kau mau.” Ucapnya.

“Kau benar Hami-ah. Aku memang bodoh.”

*

Setelah kejadian itu otomatis aku menghindar darinya. Aku selalu meminta Mi young bilang padanya bahwa aku tidak ada ketika dia mencariku. Aku tidak pernah membukakan pintu untuknya ketika dia datang. aku bahkan tidak mengangkat teleponnya.

Aku selalu bersembunyi darinya. Aku pun tidak datang ke klub. Duniaku menjadi sempit setiap hari. Aku tidak mengerti pada perasaanku sendiri. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk berpikir.

“Dia sakit.” Ucap Donghae tiba-tiba saat aku makan siang di kantin. Aku meletakan sendokku.

“Siapa?”

“Hyukie. Sakit. Itu semua karenamu.” Ucapnya lalu beranjak pergi.

Aku tidak bisa melanjutkan makan siangku. Tiba-tiba saja aku merasakan sesak dalam dadaku. Ada apa?

Rasa sesak itu tidak berhenti juga sampai aku tiba di apartemen. Aku membilas seluruh badanku lalu menatap wajahku di cermin. Aku tersenyum, ternyata aku cukup manis jika rambutku digerai seperti ini. Aku lalu mengambil jepit rambut biru muda yang kubeli kemarin. Cocok.

Aku mengenakan rok dan t-shirt, lalu melapisnya dengan jaket kesayanganku. Aku lalu mengambil tas dan tidak lupa menyelipkankan sekotak susu stroberi kesukaannya.

Ibunya menyuruhku agar masuk saja langsung ke dalam kamarnya. Dia sedang berbaring saat aku datang.

“Donghae-ah, tolong tutup pintunya. Aku ingin tidur..” pintanya. Rupanya ia mengira Donghae yang datang.

Aku lalu meraba keningnya, demamnya cukup tinggi. Tiba-tiba dia berbalik dan membuka matanya.

“Hami?”

“Memangnya siapa yang kau harapkan?” jawabku ketus. Aku segera menarik tanganku. Dia menatapku heran.

“Darimana saja kau selama ini?” tanyanya.

“Aku? Tentu saja aku ada.”

“Aku tidak pernah bisa menemukanmu.” Ucapnya.

“Itu karena kau tidak serius mencariku.”

“Tentu saja aku serius!” ujarnya tidak mau kalah.

“Setiap hari aku mencarimu di kelasm ke perpustakaan, kantin, bahkan sampai atap. Tapi kau tidak ada. Bahkan kau pun tidak datang ke klub! Apa kau tidak tahu ba…” dia sangat cerewet, kututup saja mulutnya dengan bibirku.

“Sudah selesai?” tanyaku tepat dihadapannya. Mukanya bersemu merah. Dia masih saja polos.

“Itu balasan untuk waktu itu.” Lanjutku. Aku lalu menarik tubuhku dan beranjak pergi. Aku lalu mengeluarkan susu stroberi dan meletakannya diatas meja.

“Lekas sembuh.” Ucapku. Tapi sebelum aku sempat mencapai pintu, dia menarikku ke dalam pelukannya. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Entahlah, tapi aku menutup mataku. Aku pasrah pada apa yang akan dia lakukan padaku. Tapi dia malah menjitak kepalaku.

“Itu balasan karena membuatku sakit.” Ucapnya sambil menyeringai lebar.

“Awas kau!” aku segera mencubitinya.

“Ya! Ya! Aku masih sakit!” pintanya memohon. Tapi aku tidak berbelas kasihan padanya kali ini.

“Ara, ara…” ucapnya. Dia berhasil menggenggam tanganku, bagaimanapun aku mencoba melepasnya cengkramannya lebih kuat.

“Jadi apa kau mau menjadi pacarku sekarang?” tanyanya lagi.

“Siapa yang bilang?” dia terlihat gelisah. Aku jadi ingin semakin menggodanya.

“Siapa yang bilang aku tidak mau?” lanjutku. Dia tersenyum lebar. Dan memelukku erat. Ketika aku berharap ada adegan romantis lagi, dia malah pingsan. Demamnya sangat tinggi. Dasar bodoh!

*

Kami menghadapi masa sulit bersama. Dia selalu setia mendampingiku. Tidak pernah sekalipun berpaling. Bahkan ketika aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jepang. Dia lelaki hebat! Aku beruntung mendapatkannya.

Malam ini dia datang ke apartemenku. Dia bilang, dia akan memasak khusus untukku. Jadi kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dapurku, sementara aku berkutat dengan pekerjaan yang masih menumpuk.
Dia memanggilku ketika makanan telah siap. Kulihat meja telah dia tata sedemikian rupa, lilin bertebaran dimana-mana. Sejak kapan si bodoh ini menjadi sangat romantis?

Dan saat itulah dia mengungkapkan keinginannya padaku. Dengan gugup dan terbata-bata dia memintaku untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka. Dan aku menyanggupinya. Dia memelukku erat.
“Dan jangan panggil aku bodoh lagi.” Bisiknya. Aku tersenyum. Adik yang Tuhan kirim padaku untuk selalu kujaga, kini akan terus menjagaku. Terimakasih Tuhan. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik. Aku berjanji…

 

 
4 Comments

Posted by on May 30, 2011 in fanfiction

 

Tags: ,

Mianhae part.5

‘benarkah itu oppa?’ tanya hyo hee tak percaya. Dia, hyuk jae dan kibum masih mengobrol di studio.

‘tentu saja.’

‘wahahaha…! Oppa memang hebat! Kita berhasil!’

‘syukurlah hami noona sudah bisa tersenyum kembali.’ ucap kibum.

‘ne, akupun tidak menduga dia bisa menerimaku! pesonaku memang tidak bisa dilawan!’ ucap hyuk jae seraya tertawa.

‘jadi… Ini semua sudah diatur?’ serentak mereka menoleh ke sumber suara. Hami berdiri di ambang pintu. Matanya merah menahan air mata yang mulai menggenang.

‘cha…chagi?’

‘stop! Jangan panggil aku seperti itu lagi hyuk jae ssi.’ ucap hami dingin. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia tidak menyangka orang-orang yang dia sayangi tega menipunya. Apa yang di katakan hyuk jae hari itu, apa yang dia lakukan selama ini, ternyata hanya rekayasa. Semuanya dilakukan karena mereka kasihan. Hami tidak suka dikasihani seperti itu.

‘aku berjanji, air mata ini tidak akan terjatuh lagi!’ ucap hami. Dia lalu berlari meninggalkan mereka yang masih shock.

‘o…ottohkae…?’ gumam hyo hee pelan.

‘hyung, sebaiknya tunggu noona tenang dulu.’ ucap kibum mencoba memulihkan keadaan.

‘biarkan kami yang bicara padanya nanti.’ lanjutnya. Hyuk jae mengangguk.

Sebenarnya dia ingin sekali berlari dan memeluk kekasihnya itu. Tapi kibum benar, dia harus menunggu.

‘kibuma, aku pinjam kameramu ya!’ ucap hyuk jae.

‘kamera? Untuk apa hyung?’ tanya kibum heran. Karena dia tahu, kakaknya ini lebih suka merekam gambar daripada harus memotret.

‘ah… Sudahlah, mana sini.’ ucapnya. Kibum lalu menyerahkan kameranya pada hyungnya itu. Hyuk jae nyengir kuda. Dia lalu berlari menuju kamarnya.

Kamar yang biasanya selalu dia jaga kerapihannya kini sangat berantakan. Puzzle nya belum dia selesaikan dan berserakan diatas meja begitu saja. Kertas-kertas yang akan dia buat pesawat juga belum dia selesaikan. Hyuk jae melihat kado yang tersimpan rapi diatas meja nya. Dia tersenyum.

Hyuk jae mengambil topinya dan pergi.

Kibum hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan hyungnya. Dia lalu masuk ke dalam kamar hyuk jae. Dia hanya melihat tanpa berani menyentuhnya.

‘hyung,hyung…Dia seperti orang yang sedang jatuh cinta saja.’ gumam kibum.

‘jatuh cinta? Mungkinkah?’

sudah satu jam ini hyuk jae keliling kota. Dia memotret semua objek yang menurutnya cocok. Dia pergi ke taman, ke pusat perbelanjaan, ke taman bermain, kemanapun yang dia pikir banyak orang yang sedang jatuh cinta.

Hyukjae mulai merasa lelah, akhirnya ia memutuskan untuk duduk sebentar dan melihat-lihat hasil jepretannya.

Ada beberapa pasangan yang dia potret, juga balon hati. Lalu kartu ucapan, bunga mawar, tulisan-tulisan love, stiker berbentuk hati, dan masih banyak lagi. Hyuk jae tertawa karena imajinasinya.

‘kuharap kau suka.’ ucapnya.

Hami membuka bungkusan kotak yang diberikan hyo hee padanya.

