RSS

Tag Archives: Super Junior

Prince and The Thief

Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri nun jauh disana, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita. Sayangnya sang putri selalu merasa kesepian. Di kamarnya, salah satu kamar terbesar di istana, di temani kucing kesayangannya, dia termenung di sisi jendela.

“Mochi, apa kita tidak bisa menikmati dunia luar ya?” tanyanya. Si kucing hanya mengeong sebagai tanda dia memperhatikan majikannya itu.

Pintu kamar diketuk perlahan.

“Masuklah…” jawabnya malas-malasan.  Seorang gadis yang lebih muda darinya masuk. Dia mengenakan pakaian seragam khas pelayan dengan blus hitam dan celemek putih.

“Putri Janice belum bersiap-siap?” tanyanya heran melihat sang putri yang masih berpakaian “biasa”.

“Aku malas pergi, Kate. “ ujarnya seraya menyibakan rambut coklatnya yang berkilau.

“Ayolah Tuan Putri, jangan membuat saya kesulitan. Tuan Putri tahu kan saya sudah sering ditegur gara-gara ini.” Ucapnya. Dengan segera dia membuka lemari pakaian dan memilihkan gaun terbaik yang dapat dipakai putrinya malam ini. Sebuah gaun berwarna biru langit, warna kesukaan sang putri menjadi pilhannya.

“Hh… jika saja buka kamu yang meminta, jangan harap aku akan pergi dari tempat ini.” Putri Janice berdiri yang membuat Mochi mengeong keras karena kaget. Dia mengambil gaun yang sudah disiapkan Kate dan membawanya menuju sekat yang ada di pojok ruangan.

“Kate, tolong bantu aku.” Pintanya. Dengan cekatan, Kate menyeletingkan gaunnya. Sang putri  duduk dengan anggunnya di hadapan meja rias. Kate segera mengambil sisir. Jari-jarinya begitu cekatan menata rambut sang putri.

“Siapa lagi yang datang sampai aku harus ikut makan malam?” tanyanya.

“Aku dengar dari kepala pelayan, malam ini akan ada delegasi dari Timur. Sepertinya memang sesuatu yang penting.” Jawabnya seraya mengepang rambut sang putri.

“Yak, selesai! Tuan Putri terlihat sangat cantik!” pujinya.

“Kau terlalu memuji…”

“Ah! Tiaranya, tiaranya!” sahut Kate. Dia membuka lemari yang lain dan mengeluarkan sebuah kotak dengan hiasan safir biru diatasnya. Dia membukanya perlahan dan mengeluarkan sebuah tiara yang ditaburi permata. Kate membawanya dengan sangat hati-hati dan meletakannya diatas kepala sang putri.

“Sempurna!” ucapnya girang. Janice hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pelayan pribadinya itu.

“Ayo Putri, saatnya untuk berangkat!” Janice mengangguk, ia lalu berjalan dengan anggunnya. Kate mengekor di belakangnya.

Ruang makan kerajaan berada di sisi lain istana, mereka melewati banyak sekali penjaga yang segera berdiri dalam keadaan siap begitu mereka lewat. Kadang Janice dan Kate bergosip tentang mereka. Tentu saja jika hanya ada mereka berdua. Karena, keduanya akan terkena omelan bila ketahuan.

“Putri Janice tiba!” seorang pengawal berteriak saat mereka tiba di ruang makan untuk memberitahukan kedatangannya. Kate menarik kursi untuk Janice setelahnya ia berdiri di sisi ruangan bersama pelayan lainnya.

Ruang makan sudah dipenuhi dengan keluarga kerajaan, Yang Mulia Raja, permaisuri, kedua pangeran, juga beberapa utusan dari negeri di Timur. Seorang pelayan dari bagian dapur kerajaan mulai menyajikan makanan pembuka. Janice menyendok supnya dengan perlahan.

“Putri Anda benar-benar cantik, Yang Mulia.” Ucap utusan itu. Janice mendongak, seorang pria setengah baya, lebih tua dari ayahnya, dengan rambut dan jenggot yang mulai memutih tersenyum kepadanya. Pakaiannya yang terbuat dari sutra dan benang emas, menandakan dia memang bukan orang sembarangan di negerinya.

Janice melihat ke sekelilingnya. Ibunya, sang Ratu membalas pujian itu dengan senyuman. Joshua sang putra mahkota juga terlihat tersenyum sopan, sementara Bryan terlihat tidak peduli. Janice meneruskan makannya kembali.

Tak lama makanan utama masuk. Beberapa pelayan maju untuk melayani mereka.

“Jadi, kapan pangeran Spencer akan datang?” Tanya Raja Andrew. Pelayan meletakan sepotong ikan salmon di piring Janice. Janice menatap piringnya dengan sedikit bernafsu. Ikan salmon selalu menggugah seleranya. Koki yang memasak hari ini pantas di beri penghargaan.

“Ehm, beberapa hari lagi.” Ucap utusan itu.

“Masih ada beberapa hal lagi yang harus pangeran lakukan di negeri kami. Karena itulah Hamba diutus terlebih dahulu untuk menyampaikan pesan ini.” Lanjutnya.

“Kami sangat tersanjung dengan pinangan pangeran.” Ucap Raja. Janice hampir saja tersedak.

“Pinangan?” tanyanya dalam hati. Janice menatap Kate yang terlihat sama bingungnya. Kate lalu mengangkat bahunya, menandakan diapun tidak mengetahui apa-apa mengenai hal itu.

Tidak ada yang dapat Janice lakukan selain diam sampai acara makan malam itu selesai.

*

Raja dan permaisuri melanjutkan pertemuan dengan utusan dari negeri di Timur di ruang kerjanya. Janice segera menghampiri kedua kakaknya yang memutuskan untuk minum teh di kamar sang putra mahkota.

“Kakak, apa maksud ayah tadi?” Tanya Janice langsung pada Joshua. Kate segera menutup pintu agar tidak ada yang mengganggu. Kedua pangeran membiarkan Kate tetap di dalam, karena mereka sudah menganggap Kate sebagai bagian dari keluarga.

“Maksud ayah yang mana?” Tanya Joshua. Sementara Kate segera menggantikan Bryan untuk menuangkan teh di cangkir.

“Tentang pinangan!” ucap Janice tidak sabar. Bryan menghampiri adiknya dan menuntunnya menuju kursi.

“Tenang dulu adikku yang manis, kami akan menjawab asalkan kamu duduk tenang.” Ucapnya sambil tersenyum. Kate ikut tersenyum, dia selalu suka dengan senyuman itu.

Janice mendengus, ia menyilangkan tangannya tidak sabar. Kate menyodorkan secangkir teh padanya.

“Minumlah Tuan Putri.” Pintanya.

“Terimakasih.” Janice meneguk tehnya pelan-pelan, sambil menunggu jawaban dari kakak-kakaknya itu.

“Hm, sebenarnya ayah pasti akan memberitahumu nanti. Tapi karena kau memaksa…” akhirnya Joshua  buka suara. Dia tersenyum seraya melirik Bryan yang duduk di lengan kursinya.

“Ya, utusan itu datang untuk menyampaikan pesan dari kerajaan di Timur. Sang Raja ingin meminangmu agar hubungan kedua kerajaan semakin erat.” Jawabnya tenang. Joshua menyesap tehnya.

“Apa?”

“Hei, kenapa reaksimu seperti itu? Tenang sajalah, aku dengar pangeran itu cukup tampan.” Ucap Joshua lagi. Janice melotot mendengar penjelasan dari kakaknya itu.

“Kak… ah! Menyebalkan!” ucap Janice. Senyuman kedua pangeran itu malah semakin lebar melihat kelakuan adik mereka. Bryan berpindah tempat duduk dan merangkul bahu adiknya.

“Kecantikanmu bisa hilang jika mukamu ditekuk seperti itu.” Ucap Bryan. Katepun ikut tersenyum melihat tingkah kakak beradik ini.

“Kakak… bujuk ayah untuk menolak pinangan itu…” rajuknya. Tapi Bryan menggeleng.

“Sebaiknya kamu istirahat saja, ada yang masih harus kami bicarakan.” Bujuk Bryan.

“Kate, bawa dia ke kamarnya ya. Dan jaga dia jangan sampai kabur.” Perintah Joshua. Kate tersenyum, mengingat tingkah sang putri yang pernah kabur karena permintaannya tidak dituruti.

“Baik Yang Mulia.” Jawabnya.

“Mari Putri.” Bujuk Kate. Janice hanya mendengus karena tidak bisa menolak perintah kedua pangeran yang sayangnya adalah kakaknya tersebut.

“Hidupku sangat tidak beruntung.” Keluhnya sesampainya di dalam kamar. Kate segera membantunya berganti pakaian dengan pakaian tidur.

“Siapa tahu pangeran itu benar-benar tampan?” goda Kate. Janice semakin cemberut. Karena setahunya, tidak ada pria yang lebih tampan dari ayah dan kedua kakaknya. Jadi akan setampan apa pangerannya itu?

“Kate…” rajuknya. Janice menyibakan rambutnya, Kate segera mengambil sisir dan merapikan rambut sang putri yang terurai.

“Bagaimana jika Tuan Putri mencoba untuk mengenalnya lebih dulu? Dan kita lihat sisi positifnya, Tuan Putri bisa pergi keluar dengan bebas kan?” ucap Kate. Janice lagi-lagi menghela nafas panjang.

“Sebaiknya Tuan Putri tidur sekarang.” Bujuk Kate lagi. Janice mengangguk. Terjaga lebih lama malah akan semakin menyiksanya. Dengan terlelap, setidaknya dia bisa berharap esok hari akan sesuai dengan keinginannya.

*

“Kau cari disana! Kalian kesebelah sana!”

Janice terbangun karena suara derap langkah kaki para pengawal diluar.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kalian menemukannya?”

“Tidak Kapten!”

“Cepat cari lagi!” suara ribut-ribut sepertinya telah membangunkan seluruh istana. Janice kini mendengar suara derap kaki bukan hanya diluar, tapi juga dalam istana.

Perlahan dia membuka selimutnya dan menghampiri jendela. Sinar bulan menerangi taman malam itu. Tapi dia tetap tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Apa ada penyusup?”

Janice akan berbalik ketika dia melihat sesosok bayangan bersembunyi di balik tirainya. Dia akan berteriak seandainya sosok itu tidak membekap mulutnya dan menyudutkannya di dinding. Janice bisa merasakan desahan nafasnya yang berhambur ke wajahnya.

“Ssstt….” Dia menaruh telunjuknya di ujung bibirnya. Janice mengangguk, menandakan dia akan tetap tenang. Sosok itu lalu melepaskan tangannya.