‘kaset video?’ tanyanya bingung. Dia mengeluarkan kaset itu dari kotaknya lalu memasukannya ke dalam video player.

Dilihatnya hyuk jae sedang menari dengan sangat indah. Dia mengenakan kemeja hitam, semua kancingnya dia buka dan memamerkan otot-otot di perutnya.

‘aish… Tukang pamer!’ rutuk hami. Tapi dia tetap melanjutkan menonton.

Tiba-tiba tariannya berhenti. Hyuk jae menatapnya.

‘Kau tahu? Meskipun aku malu mengatakan ini, tapi kau membakarku seperti matahari. Kumohon pahamilah hatiku. Meskipun banyak gadis lain yang lebih memikat, tapi hanya kau yang kulihat. Ya, aku gila, aku gila karenamu.

Mendengarmu mengatakan ‘I love you’ membuatku merasa aku telah memiliki semuanya di dunia ini. Kau dan aku, kau yang terbaik. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.

Saranghae, kumohon mengertilah. Bagiku hanya ada kau.’ ucapnya dalam video. Hami mematikan video itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pesan masuk dari hyuk jae.

Datanglah ke studio malam ini.

Hanya itu yang tertulis.

Hami kembali melihat pesan dari hyuk jae. Dia tidak mengerti apa yang mereka rencanakan lagi. Dia masih belum percaya. Walaupun hyo hee berkali-kali minta maaf dan mengatakan bahwa yang dia dengar tidak seperti yang dia pikirkan, tetap saja hami tidak percaya.

Ditatapnya sekali lagi layar ponselnya.

‘hh… Apa yang harus kulakukan?’ ucapnya.

Hyuk jae menunggu dengan resah. Ini sudah setengah jam dia menunggu.

“Apa dia tidak akan datang?” pikirnya. Tapi segera dienyahkannya pikiran itu.

“Dia pasti datang!” sahut hyuk jae yakin.

Dia mengambil nafas panjang-panjang, mencoba menenangkan diri. Belum pernah dia merasa seperti ini sebelumnya. Untung saja Kibum dan Hyohee menunggu diluar. Harga dirinya bisa jatuh jika mereka melihatnya tegang seperti ini.

Ponselnya berdering, dari kibum.

“Yoboseyo?”

“Hyung, noona sudah datang. bersiaplah.”

Akhirnya Hami memutuskan untuk pergi juga. Diraihnya jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya. Ia segera mengenakan sepatunya dan berlari pergi. Tanpa pernah berpikir untuk berhenti sama sekali.

Nafasnya mulai memburu, Hami sudah tidak kuat lagi. Tapi ternyata gedung studio itu sudah berada dihadapannya. Hami tersenyum puas. Didorongnya pintu kaca itu. Loby depan gelap. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat dalam kegelapan.

Tiba-tiba Hami melihat ada bayangan yang mendekat ke arahnya. Hami menahan nafasnya.

“Onnie…” sahut bayangan itu. Hami menghembuskan nafas lega. ternyata itu Hyo hee.

“Ini.” lanjut Hyo hee. dia menyerahkan sebuah kartu berwarna biru muda juga setangkai mawar padanya.

Hami membuka kartu itu, tapi dia tidak bisa membacanya dengan penerangan yang sangat terbatas itu. Akhirnya dia memutuskan untuk membawanya saja dan membacanya nanti. Dia kembali melangkahkan kakinya semakin ke dalam gedung itu.

Lagi-lagi ada sekelebat bayangan yang menghadangnya.

“Ini aku noona.” ucap sebuah suara yang sudah dia kenal. Kibum.

Kibum lalu menyerahkan sebuah puzzle, dengan gambar hari sangat besar. hami tersenyum. Butuh waktu untuk menyelesaikan puzzle itu. Sedikit membuktikan bahwa orang yang menyusunnya cukup sabar.

“Hyung sudah menunggumu Noona.” ucap Kibum. Dia lalu mempersilakan Hami untuk melanjutkan perjalanannya. Kibum membawanya sampai ke ruangan studio.

Sama seperti ruangan lainnya dalam gedung itu, ruangan studio itu gelap. Kibum mendorongnya masuk dan menutup pintunya. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi cahaya temaram. Hami bisa melihatnya disana. Dia berdiri di tengah ruangan. Wajahnya tertutupi oleh balon-balon yang dipegangnya. Dia membelakangi sebuah gambar. Mirip dengan puzzle yang didapati Hami tadi, hanya saja lebih besar.

Laki-laki itu hanya diam mematung. Selangkah demi selangkah Hami mendekatinya.

“Hyukjae ssi…” panggilnya. Balon itu tidak bergerak sedikit pun. Hami berniat menyingkapnya.

“Jangan…” ucap Hyukjae. Hami berhenti. Dia menarik tangannya kembali.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hami.

“Kau tahu pasti apa yang ku lakukan.” jawabnya. Hami terdiam. Semuanya memang sudah cukup jelas baginya.

“Maukah kau memaafkanku?” tanya Hyukjae.

“Tidak.” Hyukjae terhenyak. Ia tidak menyangka jawaban seperti inilah yang akan dia dapatkan.

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf.” lanjut Hami. Hyukjae tersenyum lega. Dia mulai menggerakan balonnya.

“Hami ssi… Aku…Aku ingin bicara serius denganmu.”

“Baiklah…”

“Saranghaeyo…” ucapnya sembari menyorongkan sebuah cincin yang dia ikatkan pada tali balon-balon itu.

“Ma…maukah kau menerimaku kembali?” ucapnya terbata-bata. tangannya masih lurus menyodorkan cincin itu pada hami. Hami menyodorkan tangannya untuk mengambil cincin itu. Tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh ujung jari Hyukjae.

Hyukjae kaget, tanpa dia sadari dia melepaskan pegangannya pada balon-balon itu. Sehingga membuat cincinnya ikut melayang. Balon-balon itu berhenti di bawah langit-langit. Tapi setinggi apapun mereka melompat hasilnya nihil.

Dengan terengah-engah mereka terduduk di tengah ruangan. Tepat dibawah cincin itu.

“Jadi…?”

“I do…”

2 tahun berlalu, Hami masih tertawa jika mengingat peristiwa itu. Tapi dia kini bahagia, bisa mendapatkan seseorang yang selalu ada untuknya.

Seperti biasa hami mengecek e-mailnya. Hami meminum tehnya sambil menunggu e-mailnya terbuka. Ada banyak sekali pesan yang masuk. Rata2 dari pelanggannya, hami segera membalas semua pesan itu. Dan akhirnya dia menemukan satu pesan. Pesan itu dikirim semalam. Hami ragu untuk membuka pesan itu setelah dia melihat nama pengirimnya.

‘kenapa kau tidak membuka e-mail itu chagi?’ tanya hyuk jae yang sudah berada di belakangnya. Dia memeluk hami dari belakang.

‘bukalah, aku akan menemanimu. Aku tidak akan membacanya.’ ucap hyuk jae. Dia lalu menutup matanya, dan menundukkan kepalanya.

Hami mengklik pesan itu. Hami membacanya perlahan, seakan tidak ingin melewatkan satupun kata2 yang ditulis disana.

Hyuk jae merasakan ada air yang jatuh ke atas tangannya. Dia tahu, itu air mata belahan jiwanya. Dia ingin sekali menghapusnya segera. Tapi dia sudah berjanji akan tetap dalam posisi seperti itu sampai hami membalas pesan itu.

Terdengar suara keyboard ditekan. Hami sedang mengetik sesuatu. Hyuk jae tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang dia ketik.

‘oppa…’ panggil hami.

‘sudah selesaikah?’ tanyanya.

‘ne…’ jawab hami. Hyuk jae melepaskan pelukannya. Di berdiri tegak menatap layar komputer sekarang. Layar komputer masih dipenuhi oleh pesan itu juga balasannya.

Hyuk jae ingin segera pergi dari situ, dia tidak sanggup membacanya. Tapi hami menahannya agar dia tetap berdiri disitu.

 

Sonbaenim…

Setahun ini sudah cukup bagiku untuk memaafkanmu. Aku sudah melupakan semua perlakuanmu padaku dulu. Tapi Kenapa baru sekarang kau mengatakan ini padaku?

Aku benar2 rindu padamu. Aku masih menyayangimu sungguh. Rasa sayang itulah yang membuatku memaafkanmu dengan mudah.

Saranghaneun sonbaenim…

Mianhae… Jeongmal mianhae…

Aku tidak bisa kembali lagi. Kini sudah ada cinta lain yang menungguku. Cinta yang tidak bisa kuabaikan walaupun aku ingin. Cinta yang terus menyinariku walaupun aku bersembunyi dalam kegelapan. Cinta yang terus menemaniku walaupun kusendiri.

Aku tidak bisa berpaling darinya lagi sonbae.

Mianhae…

 

‘chagiya… Benarkah apa yang kau tulis?’ tanya hyuk jae.