“Si..Siapa kamu?” Tanya Janice. Dia tidak bisa melihat wajah sosok dihadapannya dengan jelas. Sinar bulan tidak cukup terang untuk melihatnya. Terlebih lagi sosok itu menutupi sebagian wajahnya.

“Haha, anggap saja aku pencuri.” Jawabnya. Seulas senyum tipis tersuging disana.

“Pencuri? Apa yang ingin kau curi?”

“Aku mendengar ada harta yang tidak ternilai harganya di istana ini.”

“A..apa?”

“Anda Yang Mulia.” Janice tertegun. Pipinya merona. Sudah banyak yang mengatakan hal itu padanya, tapi entah mengapa kali ini terasa begitu berbeda.

“Kamu boleh mengambilnya, jika kau bisa. Sayangnya harta itu terkurung dalam kotak emas yang terkunci.” Balas Janice. Lagi-lagi senyuman tipis tersuging.

“Anda menantangku Yang Mulia?”  Janice mengangguk. Matanya berkilauan, dia tidak takut lagi.

“Aku akan datang lagi besok. Dan aku berjanji, kedatanganku nanti tidak akan menimbulkan keributan seperti ini lagi.” Ucapnya. Sosok itu membelai rambut Janice dan mencium ujungnya sebelum melompat dari balkon dan menghilang di kegelapan malam.

Janice berusaha mencarinya, tapi sosok itu telah menghilang. Tiba-tiba pintu terbuka. Kate masuk dengan gaun tidurnya.

“Anda tidak baik-baik saja Yang Mulia?” tanyanya khawatir saat mendapati Janice berdiri di tepi balkon. Ada desas-desus seorang pencuri telah masuk. Dia khawatir akan keselamatan putrinya.

“Ya, aku tidak apa-apa Kate.” Jawabnya.

“Tapi wajah Anda memerah Yang Mulia.”

“Aku… aku…sepertinya sudah jatuh cinta, Kate.”

*

“Kate… Kate..” panggil Janice. Dengan tergopoh-gopoh Kate menghampiri majikannya itu dikamarnya.

“Ada apa?” tanyanya. Ia heran karena Janice membutuhkannya selarut ini.

“Bantu aku. Aku ingin terlihat cantik malam ini.” Ucap Janice. Kate mengerutkan dahinya. Permintaan yang aneh tentu saja. Karena kecantikan Janice begitu sempurna. Dengan rambut ikal coklat yang berkilau, bibir merah yang terbentuk sempurna, kulit putih yang bersinar, mata yang memancarkan kelembutan. Apa lagi yang kurang?

“Anda akan pergi kemana?” Tanya Kate. Janice menatapnya tajam. Kate merasa bersalah karena telah bersikap lancang.

“Maafkan saya Tuan Putri.”

“Sudahlah, bantu saja aku.” Ucap Janice. Kate mengangguk dan menghampiri Janice. Tapi Kate malah semakin bingung karena Janice sedang memilih pakaian tidurnya.

“Mana yang paling bagus?” tanyanya. Ada banyak sekali yang terhampar disana. Semuanya terbuat dari satin kualitas terbaik. Kate terlihat menimbang-nimbang lalu menjatuhkan satu pilihan yang berwarna putih gading.

“Pilihan yang bagus. Terimakasih.” Ucapnya tulus.

“Bantu aku berganti pakaian.” Pinta Janice lagi. Dengan cekatan Kate segera melepaskan gaun yang menempel di tubuh langsing sang putri dan menggantinya dengan pakaian tidur. Dia lalu menyisiri rambut Janice dan mengepang sedikit ujungnya. Beberapa anak rambut yang terlepas dia biarkan membingkai wajah sang putri.

“Terimakasih Kate. Sekarang kamu boleh istirahat.” Ucapnya.

“Terimakasih Yang Mulia.” Kate segera pamit. Setelah sendirian di dalam kamarnya, Janice segera memadamkan lampu dan beringsut ke tempat tidurnya. Dia menarik selimutnya sampai ke batas dada. Hatinya gelisah, apakah pencuri itu akan datang lagi malam ini? Sampai akhirnya ia terlelap.

Janice terbangun karena ia merasa wajahnya disentuh seseorang. Dia membuka matanya dan terkejut, seseorang telah duduk di sampingnya. Hampir saja ia berteriak jika tidak mengenali siapa sosok itu.

“Bagaimana caranya kamu masuk?” Tanya Janice.

“Anda lupa mengunci jendela, Yang Mulia.” Janice tersenyum.

“Lalu apa yang mau kamu curi lagi kali ini?” tanyanya.

“Bagaimana jika aku mencuri Anda?” ucap si pencuri. Janice bisa melihat senyuman terulas di bibirnya lagi.

“Tidak bisa. Kamu berjanji tidak akan menimbulkan keributan.”

“Bagaimana jika aku hanya meminjam?” lagi-lagi senyuman itu terulas disana.

Dan Janice mengangguk. Pencuri itu lalu menggenggam tangan Janice dan membawanya ke balkon.

“Apa Anda siap?” Janice mengangguk. Si pencuri lalu membopong Janice. Dan entah bagaimana caranya mereka bisa selamat sampai di tanah setelah melompat dari lantai 2. Tanpa bersuara si pencuri berlari melintasi halaman istana dan berhenti di satu sisi tembok yang dipenuhi tanaman rambat. Dia lalu menyibakan tanaman-tanaman itu dan terlihat sebuah lubang yang cukup besar yang dapat mereka lewati.

Dibalik tembok istana, telah menunggu seekor kuda hitam yang terlihat sangat gagah. Si pencuri naik lebih dulu lalu membantu Janice naik. Ini bukan pertama kalinya Janice menunggang kuda, bisa dibilang dia seorang yang mahir. Tapi ini pertama kalinya dia menunggang kuda bersama seorang pria selain kakak dan ayahnya.

Si pencuri mengajak Janice menuju sebuah danau. Dulu Janice sering bermain disini bersama kedua kakaknya. Danau ini memang sangat indah. Janice tersenyum bahagia. Dia begitu merasa bebas setelah sekian lama dikurung di dalam istana dan direpotkan dengan berbagai pelajaran tata karma.

Janice berlari menuju tepian danau dan menyentuh airnya. Dia menggigil. Dingin. Janice memukul kepalanya perlahan, suatu perbuatan yang sangat bodoh hanya memakai pakaian tidur tipis, tanpa alas kaki dia pergi keluar istana di udara malam yang dingin. Si pencuri mendekatinya perlahan lalu melepaskan mantel hitamnya.

“Terimakasih.” Ucap Janice. Namun dia terpana melihat wajah pencuri itu. Kulit putih halus yang begitu menawan. Tatapan mata yang tajam. Rambut hitam yang berkilau. Serta tubuh yang tegap.

“Mengapa kamu menutupi semua ini?” Tanya Janice heran.

“Anda sangat lucu Yang Mulia. Jika aku tidak menutupi wajahku, para pengawal Anda akan cepat menemukanku dan menghukumku.” Jawabnya tepat dihadapan Janice. Janice menunduk malu. Baru kali ini ia ditatap seperti itu.

Janice lalu duduk diatas rerumputan. Dia merapatkan mantelnya.

“Apa menjadi dirimu menyenangkan?” tanyanya.

“Kadang tidak. Kamu tidak bisa menunjukan dirimu yang sebenarnya. Apa itu menyenangkan?”

“Tapi kamu bebas.”

“Selalu dikejar-kejar, apa itu bebas?”

Janice tidak berkata apa-apa lagi. Dia memandang pantulan sinar bulan di permukaan danau. Si pencuri duduk di sampingnya. Sebenarnya mantel itu tidak terlalu berfungsi. Yang membuat tubuhnya hangat adalah kehadiran si pencuri disana.

*

Beberapa hari ini Kate melihat keanehan pada diri Janice. Dia lebih sering melamun, kadang-kadang tersenyum sendiri. Bahkan kehadiran dirinya dan Mochi tidak dia gubris. Dan sang putripun selalu menanti datangnya malam. Kate ingin bertanya, namun ia merasa tindakan itu terlalu lancang baginya.

“Kenapa kamu sendirian disini?”  Tanya Bryan, membuyarkan lamunan Kate.

“Ah, Yang Mulia.” Ucap Kate. Ia segera berdiri dan menundukan pandangannya.

“Tidak usah bersikap seperti itu padaku. Kita tumbuh bersama.” Ucap sang pangeran. Tapi Kate tidak mengubah posisinya. Hal itu hanya akan menambah masalahnya.

“Pertanyaanku belum kamu jawab, ada apa?” Tanya Bryan lagi.

“Ehm… tidak, saya hanya mengkhawatirkan keadaan Tuan Putri Yang Mulia.”

“Janice? Ada apa dengan dia?”

“Beberapa hari ini saya melihat Tuan Putri sering melamun. Saya khawatir, rencana pernikahan itu sangat mengguncang dirinya.” Ucap Kate.

“Ah… jadi itu yang kamu khawatirkan. Sebenarnya rencana itu masih akan ditunda sampai Pangeran Spencer tiba.”

“Sebagai kakak, apa tidak sebaiknya Yang Mulia menjenguknya sesekali?” saran Kate. Bryan menatap Kate tajam.

“Maaf saya lancang, Yang Mulia.” Tapi Bryan malah tersenyum.

“Terimakasih telah mengingatkanku. Aku akan ke kamarnya sekarang.” Bryan beranjak meninggalkan Kate sendirian di halaman belakang. Kate menatap sosoknya yang gagah sampai hilang di belokan. Sosok yang selalu dia kagumi di setiap helaan nafasnya. Kate tersenyum seraya memegang dada kirinya yang berdetak sangat cepat.

*

“Hh…” untuk kesekian kalinya Janice menghela nafas. Dia rindu pada si pencuri itu, pencuri yang telah berhasil mengambil hatinya tanpa izin sang pemilik. Sudah beberapa kali si pencuri itu mendatangi Janice. Dan dia tidak pernah berhasil melihat bagaimana caranya pria itu masuk ke dalam kamarnya. Janice selalu tertidur lebih dulu.

“Hei, melamun.” Janice terlonjak. Kakaknya Bryan tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Kakak…”

“Kakak dengar adikku yang manis ini sering melamun.” Goda Bryan. Janice segera saja menjadi gugup.

“Me…malamun? Aki tidak…”

“Jangan bohong… aku tahu seperti apa adikku ini. Ayo, ceritakan padaku ada apa?”

“Aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Atau jangan-jangan…” Bryan bergaya ala detektif yang sedang menganalisis dan melirik Janice tajam.

“Siapa dia? Apa Marcus anak perdana menteri? Atau… Jordan anak Jenderal? Atau …”

“Ah, kakak… apa maksudnya?” Janice mulai merajuk lagi, dia berharap kegugupannya tertutupi dengan bertingkah seperti ini.