Hami mengangguk seraya menatap pria yang telah menyelamatkannya dari kegelapan itu. Hyuk jae mengecup kening istrinya.

‘saranghae…’ ucapnya.

‘nado saranghae..’ jawab hami. Jauh dilubuk hatinya hami menangis. Ditatapnya layar komputer.

‘mianhae sonbaenim… Jeongmal mianhae…’

 
Comments Off on Mianhae part.5

Posted by on October 27, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Mianhae part.3

“Oppa, bagaimana menurutmu? Aku tidak tahan melihat onnie terus-terusan seperti ini.” ucap Hyo Hee. Ini sudah satu bulan sejak Hami putus dengan Young Woon. Dia terus-terusan mengurung diri di dalam kamar. Hami pun sudah mengajukan pengunduran diri ke sekolahnya. Praktis kegiatannya hanya di apartemennya saja. Kibum diam, ia berpikir.

“Bagaimana jika kita pergi piknik?” usulnya.

“Kita bertiga? Oppa, bias-bisa onnie malah kembali ingat si brengsek itu!” ucap Hyo Hee emosi. Dia masih belum bisa memaafkan pria itu.

“Tidak, kita pergi berempat.” jawab Kibum tenang.

“Berempat?” tanya Hyo Hee bingung. Kibum melirik Hyuk Jae yang sedang berdiri tidak jauh dari sana.

“Dengannya?” tanya Hyo Hee tak percaya. Yah… Dia mengakui guru dance nya itu memang keren dan dia masih single. Diapun sangat baik dan hangat. Tapi dia terkenal playboy.

“Tenang saja, hyung itu bukan seorang playboy seperti yang kau kira. Dia memang terlalu baik pada semua orang. Makanya banyak yang salah paham padanya.” jawab Kibum seperti mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya itu.

“Mana bisa aku menyerahkan onnie ku pada lelaki pelit macam dia?” ucap Hyo Hee.

“Yah, siapa yang kau maksud Park Hyo Hee?’ tiba-tiba guru dance nya itu sudah berada dibelakangnya.

“Gyaaa… Oppa! Sejak kapan kau berada disitu?” tanya Hyo Hee kaget.

“Sejak kau bilang pelit.” jawabnya.

“Jadi, apa yang kalian rencanakan?” tanya hyuk jae. Hyo Hee melirik Kibum, dia menganggukan kepalanya.

Hyo Hee lalu menceritakan tentang onnienya. Bagaimana onnienya mendapatkan cinta pertamanya dan ternyata dia dilukai sampai begitu dalam oleh cinta pertamanya. Juga bagaimana keadaan onnienya saat ini yang membuat Hyo Hee prihatin.

Hyuk Jae merasa iba pada gadis yang diceritakan muridnya itu.

“Oppa, bisakah kau menjadi cahaya baginya?” tanya Hyo Hee.

“Hyung, cobalah bertemu dia sekali saja, dan berkenalan dengannya. Siapa tahu kalian cocok.” ucap Kibum.

“Hh… Baiklah aku akan mencoba berkenalan dengannya. Tapi aku tidak bisa janjikan kalian apa-apa. Semua tergantung pada onnie mu.” jawabnya.

“Tidak apa-apa Hyung, setidaknya kita mencoba.” ucap Kibum.

“Ke pantai?”

“Ne, Onnie… Onnie mau kan? Mau ya? Aku baru kali ini pergi dengan Kibum oppa, tapi kakaknya pasti ingin ikut. Mereka memang hanya tinggal berdua disini, jadi kakaknya tidak mau lepas dari Kibum oppa. Aku kan tidak enak jika kami cuma jalan bertiga…” ucap Hyo Hee.

“Ajak saja pacar kakaknya itu.” ucap hami. Dia sebenarnya merasa malas harus pergi ke tempat ramai, apalagi bersama orang asing.

“Itu dia. Hyuk Jae oppa belum punya pacar. Makanya dia sering mengganggu kami.” jawab Hyo Hee.

“Mau ya Onnie? Ya? Ya?” bujuk Hyo Hee lagi.

Hami menarik nafas panjang.

“Hm… Baiklah…” jawab Hami akhirnya. Hyo Hee tersenyum girang.

“Yeeee…!! Gomawo Onnie…” ucapnya seraya menghambur ke dalam pelukan Hami.

Pagi-pagi sekali Hami dan Hyo Hee sudah bangun. Mereka sibuk mempersiapkan perbekalan untuk ke pantai.

“Apa kita akan dijemput?” tanya Hami. Dia sedang memotong-motong kimbap sekarang.

“Tidak Onnie, kita akan bertemu mereka di cafe di depan.” jawab Hyo Hee. Dia merasa senang karena Hami mulai antusias dengan acara piknik mereka.

Pukul 9 mereka sudah berada di cafe itu. Hami memesan es jeruk, sementara Hyo Hee memesan es kopi. Tak lama kemudian seorang pria menghampiri mereka. Pria itu mengecat rambutnya menjadi agak pirang. Otot-otot tangannya terlihat di balik t-shirt yang dia kenakan. Pria itu lalu melambai pada mereka. Hyo hee membalas lambaian pria itu seraya tersenyum riang.

“Onnie, kenalkan ini Lee Hyuk Jae ssi. Dia guru dance ku.” ucap Hyo Hee saat Hyuk Jae sudah ada dihadapannya.

“Jung Hami imnida…’ ucap Hami. Hami lalu bangkit dan duduk di samping Hyo Hee. Secara otomatis Hyuk Jae duduk di hadapan mereka.

“Oppa, mana Kibum oppa?’ tanya Hyo Hee.

“Tadi dia kusuruh beli minuman dulu. Sebentar lagi juga datang.” jawabnya. Tapi tak lama kemudian orang yang dibicarakan datang.

“Mianhae. Aku terlambat.” ucap Kibum.

“Oppa, kenalkan, ini onnie ku.” ucap Hyo Hee.

“Kibum imnida.” ucap Kibum seraya membungkukkan sedikit badannya.

“Oh… Jadi ini pacarmu?” Tanya Hami. Hyo Hee menunduk malu.

“Yasudah, karena sudah berkumpul ayo kita berangkat!’ ajak Hyuk Jae.

Mereka segera berdiri. Dan melangkah menuju mobil Hyuk Jae yang diparkir di luar.

“Onnie, Onnie duduk di depan ya.” bisik Hyo Hee seraya mengedipkan sebelah matanya pada Hami.

“Ne…” ucap Hami malas-malasan. Dia pun duduk disamping Hyuk Jae.

“Baiklah, kaja!” ucap Hyuk Jae bersemangat. Dia lalu menstarter mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju pantai.

Sepanjang jalan Hyo Hee, Kibum, dan Hyuk Jae sangat bersemangat. Mereka terus saja bernyanyi. berbeda dengan Hami. Dia hanya diam dan menatap keluar jendela. Terkadang dia tertawa, yang Hyo Hee tangkap hanya topeng dari luka di hatinya.

Dia menyikut Kibum, tapi Kibum hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hyuk Jae hanya tertawa melihat tingkah adik-adiknya dari kaca spion.

“Hami ssi, kudengar kau pernah mengajar.” ucap Hyuk Jae mencoba memancing pembicaraan.

“Ne… Aku sempat mengajar selama 2 tahun.” jawabnya.

“Jinca? Apa yang kau ajarkan?” tanya Hyuk Jae.

“Aku mengajarkan bagaimana cara mendengarkan.” jawab Hami singkat.

“Guru konseling?” tebak Hyuk Jae.

“Ne..” lagi-lagi mereka terdiam. Hyo hee memberikan tanda jangan-bicarakan-itu dari kursi belakang. Hyuk Jae hanya tertawa. Untunglah mereka sudah sampai.

“Huuaaaaa…. Pantainya indah sekali!!” teriak Hyo Hee. Dia dan Kibum segera berlari menuju laut dan bermain air. Hami hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya itu.

“Biar kubantu.” ucapnya pada Hyuk Jae yang sedang mengeluarkan perlengkapan piknik mereka. Hami lalu membawa keranjang makanan dan Hyuk Jae membawa tikar untuk mereka duduk dan cooler box. Mereka mencari tempat yang cukup teduh dan menggelar tikar disana.

Hami segera duduk, lagi-lagi dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Hyuk Jae lalu mengeluarkan minuman dari  cooler box.

“Ini.’ ucapnya seraya menyodorkan sekaleng soft drink pada hami. Hami tersadar dari lamunannya dan menerima soft drink itu.

“Kuperhatikan dari tadi kau jarang sekali bicara.” ucap Hyuk Jae. Dia membuka minumannya dan meneguknya.

“Ayo, kita main bersama mereka.” ajak Hyuk Jae. Dia menaruh kaleng minumannya dan berlari menuju laut. Tapi Hami tidak bergerak dari tempatnya. Hyuk Jae berhenti, dia berbalik dan menarik Hami.