“Hei, hei, jangan berbohong lagi padaku. Atau aku harus menyebutkan semua pria di negeri ini sampai kamu mengaku?” tanyanya.

“Ugh, kakak menyebalkan!” Janice lalu menyerang kakaknya itu dengan jurus kelitikannya yang sangat mematikan.

“Ahahahahaha…. Sudah, sudah, hentikan! Aku menyerah! Aku menyerah!”

“Janji tidak akan menggodaku lagi?”

“Janji! Ampun Yang Mulia… Ahahahaha….”

Pintu tiba-tiba terbuka. Mereka mematung, ternyata Kate.

“Maaf Yang Mulia, tapi Yang Mulia Raja memanggil Anda berdua.” Ucapnya sambil membungkuk sopan.

Janice dan Bryan segera berdiri dan merapikan pakaian mereka. Lalu berjalan menuju ruang kerja sang raja. Mereka berjalan beriringan dengan Bryan dan Janice di depan dan Kate mengekor di belakangnya.

Kakak mereka, Joshua, sudah berada di sana bersama Raja dan juga permaisuri. Tidak ada satupun menteri atau penasihat yang hadir. Raja lalu meminta Kate untuk menutup pintu dan berjaga diluar. Pertemuan ini khusus hanya untuk keluarga kerajaan.

“Ada apa Ayah?” Tanya Bryan. Joshua terlihat sangat serius. Sepertinya sang Raja telah memberitahukan hal tersebut padanya sebelumnya.

“Duduklah dulu…” ucap permaisuri. Bryan dan Janice mengangguk.

“Ini mengenai kedatangan utusan dari negeri Timur.” Ucap sang raja. Segera saja Janice merasa bulu kuduknya berdiri mendengar kata-kata itu.

“Pangeran Spencer akan datang sebentar lagi, dan pernikahan akan segera dilaksanakan.” Ucap Raja. Dia menatap Janice penuh kasih. Sebenarnya ada rasa tidak rela bila dia harus kehilangan putri kesayangannya itu secepat ini. Namun sebagai raja, dia harus mengenyampingkan perasaan pribadinya. Pernikahan ini akan sangat menguntungkan bagi kerajaannya.

“Tap… tapi ayah…” Janice ingin sekali menolak. Namun permaisuri menahannya.

“Janice, biarkan ayahmu menyelesaikan kalimatnya dulu.” Ucap permaisuri bijak.

Raja tersenyum, berterimakasih atas bantuan istrinya.

“Janice, kamu harus mengerti. Ini tugasmu sebagai putri negeri ini.” Ucap Raja. Janice hanya diam. Wajahnya tertunduk. Dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan air matanya yang hampir terjatuh.

“Kita akan mengadakan pesta topeng seminggu lagi untuk menyambut Pangeran Spencer. Persiapkanlah dirimu sebaik mungkin.”

“Baik, Yang Mulia.” Ucap Janice. Dia lalu pamit, karena menurutnya tidak ada lagi yang mesti didengar. Dia tidak tahu jika empat pasang mata itu mengkhawatirkannya.

*

Janice berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Dia terlihat sangat emosi. Kate dengan susah payah mengikutinya dari belakang. Dia khawatir sang putri akan melakukan tindakan-tindakan diluar dugaan. Janice membantingkan dirinya diatas ranjang membuat Mochi segera melompat karena kaget. Dia menangis keras.

Kate datang dengan tergopoh-gopoh. Ketika dia menemukan Janice menangis, Kate segera berlari untuk menenangkan Janice. Dia membelai punggungnya perlahan. Janice bangkit, dia mengusap air matanya.

“Aku ingin pergi…” ucapnya pada Janice. Kate sangat terkejut dengan kalimat yang terlontar dari bibir Janice barusan.

“Kenapa berkata seperti itu?” tanyanya.

“Pinangan itu… Pernikahan akan dilaksanakan… Pangeran itu akan datang seminggu lagi…” isaknya. Kate hanya diam. Dia menggenggam erat tangan Janice mencoba memberinya kekuatan.

“Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu menjaga Yang Mulia.” Janji Kate. Perlahan senyuman terulas di bibir Janice. Dan Janice memeluknya dengan sangat erat.

*

Malam itu Janice melamum di atas balkonnya. Dia tidak bisa tidur memikirkan pertemuan dengan ayahnya tadi siang. Pikirannya menerka-nerka seperti apa pangeran Spencer itu. Apa seperti Aiden, pangeran dari negeri seberang yang berhati lembut namun gemar tebar pesona. Atau Vincent, anak dari sepupu ayahnya yang menguasai berbagai keahlian tapi sangat pemalu. Atau jangan-jangan malah seperti Casey, putra bangsawan yang gemar bersolek dan congkak. Janice bergidik membayangkan suaminya kelak seperti Casey.

“Kenapa Anda diluar, Yang Mulia?” Janice terkejut. Lagi-lagi pria itu sudah muncul tanpa sepengetahuannya.

“Kau datang.” Ucapnya. Tapi Janice sedang tidak bersemangat hari ini. Si pencuri membelai rambutnya lembut membuat Janice merasakan sensasi menggelitik di perutnya.

“Sepertinya Anda sedang tidak bersemangat hari ini?” Tanya si Pencuri lembut di telinganya. Janci dapat mencium harum tubuhnya yang selalu ia rindukan.

“Apa kamu bisa membawaku pergi keduniamu?” Tanya Janice. Awalnya si pencuri terkejut, namun perlahan senyum kembali mengulas wajahnya.

“Keduniaku?” ucapnya balik bertanya.

“Iya, aku mohon bawa aku! Aku tidak mau dinikahkan dengan seseorang yang tidak aku kenali! Aku tidak ingin!” ucap Janice akhirnya. Perlahan air matanya kembali terjatuh.

“Hei, tenanglah Tuan Putri. Semuanya akan baik-baik saja.”

“Tidak, tidak akan baik tanpa kamu disampingku!” ucap Janice. Ia segera memeluk tubuh bidang itu. Si pencuri mengecup puncak kepala Janice dan menghirup harum rambutnya.

Dia lalu melepaskan pelukan Janice dan berkata tepat dihadapan wajahnya.

“Kapan dia akan datang?” tanyanya. Bola matanya yang hitam menatap Janice tepat di matanya.

“Satu minggu lagi, dia akan datang. Akan diadakan pesta topeng untuk menyambut kedatangannya.” Jawab Janice. Lagi-lagi si pencuri hanya tersenyum.

“Bersikaplah Anda menerima pinangan itu. Saat itu, aku akan menjemputmu. Kita bertemu di pesta topeng satu minggu lagi.” Ucap Si pencuri.  Janice menatap pria dihadapannya tak percaya. Impiannya untuk segera bebas dari sangkar emas ini akan segera terwujud.

“Aku harus segera pergi.” Ucap Si pencuri lagi. Tapi tidak seperti biasanya, dia merengkuh pinggang Janice dan memeluknya erat. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Janice memejamkan matanya. Ciuman pertamanya terasa asin karena air mata.

*

            Seminggu ini Janice menunggu dengan gelisah. Dia cemas apa si pencuri itu akan benar-benar datang menjemputnya. Tapi kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum pergi menguatkan keyakinannya.

            Kau hanya milikku

Kata-kata it terus terngiang didalam pikirannya. Namun dia tidak boleh membuat keluarganya curiga. Dia menurut dengan semua perintah dari ayah, ibu, serta kedua kakaknya. Dalam hati ia selalu meminta maaf karena tidak bisa berbakti kepada mereka semua. Setiap malam ia selalu menangis karena merasa bersalah. Namun keinginannya untuk pergi bersama kekasihnya tidak bisa dibendung lagi.

Akhirnya hari yang dinantikanpun tiba, Kate membantu Janice untuk bersiap-siap. Malam itu ia mengenakan gaun berwarna peach dengan detail yang sangat indah. Kate menggulung rambut Janice ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dia lalu memakaikan tiara kebanggaan Janice diatas gulungan itu. Janice tampak sangat cantik.

“Putri, tersenyumlah.” Ucap Kate. Janice segera menarik kedua sudut bibirnya, Kate ikut tersenyum.

Tiba-tiba Janice memeluk Kate dengan sangat erat.

“Kate, terimakasih banyak karena selalu membantuku selama ini.” Ucapnya tulus. Kate hanya mengangguk. Memang sudah tugasnyalah untuk melayani sang putri.

“Ayo Yang Mulia, pesta sudah akan dimulai.” Ucap Kate menghentikan adegan melankolis itu. Janice mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju aula istana, tempat pesta dilangsungkan.

Sudah banyak yang hadir disana. Dan semuanya mengenakan topeng. Janice segera memasang topengnya begitu masuk aula. Dia mencari kedua kakaknya, namun ternyata itu adalah hal yang sia-sia. Dia tidak mengenal siapapun.

Tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya. Seorang pria dengan rambut hitam yang sangat Janice kenali berdiri dihadapannya.

“Maukah Anda berdansa dengan saya Yang Mulia?” ucap pria itu seraya membungkuk beberapa derajat. Janice masih bingung dengan penampilan si pencuri hari ini. Dia terlihat berbeda dengan baju itu. Namun Janice masih dapat mengenali suara dan wangi tubuhnya.

“Kenapa kau disini?” bisik Janice. Mereka tidak berhenti bertatapan sambil terus berdansa.

“Sudah kubilang aku akan menjemputmu.”

“Tapi ini terlalu berbahaya.” Desis Janice lagi. Si pencuri hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.

Janice cemas sekaligus merasa sangat bahagia. Pesta topeng ini memberi mereka ruang untuk bertemu. Tapi Janice takut tertangkap basah kakak atau ayahnya.

Musik berhenti mengalun. Si pencuri melepaskan Janice dan membungkuk hormat. Janice membalas penghormatannya dengan membungkuk juga. Dia lalu berjalan menghampiri ayahnya yang berada di tempat khusus.

Seluruh hadirin terpusat pada keluarga kerajaan yang berdiri di mimbar sekarang. Sang Raja dengan penuh wibawa memulai pidatonya.

“Terimakasih atas kehadiran Anda sekalian. Malam ini saya ingin menyampaikan kabar bahagia. Beberapa waktu yang lalu, utusan dari negeri di Timur datang. Beliau menyampaikan bahwa ingin mempererat hubungan kedua kerajaan dengan meminang putri kami. Dan hari ini Pangeran Spencer telah tiba untuk menjemput putri kami.” Seluruh hadirin bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada keluarga kerajaan.

“Pangeran Spencer, silakan naik.” Undang sang raja. Janice merasa perasaannya campur aduk saat ini. Dan dia lebih kaget lagi ketika si pencuri malah dengan terang-terangan naik ke atas mimbar lalu mengecup tangannya.

Janice menatap ayah dan kedua kakaknya lalu menatap si Pencuri. Mereka tidak akan selamat jika sampai ketahuan.

“Saya percaya hadirin sekalian ingin melihat wajah Anda, Pangeran.” Pinta raja. Si pencuri tersenyum. Perlahan ia melepas topengnya. Janice harus menahan nafas ketika adegan ini berlangsung. Tapi tidak ada yang terjadi. Semuanya terlihat bahagia dan tersenyum.

“Akulah Spencer, pangeran yang akan menjemput Anda Yang Mulia.” Bisik si pencuri di telinga Janice. Janice masih bingung. Namun tidak ada keraguan dalam mata itu.

“Kau, si pencuri?” Tanya Janice. Pria muda itu mengangguk.

“Dan kau Spencer?” dia kembali mengangguk.

“Ceritanya panjang.” Ucapnya mengetahui kebingungan Janice. Dan dengan bakatnya sebagai seorang pangeran, dia segera melambai kepada seluruh hadirin.

Cerita pangeran dan putri yang hidup bahagia selamanya terjadi pada Janice. Pangeran yang dia takuti ternyata malah berhasil mencuri hatinya. Pernikahan yang paling dia takuti, malah menjadi kunci kebebasannya. Kini Janice mendampingi pria yang dicintainya memimpin negeri di Timur.

Dan Janice hanya berharap, sahabatnya, Kate, dapat bahagia seperti dirinya. Karena itulah, meski ia sangat sayang pada Kate dan tidak ingin berpisah, dia tidak membawa Kate bersamanya. Karena dia tahu, tempat Kate adalah di sisi kakaknya.

Lalu bagaimana nasib Kate?

Tunggu cerita selanjutnya “The Gorgeus Smile”

 
4 Comments

Posted by on May 30, 2011 in fanfiction

 

Tags:

Joneun Asep Imnida

Seperti bukan diriku…

Ah… ada apa sebenarnya?

Semua terasa begitu aneh.

Apakah ada yang bisa menjawabnya?

Pria itu mematikan computer dikamarnya segera setelah ia memposting curahan hatinya pada minihompy nya.

“hh…” dia menghela nafas panjang, berharap semua beban yang ada di hatinya keluar bersama helaan nafasnya. Namun sepertinya itu tidak terjadi.

Tok..tok..

Terdengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dia memang tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk masuk
kamarnya tanpa seijinnya. Dan semua teman se-asramanya sudah tahu hal itu.

“masuklah” jawabnya. Pintu dibuka, seorang laki-laki bertubuh lebih pendek darinya masuk. Laki-laki itu sangat cute. Salah satu dongsaeng yang sering bermain dengannya.

“hyung, hyung sudah makan? Ryeowook baru saja masak. Kami mau ke lantai bawah untuk makan bersama.” Ajak laki-laki
itu.

“baiklah, aku akan menyusul.” Jawabnya.

“baiklah heechul hyung, kami akan menunggu mu…” ucap laki-laki itu seraya memamerkan senyumnya yang seperti anak
kecil.

“doanghae-ah…”

Laki-laki itu berbalik.

“ya, ada apa hyung?”

“ah, annio…”

“kalau begitu aku duluan. Hyung jangan lama-lama.” Ucapnya. Heechul hanya tersenyum Sebenarnya moodnya sedang tidak bagus hari ini. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak se-egois dulu. Mungkin dengan berkumpul bersama sahabat-sahabatnya dia akan kembali ceria,seperti dia yang biasanya.

Entah kenapa beberapa hari ini ia merasa begitu aneh. Ia seperti merindukan sesuatu, tapi ia pun tidak mengerti apa atau siapa yang dia rindukan. hampir setiap hari ia menelpon keluarganya, berharap rasa rindu itu hilang. Tapi tidak ada yang berubah, malah kerinduan itu semakin lama semakin membesar.

Heechul mengelus kucing kesayangannya. Kucing itu tidak berontak, seakan tahu tuannya sedang mengalami kesulitan. Dia membawa kucingnya ikut serta menemaninya.

“heechul, kau belum turun?” Tanya hangkyung, sahabat baiknya

“baru saja aku baru mau kesana. Ayo kita pergi bersama saja.” Ajaknya pada sahabatnya itu dengan senyum yang dipaksakan. Hangkyung mengangguk. Mereka berjalan dalam
diam. Heechul benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Sementara hangkyung, memang sudah sifatnya seperti itu.

“hei, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya hangkyung. Sepertinya dia menyadari perbedaan sikap pada sahabatnya itu.

“tidak.”

“jangan berbohong padaku. Tidak biasanya kau seperti ini.” Lanjutnya.

“apakah kau mengkhawatirkanku?” Tanya heechul, dia mulai menggoda sahabatnya itu. Dia mulai melingkarkan tangannya pada leher hangkyung.

“ah… sudah kuduga kau tidak apa-apa.” Jawab hangkyung, seraya melepaskan rangkulan
heechul dan menjitak kepalanya.

“ah….”heechul mengerang kesakitan.

Ting..tong…

Hangkyung memijit bel asrama dongsaeng-dongsaengnya. Terdengar suara langkah kaki dan pintu pun dibuka.

“hyung sudah datang. Pali, pali…nanti makannya kehabisan!” ucap kyuhyun.

Hangkyung berjalan santai, heechul mengikuti dibelakangnya dengan heebum di pangkuannya. Heechul memutuskan untuk duduk sendiri di sofa, di pojok ruangan. Dia tidak terlalu bernafsu untuk makan hari ini.

“ini untukmu” hankyung menyerahkan sepiring makanan padanya.

“gomawo…” ucap heechul. Tapi dia hanya menatap makanannya tanpa menyentuhnya. Heebum dia biarkan turun dan bermain-main. Hangkyung duduk di sampingnya dan mereka
kembali terdiam.

“hyung, apa hyung tidak mau memakannya? Kalau begitu buatku saja ya!” pinta eunhyuk. Rupanya 1 porsi yang dia makan barusan belum cukup untuk mengisi perutnya yang kelihatannya kecil.

“yah…ambilah.”jawab heechul. Dia menyerahkan piring yang sedari tadi di pegangnya pada pasangan intimate note nya itu.

Eunhyuk mengambil piring itu dengan muka keheranan. Tidak biasanya hyungnya yang satu ini rela berbagi makanan. Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sedang ada masalah dengan hangkyung hyung karena sedari tadi mereka diam saja? Pertanyaan-pertanyaan itu
terus terngiang dipikiran eunhyuk. Wajahnya yang semula ceria berubah menjadi
sangat serius. Dia duduk di pojok ruangan sambil berpikir tak lupa menyantap
makanan yang diberikan heechul padanya.

“hei hyukie, kenapa mukamu serius begitu? Apa kau sedang berpikir bagaimana membuat makanan
itu?” Tanya donghae.

“annio… tentu saja tidak! selalu ada Ryeowook yang bisa membuatkannya. untuk apa aku capek-capek belajar?” ucapnya.

“Donghae-ah, apa kau tidak menyadari sesuatu?” Tanya eunhyuk

“menyadari apa?” donghae tidak mengerti, apa yang sahabatnya itu maksudkan.

“kamu kan satu asrama dengan heechul hyung, apa kamu tidak menyadari perubahan sikapnya akhir-akhir ini?”

“ya… dia memang sering diam akhir-akhir ini. Tapi kukira itu biasa saja. Bukankah moodnya memang sering naik turun?”

“anio..anio…kali ini berbeda. Aku yakin ada sesuatu.” Ucap eunhyuk yakin

“apa yang kau yakini hyuk jae…” Tanya kangin yang sudah berdiri dihadapan mereka.

“hyung… ayo duduk sini…” ajak pasangan ikan itu. Pria besar itu menurut. Ia duduk dihadapan mereka, membentuk sebuah segitiga.

“hyung, apa hyung tidak sadar kalau heechul hyung akhir-akhir ini sering diam. Bahkan dia memberikan makanannya padaku. Bukankah itu aneh?” ucap eunhyuk memulai
diskusi.

“hm…kupikir kau benar. Tapi mungkin saja moodnya memang sedang jelek. Bukankah dia sering bertingkah seperti itu?” ucap kangin tak yakin.

“aku juga bilang seperti itu padanya hyung…” ucap donghae

“ah.. sudah kubilang kali ini berbeda…” eunhyuk tetap yakin pada ucapannya.

“baiklah, baiklah, kita lanjutkan ini nanti. Jangan sampai heechul hyung tahu kalau kita sedang membicarakannya. Hyuk jae, cepat habiskan makanan mu!” ucap Kangin dan pergi mengambil makanan lagi.

Eunhyuk menurut, dia mulai menghabiskan makanan dalam piring putih itu. Tatapannya tidak pernah lepas dari heechul

*

Pagi-pagi sekali heechul sudah bangun. Ia mengisi piring makanan heebum dan segera mandi. Makanan belum siap tentu saja, karena si Beijing fried rice masih terlelap dalam mimpi indahnya. Akhirnya heechul hanya meminum segelas susu untuk mengisi perutnya. Ia merasa bosan karena bangun terlalu pagi. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.

Ia keluar berpakaian lengkap dengan kacamata hitam dan masker. Dia ingin mencari sedikit keramaian. Akhirnya dia memutuskan untuk kepusat kota. Dia berjalan tak tentu arah, hanya
memperhatikan orang-orang yang sibuk dengan rutinitas pagi mereka. Dilihatnya seorang anak kecil sedang menggenggam balon biru. Anak itu berjalan bersama ibunya. Dia terlihat sangat gembira. Tanpa sadar heechul memperhatikan gerak-gerik mereka.

Sepertinya anak itu sadar sedang diperhatikan olehnya. Dia bicara pada ibunya dan menunjuk-nunjuk heechul dengan tangan kecilnya. Ibunya bilang sesuatu, tapi heechul tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Bahasa yang baru ia dengar. Seperti

bahasa Malaysia yang eeteuk hyung sering katakan, tapi agak sedikit berbedaIbu dan anak itu sepertinya ketakutan, mereka berjalan cepat meninggalkan tempat heechul berdiri. Sesaat sebelum mereka pergi, anak laki-laki itu sempat melihat ke arahnya. Heechul seperti mengenal anak itu, tapi siapa?

Heechul berjalan menuju asrama nya, ia masih memikirkan anak laki-laki yang tadi. Anak laki-laki tadi bermata besar, kulitnya putih bersih, rambutnya hitam lurus
dipotong pendek.

“aigo…sepertinya aku pernah melihat anak itu. Tapi dimana??” ujarnya.