“Ayolah…” ucapnya. Mereka berlari bersama. Hyuk Jae tidak melepaskan genggamannya sampai mereka tiba di bibir pantai.

“Onnie..!!” panggil Hyo Hee, Hami berbalik, dan Hyo Hee menyiramnya dengan air.

“Aish… Awas kau!!” Hami mengejar Hyo Hee untuk membalasnya. Sementara Kibum dan Hyuk Jae tertawa senang karena mereka sudah berhasil membuat Hami tertawa. Setidaknya untuk saat ini.

Hyuk jae melirik spionnya, adik-adiknya sudah tertidur di kursi belakang. Kibum menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, sedangkan Hyo Hee menyandarkan kepalanya pada bahu Kibum. Hyuk Jae lalu melirik wanita disebelahnya, dia masih terjaga.

“Kau tidak mangantuk Hami ssi?” tanyanya.

“Aku tidak bisa tidur jika yang lain tidur. Tidak ada yang menemanimu.” ucapnya. Hyuk Jae tersenyum.

“Tidak apa-apa, tidur saja. Kau pasti lelah.” ucapnya.

“Aku tidak mengantuk.” jawab Hami.

“Apa kau sering tidur malam?” tanya Hyuk Jae.

“Kadang-kadang.”

“Hami ssi, apa kau suka menari?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba. Hami membenarkan posisi duduknya, sekarang ia menghadap pria itu.

“Bagaimana jika lusa kau datang ke studioku?”

“Tidak usah terburu-buru, lihat saja bagaimana sepupumu itu menari.” lanjut Hyuk Jae. Hami terdiam.

“Bagaimana?” tanya Hyuk Jae lagi.

“Baiklah.” jawab Hami singkat. Hyuk Jae tersenyum senang.

Dia melirik pada gadis itu lagi, tapi gadis itu sudah tidak menatapnya. Dia terus menerus menatap keluar jendela.

“Apa ada yang begitu menarik diluar sana sampai-sampai kau tidak menghiraukan namja tampan disampingmu ini?” tanya Hyuk Jae. Hami mengalihkan pandangan padanya lalu tertawa.

“Tidak kusangka, ternyata kau playboy juga.” ucapnya. Hyuk Jae tersenyum.

“Kau lebih terlihat manis jika tertawa seperti itu.” ucapnya. Hami merasa wajahnya panas. Dia mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi. Hyuk Jae lalu meminggirkan mobilnya.

“Kenapa berhenti?” tanya Hami.

“Aku lelah. Kita istirahat sebentar disini ya?” ucap Hyuk Jae. Dia lalu keluar dari mobil dan meregangkan badanya. Hami mengikutinya keluar.

“Anginnya kencang, masuklah.” ucap Hyuk Jae. Tapi gadis itu menggeleng.

“Menatap langit malam membuatku tenang.” ucapnya. Dia menatap langit diatasnya, Hyuk Jae mengikutinya.

“Apa kau suka kegelapan?” tanya Hyuk Jae.

“Ya. Mereka membuatku tenang.” jawab Hami tanpa menatapnya.

“Tapi kau membutuhkan cahaya untuk melihat.” ucap Hyuk Jae. Hami tersenyum sinis, baginya tidak ada lagi cahaya sekarang.

“Sepertinya kau juga suka menyendiri.” ucap Hyuk Jae lagi.

“Ne, aku menyukai ketenangan.” jawab Hami.

“Sesekali keluarlah dari kotakmu. Dan kau akan mendapati bagaimana indahnya dunia.” ucap Hyuk Jae.

“Mari masuk, kita pulang.” lanjutnya seraya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan hami dalam kebingungan.

Hyuk Jae menunggu kedatangan gadis itu. Gadis itu begitu dingin kemarin dia tidak yakin gadis itu akan menepati janjinya.

“Oppa, kami semua sudah berkumpul. Apa yang kau tunggu? Ayo mulai latihannya.” bisik Hyo Hee. Hyuk Jae tersadar dari lamunannya.

“Ne.. Ayo semua ambil posisi…” ucap Hyuk Jae. Dia lalu memimpin latihan seperti biasa.

Kibum menunggu Hyo Hee diluar studio seperti biasa. Kuliahnya selesai lebih cepat hari ini, dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya ketika ada orang yang menyapanya.

“Annyeong…” Kibum mengangkat wajahnya.

“Ah, Noona?” ucapnya kaget. Hami hanya tersenyum.

“Noona mau menjemput Hyo Hee?” tanya Kibum setelah dia berhasil mengatasi kekagetannya.

“Tidak, aku hanya ingin melihatnya menari.” jawabnya.

“Ah….” Kibum mengangguk paham. Dia ingat cerita kakaknya semalam.

“Silakan duduk Noona.’ ucap Kibum lagi. Dia lalu berdiri dan mengambilkan Hami kursi di dekatnya.

“Ne, gomawo.’

“Noona ingin melihat kedalam? Masuklah, tidak apa-apa” ucap Kibum.

“Anio… Aku disini saja, aku takut mengganggu mereka.” tolak Hami.

“Bukankah Noona datang kesini untuk melihat tarian Hyo Hee?’ ucap Kibum lagi.

“Ayo masuklah.” ajaknya lagi. Hami mengangguk. Mereka lalu mengintip dari pintu masuk.

Awalnya Hami memang memperhatikan Hyo Hee, tapi entah mengapa matanya tertarik untuk melihat sosok yang menari dengan penuh penjiwaan di barisan paling depan. Gerak tubuhnya sangat indah, seolah-olah tidak ada beban. Gerakannya mengalir begitu saja.

Hami terpesona dengan pemandangan itu. Dia tetap diam ditempatnya, tanpa ia sadari waktu berlalu.

“Onnie…!” tiba-tiba Hyo Hee sudah menghambur ke dalam pelukannya.

“Kenapa Onnie tiba-tiba datang?” tanya Hyo Hee.

“A..a..aku ingin melihatmu menari.” jawab Hami gugup.

Hyuk jae tersenyum lalu mengelap keringatnya dan meneguk minumannya.

“Lalu, apakah menurutmu tarianku bagus?” tanya Hyo Hee lagi. Hami mengangkat kedua jempolnya.

“Gomawo onnie..” jawabnya girang.

“Annyeong…” Hyo Hee berbalik, didapatinya Hyuk Jae dan Kibum sudah berada dihadapannya.

“Annyeong..” jawab Hami sopan.

“Kau datang juga.” ucap Hyuk Jae lagi. Hami hanya tersenyum.

“Bagaimana jika kau mencobanya sesekali?” ajak Hyuk Jae. Tapi lagi-lagi Hami hanya tersenyum.

“Onnie, aku ganti baju dulu ya.” ucap Hyo Hee. Dia lalu memberi tanda pada Kibum untuk pergi juga. Kibum mengangguk, tak lama setelah Hyo Hee beranjak diapun ikut pergi.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Hyuk Jae tiba-tiba.

“Apanya?” tanyanya

“Tarian Hyo Hee tentu saja.”

“Aku tidak begitu mengerti, tapi kurasa tariannya bagus.” jawabnya.

“Ya, dia memang punya bakat.”

“Bakatnya terasah karenamu juga Hyuk Jae ssi.” ucap Hami tiba-tiba. Hyuk Jae kaget. Dia tidak menyangka akan mendapat pujian seperti itu darinya.

“Ah… Bisa saja.” ucapnya seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Tarianmu memang bagus.” ucap Hami lagi.

“Jinca?” Hami mengangguk.

Hyuk Jae mengangkat wajahnya. Dia sangat tidak menyangka Hami akan memujinya sampai seperti ini. Tapi Hami masih tetap tanpa ekspresi.

Hyuk Jae merasakan hal yang aneh menyelusup ke dalam hatinya. Cerita Hyo Hee beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya. Dan tiba-tiba saja hatinya memintanya untuk membuat gadis itu sembuh seperti sedia kala.

“Hayoo… Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali?” tanya Hyo Hee yang tiba-tiba saja datang.

Hami hanya tersenyum, Hyuk Jae nyengir kuda.

“Onnie, aku dan Kibum oppa akan makan burger. Onnie mau ikut? Oppa juga ikut saja, biar ramai…” ucap Hyo Hee, dia lalu mengedipkan sebelah matanya pada Hyuk Jae.

“Mmh…lebih baik aku pulang saja. Nanti aku malah mengganggu kalian.” tolak Hami halus.

“Lebih baik kita ikut saja. Apa kau tidak khawatir pada adikmu ini? Pergaulan remaja sekarang kan sangat rentan.” ucap Hyuk Jae. Hyo Hee berusaha keras menahan tawanya saat itu. Dia tidak menyangka guru dancenya yang cuek bisa bicara seperti itu.

“Hm… Baiklah kalau begitu, aku ikut.” ucap Hami akhirnya.