Sesampainya di asrama teman-temannya sudah bangun.

“heechul-ah, darimana saja kau?” Tanya laki-laki paling tua disana.

“ah, tadi aku jalan-jalan sebentar.”

“araesso.. apa kau sudah sarapan? Hangkyung memasak nasi goreng untukmu.”

“ne, aku akan memakannya setelah melepas ini semua teukie.” Jawabnya. Heechul segera masuk ke kamarnya.

“fuuh….” Lagi-lagi dia menghela nafas. Pikiran nya masih tertuju pada anak tadi.

“hyung,benarkan… heechul hyung jadi aneh…” ucap donghae setelah heechul menutup pintu kamarnya.

“kyungie… apakah kalian ada masalah?” Tanya sang leader.

“annio… kami tidak ada masalah apapun hyung… akupun bingung kenapa akhir-akhir dia sering diam dan mengurung diri di kamar. Setiap ku Tanya dia selalu mengelak.” Jawab hangkyung.

“hm…kita harus menyelediki ini sepertinya.”

“ne… aku setuju!!” ucap donghae.

Di dalam heechul masih terus berpikir soal kejadian barusan. Anak kecil bermata bulat, berkulit putih, dan memegang balon biru. Heechul iseng mengambil album fotonya sewaktu kecil. Satu persatu ia buka halamannya. Dan ia menemukan foto itu, seorang anak laki-laki memgang balon biru, bermata bulat dan berkulit putih.

Tok…tok…tok…

“hyung…pali.. nasi gorengnya sudah mau dingin…” ucap donghae dari luar kamar.

Heechul kaget, ia terburu-buru menaruh album itu di meja komputernya.

“ne…” ucap heechul. Ia segera keluar kamar.

“heechul ah.. sedang apa kau tadi. Lama sekali. Nasi goreng mu sudah dingin.” Ucap
eeteuk.

“ya hyung, bajuku basah, aku harus menggantinya dulu”

“ayo makanlah cepat. Bukankah kau ada jadwal pagi ini?”  ucapnya lagi.

“iya, iya…” ucap heechul. Ia tidak begitu menanggapi hyungnya itu.

Leeteuk bingung, dongsaeng-dongsaengnya benar. Heechul berubah. Biasanya bila disuruh-suruh seperti ini dia akan marah. Sepertinya benar, harus diselidiki apa yang sedang terjadi padanya.

*

Heechul sibuk dengan komputernya. Tidak, kali ini bukan mengurus minihompy atau mengecek forum-forum grup idola. Dia sibuk dengan search engine. Sejak sejam yang lalu dia sibuk mengetikan berbagai macam keyword. Dari mulai Malaysia,
melayu, sampai akhirnya dia menemukan Indonesia. Dia mencoba mencari berbagai macam gambar dari Negara itu. Akhirnya ia menemukan hal yang dia cari. Heechul pun mencetak gambar-gambar itu dan menyimpannya.

Eunhyuk sibuk dengan semua hipotesa nya, tapi dia belum menemukan satupun bukti yang menguatkan hipotesa-hipotesanya.

“aish…tidak ada satupun yang benar.”  Ucapnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“kenapa hyuk?” Tanya donghae yang tiba-tiba masuk.

“kenapa kau ada disini?” Tanya eunhyuk yang kaget dengan kedatangan ikan dari laut timur itu.

“kamu tidak menutup pintumu. Jadi aku masuk saja. Apa yang membuatmua bingung?” tanyanya lagi.

“annio…”

“ah… ayolah beritahu aku…” ucap donghae. Ia menggunakan senjata tatapan mautnya.“aku tidak akan kalah dengan tatapan anak kecil mu itu. Tidak akan kuberitahu.” Ucap si anchovy.

“hyukie-ah…beritahu aku…” tahu tatapannya tidak berguna, ia mengganti jurusnya. Kali ini ia merangkul sahabatnya itu, sampai kehabisan nafas, seperti ikan yang diangkat
dari dalam air.

“iya, iya, akan kuberitahukan… tapi lepaskan ini…aku …tidak …bisa…ber…nafas…” ucapnya terbata-bata.

“mian…” ucap donghae, ia tidak melepaskan rangkulannya, hanya melonggarkan nya sedikit saja agar si anchovy bisa menghirup oksigen kembali.

“aku hanya sedang berpikir apa yang sedang terjadi pada heechul hyung. Ini sudah terlalu lama dia bertingkah seperti ini. Jadi inilah hasil pemikiranku.”
Ucapnya, dia menyerahkan catatan kecil pada donghae. Donghae membacanya dengan serius.

“heechul hyung sedang jatuh cinta, heechul hyung tersinggung dengan perkataan salah satu diantara kita, heechul hyung stress dengan proyek barunya, heechul hyung ingin keluar dari suju?!” donghae menatap eunhyuk tidak percaya. Bagaimana mungkin heechul ingin keluar dari super junior yang telah membesarkannya? Donghae tahu, sejak dulu hyungnya ini memang tidak begitu nyaman menjadi anggota super junior, tapi
bukankah akhir-akhir ini dia sendiri yang bilang jika super junior adalah segalanya?

“yang terakhir ini,bagaimana kau bisa berpikiran seperti ini hyuk jae?” Tanya donghae dengan mata berkaca-kaca.

“ya…ya…aku hanya menduga-duga saja. Akupun belum menemukan bukti apa-apa untuk menguatkan semua hipotesa ku itu.” Jawab eunhyuk.

“belum tentu yang kupikirkan ini benar. Kau jangan menangis.” Ucapnya berusaha menenangkan donghae yang mulai banjir air mata.

*

Tempat yang jauh, yang selama ini tidak kukenal, kenapa aku ingin sekali pergi kesana?

Heechul menutup cyworldnya. Dia tahu banyak orang yang khawatir padanya, keluarganya, hyungnya, dongsaeng-dongsaengnya. Terlebih para petals. Dia tidak bisa lagi
menyembunyikan kegelisahannya. Karena itu beberapa hari ini dia sering sekali pergi sendiri tanpa ditemani member yang lain, termasuk hangkyung.

Heechul memakai pakaiannya. Kali ini ia hanya memakai penutup kepala. Seperti biasa, dia keluar jalan-jalan, sendirian. Malam sudah terlalu larut, dia yakin tidak akan terlalu ramai di luar sana.

Setelah keliling-keliling kota tanpa tujuan yang jelas, akhirnya heechul memutuskan untuk pergi ke Han Gang. Dia memarkirkan mobilnya di tepi sungai itu. Dia pun keluar dan duduk di pinggir sungai. Tak ada siapapun, dia bisa duduk tenang.

Tiba-tiba dia suara tangisan. Dia mencari sumber suara itu. Ini tangisan seorang perempuan, ya dia yakin. Batinnya bertanya-tanya. Siapa, siapa yang menangis di tempat seperti ini?

Akhirnya dia menemukan si sumber suara. Seorang perempuan terduduk di tepi sungai. Ini sudah begitu malam,bagaimana bisa seorang perempuan berani keluar sendirian? Batinnya kembali bertanya. Merasa kasihan, namja itu menghampirinya.

“gwencana?” tanyanya, ia berhati-hati agar tidak mengagetkan perempuan itu. Perempuan itu menengadahkan kepalanya. Wajahnya basah oleh air mata. Heechul memperkirakan
umurnya baru 20 tahunan.

“anda siapa?” tanyanya. Dia segera menghapus air matanya.

“ah, kebetulan aku lewat. Dan aku menemukanmu menangis disini. Apa kamu tidak apa-apa? Ini sudah begitu malam.” Tanya heechul

“ne, gwencana yo…” ucap perempuan itu. Heechul memperhatikan wajahnya lekat-lekat, wajahnya tidak seperti orang Korea.
Kulitnya memang putih, tapi matanya benar-benar bulat. Agak mirip dengan matanya.

“hangguk saramiyeyo?” Tanya heechul.

“anio… Indonesia, Indonesiaeso wasemnida.” Ucap gadis itu.

“jinca?” Tanya heechul tak percaya. Entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa senang.

“ne…” jawab gadis itu, ia menatap kosong sungai yang ada di depannya.

“kamu…tidak berniat bunuh diri kan?” Tanya heechul. Dia tahu, ini bukan dirinya. Diapun heran, kenapa bisa tiba-tiba dia begitu perhatian pada orang yang baru saja dia kenal. Tapi tubuhnya
bergerak sendiri tanpa ia perintahkan.

Di Tanya seperti itu gadis itu malah tertawa.

“anio…anio…” jawabnya.

“aku datang kesini hanya untuk menenangkan diri. Aku sama sekali tidak terpikir untuk terjun.” Jawabnya sambil tertawa.

“ah, syukurlah… ah, joneun heechul, kim heechul imnnida.” Ucap heechul

“ah, Euis imnida.” Ucap gadis itu.

“euis?” heechul mengulang nama gadis itu. Gadis itu tersenyum.

“lalu, kenapa kamu sendirian disini?” Tanya heechul, ia sudah duduk disamping gadis itu.

“mm…aku kesini mencari kakakku.” Jawab gadis itu. Matanya tidak lepas dari sungai Han.

“kami sudah berpisah, bahkan ketika aku belum lahir kedunia ini.” Lanjutnya

“mwo?”

“ne… ketika dia lahir ekonomi keluargaku benar-benar sangat buruk. Di kampung halamanku baru saja terkena bencana. Seluruh harta kami hilang, kami tidak punya apa-apa saat itu. Orang tuaku sangat bingung. Mereka tidak ingin kakak menderita seperti mereka. Beruntung saat itu ada sepasang suami istri, relawan
dari korea, yang ingin mengadopsi kakak. Awalnya ibu tidak setuju. Berhari-hari beliaumenangis, tapi demi kakak beliau akhirnya melepasnya.”

“lalu, kenapa hari ini kamu mencarinya?” Tanya heechul

“ibu sakit. Dia benar-benar ingin bertemu dengan kakak. Jadi aku dan adikku pergi kesini untuk mencarinya” jawab gadis itu. Air mata kembali memenuhi matanya. Gadis itu kembali mengingat ibunya yang sedang terbaring lemah dirumah sakit, jauh di Indonesia sana.

“lalu bagaimana caramu menemukannya?”

“aku punya alamat suami istri itu. Tapi mereka sudah pindah. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak ingin membuat adikku khawatir, makanya aku pergi kesini.” Jawabnya.

“ah…” heechul akhirnya mengerti.

“siapa nama kakakmu. Asep, namanya asep.” Jawab gadis itu.

*

Semalam heechul mengantar gadis itu sampai ke apartemennya. Masih terngiang kata-kata terakhir sebelum gadis itu pergi.

“mungkin kakak ku seumuran denganmu sekarang.”