“Ok, kalau begitu aku ganti baju dulu.” ucap Hyuk Jae. Dia lalu berjalan santai menuju ruang ganti. Mata Hami tak lepas dari sosoknya sampai dia berbelok. Hyo Hee menyadari itu, namun dia hanya tersenyum simpul. Dia hanya berharap guru dancenya itu bisa menyembuhkan Hami seperti semula.

Tak lama Hyuk Jae sudah menghampiri mereka kembali.

“Kaja!” ajaknya. Mereka bertiga mengikuti Hyuk jae menuju mobilnya.

“Onnie…” sahut Hyo Hee manja.

“Ne…” jawab Hami seakan sudah mengerti apa yang dipikirkan oleh adik sepupunya itu. Hami lalu duduk di sebelah Hyuk Jae, tanpa dia sadari ketiga orang lainnya tersenyum karena itu.

“Oh, jadi kau penggemar mereka juga?” sahut Hyuk Jae. Mereka sedang asyik makan burger. Masing-masing memegang sebuah burger di tangannya, tapi 2 untuk Hyuk Jae. Perutnya tidak akan kenyang jika hanya diisi oleh satu buah burger.

“Ne…” jawab Hami.

“Mereka memang keren! Tapi aku tak menyangka Hami ssi bisa menyukai aliran musik seperti itu” ucap Hyuk Jae lagi. Dia melahap burgernya. Hyo Hee dan Kibum terpana menyaksikan kelihaian Hyuk Jae dalam membuka pembicaraan. Sekarang Hyo Hee mengerti mengapa julukan cassanova melekat padanya.

“Aku menyukai lirik-lirik yang mereka buat.” jawab Hami lagi.

“Yaya, makna dari lagunya memang sangat dalam.”

“Ah, jika mereka konser disini, bagaimana jika kita pergi bersama?” ajak Hyuk Jae spontan.

“Boleh…” jawab Hami. Dia merasakan ada satu kecocokan dirinya dan Hyuk Jae. Tapi Hami masih belum berpikir sampai sejauh itu. Bayangan Young Woon masih sering menghantuinya.

-will continuing asap-

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2010 in fanfiction

 

Tags: , ,

My Story

“Hyukjae-ah… Donghae-ah… Ayo cepat turun, nanti kalian terlambat..!!” terdengar teriakan omma dari ruang makan.

“Ne..” jawab kami serempak. Donghae berlari mendahuluiku dari dalam kamar. Aku segera menyusulnya.

“Kalian ini, sampai kapan kalian mau seperti ini terus. Selalu terburu-buru saat sarapan. Sebentar lagi kalian masuk SMP, masa mau terlambat terus?” ceramah omma. Kami hanya memamerkan gigi kami, meminum susu dengan cepat dan melesat pergi.

Setiap pagi aku dan donghae selalu berlomba untuk sampai di sekolah lebih dulu.

“Hyukie… Aku duluan ya… Jangan sampai dihukum…” ucap Donghae. Cih, kami ini kembar tapi kenapa dia lari lebih cepat daripada aku?

Saat aku tiba di kelas, Lee Sonsaengnim baru saja masuk. Aku berpikir cepat. Aha!

Aku membuka pintu.

“Lee Hyukjae, kau terlambat!’ ucapnya.

“Mianhamnida… Tapi tadi sebelum ke kelas aku ke toilet Sonsaeng. Aku membersihkan bajuku. Tadi aku membantu seorang nenek, kantong yang dia bawa sobek, jadi jeruk-jeruk nya terjatuh. Aku lalu membawanya dengan bajuku.” jawabku.

“Ini buktinya.” lanjutku seraya menunjuk bajuku yang basah.

“Aish… Kau itu. Yasudah, yasudah, duduk sana.’

“Gamsahamnida…” ucapku. Donghae menatapku tak percaya karena bisa lolos dari hukuman Lee sonsaengnim yang terkenal sangat disiplin.

“Wow…” ucap Donghae pelan

*

4 tahun berlalu. Aku dan Donghae sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan sekarang. Kami baru beberapa bulan saja merasakan sebagai murid SMA. Tapi biarpun kembar, sepertinya semakin hari kami semakin tidak mirip saja.

Kulitku putih seperti susu, dia agak kecoklatan. Aku juga lebih tinggi darinya beberapa senti, tapi badannya lebih besar dari ku. Dan dia lebih pandai memikat hati wanita daripada aku…

PLAAKK!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku.

“Wae?!” tanyaku kaget, seorang gadis berdiri dihadapanku. Dia membawa sekotak barang-barang di tangannya.

“Bilang pada adikmu. Aku minta putus! Ini semua hadiah darinya! Ku kembalikan! Dan jangan harap aku akan kembali!” ucap gadis itu. Dia lalu berlari, aku pikir dia menangis.

Aish… Perih juga tamparannya. Pipiku terasa panas. Aku mengelus-elus pipiku.

“Hyukie, sudah berapa banyak korban dari saudaramu?” tanya Hami, teman baikku. Dia satu-satunya teman cewekku di dunia. Dan yah… Diapun tidak bisa kusebut cewek tulen… Hami sangat tomboy. Jarang sekali, tidak, tidak, aku tidak pernah melihatnya menggunakan rok selain ke sekolah. Rambutnya selalu dia kuncir kuda. Tidak pernah kulihat dia berdandan macam-macam. Dia sangat dingin, komentarnya selalu menusuk. Dan dia tidak takut pada apapun.

Kami sama-sama ikut club basket. Dan dia yang mengajariku bagaimana caranya dunk. Karena itulah aku yakin, biarpun dia dingin diluar tapi hangat di dalam. Kalian tahu? Dia selalu memberiku susu strawberry kesukaan ku jika aku sedang sedih^^

“Molla…” jawabku, karena aku benar-benar tidak tahu. Ini Sudah kesekian kalinya korban-korban Donghae menamparku.

“Hh… Yang dicium-cium Donghae, kenapa yang ditampar aku?? Walaupun kami kembar, wajah kamipun tidak terlalu mirip! Lalu mengapa mereka semua menyalahkanku??” umpatku dalam hati.

“Mau sampai kapan kau terus-terusan dimanfaatkan cewek-cewek itu?” tanya Hami lagi. Aku hanya memandangi bola basketku. Ruangan olahraga sudah kosong, hanya tinggal aku dan Hami. Untunglah, setidaknya aku tidak akan ditertawai lagi oleh sonbae di club karena kejadian tadi.

Aku mengingat lagi berbagai kejadian sejak kami masuk SMP. Donghae segera menjadi idola. Dia masuk club atletik dan jadi pelari unggulan disana. Segera saja dia digemari para gadis. Ditambah lagi Donghae sangat supel. Dia terbuka pada setiap orang. Dan sifatnya yang gentle, makin membuat gadis-gadis suka padanya.

Aku? Aku hanya tertarik pada tarian. Sayangnya di sekolahku tidak ada club khusus untuk itu. Aku ikut geng b-boy diluar sekolah, tapi karena nilaiku terus menurun gara-gara itu omma dan appa melarangku untuk menari. Akhirnya aku tidak pernah benar-benar dikenal orang. Mereka hanya mengenalku dengan nama, saudara kembar Donghae.

Masuk kelas 2, Donghae segera punya pacar. Tapi terlalu banyak yang suka padanya, (atau terlalu banyak yang dia sukai?) sehingga dia sering sekali gonta-ganti pacar. Setiap kali ketahuan berselingkuh, Donghae selalu bersembunyi. Jadilah aku yang selalu kena sasaran gadis-gadis marah itu.

Ditampar sudah sangat biasa kurasakan, disiram minuman, tulang keringku ditendang, bahkan menemani gadis-gadis yang menangis dan bercerita panjang lebar soal Donghae sudah seperti pekerjaanku.

“Aku sudah biasa.” jawabku lesu. Apa yang bisa kuperbuat pada gadis-gadis marah itu?

“Hh…” Hami menghela nafas. Ya, aku tahu dia sudah lelah dengan sifatku yang selalu mengalah, kelewat sabar, terlalu polos yang dia singkat menjadi BODOH.

*

Aku menaruh tasku diatas meja belajar. Donghae masih memetik gitar diatas ranjangnya. Kami satu kamar. Dia tidur diatas, aku dibawah.

“Buat lagu untuk bandmu lagi Hae?’ tanyaku.

“Ne, Yesung hyung sudah menagih.” jawabnya dia masih sibuk dengan gitarnya. Semenjak masuk SMA dia di rekrut untuk menjadi gitaris di band Yesung hyung, Sonbae kami sejak SMP. Dia melihat Donghae cukup bisa memainkan gitar dan tentu saja kepopulerannya diantara para gadislah yang paling penting.

“Hyukie, bisakah kau membuatkan lirik untuk lagu ini?” tanya Hae. Setelah Yesung hyung membawakan lagu yang iseng kami ciptakan, dan ternyata malah jadi populer, dia mulai meminta Donghae untuk terus menciptakan lagu untuk band mereka.

“Hah? Lagi?” tanyaku.

“Ne… Lirik buatanmu sangat bagus. Kau punya bakat.” ucapnya. Donghae menatapku, matanya bersinar-sinar, penuh kekaguman pada kembarannya ini. Haha, dasar, dia memang tahu kelemahanku. Aku paling tidak tahan jika dipuji.

Aku naik keatas ranjangku dan mengacak-acak rambutnya.

“Ayolah hyung… Buatkan lirik untukku ya…” pintanya. Matanya memelas. Aigoo.. Anak ini benar-benar….

“Sekarang aku tahu, mengapa gadis-gadis itu selalu luluh padamu walaupun mereka tahu kau seorang playboy.” ucapku seraya menjitak kepalanya.

tapi dia malah tersenyum

“Itulah keahlianku.” jawabnya. Dia berbalik mencubit pipiku.

Yah, inilah kami jika sedang di rumah. Sangat berbeda 180 derajat dengan disekolah. Kelas kami berbeda jadi kami jarang sekali saling mengganggu. Dia sibuk dengan teman-temannya, akupun sibuk dengan teman-temanku.

“Coba mainkan lagunya.” ucapku. Dia lalu memetik gitarnya dan mulai bersenandung. Aku mendengarkannya, seraya menutup mataku. Siapapun akan luluh mendengar nyayiannya. Omma, appa, kalian sungguh beruntung memiliki kami!

Aku membuka mataku.

“Sudah kau dapatkan?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku melompat dari ranjangku dan menuju meja belajar. Aku mulai menulis lirik yang dimintanya, dan dia terus memainkan gitarnya.

Aku dan adikku adalah satu. Kami saling melengkapi. Kami tidak pernah menguasai 1 hal yang sama. Contohnya saja di musik, dia pandai membuat lagu, liriknya? Itu bagianku. Dia pandai berenang, dari kecil dia sangat suka laut. Tapi aku? Aku pandai main ski. Disaat darurat, dia bisa lari dengan cepat. Aku? Otakku berpikir cepat untuk mengeluarkanku dari bahaya. Jadi kalian mengerti kan bagaimana hebatnya jika kami bersatu?

*

“Hyukie, kau suka padanya?” tanya Donghae suatu hari. Dia menunjuk seorang gadis yang sedang membayar makanannya di kasir. Kami sedang di restoran siap saji sekarang. Kami beristirahat setelah Donghae mengajakku berkeliling mall untuk membeli pakaian yang akan dia pakai saat perform nanti.

Aku segera mengidentifikasinya sebagai Hyujin, teman sekelasku. Dia sangat manis, rambutnya lurus dan panjang yang selalu ia biarkan tergerai. Dia sangat baik, tipe idamanku.

“Dugaanku tepatkan?” ucap Donghae lagi. Tapi aku hanya diam.

“Ahahahaha… Hyukie, kau sangat mudah dibaca! Lihat! Mukamu memerah!” ucapnya. Dan akupun mulai merasakan wajahku panas karenanya. Kulihat Donghae melambaikan tangan padanya. Hyujin tersenyum. Dia menghampiri kami.

“Kau sendirian kan? Gabung saja disini.” ucap Donghae. Aish… Apa dia tidak tahu kepalaku hampir meledak karena ini?

“Bolehkah?” tanya Hyujin dari pinggir meja. Dia masih memegang baki makanannya.

“Tentu saja. Benar kan Hyukie?” tanya Donghae, dia mengedipkan matanya padaku.

“Ne.. Tentu saja.” jawabku gugup. Donghae sangat jail. Dia malah menyuruhnya agar duduk disebelahku.

Ok, aku benar-benar gugup sekarang.

Donghae mengajaknya mengobrol, aku lebih banyak diam dan hanya mengiyakan jika Donghae meminta dukunganku.

“Aku tidak menyangka kau pandai membuat lirik lagu.” ucapnya ketika kami berjalan pulang. Aku mengantarnya pulang ke rumah karena langit sudah gelap, sedangkan Donghae harus berlatih lagi bersama bandnya. Yaya, aku tahu, ini hanya siasat Donghae saja agar aku bisa berduaan dengannya.

“Yah, begitulah.” ucapku seraya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal.

“Kamu grogi.” ucapnya dia tertawa.

“Kamu selalu begitu saat grogi.” ucapnya lagi.

Eh? Bagaimana dia tahu?

“Apa kamu tidak sadar jika aku selalu memperhatikanmu?” tanyanya. Wajahnya mendekat padaku. Biarpun diliat sedekat ini, dia masih tetap terlihat cantik. Aku menggelengkan kepalaku.

Dia menjauhkan wajahnya dan berjalan mundur.

“Baiklah, ini rumahku.” ucapnya seraya tersenyum lebar.

“Ne… Masuklah..” ucapku. Lagi-lagi dia tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku.

“Saranghaeyo…” bisiknya lembut dan mencium pipiku. Angin musim gugur sangat diingin. Tapi wajahku terasa sangat panas sekarang.

Dia mengedipkan matanya nakal. Dan melangkah masuk menuju rumahnya.

“Hyukjae, kau tidak bisa membiarkannya! Panggil dia! Panggil dia!” batinku.

“Hyujin-ah..!” panggilku.

“Saranghaeyo…” ucapku. Aku membentuk tanda hati dengan meletakkan ujung jariku diatas puncak kepalaku.

Dia berbalik dan tersenyum.

“Oppa, sampai besok.” ucapnya dan berlari masuk kedalam rumahnya.

Haha, akhirnya aku punya pacar!!

*

“Wah… Selamat ya! Akhirnya kau bisa punya pacar juga!” ucap Hami. Aku baru saja bercerita padanya bagaimana beruntungnya aku kemarin.

“Hehehe…’

“Dasar kau!” dia mengacak-acak rambutku yang basah oleh keringat saat latihan tadi. Itu yang selalu dia lakukan jika dia bangga padaku. Hami anak tunggal, dan sepertinya dia menganggapku sebagai dongsaengnya. Walaupun sebenarnya aku lebih tua beberapa bulan darinya.

“Oppa…’ tiba-tiba sebuah suara yang sudah ku kenal memanggilku. Aku mencari sumber suara, ternyat Hyujin. Dia memanggilku dari pintu gedung olahraga.

“Tuh, pacarmu manggil.” ucap Hami.

“Aku duluan.” ucapnya cuek. Ia membereskan tasnya dan pergi.

Hyujin menghampiriku.

“Ini untukmu.” ucapnya seraya menyodorkan sebotol air mineral padaku.

“Gomawo…” ucapku. Dia tersenyum.

“Apa kau masih merasa aneh denganku?” tanyanya tiba-tiba seolah-olah bisa membaca pikiranku. Aku mengangguk cepat sambil menatapnya.

“Kau memang polos.” ucapnya. Aku meletakkan botol minumanku.

“Apa kau ingat saat kau menolongku dari Park sonsaengnim dengan kecerdasanmu?” tanyanya, tapi aku menggeleng. Aku benar-benar tidak ingat kapan itu terjadi. Dia tersenyum lagi.

“Sejak saat itu aku mulai kagum padamu. Kau benar-benar cerdas, tapi sangat rendah hati.” ucapnya lagi. Matanya yang indah menatapku. Aku tehipnotis oleh matanya, dan wajah kamipun mendekat. Dia lalu menutup matanya. Aku baru tahu, bulu matanya sangat panjang dan lentik. Tanpa sadar aku mengecup bibirnya lembut. Ciuman pertamaku, hanya beberapa detik saja.

*

“Apa?! Kau sudah menciumnya?!” teriak Donghae. Aku masih menundukkan kepalaku diatas meja dan menutupinya dengan tangan. Aku mengangguk pelan. Wajahku terasa sangat panas mengingat kejadian tadi. Oh… Sepertinya aku akan demam!

“Hahahahaha….. Kau memang hyungku!” teriak Donghae. Sepertinya dia sangat girang karena aku berhasil melakukannya dengan gadis yang kusuka.

“Bagaimana? Bagaimana kelanjutannya?” tanyanya penuh semangat.

“Kami pulang.” jawabku.

“Sudah? Hanya itu?” aku mengangguk lagi. Mukaku masih menempel di meja belajar.

“Kau hanya menciumnya saja?! Ciuman singkat!? Hanya beberapa detik?!”

“Yah! Memangnya apa yang kau harapkan? Kami baru berpacaran kemarin!” bentakku. Tiba-tiba saja dia melemparkan bantalnya tepat mengenai wajahku.

“Dasar anak Tuhan!” ucapnya. Dia lalu menarik selimutnya dan tidur.

Yah… Satu lagi julukanku, si anak Tuhan. Karena aku rajin ke gereja, dan selalu mengikuti perintah-Nya. Sedangkan dia? Silakan tebak sendiri.