Entah kenapa kalimat itu terus terngiang di telinganya.

*

Eunhyuk sibuk dengan computer di kamarnya. Ia masih belum menemukan bukti yang bisa memecahkan misteri keanehan heechul selama ini. Dia membuka mini homepage heechul. Berharap menemukan sesuatu dari sana. Walaupun eunhyuk tahu harus memeras otak untuk mengerti apa yang hyungnya itu tulis.

Asep imnida…

Hanya itu yang ditulis heechul.

“mwo? Apa maksudnya ini?” batin eunhyuk.

Eunhyuk mencari ke halaman-halaman lain, mungkin ada petunjuk. Tapi dance machine itu tidak menemukannya. Keahliannya memang menari, bukan jadi detektif!

Tapi eunhyuk tidak menyerah begitu saja. Ia menelpon asistennya, donghae.

“donghae-ah, dimana kau? Ok, aku kesana.”

Eunhyuk memutuskan sambungan teleponnya. Ia segera bergegas ke asrama atas.

“hyung pergi kemana?” Tanya eunhyuk.

“mereka semua ada kerjaan siang ini.” Jawab donghae

“heechul hyung juga?” Tanya eunhyuk

“ne, kenapa?” Tanya donghae.

“bagaimana keadaan heechul hyung akhir-akhir ini.” Tanya eunhyuk

“seperti biasa saja.” Jawab donghae.

“kau tidak membaca apa yang heechul hyung tulis di cyworldnya?” Tanya eunhyuk.

“tidak, memang apa yang hyung tulis?” donghae balik bertanya.

“asep imnida.” Jawab eunhyuk serius

“mwo? Apa maksudnya?”

“karena itu aku kesini. Aku mau menyelidikinya. Kamar hyung tidak dikunci kan?” Tanya eunhyuk.

“setahuku tidak” jawab donghae.

Dengan membabi buta eunhyuk masuk ke kamar hyungnya itu. Eunhyuk melihat ke sekeliling, ia berharap menemukan sesuatu yang dapat menjawab semua pertanyaannya itu. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu diatas meja computer. Sebuah album foto. Dia mengambilnya, membukanya halaman demi halaman.

“itu heechul hyung? Wah…lucu sekali..” ucap donghae.

“ya,bukan saatnya untuk bicara seperti itu sekarang!” bentak eunhyuk. Donghae yang kaget mundur menjauhi si anchovy. Dia duduk di ranjang heechul.

“eh, apa ini?” Tanya donghae. Sepertinya dia menduduki sesuatu dibalik selimut. Dia menyingkap selimut dan menemukan sebuah buku.

“apa itu?” Tanya eunhyuk

“sepertinya buku harian heechul hyung.” Jawab donghae. Ia tidak membukanya. Hanya mengamati sampulnya saja.

“ayo buka. Mungkin disitu ada sesuatu.” Ucap eunhyuk

Mereka berdua akhirnya membuka buku harian itu. Mereka mencari tanggal yang paling terbaru.

25 April

Aku bertemu seorang gadis di tepi sungai han. Namanya euis, dia dari Indonesia.

Dia bercerita padaku dia sedang mencari kakaknya di sini, di korea. Mereka sudah terpisah sangat lama. Berdua dengan adiknya, berharap bisa bertemu. Mereka berjuang untuk ibu mereka yang sedang sakit.

Entah kenapa aku merasa aku sudah mengenalnya. Kata-kata terakhirnya terngiang terus dikepalaku “mungkin dia seumurmu sekarang.”

“bukankah ini pertama kalinya heechul hyung tersenyum kembali?” Tanya donghae. Tapi eunhyuk tidak menjawab, ia berusaha mencerna tulisan hyungnya itu. Merekapun memutuskan untuk membaca kelanjutannya.

28 april

Aku membantunya untuk mencari kakaknya. Orang tuanya menamainya Asep. Harusnya sudah berubah sekarang, karena dia sudah diadopsi oleh orang sini. Yang euis tahu hanya alamat lama sepasang suami istri baik hati itu, dan nama nya.

Marganya Kim. Tapi ada begitu banyak Kim di korea ini.

Kim jinchul, kim taehun, kim dongjun, atau kim heechul???

Eunhyuk dan donghae semakin tidak mengerti apa yang ditulis oleh hyungnya yang satu ini. Mereka tahu, hyungnya ini aneh, sangat puitis,  tapi apa ini??

Mereka membuka lembar selanjutnya. Lembar terakhir di buku harian itu.

2 mei

Aku benar-benar menjadi kakak euis dan lilis sekarang.

Hanya itu yang tertulis.

“hyukie…apa maksudnya ini?” Tanya donghae.

“donghae, heechul hyung orang Indonesia! Pantas saja selama ini wajahnya berbeda dari kita. Dia punya mata yang bulat asli! Dan putih kulitnya pun berbeda! Dan itulah yang membuatnya bersikap aneh selama ini!” jawab eunhyuk. Dia merasa senang karena akhirnya misteri sudah terpecahkan, tapi tiba-tiba matanya penuh dengan air.

“apa ini artinya heechul hyung akan meninggalkan kita dan pergi ke Indonesia?” lanjut eunhyuk.

Donghae terdiam. Tiba-tiba dia mengambil sesuatu dari meja computer.

“hyuk jae-ah…” ucap donghae. Eunhyuk menghampirinya. Mereka menemukan macam-macam gambar dan hanya ada satu tulisan disana. Indonesia.

*

Setelah memastikan semua barang-barang heechul tersimpan ditempat semula. Donghae dan eunhyuk keluar dari sana.
Mereka terduduk di ranjang donghae. Mereka merasa sangat lemas. Teringat kembali saat-saat kangin, kibum, dan hangkyung meninggalkan mereka dulu. Hari ini mereka bahagia karena keluarga mereka sudah berkumpul. Bagian-bagian yang
beberapa waktu lalu kosong telah terisi kembali. Mereka belum siap untuk kehilangan lagi.

“hyukie-ah…” ucap donghae.

Merekapun berpelukan dan menangis. Mereka mengingat kembali kebaikan-kebaikan heechul selama ini. Walaupun eunhyuk pernah tidak dekat dengannya, tapi akhir-akhir ini mereka berusaha untuk lebih bersahabat.

“hyung….” Teriak mereka.

“mwo?”

Fishy couple itu kaget, mereka segera menghapus air mata yang membasahi pipi mereka. Ternyata sang leader yang masuk.

“kenapa kalian memanggilku?” Tanya leeteuk.

“hyung…” fishy couple kembali menangis.

*

Heechul merasa sangat gembira. Tidak pernah dia merasa langkahnya seringan ini akhir-akhir ini. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada pesan dari hyungnya.

Heechul-ah, segera pulang. Ada yang harus dibicarakan.

“eeteuk menyuruhku pulang, katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan. Apakah kalian tidak keberatan jika kita ke asramaku dulu? Nanti setelah selesai baru aku akan mengantarkan kalian pulang. Gwencana?”

“ne, oppa…” jawab kedua gadis itu.

Heechul tersenyum, dia mengarahkan mobilnya menuju asrama super junior.

Heechul masuk tanpa dugaan apapun. Semua member sudah berkumpul disana. Heechul menyuruh kedua gadis Indonesia
itu menunggu dikamarnya. Tanpa dia sadari semua member menatap mereka sampai mereka masuk kedalam kamar.

“ada apa hyung?” Tanya heechul. Mereka duduk melingkar di ruang tengah. Seperti yang biasa mereka lakukan jika sedang berdiskusi.

“kami sudah mengetahui semuanya.” Ucap sang leader.

“kami semua sudah berdiskusi, dan kami sudah siap dengan apapun keputusanmu.” Lanjutnya.

“benar hyung, tapi hyung harus berjanji tidak akan melupakan kami.” Ucap donghae. Air mata mulai terjatuh dari matanya yang bening. Eunhyuk merangkulnya. Diapun ikut menangis. Melihat dongsaeng-dongsaengnya menangis, kakak tertuapun ikut menangis.

“heechul…aku kecewa padamu. Aku pikir selama ini kita sahabat. Tapi kenapa kau tidak cerita padaku?” Tanya hangkyung. Matanyapun mulai berkaca-kaca.

“ya, ada apa ini sebenarnya?” Tanya heechul. Dia tidak mengerti apa yang sahabat-sahabatnya ini maksudkan.

“hyung…sudahlah… tidak usah berpura-pura lagi pada kami.” Ucap kangin, ayah super junior ini pun tak kuasa menahan air matanya.

“ya! Ya! Katakan padaku ada apa sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti!”

Heechul memandang kesekeliling, hampir semua member menitikkan air mata.

“kibum-ah… katakan pada hyungmu ini apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya heechul pada dongsaeng kesayangannya itu.

“hyung…” kibum tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terus menunduk.

“hei! Apa tidak ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi? leeteuk, kangin, hangkyung! Ada apa ini?!”

“kau…kau…kenapa kau tidak pernah cerita padaku jika kau sebenarnya orang Indonesia dan ibumu kandungmu sedang sakit disana! Dan namamu sebenarnya adalah Asep!” ucap hangkyung akhirnya. Air mata mengalir deras dari matanya yang lembut.

“mwo?”

“kupikir kita sahabat…” lanjut hangkyung. Heechul diam, dia orang Indonesia? Asep?

“hahahahahahahahaha……” heechul tertawa, akhirnya dia mengerti ada apa dengan sahabat-sahabatnya itu.

“jadi….jadi…karena ini kalian semua menangis?” Tanya heechul, dia tidak bisa menahan tawanya. Sampai-sampai ia mengeluarkan air mata.

“bagaimana kami bisa gembira jika tahu hyung yang kami sayangi akan pergi meninggalkan kami?!” ucap eunhyuk.

“ya, hyukjae-ah! Tidak ada yang akan pergi!” jawab heechul.

“mwo?” Tanya mereka bersamaan.

“bukankah ibu kandungmu sakit?” Tanya eeteuk.

“bukankah kemarin kau bertemu dengannya? Dia baik-baik saja bukan?” jawab heechul.

“maksud ku ibumu yang di Indonesia.” Lanjut leeteuk.

“hahaha… dia bukan ibuku…”

“tapi..tapi..”

“lagipula darimana kalian dapat dugaan seperti itu?” Tanya heechul.

“kami membaca buku harian mu hyung!” ucap fishy couple bersamaan.

“kau! Beraninya kau! Aish… ternyata dari sana semua kesalahpahaman ini terjadi. Baiklah-baiklah akan kujelaskan.” Ucap
heechul. Dia pergi ke kamarnya, meninggalkan keluarga keduanya yang masih kebingungan. Tak lama heechul keluar dari kamarnya, kedua gadis Indonesia itu mengekor dibelakangnya.