*

Sudah 6 bulan berlalu sejak saat itu, sebentar lagi kami akan menghadapi ujian semester. Aku masih bersama Hyujin tentu saja. Hubungan kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah yang serius yang mengganggu kami. Kami sering belajar bersama. Kadang kami belajar di rumahnya, kadang dirumahku. Dengan Donghae tentu saja.

Hyujin dan Donghae sudah semakin akrab. Kadang kami pergi bertiga. Tentu saja aku tidak pernah keberatan atau cemburu. Karena Donghae adikku, adik kembarku.

“Hyujin, Hyujin… Apa kau mendengarku?” tanyaku di telpon.

“Ne… Oppa mianhae… kepalaku pusing. Aku tidak bisa konsentrasi mendengarkanmu.” ucapnya.

“Aigo… Kenapa kamu tidak bilang? Yasudah istirahat saja sana. Jangan lupa minum obat” ucapku. Aku lalu menutup telponku.

“Kau bertengkar dengan hyujin?” tanya Donghae yang baru saja masuk kamar. Dia memegang keripik kentang di tangannya. Dia lalu duduk di kursi belajar dan mulai memakan camilannya.

“Ani..” jawabku.

“Lalu itu? Biasanya jika sudah menelpon, kalian akan bicara lama sekali.” ucap Donghae.

“Entahlah. Beberapa hari ini dia sering melamun jika sedang bersamaku.” jawabku. Donghae mendengarkanku dengan serius.

“Tapi dia tidak pernah bercerita padaku ada apa sebenarnya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Jika kau bertanya, apa jawabannya?” tanya Donghae.

“Pusing, belum makan, atau sedang mengingat janji.” jawabku.

“Hahahaha… Itu sih jawabanku jika aku sedang mengincar perempuan lain.” jawab Donghae cuek.

“Yah! Dia itu tidak sepertimu! Dasar playboy!”

“Hyung… Mianhe…” ucapnya. Entah mengapa, dari dulu hanya satu yang Donghae takuti, melihat kemarahanku.

Melihat matanya hatiku tenang kembali.

“Benar Hyukie, percayalah pada Hyujin. Dia bukan perempuan seperti itu.” batinku.

*

Aku melemparkan bola basket dengan kekuatan penuh ke arah ring. Bola itu terpental jauh. Aku berlari mengejarnya, dan melemparnya kembali. Tapi tetap saja aku tidak bisa memasukannya.

Aku sudah lelah, akhirnya aku terduduk di pinggir lapangan basket. Nafasku masih tersengal-sengal, entah karena main basket atau karena kemarahanku yang belum reda.

Ini sudah malam, lapangan itu kosong. Bahkan disekitarnyapun sudah sepi. Lapangan ini adalah tempat rahasiaku. Jika sedang tidak ingin diganggu aku akan pergi kesini dan menari. Tapi saat ini aku tidak ingin menari.

“Kau tidak akan bisa memasukan bolanya dengan kekuatan seperti itu.” Tiba-tiba saja sekotak susu strawberry sudah ada dihadapanku. Aku melihat siapa si pemilik tangan yang memberikan susu itu.

“Kau?” itulah reaksiku saat kulihat Hami disana.

“Wae? Siapa yang kau harapkan?” tanyanya dingin. Aku mengambil susu strawberrynya.

“Bagaimana kau tahu aku ada disini” tanyaku seraya menyeruput strawberry milk milikku.

“Mmh… Sepertinya pernah ada seseorang yang mengajakku bermain disini.” jawabnya serius. Aku tahu ekspresi itu dibuat-buat, karena akulah orang yang dia maksudkan itu.

“Ah… Mianhae aku lupa.” ucapku. Aku terkekeh karena kebodohanku.

“Tadinya aku khawatir kau tidak bisa tertawa lagi. Tapi sepertinya kau baik-baik saja.” ucapnya ia lalu beranjak pergi, aku menarik tangannya dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Dia menurut tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Ada apa?” tanyanya kemudian, membuatku teringat lagi tentang dia, hyujin.

*

_Flash back_

Kami pulang seperti biasa. Ini hari terakhir ujian, aku sangat lega bisa menyelesaikan semua ujiannya dengan baik. Sepanjang jalan aku terus saja tersenyum. Tapi sepertinya tidak dengan Hyujin.

“Hyujin-ah, gwencana?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. Sedari tadi dia terus saja menundukkan kepalanya. Tapi tak lama kemudian air mata mulai jatuh dari mata indahnya.

Omo, apa aku membuat kesalahan?

“Hyujin-ah… Ada apa? Apa kau sakit?” tanyaku hati-hati. Dia menggeleng. Aku memeluknya, mencoba menenangkannya. Tapi tangisannya malah semakin menjadi2.

Tiba-tiba dia melepaskan pelukanku.

“Oppa…mianhae…” ucapnya. Suaranya serak karena tangisan.

“Gwencana.” ucapku. Dia lalu menggeleng. Apa aku salah lagi mengartikan ucapannya?

“Oppa… Oppa sangat baik…” ucapnya tersedu-sedu. Yaya, aku tahu. Ribuan kali kau bicara seperti itu padaku.

“Mianhae oppa… Jeongmal mianhae… Lebih baik kita putus saja…” ucapnya dalam tangisannya.

“Hyukie, tarik nafas. Kau harus tenang…” batinku.

“Tapi kenapa?” tanyaku. Aku benar-benar berusaha agar suaraku tidak terdengar gemetaran.

“Aku…aku…aku mencintai orang lain…” ucapnya. Air mata kembali membanjiri pipinya yang putih.

“Mianhae…mianhae…” ucapnya.

“Ta…tapi…siapa dia?” tanyaku. Kakiku mulai terasa lemas sekarang.

“Aku sungguh tidak ingin mengkhianatimu oppa. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.” ucapnya lagi.

“Hyujin ah… Siapa dia?” tanyaku lagi.

“Aku…aku sudah berusaha untuk tidak menghiraukannya tapi tidak bisa..”

“SIAPA DIA?!” bentakku. Hyujin kaget, selama ini belum pernah sekalipun aku membentaknya.

“Lee…Lee…Lee Donghae.” seketika aku merasa tubuhku tidak bertulang. Aku benar-benar lemas. Sepertinya kesadaranku pun hilang setengah, karena ketika kusadari aku sudah berada di taman ini.

*

Aku menunduk, air mataku meleleh. Aish… Aku benar-benar lemah. Aku menangis, aku menangis di depan seorang perempuan!? Pantas saja Hyujin lebih memilih Donghae daripada aku.

Hami berusaha menenangkanku, dia mengelus punggungku lembut. Tapi tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.  Tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

“Menangislah Hyukie, jika memang itu yang kau inginkan” ucapnya. Aku berbalik dan memeluknya. Kutumpahkan semua kesedihanku padanya. Hanya pada Jung Hami, sahabatku.

*

Sudah beberapa bulan berlalu sejak saat itu. Aku berhasil melupakan rasa sakitku dengan sangat cepat.

Malam itu Hami berhasil membujukku pulang. Dan dia mengantarku sampai depan rumah, memastikan aku benar-benar pulang. Saat itu aku merasa akulah yang perempuan, dan dia laki-laki.

Sesampainya dirumah aku segera menyerang Donghae. Dia tidak membalas pukulanku, sepertinya sudah tahu apa yang terjadi. Omma dan appa segera melerai kami. Malam itu aku tidur di sofa. Sampai beberapa minggu setelahnya sofa menjadi tempat tidurku.

Selama beberapa minggu rumahku terasa sangat sepi. Tidak ada celotehan antara aku dan Donghae yang biasanya selalu terdengar. Beberapa kali omma bertanya apa yang terjadi, tapi aku tetap diam. Di kelas aku dan Hyujin tidak saling bicara. Sebisa mungkin aku menghindarinya. tapi Hami bilang aku sangat tidak jantan jika terus menghindar dari mereka seperti ini.

Dibantu olehnya aku berhasil tersenyum kembali pada mereka.

“Yah, aku senang kau bisa kembali tertawa seperti ini.” ucap Hami, di pinggir lapangan basket seperti biasa.

“Dan sepertinya kau sudah tidak pernah ditampar lagi” ucapnya seraya tertawa.

“Yah… Donghae sudah insaf sekarang. Dia sangat setia pada Hyujin.” jawabku.

“Jinca? Bagus sekali!” ucapnya.

“Yah, begitulah. Jika sudah ketemu yang pas, kau tidak akan pernah melepasnya.” ucapku. Dia meminum airnya.

“Hami-ah… Terimakasih telah menjagaku selama ini.” ucapku tulus. Hami mengernyit.

“Mwo? Tumben sekali kau berterimakasih padaku.” ucapnya. Ia meletakkan botol minumnya dan mengelap wajahnya yang berkeringat.

“Mulai sekarang, biarkan aku yang menjagamu.” ucapku. Ia menatapku bingung. Tak lama sebuah jitakan mendarat dikepalaku.

“Yah, jangan bercanda! Bagaimana bisa tanganmu yang kurus itu menjagaku?” katanya. Dia melanjutkan minumnya, cuek.

“Tentu saja bisa. Karena aku laki-laki.” aku mengambil botol minumnya dan mendekatkan wajahku padanya. Sebelum dia sempat berbicara lagi, aku sudah menutup mulutnya dengan mulutku.

Aku rasa jiwa Donghae sudah merasuk pada diriku, aku tidak ingin terlalu terburu-buru. Aku sangat menikmatinya sekarang. Tapi tiba-tiba dia melepaskan diri.

“Apa maksudmu?” tanyanya. Aku tidak menjawab, aku hanya menatapnya.

“Saranghaeyo…” bisikku lembut. Tiba-tiba saja dia menamparku. Aish… Ini tamparan yang sangat  kencang. Dia memang berbeda.

“Kau pikir aku siapa?!” tanyanya marah.

“Mianhae hami-ah..”

“Aku tidak ingin jadi pelampiasanmu!” ucapnya marah. Dia membereskan tasnya dan melangkah pergi.

“Hami-ah, aku minta maaf atas ciuman tadi. Tapi kenapa kau semarah ini?” tanyaku bingung. Bukankah selama ini dia selalu ada disampingku? Tapi mengapa ketika aku sangat menginginkannya ada disampingku dia malah protes?

Dia berbalik dan melemparkan handuknya padaku.

“Yah! Apa kau tidak tahu sudah berapa lama aku menyukaimu? Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku saat kau bercerita soal Hyujin? Apa kau tidak tahu hatiku lebih sakit lagi saat melihatmu hancur gara-gara gadis itu?!” ucapnya. Aku benar-benar kaget dengan perkataannya. Aku tidak menyangka sahabat baikku ternyata lebih dulu menyimpan perasaan padaku.

Dia menunduk. Apa dia menangis? Dia membalikkan badannya.

“Dan sekarang kau menciumku hanya karena Hyujin sudah bersama Donghae…” ucapnya. Aku melangkahkan kakiku kearahnya. Aku baru menyadari jika Hami juga hanya seorang gadis biasa.

Aku mengelus punggungnya seperti yang dia lakukan padaku dulu. Aku lalu memeluknya dari belakang.

“Menangislah jika itu yang kau mau.” ucapku.

“Mianhae Hami-ah. Kau benar, aku memang bodoh.” ucapku.

*

“Dasar bodoh!” ucap Donghae. Dia menjitak kepalaku.

“Tentu saja dia marah kau perlakukan seperti itu.” lanjutnya. Aku mengingat lagi kejadian tadi sore. Dia berlari pulang setelah menyikut perutku saat aku memeluknya dari belakang. Benar-benar reaksi yang diluar perkiraanku.

Donghae lalu mengelus-elus punggungku.

“Hyung, apa kau sangat sayang padanya?’ tanyanya. Donghae selalu memanggilku hyung jika dia sedang serius atau menginginkan sesuatu dariku.

“Hyung, kau bukan aku. Dan akupun tidak pernah berharap kau menjadi sepertiku. Aku tahu Hami adalah seorang gadis special. Dia lain dari yang lain. Kau tidak bisa memperlakukannya seperti kau memperlakukan Hyujin dulu.” ucap Donghae. Dia mengambil kursi dan duduk dihadapanku.

“Hyung, apa kau benar-benar sayang padanya?” tanyanya lagi.

“Hh…baiklah-baiklah. Kau tidak bilangpun aku sudah tahu…” ucap Donghae, ia beranjak dari kursinya dan berjalan keluar.

“Jangan sampai dia kurebut lagi Hyukie…” ucapnya jail.

Tentu saja aku tahu dia tidak serius. Seperti yang dia bilang, Hami adalah gadis yang special. Dia berbeda.

*

Kepalaku pusing sekali, Sepertinya aku terkena demam. Ini pasti gara-gara aku kehujanan saat pulang latihan semalam.

Sejak hari itu aku tidak melihat Hami lagi. Baik disekolah, maupun di club. Setiap aku ke kelasnya, teman-temannya selalu bilang tidak tahu dia kemana.

Aish… Aku sangat rindu padanya.

Aku membalikkan badanku dan tidur.

Aku mendengar pintu terbuka. Sepertinya Donghae sudah pulang.

“Donghae-ah… Tolong tutup pintunya. Aku mau tidur.” ucapku tanpa melihatnya. Aku mendengar pintu ditutup. Donghae meraba keningku, dia mengukur suhu badanku. Tapi tunggu, tangan Donghae tidak selembut ini.

Aku membuka mataku.

“Hami?” tanyaku.

“Memangnya siapa yang kau harapkan?” tanyanya, ia segera menarik tangannya. Hari ini ia benar-benar lain. Rambut yang biasa ia kuncir kini ia biarkan tergerai. Dia menjepit sedikit poninya dengan jepitan berwarna biru muda, warna kesukaannya. dan dia menggunakan rok?? Ya, aku tahu saat disekolahpun dia mengenakan rok, tapi itu bukan seragam.

“Darimana saja kau selama ini?” tanyaku.

“Aku? Tentu saja aku ada.” jawabnya.

“Aku tidak pernah menemukanmu.” ucapku.

“Itu karena kau tidak serius mencariku.” ucapnya.

“Tentu saja aku serius!” ucapku tak mau kalah.

“Setiap hari aku mencarimu di kelas, ke perpustakaan, kantin, bahkan sampai atap. Tapi kau tidak ada. Bahkan kaupun tidak datang ke klub! Apa kau tidak tahu ba..’ kalimatku terhenti. bibirku dikunci oleh bibirnya.

“Sudah selesai?” tanyanya. Aku merasa kepalaku melayang. Tapi bukan karena demam.

“Itu balasan untuk waktu itu.” ucapnya. Dia menarik tubuhnya dan beranjak pergi. Dia lalu mengeluarkan susu strawberry dari tasnya dan menaruhnya di meja belajar.

“Lekas sembuh.” ucapnya, tapi sebelum dia sempat melangkahkan kakinya lagi, aku segera menariknya ke dalam pelukanku. Donghae benar, dia special. Aku tidak bisa membiarkannya pergi lagi.

Aku mendekatkan wajahku padanya lagi. Dia menutup matanya, sepertinya sudah pasrah dengan apa yang akan kulakukan padanya. Aku lalu menjitak kepalanya.

“Itu balasan karena telah membuatku sakit.” ucapku. Dia mendelik.

“Awas kau!” ucapnya. Dia lalu menyerangku dengan cubitan-cubitannya yang pedas.

“Yah,yah, aku masih sakit!” ucapku.

Tapi dia tidak peduli dan masih terus mencubitiku.

“Ara,ara…” ucapku. Aku berhasil memegang tangannya sekarang, dia berusaha melepaskan diri tapi cengkramanku lebih kuat.

“Jadi, apa aku kau mau menjadi pacarku sekarang?” tanyaku lagi.

“Siapa yang bilang?” dia balik bertanya. Aish… Kenapa gengsinya tinggi sekali.

“Siapa yang bilang aku tidak mau?” lanjutnya. Dia tersenyum. Aku merasa melayang sekarang. Sepertinya demamku semakin parah.

*

Apa yang terjadi setelah itu? Aku roboh. Kekeke~

Yah, demamku semakin parah. Tapi untungnya ada Hami disisiku. Dia selalu menjengukku setiap hari sehabis sekolah dan menemaniku. Tentu saja kami tidak pernah melakukan apa-apa, pintu selalu dia biarkan terbuka jika dia ke kamarku. Yah… Aku masih menjadi anak Tuhan sampai hari ini.

Donghae? Dia hidup bahagia dengan Hyujin tentu saja. Itu gara-gara dia kerasukan setan entah dari mana dan melakukannya dengan Hyujin. Kalian mengerti maksudku kan? Dengan kecerdasanku dia akhirnya lolos dari bencana. Aku berbicara pada orang tuaku untuk segera menikahkan mereka sebelum terjadi ‘sesuatu’ yang tidak diinginkan. Orang tuaku setuju dan akhirnya mereka menikah! Yah, setidaknya aku mendapatkan seorang keponakan yang lucu dari mereka.

Aku dan Hami? Aku akan mengakhirinya hari ini…

Dia berjalan menuju tempatku berdiri dengan gaun putihnya. Dia terlihat sangat cantik hari ini. Ayahnya lalu menyerahkan tangannya padaku. Aku membawanya menuju altar.

Di altar ini, di gereja ini aku berjanji pada Tuhan akan selalu menjaga hadiah terindah yang Dia berikan padaku. Aku berjanji akan selalu mencintainya seumur hidupku. Aku berjanji akan selalu membawa kebahagiannya untuknya. Aku berjanji akan selalu berada di sisinya. Di hadapan Tuhan aku berjanji…

 
Leave a comment

Posted by on July 10, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,