“perkenalkan diri kalian pada mereka” pinta heechul.

“euis imnnida”

“lilis imnida.” Ucap mereka. Jika dilihat sepintas mereka sangat mirip, tapi si adik lebih tinggi.

“mereka memang mencari kakaknya yang bernama Asep disini. Dan aku membantu mereka mencarinya. Dan kami sudah menemukannya kemarin. Hari ini kami baru saja menemuinya.” Jelas heechul.

“lalu, lalu yang hyung tulis itu. Marga kim?” Tanya donghae.

“bukankah aku menulis banyak marga kim di korea ini? Aku Cuma menduga kalo ternyata kim heechul itu adalah asep. Tapi ternyata
bukan. Aku sudah memastikannya pada orang tuaku. Dan nama asep sekarang adalah kim minhyuk.” Jawabnya.

“tapi hyung menulis kalau hyung adalah kakak mereka.” Lanjut eunhyuk.

“aigo… sebenarnya aku tidak ingin memberitahu kalian sekarang. Tapi ya sudahlah…” heechul memandang euis, euis tersenyum seolah-olah mengerti apa yang laki-laki itu maksudkan.

“euis ini pacarku.” Ucap heechul akhirnya.

“mwo?” ucap mereka bersamaan. Kedua gadis itu tertawa anggun. Tidak menyangka reaksi namja-namja itu akan seheboh ini.

“heechul-ah…”

“hyung…chukae…”

“chukae…”Serempak mereka memeluk heechul dari berbagai arah.

“kenapa kau tidak cerita padaku? Babo!” ucap hankyung yang bahasa korea nya semakin bagus.

“mianhe…”

“kami senang hyung tidak pergi…” ucap sungmin.

“ya…ya…” tiba-tiba heechul terdiam dan melepaskan semua pelukan itu.

“hyukjae! Donghae! Mau kemana kalian….!!!” Ucap heechul. Terlihat fishy couple itu sudah mengendap-endap meninggalkan ruangan.

“LARIIIIIII……!!!!!!!”

note : fanfic kedua yang pernah dibuat. Tapi baru post sekarang. enjoy it!^^

 
Leave a comment

Posted by on July 7, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

Untitled

Matahari muncul dengan riangnya. jalanan kota Seoul mulai dipadati manusia yang melakukan rutinitasnya untuk menyambut pagi seperti biasa. begitupun dengan para member Super Junior. satu persatu mulai bangun dan menyambut hari yang baru. beberapa sudah dangat sibuk karena dikejar jadwal, sementara yang lainnya masih sibuk dengan mimpi mereka.
“hyung… bangun… lihatlah, matahari sudah muncul.” ucap donghae. ia mencoba untuk membangunkan teman sekamarnya itu.
“mmh…”
“ayolah hyung…” donghae mulai menarik selimut hyungnya itu. namun si emunya selimut malah semakin meringkuk. donghae agak curiga, tidak biasanya hyungnya malas bangun seperti ini.
“apa dia sakit?” pikir donghae, ia meraba kening hyungnya itu. badannya memang agak panas.
“hyung, hyung sakit?” tanya donghae. tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria baik tampan itu.
“baiklah, hyung istirahat saja. aku akan memberitahu manajer.” ucap donghae. ia lalu menarik sellimut putih yang dipegangnya supaya menutupi tubuh leeteuk dan membiarkannya beristirahat.
namun tak lama kemudian leeteuk membuka selimut putihnya dan melangkah keluar.
“lho, hyung? kenapa keluar? istirahat saja.” ucap donghae, seraya memapah hyungnya itu kembali ke kamar.
“tidak, aku tidak apa-apa.” ucap leeteuk. ia menepis tangan donghae dari bahunya.
“benar?” tanya donghae tak yakin.
“ne…”

*

Sudah beberapa hari ini leeteuk merasakan keanehan pada tubuhnya. dia mudah sekali jatuh saat latihan koreo sehingga dia sering sekali mendapat cedera. juga, dia mudah lelah dan terkena demam. beberapa kali dia sulit makan, apapun yang dia masukan kedalam perutnya selalu ia muntahkan kembali. ini membuat tubuhnya jadi melemah, sehingga beberapa kali ia harus duduk di ruang latihan sementara adik-adiknya masih berlatih.
“hyung, harusnya hyung periksakan diri ke dokter.” ucap kangin suatu hari. dia memberikan teh hangat untuk hyungnya itu.
“ne, mungkin besok aku akan kesana.” jawab leeteuk.
“ah, hyung selalu seperti itu. besok, besok, dan besok. aku tidak akan tenang jika hyung begini terus! baiklah, besok aku akan mengantarmu!” ucapnya. leeteuk hanya tersenyum. dia tidak bisa membantah jika dongsaengnya yang satu ini sudah memutuskan sesuatu.
tiba-tiba leeteuk merasakan sakit dikepalanya. sakit, sakit sekali. leeteuk merasa kepalanya seperti disayat-sayat.
“aaaah…….”
“kenapa hyung?” tanya kangin khawatir. leeteuk masih memegang kepalanya, berharap rasa sakit itu segera hilang.
“Tuhan…kumohon jangan sekarang…” rintih batin leeteuk. ia terus berdoa agar tidak jatuh pingsan. dia tidak ingin, orang-yang ia sayangi khawatir akan keadaan dirinya.
“hyung…hyung…” ucap kangin. ia menahan tubuh leeteuk yang mulai oleng.
“ah…aku tak apa-apa.” ucap leeteul tiba-tiba.
“benarkah?” tanya kangin tak percaya.
“ya, tiba-tiba saja rasa sakitnya hilang.” jawab leeteuk. Tuhan mengabulkan doa malaikat tak bersayap itu.
“kita ke dokter sekarang!” ucap kangin.
“tidak-tidak. aku sudah tidak apa-apa. sekarang.” ucap leeteuk, dia segera berdiri.
“baiklah, ayo kita latihan lagi!” ajaknya seraya tersenyum.

Entah sudah keberapa kalinya eeteuk membaca kertas itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Beberapa kali air matanya menetes, namun ia segera menghapusnya.

Donghae belum pulang, dia sedang bermain bersama soulmatenya di asrama bawah. Sebenarnya saat ini tawa merekalah yang paling eeteuk butuhkan untuk memberinya kekuatan. tapi dia tidak sanggup untuk melihat mereka. Melihat mereka semua, membuat hatinya sakit.

“hyung…kau disini?”tiba-tiba kamarnya diketuk. Leeteuk segera menyimpan kertas itu dalam laci mejanya. Ia segera menghapus air matanya.

“masuklah kanginie…” jawabnya. Pintu kamar terbuka, laki-laki besar itu masuk dan duduk di kasur Donghae.

“bagaimana hyung? hasil lab nya sudah keluar?” tanya kangin.

“belum.” jawab leeteuk.

“hm…aneh sekali. biasanya tidak akan lama hasil lab nya keluar. ah, yasudahlah. hyung sudah makan?” tanya kangin. leeteuk tersenyum. adiknya yang satu ini memang yang paling perhatian padanya.

“belum.” jawabnya lagi.

“baiklah, kita makan bersama. aku yang traktir! kaja!” ajaknya.

Leeteuk menurut. Leeteuk merasa ia harus menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan dongsaeng-dongsaengnya…

*

Pagi-pagi sekali leeteuk sudah berada di asrama bawah. baru ryeowook saja yang bangun karena ingin menyiapkan sarapan untuk member yang lain. leetuk segera menuju kamar eunhyuk. dia ingin meminjam topi untuk menutupi rambutnya yang mulai menipis.

“Eunhyukie…” ucap leeteuk seraya mengetuk pintu putih itu. tidak ada suara dari dalam kamar. Dia lalu membuka pintu itu. ternyata si empunya kamar masih asik bergelung dengan selimut.

“ya, hyujkjae-ah, bangun!” teriaknya tepat di telinga si monkey. diteriaki seperti itu, sontak eunhyuk kaget. Matanya mengerjap-ngerjap, dibangunkan seperti itu membuat kepalanya agak pusing.

“ah, hyung… ada apa? mengapa membangunkanku pagi-pagi?” tanya eunhyuk. matanya belum terbuka penuh.

“lihatlah, matahari sudah tinggi. ayo bangun.”perintah sang leader.

“iya,iya.” dia segera membuka selimutnya dan turun dari ranjang.

“tapi tumben sekali hyung membangunkan ku. ada apa?” tanyanya setelah kesadarannya penuh.

“ah, iya. hampir saja aku lupa. aku ingin meminjam topimu.”ucap leeteuk.

“cari saja dilemari. ambil saja yang hyung mau.” jawabnya. eunhyuk pun melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

*

“hyung sedang diet? sepertinya khir-akhir ini aku jarang sekali melihatmu makan daging.” tanya shindong saat mereka sedang makan malam bersama di asrama.

“ah, tidak apa-apa, aku hanya sedang hobi makan makanan yang sehat saja.” jawab leeteuk.

“hyung…ponselmu bunyi…” panggil donghae dari dalam kamar. sang leader segera bangkit berdiri, namun tubuhnya tiba-tiba saja oleng.untung hangkyung segera menahan tubuhnya sehingga dia tidak jatuh.

“gwencana?” tanya hangkyung.

“ne… gomawo…” jawab sang leader. tapi tiba-tiba saja penglihatannya menjadi kabur.

“hae…tolong ambilkan ponselku…” teriaknya., seraya kembali duduk dan melanjutkan makan malam seolah tidak terjadi apa-apa.

*

Leeteuk mengamuk. dia tidak tahan dengan sakit kepala yang menyerangnya. kamarnya berantakan, hampir semua benda dia lempar ke lantai.

“aaaaarrrrrgggghhhh….!!!!”

Mendengar keributan dari dalam kamar sang leader, member yang lain segera berlari untuk melihat keadaannya. mereka kaget melihat keadaan kamar leeteuk yang sudah seperti kapal pecah. sedangkan si empunya kamar terlihat meringkuk di pojok kamar sambil terus memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan.

“hyung…” donghae segera berlari dan memeluk hyung kesayangannya itu. namun badannya tidak cukup kuat untuk mengangkat badan leeteuk sendirian. dibantu kangin dia menggotong eeteuk ke atas ranjangnya.

“baiklah, kalian lebih baik tunggu saja di luar. biar aku yang menjaga eeteuk hyung.” ucap kangin setelah sang leader agak tenang. mereka menurut.

“hyung, ceritakan padaku, sebenarnya ada apa? hasil labnya sudah keluar kan?” tanya kangin setelah hanya tinggal mereka berdua saja di dalam kamar. tapi, ditanya seperti itu leeteuk malah menangis.

“hyung katakan padaku ada apa?” desak kangin. tapi air mata leeteuk malah menjadi semakin deras.

“hyung…” desak kangin lembut. dia tau, jika dia keras hyungnya itu malah semakin tidak akan memberitahunya.

“aku sekarat….” ucap leeteuk akhirnya. air matanya masih terus mengalir.

“apa? apa maksudmu hyung?”

“aku sekarat…aku…ada kanker di otakku…aku sudah tidak dapat tertolong lagi…” ucap pria itu terbata-bata. kangin terdiam. leeteuk yang selama ini dia kenal sangat kuat, tapi kini terlihat begitu rapuh. tak berdaya pada takdirnya. tidak ada lagi sinar harapan dimatanya.

“hyung…”kangin tidak tahu harus berbuat apa. tiba-tiba pipinya basah. ternyata dia masih belum siap untuk ditinggalkan. sepanjang malam itu mereka terus menangis.

*

Kangin berjanji untuk merahasiakan ini dari member yang lain karena leeteuk tidak ingin mereka semua merasa khawatir yang akhirnya akan berpengaruh pada perform mereka dan mengecewakan ELF. kanginpun berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu menjaga leeteuk, kapanpun dimanapun.

“hyung, obatnya sudah diminum?” tanya kangin.

“ne..”jawab leeteuk. kangin membenarkan posisi topi leeteuk. mereka tertawa.

hari itu mereka akan perform di SBS. semua sudah siap, mereka menunggu giliran di ruang tunggu seperti biasa. beberapa mengobrol santai, sedangkan leeteuk memilih menyendiri di pojok ruangan.

tiba-tiba rasa sakit itu kembali menyerang. sadar banyak orang disekitarnya, dengan susah payah dia berjalan keluar ruangan mencari tempat sepi. leeteuk terus berjalan, pandangannya mulai kabur. dia tidak sadar jika dia baru saja meninggalkan lobi gedung stasiun tv itu. tapi leeteuk terus berjalan, tanpa ia sadari dia sudah berada di tengah jalan.

TIIIIIINNNNN…..!!!!

BRRRAAAKKKKK…..!!!

semuanya gelap.

*

leeteuk membuka matanya. ruangan itu serba putih, namun ia tahu itu bukan kamarnya. semua begitu asing baginya.

“hyung, hyung sudah sadar?” tanya eunhyuk

“hyung baik-baik saja?” tanya donghae

“mmh? aku kenapa?” tanya leeteuk akhirnya.

“tadi hyung pingsan.” jawab donghae

“ah, aku ingat. tadi tanpa sadar aku berjalan ke tengah jalan raya. lalu aku melihat sebuah truk yang akan menabrakku. tapi kenapa aku baik-baik saja?” tanya leeteuk. si kembar itu terdiam. mereka tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada hyung tertuanya itu.

“kenapa kalian diam?” tanya leetuk.

“mm..hyung…sebenarnya…”

“sebenarnya apa? ya, hyukjae-ah, bicaralah yang jelas.” sahut sang leader.

“mm…kangin hyung…” ia berhenti. air matanya mulai terjatuh, membasahi pipinya. donghae segera merangkul sahabatnya itu.

“ada apa dengan kanginie? eunhae, katakan padaku apa yang terjadi pada kangin??!” ucap leeteuk keras.

“kangin hyung mencoba menyelamatkamu hyung. tapi malah dia yang tertabrak truk itu. sekarang kondisinya kritis.” jawab donghae. ia tidak sanggup menatap mata hyungnya itu. donghae terlalu takut melihat kesedihan dimata yang jernih itu.

Leeteuk tidak peduli dengan seruan dongsaeng-dongsaengnya yang melarang dia untuk terus menjaga kangin. bahkan nasihat dari keluarganyapun tidak ia hiraukan. yang ia inginkan hanya satu, berada disamping kangin.

Leeteuk merasa sangat kesal pada dirinya sendiri. jika saja waktu itu dia tidak berjalan ke luar, kejadian ini tidak mungkin terjadi. malam itu rumah sakit sangat sepi. para member bergantian menjaga kangin dan leeteuk. malam ini giliran si kembar eunhae yang menjaga mereka. si kembar sudah tertidur pulas. yang lebih tua mengalah untuk tidur dibawah beralaskan karpet. sedangkan yang lebih muda tidur di sofa. leeteuk tetap terjaga, menjaga kangin di samping tempat tidurnya.

Tiba-tiba sakit kepalanya datang lagi. Kali ini sangat hebat, leeteuk merasa ada orang yang sedang membelah-belah kepalanya.

“kanginie…apakah ini waktunya? sudah kubilang aku sekarat. sepertinya kau tak usah menjagaku lagi, karena aku akan mendahuluimu sekarang. kangin ah..bangunlah. buka matamu! ayo buka matamu! masih banyak yang harus kau lindungi disini!” ucap leeteuk. tiba-tiba dia berteriak kesakita.. teriakannya itu membuat si kembar terbangun.

“hyung ada apa?” tanya donghae.

“bangunlah kanginie…” ucap leeteuk dengan sisa-sisa tenaganya.

garis lurus terlihat pada alat pendeteksi detak jantung. seketika itu juga pandangan leeteuk menjadi gelap.

*

Dua peti terdapat di rumah duka. ELF di seluruh dunia menangis. balon biru memenuhi cakrawala, dilepaskan para ELF sebagai tanda duka yang sangat mendalam.

member super junior tak henti-hentinya menangis. hari ini mereka kehilangan ayah dan ibu bagi super junior. hyung yang sangat mereka segani. leader yang sangat mereka hormati. yang selalu maju di depan menghadapi segala tantangan untuk melindungi adik-adiknya.

*

Matahari bersinar sangat cerah di pantai timur Korea. terlihat 13 pria sedang bermain di pantai yang sepi itu.

leeteuk terbangun, dibangunkan oleh kangin yang menempelkan kaleng minuman dingin pada pipinya. leeteuk dan kangin duduk di tepi pantai, memperhatikan member yang lain sedang bermain air dengan riangnya. tidak biasanya super junior mendapatkan jatah libur seperti ini.

“tadi aku bermimpi, aku menderita kanker otak. dan kita meninggal. aish… benar-benar mimpi yang sangat buruk.” ucap leeteuk seraya meneguk minumannya.

“hyung, tidak usah khawatir. aku pasti akan menjagamu dan super junior.” ucap kangin. leeteuk tersenyum

“aku percaya padamu kangin-ah.suatu hari nanti, jika aku tak ada, aku bisa mengandalkanmu” ucapnya.

“hyung…ayo kemari…!!!” ajak member yang lain. kangin dan leeteuk menyambut ajakan mereka. mereka berlari menuju yang lainnya. bergembira di pantai timur itu, bersama orang-orang yang akan selalu mereka lindungi.

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2010 in fanfiction

 

Tags: , , , ,

Saengil Chukae Hyung!!

Leeteuk membuang rokoknya. Dia sadar rokoknya tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Beban yang dia pikul terlalu berat. kadang dia ingin menyerah, tapi ketika melihat senyum dari adik-adiknya semangat nya kembali muncul. Leeteuk lalu masuk ke ruang tamu apartemennya. Adik-adiknya sudah terlelap dilantai setelah mereka berpesta untuk merayakan tim sepakbola Korea yang memenangkan pertandingan kali ini. Leeteuk mulai menghitung, hanya ada 9 orang disana. Dia merindukan 3 orang lainnya. Terutama Hankyung.

Melihat mereka terlelap seperti itu benar-benar tidak terlihat bagaimana nakalnya mereka jika bangun. Leeteuk tersenyum simpul mengingat tingkah mereka sehari-hari. Wajah mereka terlihat sangat damai saat tidur.

“Heechulie, terimakasih karena kau telah membuka hatimu dan memutuskan untuk bertahan bersama kami.

Yesung-ah, teruslah bernyanyi. Biarkan suara malaikatmu menenangkan dunia.

Shindong-ah, tetap jadi dirimu sendiri. Kau satu-satunya yang menjembatani antara kami dan dunia luar.” Leeteuk terkekeh, dia mengingat kehebohan yang ditimbulkan Shindong saat album ke -4 mereka rilis.

“Sungmin-ah, mianhae… Hyung banyak bersalah padamu. Bakatmu begitu besar. Teruslah bersinar.

Eunhyukie, gomawoyo… karena kau selalu menemaniku. Hyung berutang banyak padamu.

Dongha-ah… Hyung berjanji akan menepati janjiku pada ayahmu. Hyung akan terus menjagamu.

Siwon-ah, kau akan jadi aktor yang hebat. Hyung percaya itu.

Wookie, ciptakanlah banyak lagu indah. Hyung ingin mendengarkan lagi lagu ciptaanmu.

Kyuhyun-ah… adik bungsuku, kau telah melengkapi formasi kami. Kami sempurna setelah kedatanganmu. gomawo…” lanjutnya. Tanpa terasa air matanya meleleh. Kadang-kadang ia benci pada dirinya sendiri yang terlalu cengeng seperti ini. Tapi ia tidak tahu cara lain untuk melegakan dadanya selain menangis.

Jarum jam menunjuk angka 12 tepat. Leeteuk kembali berjalan menuju balkon, mungkin angin malam bisa menghilangkan rasa gundahnya. Ia hanya ingin menikmati malam ini sendirian…

“saengil chukae hamnida…saengil chukae hamnida… saranghaneun teukie hyung… saengil chukae hamnida…” tiba-tiba nyanyian itu terdengar dari balik punggungnya. Leeteuk membalikkan badannya, semua adiknya telah bangun. Ryeowook memainkan piano sementara Sungmin memainkan gitarnya. Eunhyuk dan Shindog menunjukkan kepiawaian mereka dalam rapping. Sementara Kyuhyun, Yesung, dan Donghae mengelluarkan suara emas mereka. Heechul membawakannya sebuah kue tart dan Siwon memegang hadiah yang sangat besar. Sebuah kolaborasi yang indah tercipta untuk hyung yang sangat mereka sayangi.

Leeteuk tersenyum, tapi pipinya sudah basah oleh air mata sekarang. Ia meniup lilin ulangtahunnya dan mulai memeluk dan mencium pipi mereka satu persatu.

“Yah, jangan pernah menanggung semuanya sendirian lagi!” ucap Heechul. Leeteuk tersenyum.

“Gamsa…” ucapnya. Eunhyuk dan Donghae menghapus air mata hyungnya itu.

Leeteuk akhirnya tahu, dia tidak akan pernah sendirian. Masaih ada ke-9 dongsaengnya disini. Bahkan ketika mereka semua meninggalkannya, masih ada ELF yang akan selalu membawanya terbang tinggi. Benar kan?

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2010 in fanfiction

 

Tags: